ternyata orang ini antek penjajah toh, wah yg membela 'orang ini'
termasuk antek penjajah jg ya? 


Mirza Ghulam Ahmad, `Nabi Palsu` Pelayan Imperialis     
Friday, 18 April 2008 09:04


Februari lalu, sebuah surat mampir ke meja Direktur Jenderal Bimbingan
Masyarakat Islam Departemen Agama (Depag), Nasaruddin Umar.
Pengirimnya empat negara sekaligus, di antaranya Inggris, Amerika
Serikat, dan Kanada. Mereka meminta Ahmadiyah tak dibubarkan.

''Suratnya ditujukan kepada Menteri Agama dan ada tembusannya ke
saya,'' ungkap Nasarudin kepada Republika, di Jakarta, beberapa waktu
lalu. Lantas, apa yang akan dilakukan Depag? ''Itu tidak akan
mempengaruhi apa-apa. Kita tak mau didikte negara lain.''

Saat surat itu datang. Badan Koordinasi Aliran Kepercayaan
(Bakorpakem) memang sedang memantau 12 poin penjelasan Pengurus Besar
Jemaat Ahmadiyah Indonesia (PB JAI) di seluruh Indonesia. Bila 12 poin
tak sesuai kenyataan, Bakorpakem berjanji bertindak tegas.

Mengapa negara lain sampai perlu melakukan intervensi? Merujuk fakta
sejarah, semuanya menjadi masuk akal. Hubungan Inggris dengan Mirza
Ghulam Ahmad (MGA) dan keluarganya memang mesra. 'Nabi' MGA berjasa
menyerukan penghapusan jihad saat India dijajah Inggris.

Hasan bin Mahmud Audah, mantan direktur umum Seksi Bahasa Arab Jemaat
Ahmadiyah Pusat di London, menilai hubungan MGA dan Inggris tak
ubahnya hubungan seorang pelayan kepada majikannya. Bukan semata
hubungan terima kasih seorang Muslim pada orang yang berjasa padanya.

Di Ruhani Khazain hlm 36, MGA menyatakan: ''Tidak samar lagi, atas
pemerintah yang diberkahi ini (Britania), saya termasuk dari
pelayannya, para penasihatnya, dan para pendoa bagi kebaikannya dari
dahulu, dan di setiap waktu aku datang kepadanya dengan hati yang tulus.''

Di Ruhain Khazain hlm 155, MGA menulis: ''Sungguh aku telah
menghabiskan kebanyakan umurku dalam mengokohkan dan membantu
pemerintahan Inggris. Dan dalam mencegah jihad dan wajib taat kepada
pemerintah (Inggris), aku telah mengarang buku-buku,
pengumuman-pengumuman, dan brosur-brosur yang apabila dikumpulkan
tentu akan memenuhi 50 lemari.''

Tengok pula Ruhani Khazain hlm 28: ''Sungguh telah dibatalkan pada
hari ini hukum jihad dengan pedang. Maka tidak ada jihad setelah hari
ini. Barang siapa mengangkat senjata kepada orang-orang kafir, maka
dia telah menentang Rasulullah... sesungguhnya saya ini adalah Al
Masih yang ditunggu-tunggu. Tidak ada jihad dengan senjata setelah
kedatanganku ini.''

MGA yang mengaku nabi, rasul, almaasih, almahdi, brahman avatar,
krishna, dan titisan nabi-nabi, teryata tunduk belaka di hadapan Ratu
Victoria. Audah dalam bukunya Ahmadiyah; Kepercayaan-kepercayaan dan
Pengalaman-pengalaman: ''Perbuatan tidak bermalu Mirza Ghulam 'sang
nabi' merendahkan diri depan Ratu Victoria... tak bisa saya terima,
bahkan saat saya masih sebagai seorang Ahmadi sejati.''

Pengabdian pada Inggris itu sudah dilakukan leluhur MGA sejak tahun
1830-an. Saat itu, India yang masih dikuasai Muslim, menghadapi dua
kekuatan: Inggris dan kaum Sikh. Dalam perang sabil menghadapi kedua
kekuatan itu, keluarga Mirza memihak kaum Sikh dan Inggris.

Fakta tersebut diungkap Bashiruddin Mahmud Ahmad, anak MGA yang juga
khalifatul masih II dalam bukunya, Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad.
Leluhur MGA merupakan pemimpin tentara yang membantu Maharaja Ranjit
Singh, Jenderal Nicholson, dan Jenderal Ventura.

Dalam bukunya, Bashiruddin tak menjelaskan konteks pemberian bantuan
itu. Dia mengungkapkannya layaknya sebuah kehormatan besar bagi
keluarganya. Namun fakta sejarah memang tak bisa ditutupi, betapa yang
diserang Ranjit Sing, Nicholson, dan Ventura, adalah umat Islam.

''Keuntungan yang utama bagi Inggris karena munculnya Almasih dan Imam
Mahdi itu adalah timbulnya perpecahan di kalangan ummat Islam yang
tidak bisa dielakkan lagi,'' demikian kesimpulan Abdullah Hasan
Alhadar dalam bukunya Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah.

Saat masalah pertentangan soal Ahmadiyah mencapai puncaknya di
Pakistan dan konstitusi negara itu akhirnya mencantumkan bahwa
penganut Ahmadiyah merupakan non-Muslim, terjadilah ketegangan.
Buntutnya, kekhalifahan Ahmadiyah yang mirip 'dinasti' itu hengkang
dari Pakistan.

Sejak tahun 1985, kekhalifahan tersebut berkedudukan di London,
Inggris. Di sana, sejak tahun 1994, Ahmadiyah memiliki sebuah corong
untuk menyebarkan ajarannya, yaitu Muslim Television Ahmadiyyah (MTA).
Perlu dana luar biasa besar untuk melakukan siaran empat bahasa itu.

Audah yang merupakan mantan orang dalam di markas pusat Ahmadiyah,
berkomentar tak mungkin televisi itu dijalankan dengan biaya dari
sumbangan orang-orang Ahmadiyah. ''Kami tidak mendapat informasi
akurat mengenai identitas orang yang memberi dana proyek itu.''
osa/run ( )

Kirim email ke