berhubung ada member milist ini yg belum menjawab pertanyaan saya,
mungkin krn sibuk atau sedang mencari2 jawabannya, maka saya kopas
artikel tulisan murid skolah aja deh, mudah2an bisa membuat kita sadar
& segera bertobat, ingat! ajal kian mendekat..


Tersenyumlah para Bidadari Berjilbab…

Oleh : Ahmad Biyadi*

Ketika seorang Muslimah mencoba menyempurnakan keislamannya dengan
mulai mengenakan jilbab, terkadang terdengar segudang pertanyaan
mengarah kepadanya, kenapa sih kamu kok pake jilbab? Kamu cantik?
Atau, pake jilbab itu ribet, biayanya juga banyak! Sebagian wanita
yang kurang percaya diri, dengan mudah menanggalkannya begitu saja.


Namun seorang Muslimah yang cantik jiwanya, tidak akan terpengaruh
dengan kata-kata di atas. Mereka justru tersenyum, karena mereka tahu
bahwa mereka memiliki alasan yang benar sebagai dasar pijakan mengapa
mereka harus berjilbab, mereka bilang:

 

Melaksanakan Perintah Tuhan

Hal yang paling utama bagi seorang Muslimah, adalah keikhlasan hati
dalam melaksanakan segala aturan syariat. Rasa cinta Ilahi akan
timbul, tatkala keikhlasan ini telah memenuhi lubuk jiwanya, sehingga
segala perintah dan anjuran Tuhan, dengan mudah diindahkan dan
dilaksanakan. Allah I menjelaskan, "Katakanlah kepada wanita yang
beriman, dan hendaklah mereka menjaga pandangannya dan menutup
kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali
yang tampak darinya. Dan hendaklah menutupkan kain kudung ke dadanya".
(QS an-Nûr [24]: 31)

Betapa besar pahala bagi mereka yang dengan tabah melaksanakan
perintah-Nya. Semakin berat cobaan yang dilalui, semakin tinggi nilai
perbuatannya. Faktor lingkungan, merasa kampungan, ataupun cemoohan
dari berbagai pihak adalah cobaan yang menghadang. Para Muslimah
mengerti, bahwa mereka harus tabah menghadapinya, karena pahala Allah
I jauh lebih baik dari itu semua.

 

Sebagai Bukti Kehormatan Diri

Kehormatan adalah segalanya bagi seorang wanita. Karenanya, setiap
wanita akan berusaha menjaga dan memeliharanya sekuat hati. Namun
terkadang, menjaga kehormatan terasa kabur dengan adanya ajang mencari
popularitas dan salah jaga image yang berlebihan. Hingga buka-bukaan
tidak lagi dianggap sebagai hal yang negatif. Betapa para artis dengan
tenang membuka aurat di depan khalayak ramai, dan dengan bangga mereka
bilang kalau diri mereka adalah orang yang terhormat. Seharusnya
kehormatan dijaga bukannya diobral dengan acara buka-bukaan. Wanita
Muslimah mengerti bahwa dengan jilbabnya ia akan semakin tampak
memesona, bukan hanya paras namun juga hati. Dengan begitu berarti ia
telah sabar dan ikhlas melaksanakan perintah syariat Islam. Keteguhan
jiwa mereka menunjukkan betapa tinggi kehormatan mereka, baik di mata
manusia, terlebih di sisi Allah I.

Jilbab bukanlah hanya sekadar pakaian suplementer saja, seperti jas
dan ikat pinggang. Namun lebih dari itu, jilbab adalah nilai
kehormatan seorang wanita. Bukankah barang obralan yang dijual di
pinggir-pinggir jalan, justru akan membuatnya bernilai rendah.
Sebaliknya, jika dikemas dengan apik dan dijual di tempat mewah, akan
semakin bernilai tinggi. Dengan berjilbab berarti para Muslimah
mencoba mengemas dirinya dengan apik dan sopan. Yang hal itu akan
membuat harga dirinya semakin tak ternilai.

 

Sebagai Wujud Jati Diri

Penampilan luar seseorang sangat menentukan penilaian orang lain
terhadapnya. Di tempat umum misalnya, begitu banyak figur dengan
segala kepribadiannya. Penampilan merupakan wajah utama yang terlihat,
orang akan menilai baik tidaknya seseorang dengan wajah penampilan
ini. Seseorang yang memakai pakaian "ala preman" dan kurang sopan,
meskipun ia orang baik-baik, akan dinilai sebagai orang yang kurang
sopan. Sebaliknya, bila pakaiannya terlihat sopan dan menjaga aurat,
orang akan menganggapnya sebagai orang baik, meskipun sebenarnya dia
bukan orang baik.

Saat itulah seorang wanita Muslimah—dengan jilbabnya—menunjukkan
kepada dunia, bahwa dia adalah orang yang memiliki kepribadian baik,
bahwa dia adalah seorang wanita salehah yang taat menjaga aturan syariat.

Selanjutnya, dekadensi moral besar-besaran yang terjadi di Indonesia
sangat berperan aktif menurunkan nilai spiritual jilbab. Hingga jilbab
tak lagi dipandang sebagai perintah Tuhan, namun lebih mengarah
sebagai ajang menarik simpati dan mengikuti pakaian yang lagi trend.
Pada bulan Ramadan, mereka berbondong-bondong memakai jilbab dengan
segala alasan. Namun pada dasarnya itu tak lebih dari sekedar
ikut-ikutan saja. Terbukti ketika bulan Ramadan berlalu, hanya
sebagian kecil dari mereka yang tetap mempertahankannya. Ironis.

Seharusnya, mengenakan jilbab bukan atas dasar sedang trend atau
program membebek para artis. Jilbab dikenakan karena anjuran syariat
dan perintah Allah I. Sekarang dan sampai kapanpun. Di sini dan
dimanapun. Mengenakan jilbab tidak terpengaruh oleh bulan suci atau
karena sedang laku di pasaran, hingga timbul istilah, pelaksanaan
syariat bulanan atau agama bulanan. Juga bukan karena tempat suci atau
daerah wajib berjilbab. Hingga ketika ia berada di luar daerah itu,
dengan sesuka hati melepaskan jilbab. Tapi sekali lagi, jilbab adalah
tuntunan Allah I untuk menguji ketaatan hambanya yang saleh.

Karena itulah, para wanita salehah dengan ikhlas dan tabah memegang
erat aturan ini. Mereka yakin akan janji Tuhan dan balasan bagi mereka
yang taat peraturan. Bahkan kewajiban ini tidak mereka rasakan sebagai
sesuatu yang berat. Mereka justru tersenyum, karena mereka telah
melaksanakan perintah Sang Kekasih. Mereka semakin bangga dengan diri
mereka sendiri. Karena berarti mereka tidak hanya cantik wajah, namun
juga cantik hati. Karena mereka tak hanya jelita rupa, tapi juga
jelita pekerti. Karena merekalah para bidadari berjilbab.

 

*Penulis adalah murid MMU Aliyah kelas II Tarbiyah asal Malang.
Tulisan ini dimuat di Majalah Ijtihad Edisi 28  

Kirim email ke