Inklusif Pluralis: Reinkarnasi Pemikiran Kafir Ahmad Fauzan
Kajian mengenai Islam Liberal bukan wacana baru dalam khazanah pemikiran Islam. Namun, kajian itu beda dan berbalik menjadi kajian yang menarik dengan adanya indikasi bahwa bendera free act (bebas aksi) atau lebih dikenal dengan teologi inklusif yang dibawa Islam Liberal ternyata memiliki kesamaan dengan pemikiran-pemikiran liberalis Barat kawakan, seperti Fredrich W. Nietszche âSang Penjagal Tuhanâ, pemikir dari abad 19, Karl âSi Mbah Komunisâ Marx, Lenin dan penganut pemikiran anti Tuhan lainnya. Nietszche pernah menghebohkan dunia dengan deklarasinya yang mengatakan bahwa âTuhan telah mati!â (The God of death). Deklarasi itu berawal dari kegelisahan jiwa seorang Nietszche tentang sebuah keterbatasan manusia dalam menentukan hidupnya sendiri yang cendrung terkungkung oleh Tuhan dalam âreinkarnasiâ-Nya yang berupa agama. Kegelisahan Nietszche itu memunculkan sebuah konklusi bahwa virus kronis yang paling berbahaya dalam jiwa manusia adalah agama, sedangkan agama identik dengan Tuhan. Maka menjadi jelas â"menurut Nietszche- bahwa sebagai virus yang mematikan agama harus dibersihkan dalam praktek hidup sehari-hari dan Tuhan, sebagai âbiangnyaâ, harus di jagal! Bayangkan betapa bebasnya pemikiran Nietszche yang selanjutnya pemikirannya ini diadopsi oleh Karl Marx dan Lenin. Walaupun keduanya tidak seliberal Nietszche. Pendapat orang-orang yang anti Tuhan mayoritas demikian; agama sebagai penghalang bagi kemajuan dalam berpikir dan berekspresi. Manusia harus berkembang secara produktif dan tidak terbatas oleh tetek-bengek aturan-aturan yang dapat membatasi, baik skala vertikal ataupun horizontal. Intinya, agama harus disingkirkan dalam menciptakan peradaban. âBila manusia masih dibatasi oleh gramatika berarti manusia masih belum lepas dari cengkraman otoritas.â Kata Nietszche. Lebih jauh lagi, para liberalis menuduh agama sebagai chrysalis âkepompongâ dalam pemicu koflik. Menurut pendapat pemeluk mazhab ini banyak konflik yang detonatornya adalah agama. John Lennon dalam lagunya Imagine mengatakan âthere is no religion tooâ. Penilaian agama sebagai biang keladi dari konflik adalah sangat absurd dan tidak proporsional. Bagaimana tidak, karena tidak semua konflik dipicu oleh latar belakang agama. Perang Dunia I dan II sama sekali tidak dipicu oleh faktor agama. Konflik bisa terjadi sebab harta, batas wilayah kekuasaan dan -bahkan- wanita. Budaya pemikiran bebas ini bukan hanya memicu munculnya inklusifisme teologi, tetapi lebih dari itu akan memunculkan mazhab relatifisme (sufastaiyah) yang ujung-ujungnya akan memberi kesimpulan ketidakadaan kebenaran absolut. Karena teologi inklusif yang mempresentasikan tentang kesamaan semua ajaran (baca; agama) atau lebih dikenal dengan religious pluralism itu akan menafikan keyakinan yang pada akhirnya akan mendeklarasikan semua agama benar. Pada titik inilah kayakinan berganti kekaburan dan semuanya menjadi relatif. Adalah John Hick, tokoh yang kadang disebut sebagai ânabinyaâ pluralisme mengajukan gagasan pluralisme ini sebagai pengembangan dari inklusifisme, ajaran yang menegaskan bahwa agama adalah ajaran yang berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama; Tuhan. Persepsi Agama; Sebuah Keberbedaan Natural Dari sedikit ulasan di atas, dapat memberikan gambaran tentang inklusifisme-pluralisme; agama harus disingkirkan dari kehidupan. Agama tidak memiliki peran penting dalam membangun peradaban. Betulkah demikian? Manusia se-liberal dan se-sekuler Napoleon Bonaparte, yang pada 02 Desember 1804 menobatkan dirinya sebagai Kaisar Prancis (emperor of the Franch) dalam sebuah acara kolosal di Katedral Notre Dame, Paris, saja masih mengeluarkan The Concordat 1801 yang mengakui bahwa Catholicsm adalah agama terbesar di Prancis dan sebab perngakuan itulah pemerintahan Napoleon diterima oleh kalangan mayoritas. Pakar sejarah, Arnold Toynbee dalam kajiannya tentang peradaban yang dalam memberikan sebuah kesimpulan bahwa dalam peradaban ada sebuah kelompok yang dinamakan creative-minorities (kreatifitas minoritas)--yang dengan spiritual mendalam (deep spiritual) atau motivasi agama (religious motivatoin) dapat membentuk atau mempertahankan sebuah peradaban. Jadi, kalau dikatakan bahwa agama tidak memiliki peran penting dalam membentuk peradaban, maka kesimpulan ini sangatlah absurd dan tidak tendensius. Tentang persepsi yang mengatakan bahwa semua agama adalah sama. Kesimpulan ini masih sangat menimbulkan sekian banyak pertanyaan mengemuka. Bagaimana tidak, kalau semua agama sama, maka yang terjadi adalah persamaan âseolah-olahâ; seolah-olah pemeluk agama menyembah pada tuhan yang sama. Padahal, kalau diteliti lebih dalam lagi, dalam level esoteris (bathiniyah) pun semua agama adalah berbeda. Bagaimana mungkin bisa sama bila persepsi dari masing-masing agama terhadap tuhan berbeda. Selain itu, gagasan ini secara tidak terduga akan menimbulkan konflik baru. Karena belum tentu semua pemeluk agama yang meyakini bahwa agama yang dipeluknya adalah agama benar akan setuju dengan gagasan tersebut. Bagaimanapun dan dalam bentuk apapun semua agama adalah berbeda. Ini adalah sunnatullah (hukum alam) yang tidak bisa dibantah. Tembok pemisah antar agama yang dianggap telah runtuh, sebetulnya masih tetap menjulang tinggi, tidak akan bisa runtuh. Tembok itu dianggap runtuh hanya oleh orang-orang yang tidak mau mengakui bahwa agama yang dipeluknya adalah agama benar.

