« Pembersihan » di Kejaksaan Agung
Di sampîng masih adanya berita-berita tentang persoalan FPI-Ahmadiyah dan AKK-BB, dan tentang terus maraknya aksi-aksi yang berkaitan dengan kenaikan harga BBM, maka hari-hari ini banyak diberitakan soal kelanjutan peristiwa penyuapan Rp 6 milyar kepada jaksa dari Kejaksaan Agung Urip Tri Gunawan oleh Artalyta Suryani, yang menjadi perantara dari konglomerat hitam Syamsul Nursalim. Buntut peristiwa penyuapan sebesar Rp 6 milyar ini sekarang menjadi persoalan besar yang « meledak » di Kejaksaan Agung , dengan diperiksanya para « pimpinan » tingkat atas dan 11 jaksa lainnya dari Kejaksaan Agung. Mengingat pentingnya kasus »suapan BLBI ini maka website http://kontak.club.fr/index.htm melanjutkan penyajian berita-berita atau tulisan mengenainya, yang dikumpulkan dalam rubrik/kolom « Buntut kasus BLBI yang panjang ». Dari kumpulan berita dan tulisan ini nyatalah dengan jelas sekali bahwa di belakang kasus BLBI ini terbentang kebobrokan moral di kalangan pejabat tinggi, dan pemalsuan dan penipuan dan praktek-praktek kotor lainnya dalam berbagai bentuk. Berikut adalah cuplikan berita tentang pemeriksaan pejabat-pejabat tinggi Kejaksaan Agung yang berkaitan dengan kasus suapan BLBI tersebut. Bahan-bahan informasi lainnya dapat disimak dalam website tersebut di atas : Pejabat-pejabat tinggi Kejaksaan Agung diperiksa Bagian Pengawasan Kejaksaan Agung, Senin (16/6), mulai menindaklanjuti kasus rekaman pembicaraan antara Artalyta Suryani dan sejumlah pejabat tinggi Kejagung. Sebelas jaksa, yang diduga mengetahui rencana penangkapan atas Artalyta, terdakwa kasus penyuapan kepada jaksa Urip Tri Gunawan, sudah menjalani pemeriksaan di bagian pengawasan itu. Selasa ini Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas) giliran memeriksa Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Untung Udji Santoso. Untung Udji adalah jaksa yang percakapannya dengan Artalyta disadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta membeberkan rencana penangkapan terhadap Artalyta setelah Urip ditangkap KPK. Jamwas MS Rahardjo menuturkan, selain meminta keterangan dari Untung Udji, ia juga akan meminta keterangan Jaksa Agung Muda Intelijen Wisnu Subroto, mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kemas Yahya Rahman, dan mantan Direktur Penyidikan M Salim. Dalam percakapan Artalyta dengan Untung Udji, yang diperdengarkan di Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi, nama Wisnu sempat disebutkan, sedangkan Kemas terungkap pernah berkomunikasi dengan Artalyta pula. Artalyta dan Urip ditangkap KPK pada 2 Maret 2008 karena diduga terlibat penyuapan terkait kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Urip diduga menerima dana 660.000 dollar AS, setara Rp 6,1 miliar, dari Artalyta. Menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung BD Nainggolan, pemeriksaan itu, termasuk pemeriksaan terhadap 11 jaksa, dilakukan memang terkait dengan rekaman pembicaraan Artalyta dengan Untung Udji. Apalagi, dalam rekaman itu dikesankan ada skenario untuk "menyelamatkan" Artalyta alias Ayin. Rahardjo menambahkan, Pengawasan Kejagung menggunakan rekaman pembicaraan telepon itu sebagai dasar untuk mengungkapkan ada atau tidaknya skenario itu. Kejagung juga telah mengirimkan surat untuk meminta rekaman dan transkrip pembicaraan telepon itu kepada KPK. Ia juga meminta KPK mengizinkan tim pengawasan dan Komisi Kejaksaan meminta keterangan pada penyidik KPK yang melakukan perekaman. Pemeriksaan idealnya memang dilakukan setelah mendapat dukungan keterangan, baik dari penyidik KPK maupun rekaman telepon. Sebaliknya, sejumlah anggota DPR dan DPD meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera mengganti Hendarman dan jajarannya untuk memulihkan kepercayaan masyarakat kepada Kejagung. "Presiden harus mengganti semua orang di Kejagung. Memang akan ada kekosongan, tetapi perlu hadirnya jaksa dari luar," ucap Wakil Ketua DPD Laode Ida dalam konferensi pers. (cuplikan dari Kompas, 17 Juni 2008) No virus found in this outgoing message. Checked by AVG. Version: 7.5.524 / Virus Database: 270.3.0/1505 - Release Date: 16/06/2008 07:20 [Non-text portions of this message have been removed]

