"Bohong mereka mah. Ulah dipercaya." ya udah deh, siap2 pak polisi,
borgol, pentungan, ruang tahanan disiapkan, jemaat ahmadiyah pasti tdk
akan mampu mematuhi SKB, soale mereka pun jg tdk mampu melaksakan
ke-12 butir kesepakatan/janji yg mereka ucapkan sendiri. 
yah klo pak polisi sibuk, ya udh gpp, serahkan tugas ini kpd umat
islam yg ingin memurnikan akidahnya dr kerusakan yg ditimbulkan oleh
ahmadi ini, beres dah bos..!


Hikayat, Nabi Palsu dari Tanah Hindustan         
Thursday, 17 April 2008 07:11


Tanggal 15 Januari lalu, dalam rapat Badan Koordinasi Aliran
Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem), Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah
Indonesia (PB JAI) menyampaikan 12 poin penjelasan. Bakorpakem
menyatakan ajaran itu akan dievaluasi tiga bulan. Apa dan bagaimana
sebenarnya Ahmadiyah dan Mirza Ghulam Ahmad, berikut bagian pertama
dari tiga tulisan.

Hal utama yang dipersoalkan dari ajaran Ahmadiyah yang dibawa Mirza
Ghulam Ahmad (MGA) itu adalah kenabiannya. Sebab, doktrin Islam dalam
Alquran dan Hadis menegaskan Muhammad SAW adalah penutup para nabi.
''Dalil-dalilnya qath'i,'' kata Ketua Lembaga Penelitian dan
Pengkajian Islam (LPPI), Amin Djamaluddin.

Karena orang-orang Ahmadiyah mengaku Muslim, doktrin itu pun mengikat
mereka. Lain halnya, kata Ketua MUI, KH Ma'ruf Amin, bila mereka
menyatakan diri non-Muslim. Di Pakistan, tempat asal ajaran Mirzaiyah
itu, penganutnya sudah dinyatakan sebagai non-Muslim.

PB JAI--yang sampai saat ini menolak penganut Ahmadiyah dinyatakan
sebagai non-Muslim--menyatakan dalam poin kedua penjelasan PB JAI,
''Sejak semula, kami warga Jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad
Rasulullah adalah khatamun nabiyyin (nabi penutup).'' Di poin ketiga,
dinyatakan, ''Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam
Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita gembira, dan
pemberi peringatan serta pengemban mubasysyirat, pendiri, dan pemimpin
Jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang
dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.''

Lihat pula poin kelima, ''Kami warga Jemaat Ahmadiyah meyakini, (a)
Tidak ada wahyu syariat setelah Alquranul Karim yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW; (b) Alquran dan Sunah Nabi Muhammad Rasulullah SAW
adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani.''

Tokoh-tokoh Islam dari berbagai ormas melihat ada permainan kata-kata.
Antara lain, karena tak ada pernyataan MGA bukan nabi. Namun demikian,
mereka tetap bersabar tiga bulan. Amir PB JAI, Abdul Basith, tetap
menyatakan mereka selama ini disalahpahami. Benarkah?

Jumat (11/4) pekan lalu, Republika mengunjungi Masjid Al Mubarak, Jl
Moch Kahfi II No 44, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Khatib shalat Jumat
di masjid itu adalah Basuki Ahmad Mubaligh. Pria asal Jawa Tengah ini
adalah pengurus masjid Ahmadiyah di Depok.

Mula-mula, dia mengulas film Fitna yang menggegerkan. Tak lama
kemudian, dia mengulas soal adanya nabi setelah Muhammad,
''Berdasarkan Alquran surat Asshaff ayat 6, ada nabi bernama Ahmad,''
katanya.

Basuki menutup khotbah 20 menitnya dengan pernyataan, ''Ahmadiyah
tidak menghina Muhammad SAW. Ajaran ini justru memuliakannya.''
Sebelum shalat Jumat dimulai, mereka melantunkan bacaan yang banyak
menyebut ''Ahmad''.

Doktrin
Soal MGA nabi atau bukan bagi penganut Ahmadiyah, memang tak mungkin
diputuskan di meja perundingan Bakorpakem. Sebab, doktrin kenabian MGA
bertebaran di 88 buku yang ditulis MGA. Semua orang--termasuk
Muslim--yang tidak mengakui MGA sebagai nabi dinyatakan kafir secara
tegas.

Di beberapa kitabnya, MGA memang mencela orang yang mengaku nabi
setelah Muhammad. Seperti tertulis di kitab Isytirahat hlm 297,
''Lihatlah dengan jelas, sesungguhnya kami melaknat setiap orang yang
mengaku jadi nabi.''

Di kitab Ruhani Khazain hlm 435, MGA juga menulis, ''Janganlah kamu
menjadi musuh-musuh Alquran dan kamu mengatakan bahwa silsilah wahyu
kenabian itu masih berjalan, tidak terputus setelah khatamun
nabiyyin.'' Tapi, MGA sendiri justru mengaku menjadi nabi. Berikut
tertulis di Ruhani Khazain halaman 154, ''Sungguh Allah telah
menjadikanku seorang nabi, dan telah menyapaku dengan titel ini dengan
sangat jelas.'' Di halaman 230 tertulis, ''Maha benar Allah yang telah
mengutus rasul-Nya (Mirza Ghulam Ahmad) di Qadian.''

Di Tadzkirah hlm 342, MGA mengatakan, ''Bahwa Allah telah memberi
kabar padanya, 'Sesungguhnya orang yang tidak mengikutimu dan tidak
berbaiat padamu dan tetap menentangmu, dia itu adalah orang yang
durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya dan termasuk penghuni neraka jahim'.''

Dalam buku Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad, Mirza Basiruddin Mahmud
Ahmad menyatakan, dalam pidatonya di Lahore, MGA dikutip media untuk
mencabut pengakuannya sebagai nabi. Tapi, Basiruddin yang merupakan
salah seorang anak MGA dan 'khalifatul masih II' membantahnya.

''Berita yang berisikan kesalahpahaman itu dicetak pula oleh sebuah
surat kabar bernama Akbhar-e-Aam Lahore. Hazrat Ahmad as pun segera
membantah berita yang salah itu dan menyiarkan sebuah karangan yang
berjudul Ek Ghalathy Ka Izalah,'' kata Basiruddin dalam buku berjudul
asli Sirat Masih Mau'ud yang bisa di-download dari situs PB JAI,
ahmadiyya.org.

Dalam Ek Ghalathy Ka Izalah, MGA menulis, ''Saya memang mendakwakan
diri sebagai nabi dan sama sekali tidak pernah menarik kembali
pendakwaan itu. Hanya saya tidak membawa syariat baru dan tetap hanya
satu syariat yang dibawa junjungan yang mulia Nabi Muhammad SAW ....''

Benarkah nabi tanpa syariat? Di Ruhani Khazain halaman 435, MGA
menulis, ''Sesungguhnya Allah telah memberi wahyu kepadaku, wahyu
syariat juga.'' Secara faktual, syariatnya antara lain menghapuskan
jihad, haji akbar di Qadian, melarang shalat di belakang non-Ahmadi,
dan lain-lain. Lantas, wahyu dan keterangan manakah yang menjadi
pegangan orang-orang Ahmadiyah? MGA yang melaknat orang yang mengaku
nabi atau MGA yang mengaku nabi? MGA yang mengaku tak membawa syariat
atau MGA yang membawa syariat? Amin Djamaluddin mengatakan kenabian
MGA itu merupakan pokok keyakinan atau 'rukun iman'-nya orang Ahmadiyah.

Inilah yang dikatakan tokoh Ahmadiyah di Indonesia, Syafi R Batuah,
dalam buku Ahmadiyah: Apa dan Mengapa? (PB JAI, 1968), ''Bahwa semua
orang Islam harus percaya pada nabi Mirza Ghulam Ahmad. Kalau tidak,
berarti mereka tidak mengikuti ajaran-ajaran Alquran. Dan, siapa-siapa
yang tidak mengikuti Alquran maka ia bukan Muslim. Dan, barang siapa
yang mengingkari seorang nabi, menurut istilah agama Islam disebut
kafir.''

Karena dasar-dasar doktrin itulah, Budi (samaran) mantan anggota
Ahmadiyah Manis Lor, Kuningan Jawa Barat, ragu 12 poin penjelasan PB
JAI akan sukses. "Bohong mereka mah. Ulah dipercaya." (c66/lis/osa/run )

Kirim email ke