Sabtu, 15 November 2003  
 
Mazhab Wahabi dan Peta Oposisi di Arab Saudi 
(Musthafa Abd Rahman, dari Cairo)
 


ARAB Saudi memiliki tempat yang sangat signifikan di dunia Arab dan 
Islam. Ini disebabkan statusnya sebagai negara terbesar di 
Semenanjung Jazirah Arab, kepemimpinannya di Dewan Kerja Sama Teluk 
(GCC), dan negara penghasil serta pemilik cadangan minyak terbesar. 
Lebih dari itu Arab Saudi juga tempat beradanya dua tanah suci, yakni 
Kota Mekkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawwarah, serta Kabah di 
Masjid Al Haram yang menjadi kiblat shalat umat Islam seluruh dunia.

ARAB Saudi juga dikenal sebagai negara yang menganut sistem monarki 
mutlak dengan diperintah oleh keluarga Al Saud yang berpijak pada 
ideologi mazhab Wahabi. Maka, mazhab Wahabi menjadi dasar legitimasi 
kekuasaan dan pengembangan pengaruh pemerintah keluarga Al Saud di 
Semenanjung Jazirah Arab.

Akan tetapi sejak lahirnya mazhab Wahabi itu sendiri, telah timbul 
reaksi oposisi dari dalam terhadap mazhab itu lantaran doktrin mazhab 
Wahabi yang mengkafirkan mereka yang menolak ajarannya. Doktrin itu 
ternyata menjadi khazanah yang dianut sebagian segmen masyarakat di 
Arab Saudi dan Semenanjung Jazirah Arab hingga saat ini.

Sheikh Sulaiman bin Abdul Wahab (saudara pendiri mazhab Wahabi, 
Sheikh Muhammad bin Abdul Wahab) mengarang kitab berjudul Petir Ilahi 
untuk Menangkis Ajaran Wahabi. Isi kitab tersebut menolak ajaran 
Wahabi yang diusung Muhammad bin Abdul Wahab.

Arab Saudi pun dikenal negara Islam konservatif lantaran sandaran 
ideologi Wahabinya itu dan dukungannya terhadap lembaga-lembaga 
Islam. Label Islam konservatif pada negara Arab Saudi itu tercipta 
pada tahun 1745 menyusul koalisi antara Sheikh Muhammad bin Abdul 
Wahab (pendiri mazhab Wahabi) dan keluarga Al Saud dan terus 
berlanjut hingga sekarang.

Islam tercantum sebagai agama negara dan sumber hukum. Ajaran Islam 
versi mazhab Wahabi itulah yang merajut aktivitas pendidikan, hukum, 
dan dasar etika masyarakat di Arab Saudi. Misalnya, pemerintah 
mengharuskan pertokoan dan kantor-kantor pemerintah ditutup ketika 
azan shalat dikumandangkan dan mereka sangat dianjurkan shalat 
berjamaah.

Menurut Sheikh Muhammad bin Abdul Wahab, para ulama bertanggung jawab 
memperkenalkan dan mensosialisasikan ajaran Islam. Kerja sama ulama 
dan pemerintah (umara) disebutkan merupakan kewajiban.

Pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan ajaran agama seperti 
shalat, zakat, puasa, dan haji. Adapun ulama membantu pemerintah 
memberi petunjuk bagi pelaksanaan ajaran agama itu.

Hubungan keluarga Al Saud dan para ulama pada abad ke-18 merupakan 
hubungan kemitraan yang sangat strategis sesuai dengan teori politik 
Islam tradisional dan prinsip-prinsip yang diletakkan Muhammad bin 
Abdul Wahab. Hubungan kemitraan yang harmonis antara agama dan negara 
pada era negara Arab Saudi pertama itu barangkali disebabkan adanya 
kesamaan tujuan saat itu.

Kemitraan strategis itu membuka peluang bagi Sheikh Muhammad bin 
Abdul Wahab memiliki kekuatan politik untuk penerapan mazhab Wahabi 
di Arab Saudi. Dalam waktu yang sama, mazhab Wahabi memberi 
legitimasi agama pada kekuasaan keluarga Al Saud. Mazhab Wahabi 
memberi doktrin bahwa patuh pada pemerintah merupakan kewajiban agama 
selama pemerintah itu melindungi syariat agama dan membangkang 
pemerintah adalah khianat.

ARAB Saudi di Semenanjung Arab sejak berdirinya tahun 1932 
sesungguhnya diwarnai banyak aksi oposisi terhadap sistem negara dan 
hegemoni keluarga Al Saud. Kebijakan reformasi pemerintah keluarga Al 
Saud dan dalam waktu yang sama tetap memegang teguh mazhab Wahabi, 
mengundang reaksi oposan dari dua kubu sekaligus, yakni kubu sekuler 
dan konservatif. Dua kubu tersebut sama-sama menuntut dibubarkannya 
pemerintahan monarki di Arab Saudi.

Tantangan politik pertama kekuasaan dinasti Al Saud pascapenyatuan 
teritorial Kerajaan Arab Saudi tahun 1932 adalah aksi mogok yang 
dilancarkan para karyawan Aramco (perusahaan minyak Arab Saudi) pada 
tahun 1953 dan 1956. Gerakan oposisi karyawan Aramco dimulai musim 
panas tahun 1953 ketika mereka menuntut kenaikan gaji dan peningkatan 
pelayanan sosial serta hak mendirikan serikat pekerja pada Putra 
Mahkota Pangeran Saud.

Namun tuntutan mereka ditolak dan bahkan pemerintah menahan wakil 
dari karyawan itu. Penahanan para wakil karyawan tersebut menyulut 
lahirnya gerakan oposisi dan aksi mogok kerja oleh 13.000 karyawan 
Aramco.

Tak pelak lagi, pemerintah saat itu mengirim pasukan ke wilayah timur 
Arab Saudi untuk meredam aksi mogok para karyawan Aramco itu. Para 
karyawan tersebut akhirnya menyerah dan bersedia kembali bekerja.

Aksi mogok karyawan Aramco dengan motivasi lebih politis lagi terjadi 
pada tahun 1956 akibat pengaruh maraknya gerakan nasionalisme Arab 
saat itu. Pada 9 Juni 1956, para karyawan Aramco mulai melakukan aksi 
mogok tanpa disertai tuntutan ekonomi dan tidak ada kritik pada 
pemerintah. Namun mereka mengumandangkan nasionalisme dan slogan 
antikolonial sebagai protes atas dominasi asing pada Aramco. Reaksi 
pemerintah saat itu sangat keras dengan menangkap para pimpinan unjuk 
rasa itu.

Sejumlah anggota keluarga kerajaan yang bervisi liberal pimpinan 
Pangeran Talal bin Abdul Aziz (adik kandung Raja Saud bin Abdul Aziz) 
mengajukan rancangan konstitusi dan pembentukan Majelis Tasyrii 
(dewan perwakilan rakyat) pada tahun 1962.

Putra Mahkota Pangeran Faisal yang menjabat Perdana Menteri saat itu 
menolak tuntutan Pangeran Talal yang mengantarkan terjadinya koalisi 
antara Pangeran Talal dan Raja Saud. Pangeran Faisal lalu 
mengundurkan diri sebagai perdana menteri, dan Raja Saud membentuk 
kabinet baru. Pada kabinet baru itu Raja Saud merangkap sebagai 
perdana menteri dan menteri keuangan/ekonomi dipercayakan pada 
Pangeran Talal.

Namun tidak berapa lama setelah itu, Raja Saud terlibat perbedaan 
pendapat dengan Pangeran Talal, menyusul Pangeran Talal meminta 
pembentukan Dewan Nasional untuk merancang konstitusi. Raja Saud 
kemudian memecat Pangeran Talal sebagai anggota kabinet.

Pangeran Talal lantas mengasingkan diri ke Cairo dan membentuk komite 
pembebasan Arab Saudi. Namun komite tersebut ternyata sangat lemah 
dan tidak memiliki pengaruh apa-apa di dalam negeri Arab Saudi. 
Setelah Presiden Mesir Gamal Abdel Naser meninggal dunia pada tahun 
1970 dan Raja Faisal melakukan reformasi politik, Pangeran Talal 
kembali ke Arab Saudi dan masuk lagi ke jajaran keluarga kerajaan Al 
Suud.

SEMENTARA itu, lembaga militer Arab Saudi sesungguhnya memiliki 
tradisi mendukung kekuasaan Al Saud. Lembaga militer Arab Saudi juga 
tidak mempunyai tradisi ikut campur urusan politik, tidak seperti 
halnya lembaga militer di negara Arab lain.

Pemerintah Al Saud melakukan modernisasi militer dan sekaligus sangat 
mengontrol lembaga militer negara itu. Hal itu disebabkan, pertama, 
untuk membatasi gerak dan peran militer hingga tidak muncul sebagai 
kekuatan militer yang mengancam stabilitas negara. Kedua, militer 
digunakan untuk melindungi sumur-sumur minyak.

Meski militer Arab Saudi dikenal pendukung setia kekuasaan Al Saud, 
tetapi telah terjadi beberapa kali percobaan kudeta di negara itu. 
Pada tahun 1945, pilot Arab Saudi, Abdullah Munadali, mengebom kemah 
Raja Saud di padang Arafat dekat Mekkah, namun salah sasaran. Ia lalu 
ditangkap dan dihukum mati.

Sejumlah pilot Arab Saudi juga terlibat percobaan pembunuhan atas 
Raja Saud segera setelah revolusi Irak pada 14 Juli 1958 yang 
mengakhiri sistem monarki di Irak. Pada tahun 1962, enam perwira 
ditangkap karena melakukan kontak dengan Pangeran Talal di Cairo yang 
membangkang saat itu. Pada tahun 1969, terbongkar upaya percobaan 
kudeta dan ditahan sekitar 100 perwira. Pada tahun 1977, sejumlah 
perwira militer diajukan ke pengadilan dengan tuduhan akan melakukan 
percobaan kudeta.

Dalam upaya mencegah ancaman militer terhadap kekuasaan keluarga Al 
Saud, Pemerintah Arab Saudi menerapkan dua kebijakan.

Pertama, memisah satuan pengawal nasional dari lembaga militer. 
Satuan pengawal nasional itu berada di bawah komando langsung putra 
mahkota Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz. Pengawal nasional yang 
terdiri dari unsur seluruh kabilah bertugas mengamankan kekuasaan 
keluarga Al Saud dan keamanan dalam negeri, khususnya kawasan minyak. 
Kedua, pemerintah memberi fasilitas dan kesejahteraan yang memadai 
pada anggota militer untuk melunakkan sikap mereka.

Peran kaum intelektual Arab Saudi selama ini dikenal sangat lemah 
dalam berandil menentukan kebijakan nasional negara. Sesungguhnya 
terdapat sejumlah gerakan oposisi rahasia yang digerakkan kaum 
intelektual, namun masih lemah dan tercerai-berai. Hal ini salah satu 
faktornya adalah pemerintah berhasil menjinakkan mereka dan memenuhi 
kebutuhan materinya serta kemampuan aparat keamanan meredam aktivitas 
mereka.

Ada beberapa gerakan oposisi yang dimotori kaum intelektual. Pada 
tahun 1956, aktivis komunis dan sejumlah intelektual Arab Saudi 
membentuk Front Reformasi Nasional. Namun setelah dua tahun, aktivis 
komunis mundur dari front tersebut dan mendirikan front pembebasan 
nasional. Misi front itu adalah mengubah paradigma kehidupan di Arab 
Saudi, membentuk pemerintahan yang berasal dari rakyat, dan menolak 
imperialisme.

Pada akhir tahun 1975, front pembebasan nasional mengubah namanya 
menjadi partai komunis Arab Saudi. Partai tersebut hanya 
beranggotakan sekitar 30 orang dan tidak memiliki pengaruh sama 
sekali.

Kelompok oposisi yang paling efektif dan terorganisir adalah Partai 
Baath cabang Arab Saudi. Partai tersebut didirikan pada tahun 1958. 
Pascapecahnya Partai Baath Suriah dan Irak pertengahan tahun 1960-an, 
anggota Partai Baath Arab Saudi melakukan pengunduran diri secara 
kolektif. Hanya tersisa sebagian kecil yang masih setia pada partai 
Baath.

Partai Rakyat Demokrat merupakan kelompok oposisi paling radikal di 
Arab Saudi. Partai yang didirikan pada tahun 1970 itu menghimpun 
anggota dari pengikut Marxisme dan nasionalisme Arab. Partai itu 
memperjuangkan penerapan ekonomi Marxis dan pembebasan Jazirah Arab 
dari kolonial.

MESKIPUN Islam menjadi alat legitimasi kekuasaan keluarga Al Saud, 
kelompok oposisi Islam muncul pula beberapa tahun terakhir ini. Ada 
dua kelompok oposisi Islam utama, yaitu organisasi revolusi Islam dan 
organisasi Ikhwan baru. Mereka sama-sama menuntut berdirinya negara 
Islam hakiki di Arab Saudi.

Organisasi revolusi Islam didirikan pada akhir tahun 1970-an dan 
didukung Iran dengan beranggotakan kaum Syiah Arab Saudi. Organisasi 
tersebut mengadopsi pandangan Imam Khomeini dalam pemerintahan Islam. 
Anggota organisasi itu sempat menyebarkan pamflet yang 
bertuliskan "suara rakyat" pada musim haji tahun 1981 di Kota Mekkah.

Adapun organisasi Ikhwan baru telah melancarkan aksinya yang 
terkenal, yaitu penyerangan ke Masjid Al Haram pada 20 November 1979. 
Mereka mengutuk Pemerintah Arab Saudi. Peristiwa penyerangan Masjid 
Al Haram itu mengungkap tiga problem menyangkut hubungan agama dan 
negara di Arab Saudi.

Pertama, bagaimana cara mengompromikan modernisasi dan kenikmatan 
ekonomi yang begitu cepat di satu pihak dan komitmen dengan mazhab 
Wahabi di pihak lain. Kedua, sistem pemerintahan Arab Saudi tidak 
selalu sesuai dengan aspirasi kelompok radikal Islam. Ketiga, 
keluarga dinasti Al Saud ternyata mendapat tantangan dari kelompok 
Islam radikal.

Saat ini ada Jemaah Pembela Hak Asasi pimpinan Dr Muhammad Mash'ari 
yang berbasis di London. Jemaah tersebut kemudian berkembang menjadi 
Gerakan Reformasi Islam pimpinan Dr Saad Al Fakih. Aktivitas gerakan 
tersebut semakin gencar dan meluas terakhir ini dengan menggunakan 
jaringan Internet dan membuat stasiun radio. Oposisi Islam ini kini 
praktis lebih merepotkan Pemerintah Arab Saudi dibandingkan dengan 
oposisi beraliran liberal.

Beberapa bulan terakhir ini Arab Saudi kembali mendapat guncangan 
dahsyat akibat serangkaian aksi kekerasan di berbagai kota, seperti 
Kota Mekkah, Madinah, Jeddah, dan Riyadh. Pemerintah Arab Saudi 
menuduh aktivis Islam simpatisan atau pengikut Tanzim Al Qaeda berada 
di balik aksi kekerasan tersebut.

Dalam konteks itu, bagi Pemerintah Arab Saudi ada dua pilihan, yaitu 
melancarkan perang melawan teroris atau menggelar dialog.

Pemerintah Arab Saudi secara resmi memilih perang melawan kaum 
teroris dan berjanji akan memburu serta menangkap pelaku aksi 
kekerasan itu. Menteri Dalam Negeri Pangeran Nayef bin Abdul Aziz 
menegaskan, dialog dengan kaum teroris hanya dengan pedang dan 
senjata. Adapun Raja Fahd bin Abdul Aziz berjanji akan memukul dengan 
tangan besi para pelaku ledakan bom itu.

Meski demikian, sejumlah ulama pekan lalu menawarkan 
inisiatif "Ramadhan Mubarak" untuk menggelar dialog pemerintah dan 
kaum militan. Menurut Sheikh Muhsin Awaji, tujuan dialog itu untuk 
melakukan evaluasi secara komprehensif dari kedua pihak sebagai 
bagian dari upaya reformasi di Arab Saudi sehingga tidak lebih banyak 
lagi para pemuda negara itu terlibat aksi kekerasan di masa mendatang.

Pangeran Waleed bin Talal mengusulkan, sudah tiba waktu bagi 
Pemerintah Arab Saudi segera melakukan reformasi politik dan ekonomi 
secara mendasar untuk mempersempit tumbuhnya radikalisme yang selalu 
membawa nama agama. Usul itu senada dengan suara sejumlah ulama dan 
kaum intelektual.

Arab Saudi sesungguhnya telah menggulirkan beberapa kebijakan 
reformasi seperti rencana penyelenggaraan pemilu wali kota tahun 
depan dan pembentukan komite hak asasi manusia. Namun tampaknya masih 
membutuhkan sentuhan reformasi yang lebih signifikan lagi. 

Kirim email ke