hahaha...emang lucu mas..lucu bangggggetttT!!!

Lucunya Gus Dur 
Apr 17, '06 3:05 PM
for everyone

assalaamu'alaikum wr. wb.

Seorang penulis pernah bilang bahwa Gus Dur ini memang tidak
tanggung-tanggung kontroversialnya.  Di satu sisi ia mengedepankan
sekularisme, tapi di sisi lain ia habis-habisan menunggangi
simbol-simbol keagamaan seperti pesantren, ke-kyai-annya, atau
ke-Gus-annya.  Di sana-sini ia berteriak agar jangan terlalu
mengeksploitasi hukum Islam dalam kehidupan berbangsa yang pluralis,
namun ketika ada yang hendak melengserkannya dari kursi kepresidenan,
tiba-tiba muncul istilah "fiqih dalam menghadapi makar terhadap
pemimpin umat".  Tiba-tiba saja ayat-ayat Al-Qur'an digunakan untuk
mengecam orang-orang yang hendak menjatuhkan dirinya.  Tapi itulah
politik.

Belum lama ini, situs resmi Jaringan Islam Liberal (JIL) memuat sebuah
wawancara yang dilakukan oleh M. Guntur Romli dan Alif Nurlambang
terhadap mantan orang nomor satu di Indonesia itu.  Pembicaraan
seputar RUU APP yang memicu banyak perdebatan itu.  Di dalamnya,
lagi-lagi, muncul begitu banyak 'kelucuan' yang sebenarnya sudah
menjadi ciri khas seorang Abdurrahman Wahid.

Ketika dimintai komentar tentang Perda Tangerang yang melarang habis
pelacuran, Gus Dur melihatnya dari 'sisi lain'.  Menurutnya, membuat
aturan yang melarang pelacuran bukanlah prioritas utama.  Di baliknya,
masih ada persoalan ekonomi.  Dengan kata lain, jika tidak ada
peningkatan taraf kehidupan, maka pelacuran tidak akan bisa dihapuskan.

Barangkali Gus Dur lupa bahwa pelacuran senantiasa ada meskipun di
lingkungan orang-orang kaya.  Memang gayanya beda, dan pelacur jenis
ini tidak mejeng di pinggir jalan, melainkan menunggu telpon di rumah
masing-masing.  Bayarannya bukan dalam hitungan ratusan ribu rupiah,
jutaan rupiah pun ada.  Para pelacur ini juga bukan orang miskin,
namun kaum perempuan hiperseks yang mau saja dijadikan komoditas
bisnis dengan harga yang sangat tinggi.  Tidak ada bukti bahwa
pelacuran bisa dihapuskan ketika ekonomi rakyat membaik.

Berikutnya, pewawancara meminta pendapat sang Gus tentang kesan
'arabisasi' dalam pelaksanaan RUU APP dan sejumlah perda syariat.  Gus
Dur membenarkan kesan tersebut dan tidak lupa mempertanyakan sikap
'arabisasi' tersebut.

Pertanyaan usang soal 'arabisasi' ini sebenarnya sudah dijawab dengan
sangat jitu oleh Mas Jonru, namun biarlah saya mengulangnya sedikit
(dengan redaksi saya sendiri).  Anggaplah kita sebagai bangsa
Indonesia tidak boleh menerima budaya lain yang akan mencemari
kepribadian bangsa kita.  Lalu apa sebenarnya yang selama ini terjadi
di negeri ini pada era globalisasi?  Kalau kita protes pada
'arabisasi', mengapa Gus Dur tidak pernah terdengar memprotes
'westernisasi', bahkan cenderung mendukungnya?  Apakah orang Barat
lebih baik daripada Arab?

Tapi itu semua berasal dari sebuah asumsi bahwa RUU APP memang
benar-benar sebuah proyek 'arabisasi'.  Padahal tidak demikian. 
Memang tidak ada perlunya mencontoh negara-negara Arab, karena mereka
sendiri tidak melaksanakan ajaran Islam dengan benar.  Negara manakah
yang menjalankan ajaran Islam dengan sepenuhnya?  Apakah negara
kerajaan bisa dianggap telah meneladani kekhalifahan?  Jelas tidak! 
Lagipula RUU APP tidak dibuat berdasarkan standar Islam.  Tidak ada
kewajiban menggunakan jilbab bagi perempuan di RUU tersebut.  Tidak
usah sampai begitu.  Sesopan Siti Nurhaliza pun sudah cukup, kok! 
Karena itu, perlu dipertanyakan RUU manakah yang sebenarnya sedang
dibicarakan oleh Gus Dur ini?

Untuk melengkapi keanehan itu, Gus Dur kemudian memberikan sebuah
'contoh kasus'.  Beginilah katanya : "Semua orang tahu bahwa pesantren
itu lembaga Islam, tapi kata pesantren itu sendiri bukan dari Arab
kan? Ia berasal dari bahasa Pali, bahasa Tripitaka, dari kitab agama
Buddha." 

Sepertinya Gus Dur gagal membedakan antara pesantren dengan istilah
pesantren itu sendiri.  Pesantren memang sebuah lembaga Islam, tapi
istilahnya tidak berasal dari ajaran Islam.  Pesantren itu sendiri
sebenarnya tidak berbeda dengan sebuah sekolah, hanya saja sangat
kental diwarnai dengan pengajaran agama Islam.  Mengenai istilah yang
digunakan untuk melambangkan sekolah yang bernuansa Islami itu sendiri
bebas menggunakan bahasa apa pun.  Orang Nepal menggunakan bahasa
Nepal, orang Meksiko menggunakan bahasanya sendiri, dan orang Brasil
tidak mesti menggunakan bahasa Perancis.  Kalau orang Indonesia
menggunakan bahasa nenek moyangnya dahulu, apa salahnya?  Toh penamaan
itu tidak mempengaruhi isi ajarannya.

Entah kelepasan atau tidak, Gus Dur kemudian bahkan menegaskan bahwa
kita tidak bisa menerapkan syariat Islam jika bertentangan dengan UUD
45.  Pertanyaannya, apakah agamanya : Islam atau Indonesia?  Siapakah
Rasul yang ditaatinya : Muhammad saw. atau para penyusun UUD 45 itu? 
Mengapa seorang Gus bisa memberi harga yang demikian rendah terhadap
agamanya sendiri?  Entahlah.

Berikutnya, sang narasumber menegaskan bahwa standar moralitas berubah
dari waktu ke waktu dan bisa juga berlainan di masing-masing tempat. 
Menurutnya, apa yang dianggap tidak senonoh di masa lalu bisa jadi
wajar di masa sekarang.  Selain itu, apa yang dianggap cabul di suatu
tempat bisa jadi hanyalah sebuah tradisi yang wajar bagi yang lainnya. 

Pertanyaannya sekarang : jujurkah mereka yang mengatakan bahwa standar
moralitas itu telah berubah?  Pertama, apa betul mereka tidak merasa
terangsang sedikit pun melihat pengumbaran aurat di tempat-tempat umum
di masa sekarang ini?  Hanya sekedar kata-kata dari lidah tidak bisa
menjamin apa-apa.  Siapa pun bisa berbohong dengan mengatakan dirinya
tidak terangsang agar kaum perempuan tidak ragu lagi untuk menambah
rangsangan itu.  Seharusnya kita menggunakan lie detector.

Kedua, apa betul standar moralitas berubah?  Pornoaksi sudah ada sejak
dahulu kala, tidak ada yang berubah.  Tari-tari erotis sudah ada sejak
dahulu kala.  Pelacuran sudah ada sejak jaman para Nabi, dan
homoseksualitas juga sudah ada, paling tidak sejak jaman Nabi Luth as.
 Dan sejak dahulu pula, semua hal tersebut sudah merongrong kehidupan
manusia.  Jadi, kata siapa standar moralitas telah berubah?

Ketika bicara tentang sastra Islam, lagi-lagi Gus Dur gagal membedakan
antara 'sastra Islami' dengan 'sastra yang dibuat oleh sastrawan yang
beragama Islam'.  Ia menceritakan sebuah novel karangan Naguib Mahfouz
yang bercerita tentang pergulatan batin seorang pelacur.  Menurut Gus
Dur, sastra itu jelas tidak bisa dianggap sebagai sastra non-Islam
karena jelas-jelas penulisnya adalah Muslim.  Sudah jelas dimana
kekeliruannya, bukan?

'Kenakalan' Gus Dur yang paling parah adalah ketika ia menyebut
Al-Qur'an sebagai kitab yang paling porno.  Begini cetusnya : "Di
Alqur'an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut.
 Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu.  Namanya menyusui, ya
mengeluarkan tetek kan?!  Cabul dong ini.  Banyaklah contoh lain,
ha-ha-ha…"

Pertama, masalah menyusui anak bukanlah perkara cabul.  Kalau
Al-Qur'an tidak memotivasi kaum ibu untuk menyusui anaknya hingga
waktu yang optimal, barangkali generasi muda umat Islam akan
berkembang dengan tidak cukup baik.  Apakah perkara menyusui anak
harus diabaikan lantaran berkaitan dengan organ payudara?  Kasihan
sekali anak-anak, jika memang demikian.  Untung Al-Qur'an tidak
ditulis oleh Gus Dur.

Kedua, sebenarnya Gus Dur sendiri yang menyusahkan dirinya dengan
definisi cabul yang terlalu jauh.  Tidak ada yang mengatakan bahwa
seorang ibu yang menyusui anaknya itu telah berbuat cabul.  RUU APP
pun jelas tidak melarang ibu mana pun untuk menyusui anaknya.  Bahkan
hanya orang gila yang akan melarang peristiwa alamiah yang amat
bermanfaat bagi bayi, baik dari segi medis maupun psikis tersebut.

Ketiga, apa yang Gus Dur maksud dengan Injil?  Apakah ia pernah
melihat Injil yang masih asli?  Umat Islam pasti beriman pada Injil,
hanya saja kita tidak pernah lagi menemukan Injil yang asli.  Injil
yang benar pasti sejalan dengan Al-Qur'an.  Kalau yang dimaksud adalah
Bibel (Kitab Suci yang digunakan oleh umat Kristiani sekarang), maka
kita tidak boleh menyebutnya sebagai Injil, karena Al-Qur'an dan
Al-Hadits telah menegaskan bahwa umat Nasrani telah mengubah-ubah
Injil menurut kehendaknya sendiri.

Keempat, anggaplah kita menerima istilah 'Injil' untuk Kitab Suci umat
Kristiani jaman sekarang.  Apakah di sana tidak ada ayat-ayat yang
berbau cabul?  Saya rasa Gus Dur harus diperkenalkan pada sebuah
masterpiece karya seorang ulama besar yang bernama Ahmad Deedat
(semoga Allah SWT ridha kepadanya).  Cukuplah buku The Choice sebagai
referensi atas 'keanehan-keanehan' (termasuk ayat-ayat porno) di dalam
'Injil' tersebut.

Berikutnya, Gus Dur mengulang sebuah pernyataan klise tentang
'dipojokkannya' kaum perempuan dalam masalah moralitas bangsa. 
Menurutnya, perempuan tidak perlu 'dipersalahkan' dan 'dituduh'
sebagai oknum yang menyebabkan munculnya rangsangan bagi kaum
laki-laki.  Laki-lakilah yang salah karena seringkali menganggap
perempuan sebagai objek seksual.

Gus Dur lupa bahwa standar aurat untuk lelaki dan perempuan itu
berbeda.  Kalau kita menggunakan standar itu, maka jelaslah bahwa
populasi laki-laki dewasa yang menutup aurat lebih banyak daripada
populasi perempuan yang menutup aurat.  Kalau Gus Dur tidak merasa
terangsang, baguslah!  Tapi tidak semua orang seperti itu.  Aturan
menutup aurat diberlakukan untuk menjaga ketertiban, bukan
mendiskreditkan perempuan.

Lalu muncullah sebuah klise yang lain : Tuhan tidak perlu dibela! 
Benar sekali, Tuhan tidak butuh dibela, bahkan Dia tidak membutuhkan
apa-apa dari siapa pun.  Seluruh umat manusia kafir atau beriman tidak
akan memberikan untung atau rugi pada-Nya.  Itulah kenyataanya.  Akan
tetapi, manusialah yang perlu melakukan 'pembelaan' itu.  Kalau kita
diam saja ketika Tuhan dihina, maka kita harus khawatir di akhirat
nanti kita dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang komitmennya
terhadap agama lemah.

Gus Dur juga menganggap bahwa inti ajaran kejawen itu sama dengan
Islam.  Pernyataan ini tidak ilmiah karena tidak mengandung bukti apa
pun.  Lagi pula, kesamaan inti ajaran saja belum bisa memenuhi syarat
di hadapan Allah.  Kalau Allah telah menetapkan syariat yang
diridhai-Nya, lalu bagaimana?  Apakah kita masih merasa bebas
menjalankan agama dengan selera kita masing-masing?  Apakah ketetapan
Allah bisa diubah dengan kesepakatan manusia?  Betapa lemahnya Allah
di mata Anda, Gus!

Melihat betapa lucunya tokoh yang satu ini, kita bisa meramalkan bahwa
JIL masih akan menjadikannya sebagai narasumber di masa depan. 
Sebagaimana Gus Dur, JIL pun penuh dengan dagelan.  Karena itu, tidak
usah ditanggapi dengan terlalu serius.  Santai dan tertawa sajalah. 
Tapi jangan lupa di-counter ya...

wassalaamu'alaikum wr. wb

Kirim email ke