memang ocehan anak cucunya orientalis baunya sanga BUSUK, huuuuee
mntah nii hueee


ANAK CUCU ORIENTALIS

assalaamu'alaikum wr. wb.

Saya buka tulisan ini – setelah salam – dengan ucapan
astaghfirullaahal `azhiim dan na'udzubillaahi min dzaalik.  Berikut
adalah kutipan ucapan yang akhir-akhir ini selalu bergema di kepala
saya, saking dahsyatnya. 

"Iblis kelak akan masuk surga, bahkan di tempat yang tertinggi karena
dia tidak mau sujud kecuali kepada Allah saja, dan inilah tauhid yang
murni.  Kalau seandainya saudara membaca, dan lebih banyak membaca
mungkin saudara menjadi Ibnu Arabi.  Sebab apa?  Sebab Ibnu Arabi
antara lain yang mengatakan bahwa kalau ada makhluk Tuhan yang paling
tinggi surganya, itu Iblis."

(Kata-kata ini diucapkan oleh Nurcholish Madjid pada pengajian
Paramadina di Jakarta tanggal 23 Januari 1987.  Ucapan ini adalah
jawaban yang diberikannya pada pertanyaan salah seorang peserta
pengajian : "Salahkah Iblis, karena dia tidak mau sujud kepada Adam,
ketika Allah menyuruhnya?  Bukankah sujud hanya boleh kepada Allah?")

 

"Dalam logika orang desa, kalau ada satu kelompok yang merasa benar
sendiri dan yang lain dituding salah atau sesat, nanti saya khawatir
kesepian di surga, tidak ada temannya.  Klaim-klaim kebenaran absolut
seperti itu sesungguhnya lebih menunjukkan, barangkali dalam bahasa
yang agak sarkastik, kurang menyadari bahwa hidup sosial tidak bisa
sendirian.  Di hutan saja pun tidak bisa hidup sendirian, mesti
bersama hewan-hewan, pohon-pohonan dan semak belukar."

 

(Ungkapan ini berasal dari lidah Abdul Munir Mulkhan, seorang Wakil
Rektor di UIN Yogyakarta dan salah satu petinggi di Muhammadiyah. 
Pendapat ini melengkapi pendapatnya yang lain yang juga termasyhur,
yaitu bahwa surga Allah akan terdiri dari banyak `kamar' yang bisa
dimasuki dengan beragam jalan atau agama.  Jadi semua orang bisa masuk
surga sesuai keagamaan dan kapasitasnya masing-masing, jika
benar-benar memang percaya dan berminat.)

  

"Lebih maju lagi pendapatnya tentang kedudukan wanita.  Misalnya bahwa
pergaulan laki-laki dengan wanita tidaklah akan membawa kerusakan,
malah akan sama-sama menjaga kepribadian masing-masing, kalaupun ada
maka dianggap seorang pengkhianat atau amoral.  Begitu pula halnya
bepergian bersama antara laki-laki dengan wanita.  Suatu contoh lagi
dikemukakannya, bahwa apa yang dilihatnya di Paris tentang dansa lebih
baik dari tari wanita yang ada di Mesir.  Kalau dansa tidaklah
menimbulkan hal-hal yang negatif, lain halnya dengan tari di Mesir."

 

(Ini adalah tanggapan Harun Nasution ketika menanggapi
pemikiran-pemikiran Rifa'at Thahthawi dari Mesir.  Harun Nasution
adalah seorang tokoh IAIN Jakarta yang juga sangat berpengaruh di
Departemen Agama RI, sekaligus alumni McGill University, Canada. 
Rifa'at Thahthawi adalah orang Mesir yang lebih kerasan tinggal di
Perancis, namun dikecam oleh para ulama di Mesir.)

  

"Meski kami yakin bahwa Tuhan kami sangat dan pasti mempunyai
kemampuan untuk memaksa hamba-Nya, namun jika kemudian ada pemaksaan
nilai-nilai kultur suatu bangsa misalnya pengharusan pakaian khas Arab
yang bernama `Jubah dan Sorban' untuk menggantikan `Sorjan dan
Blangkon' Jogja atas nama Tuhan, maka kami akan mengadakan kudeta
teologis dan menggantinya dengan Tuhan yang baru."

 

(Kalimat-kalimat yang mengerikan ini terambil dari mukadimah dalam
buku "Negara Tuhan : The Thematic Encyclopedia", yang diterbitkan oleh
SR-Ins Publishing, Yogyakarta, 2004.  Buku ini disusun oleh beberapa
dosen IAIN Yogyakarta.)

  

"Saya sudah tidak lagi melakukan ritual konvensional (shalat), tetapi
dengan cara saya sendiri.  Kemiskinan tidak hanya bisa diselesaikan
dengan cara seperti itu.  Saya punya cara sendiri.  Dengan cara
meningkatkan kepedulian untuk mencari solusi kemiskinan."

 

"Karena saya berpikir, Tuhan pasti tidak otoriter.  Sebab bagi saya
kalau shalat dalam ritual seperti yang ada sekarang saya lakukan
dengan tidak bisa konsentrasi penuh (khusyuk), maka dia hanya menjadi
teks mekanik atau bergerak begitu saja.  Sementara, saat ini pikiran
saya kemana-mana saya terpikir soal kerupuk, makan, utang dan
lain-lain.  Maka, (untuk saya pribadi) nggak ada gunanya, menurut
saya.  Jadi saya berpikir, Tuhan membolehkan cara lain, yang intinya
adalah bahwa saya menjaga kesadaran dalam diri saya dan saya mencoba
komunikasi langsung dengan Tuhan."

 

(Bagian pertama adalah ucapan Wardah Hafidz pada sesi wawancara di
TV-7 pada tahun 2002, sedangkan bagian kedua adalah penjelasannya
mengenai bagian yang pertama tersebut pada sesi wawancara yang diliput
oleh website resmi Jaringan Islam Liberal dengan Ulil Abshar Abdalla
sebagai pewawancaranya.  Wardah Hafidz dikenal sebagai tokoh feminisme
alumni barat.)

  

"Kekuatan dan kejeniusan Muhammad yang mengagumkan membuat dia mampu
mengubah tatacara ibadah penyembahan dewa bulan yang bernama Allah itu
menjadi sebuah agama Islam, agama kedua terbesar di dunia.  Namun
kalau kita perhatikan kehidupan Muhammad, kita akan menemukan bahwa
dia merupakan manusia biasa yang juga bergelimang dosa seperti halnya
dengan kita semua.  Dia berbohong, dia menipu, dia dipenuhi nafsu
birahi ; dia mengingkari janji, dia membunuh, dan lain-lain.  Dia
tidak sempurna dan dia juga berdosa."

 

(Ini adalah salah satu bagian dari buku "Islamic Invasion" karangan
Robert Morey.  Wajar kalau seorang manusia kafir berusaha memfitnah
yang bukan-bukan terhadap Rasulullah saw.  Yang aneh adalah bahwa pada
edisi bahasa Indonesia dari buku ini terdapat pengantar yang ditulis
oleh Azyumardi Azra, seorang Muslim – insya Allah – yang juga seorang
Rektor UIN dan dekat dengan Paramadina pimpinan Nurcholish Madjid,
juga diakui sebagai salah satu kontributor pada website resmi Jaringan
Islam Liberal.)

  

Saya akan mencoba menanggapi ucapan-ucapan ini dengan kalimat-kalimat
yang baik, sebaik yang saya bisa.  Walaupun lebih mudah bagi kita
untuk mencap mereka sebagai orang kafir saja, namun itu bukanlah sikap
yang dibenarkan dalam Islam, kecuali dalam kasus Robert Morey yang
memang orang kafir.  Kita tidak akan mengutamakan emosi di sini,
sebagaimana Ali ra. menolak membunuh lawannya di medan perang dengan
mengatasnamakan amarah pribadi.  Kita juga akan menolak menggunakan
hawa nafsu, sebagaimana Nabi Yusuf as. yang menolak mengikuti ajakan
nista dari seorang istri pembesar Mesir.  Amarah, emosi, hawa nafsu
dan ego pribadi tidak ada relevansinya di sini.

 
Pertama, mengenai ucapan Nurcholish Madjid mengenai masuk surganya
sang Iblis.  Siapa pun bisa berspekulasi dan mengatakan bahwa Iblis
menolak sujud pada Adam as. karena ia tidak mau berbuat syirik kepada
Allah.  Kenyataannya, sejauh yang saya baca dalam Al-Qur'an, hanya
satu alasan yang menyebabkan Iblis menolak sujud : kesombongan!  Iblis
yang terbuat dari api terlalu gengsi untuk bersujud pada Adam as. yang
diciptakan dari tanah.  Kalau memang Iblis punya itikad baik di balik
pembangkangan ini, maka pembelaan tersebut dapat diungkapkannya
sendiri di hadapan Allah.  Namun tidak ada satu ayat pun yang
menceritakan perihal pembelaan Iblis tersebut.  Barangkali Iblis bisa
berkoar-koar dan membohongi Nurcholish Madjid, namun Iblis tidak bisa
berbicara bohong di hadapan Allah.  Iblis tidak pernah mengungkapkan
alasan lain selain kesombongannya sendiri.
 

Kedua, mengenai komentar Abdul Munir Mulkhan yang mengatakan bahwa
semua manusia dari semua agama bisa masuk surga, meskipun lewat pintu
yang berbeda-beda.  Kalau memang Islam tidak diyakininya sebagai agama
yang benar, mengapa ia tidak murtad saja?  Kalau memang ia berpendapat
bahwa Islam memiliki kesalahan, mengapa harus memaksakan diri menjadi
seorang Muslim?  Ini sama anehnya seperti orang-orang jaman sekarang
yang mempertahankan kebiasaan merokoknya, walaupun akal sehatnya tahu
persis mengenai sejuta kerugian merokok.


Saya juga tidak habis pikir mengenai spekulasinya mengenai rasa
kesepian di surga.  Kalau memang mayoritas manusia masuk neraka, lalu
minoritasnya masuk surga, apakah dia lebih suka berada di neraka
karena alasan kesepian?  Saya kira wajar-wajar saja kalau surga itu
lebih sepi dibanding neraka.  Bukankah memang orang-orang hebat itu
lebih sedikit daripada mereka yang payah?


Ketiga, mengenai pendapat Harun Nasution yang memuji Rifa'at
Thahthawi, itu pun membingungkan.  Inilah contoh pengambilan
kesimpulan berdasarkan observasi yang sama sekali tidak komprehensif
dan argumen yang sama sekali tidak didasarkan pada bukti apa pun. 
Saya tidak bermaksud membela tari-tarian Mesir, karena entah bagaimana
bentuk tari-tarian yang dimaksud pada jaman itu.  Yang jelas, tradisi
dansa di Eropa (dalam hal ini Perancis) jelas tidak bisa dibilang
`tanpa resiko'.  Sampai sekarang pun, malam pesta dansa yang disebut
sebagai `Prom Night', yaitu ajang perayaan kelulusan di SMA-SMA di
Amerika dan Eropa, lebih dikenal sebagai ajang seks bebas.  Bahkan
acara-acara semacam ini tidak lepas dari pemerkosaan.  Kaum perempuan
diajak berdansa dan bersenang-senang, kemudian diberi minuman yang
dibubuhi obat tidur atau obat perangsang, maka segalanya pun menjadi
bebas. 

 

Keempat, mengenai mukadimah dalam buku yang disusun oleh para dosen
UIN Yogyakarta.  Jelas sekali mereka ini mengada-ada, karena Islam
tidak pernah menyuruh untuk mengganti sorjan dan blangkon mereka
dengan jubah dan sorban milik orang Arab.  Tapi spekulasi ini
mengungkapkan wajah sejati mereka.  Mereka tidak suka dengan Tuhan
yang otoriter.  Kalau Tuhan bersikap otoriter, maka mereka akan
mencari Tuhan yang lain.

 

Pertanyaannya : Bagaimana Dia bisa disebut Tuhan kalau Dia tidak
otoriter?  Saya tidak tahu bagaimana definisi Tuhan dalam benak
mereka.  Menurut saya, salah satu sifat Tuhan adalah otoriter.  Kalau
keputusannya bisa ditolak, maka pastilah ia bukan Tuhan.  Tuhan tidak
bisa didebat.  Anda bisa menolak menuruti perintah-Nya, tapi nanti
akan datang hari di mana Anda tidak bisa lagi berkilah.  Anda akan
dipaksa untuk tunduk.  Otoriter?  Jelas.  Mengerikan?  Tidak juga. 
Anda hanya harus tahu diri di hadapan Tuhan, itu saja.

 

Kelima, mari bicara tentang kebanggaan seorang Wardah Hafidz yang
sudah tidak pernah shalat lagi (menurut pengakuannya sendiri, lho!). 
Alasannya?  Karena shalat `konvensional' itu tidak dapat menyelesaikan
masalah kemiskinan.

 

Saya belum pernah membaca sebuah ayat atau hadits pun yang mengatakan
bahwa shalat itu diperintahkan untuk menghindari kemiskinan.  Apakah
kemiskinan itu buruk?  Rasulullah saw. miskin, tapi itu bukan karena
malas berusaha atau tidak lihai berdagang.  Masalahnya, beliau terlalu
ringan dalam memberi.  Kalau ada yang minta makan, pasti beliau
berikan makanan padanya.  Akhirnya, kadang-kadang beliau terpaksa
puasa seharian karena jatah makanannya diberikan pada orang lain. 
Atau barangkali Wardah Hafidz membaca `Al-Qur'an yang lain'?

 

Sikap Wardah Hafidz kurang lebih sama dengan sikap Muhammad Roy,
pencetus shalat dwibahasa.  Sama-sama buruk muka, cermin dibelah. 
Karena tidak mengerti arti bacaan shalat, maka shalat dibikin menjadi
dwibahasa.  Wardah Hafidz pun sama.  Karena tidak mampu khusyuk,
lantas shalat yang dipaksa berubah.  Di kemudian hari, bisa jadi akan
muncul `ulama' yang membolehkan zina, lantaran tidak bisa menahan
nafsu.  Karena ketidakmampuan diri sendiri, maka agamalah yang harus
berubah.  Adakah yang lebih konyol daripada pemikiran seperti ini?


Saya tidak merasa perlu mengomentari tulisan Robert Morey, karena kita
semua tahu itu bohong belaka.  Bahkan orang-orang kafir pun tahu bahwa
dia berbohong.  Kita tidak perlu menanggapi ucapan-ucapan kacau tanpa
bukti semacam ini.  Toh, di Amerika Serikat sendiri, puluhan ribu
orang memesan Al-Qur'an gratis yang dibagi-bagikan oleh komunitas
Muslim di sana.  Puluhan ribu orang tertarik dengan Islam, sementara
hanya ada satu Robert Morey.  Biarkanlah dia berkicau sekehendak hatinya.

 

Yang perlu dipertanyakan adalah peranan Azyumardi Azra dalam buku itu.
 Mengapa ia mesti bersusah payah memberikan pengantar, bahkan
merekomendasikan buku sesat tersebut pada umat Islam?  Entahlah. 


Benang merah yang dapat ditarik dari para tokoh tersebut adalah kaum
orientalis barat.  Tokoh-tokoh nyeleneh ini semuanya pernah belajar di
negara-negara barat.  Tentu tidak semua sekolah di barat itu salah,
hanya saja yang mereka pelajari adalah Islam.  Wajarkah belajar Islam
di negeri kafir?  Wajarkah belajar Islam di negeri di mana bertebaran
orang-orang yang mau melempar Al-Qur'an ke dalam toilet,
merobek-robeknya, dan mengencinginya?  Wajarkah belajar Islam di
kampung halamannya para penjajah yang suka mendobrak masjid-masjid
tanpa melepas sepatu?  Wajarkah belajar Islam di negeri para pembenci
Islam?


Silakan jawab sendiri.  Buat saya, semua ini sangat aneh, dan berbau
konspirasi.  Bau busuk, tentunya.

 

wassalaamu'alaikum wr. wb.

Kirim email ke