assalaamu'alaikum wr. wb.
Musuh-musuh Islam (termasuk musuh di dalam selimut) memiliki banyak cara untuk mendiskreditkan Islam. Salah satu cara terbaik yang bisa mereka lakukan adalah dengan cara menyesatkan opini masyarakat, sehingga umat Islam teradu domba dan tidak bisa lagi menentukan mana yang benar dan mana yang salah Banyak sekali ragam penyesatan opini yang bisa kita lihat di tengah-tengah masyarakat. Jika ada sebuah media massa yang menyebut nama `Negara Israel', maka ini pun adalah sebuah penyesatan opini. Seolah-olah ada dua negara yang berdaulat yang tengah bersengketa memperebutkan tanah Palestina. Padahal `Negara Israel' sendiri cacat secara hukum, karena merupakan bentuk dari penjajahan. Kita dibuat lupa bahwa dahulu Inggris datang dan mencaplok tanah Palestina, kemudian sebagian diberikan kepada kaum Yahudi, dan mereka menyebutnya sebagai `Negara Israel'. Bagaimana pendapat Anda jika VOC dihidupkan kembali, kemudian bangsa ini diperbudak, dirampas tanahnya, kemudian sebagian diberikan kepada bangsa Belanda? Sama tidak masuk akalnya dengan pengakuan terhadap `Negara Israel'. Karena sebagian masyarakat sudah kadung menyangka bahwa di Timur Tengah sana sedang berkecamuk peperangan antara dua bangsa, maka definisi pelanggaran HAM pun jadi kabur. Bangsa Palestina yang meledakkan bom dan menembaki warga `Negara Israel' pun dianggap melanggar HAM. Padahal, kejadian seperti ini sama wajarnya seperti Imam Bonjol yang memimpin masyarakat Minang untuk `membantai' pasukan Belanda, atau Teuku Umar yang `mengkhianati' Belanda dan berbalik menyerangnya. Sangat wajar jika kaum terjajah melakukan segala cara untuk mengusir para penjajah. Segala cara! Jaringan Islam Liberal (JIL) bersama partner sejatinya, The Asia Foundation, pernah menerbitkan sebuah buku berjudul "Syariat Islam : Pandangan Muslim Liberal". Buku itu ditulis secara `keroyokan' disertai laporan dari sebuah acara diskusi. Dalam buku itu, Saiful Mujani, salah satu penulisnya, memaparkan beberapa contoh kasus penerapan syariat Islam tanpa demokrasi. Salah satu contoh kasus yang diambilnya adalah Arab Saudi. Sejak awal, pengambilan contoh kasus seperti ini adalah sebuah penyesatan opini. Arab Saudi tidak bisa dikatakan telah menerapkan syariat Islam. Sejak kapankah bentuk kerajaan dianggap sesuai dengan syariat? Siapakah yang mengatakan sistem kerajaan ekivalen dengan sistem khilafah Islamiyah? Atas dasar apa Arab Saudi dianggap sebagai representasi atas penerapan syariat Islam yang baik? Jika kita telah berhasil digiring untuk berpendapat bahwa Arab Saudi adalah representasi penerapan syariat Islam, maka selanjutnya, melalui tulisannya, Saiful Mujani berusaha membuat kita mengakui bahwa demokrasi tidak berkembang dengan baik di Arab Saudi sebagai akibat dari syariat Islam. Akan tetapi, jika kita jeli, maka kita tahu bahwa Arab Saudi bukanlah representasi dari syariat Islam. Oleh karena itu, kegagalan Arab Saudi tidak bisa disimpulkan sebagai kegagalan syariat Islam. Berbicara masalah poligami bahkan bisa menjadi lebih seru lagi. Nia Dinata menyutradarai sebuah film yang berjudul "Berbagi Suami", yang dibintangi oleh nama-nama termahsyur, yaitu Jajang C. Noer, Rieke Dyah Pitaloka, Ria Irawan dan Shanty (mantan VJ MTV). Tema sentral film ini adalah pada kehidupan sebuah keluarga di mana sang suami memiliki tiga orang istri yang tinggal serumah. Konflik terjadi sebagaimana dapat diperkirakan dan inilah yang menjadi daya tarik ceritanya. Bagaimana komentar salah satu bintangnya, Rieke Dyah Pitaloka? "Setelah saya membintangi film ini, saya semakin yakin untuk menolak poligami." Komentar ini dilontarkannya di depan liputan kamera salah satu acara infotainment. Tentu saja pandangan negatif terhadap poligami ini pada akhirnya berimbas pada pandangan masyarakat terhadap Islam, karena Islam memperbolehkan poligami (dengan berbagai syarat). Ini pun merupakan penyesatan opini. Siapa bilang Islam memperbolehkan poligami dengan tiga orang istri di bawah satu atap? Jika memiliki tiga orang istri, maka ia diharuskan memiliki tiga buah rumah. Lagipula, ada standar-standar lainnya yang membatasi laki-laki mana yang boleh berpoligami dan mereka yang tidak berhak berpoligami, antara lain batasan finansial dan wawasan keislaman. Jika batasan-batasan itu tidak diindahkan, maka sudah sewajarnya kehidupan poligami itu menjadi kacau dan banyak konflik. Dalam hal ini, Islam tidak boleh dipersalahkan. Di Sumatera Barat sendiri pernah ada kasus di mana seorang laki-laki memiliki sembilan belas orang istri. Ketika ia akan menikah untuk kedua puluh kalinya, ia tewas ditikam oleh istri kesembilan belasnya. Apakah dari kasus ini bisa disimpulkan bahwa ajaran Islam yang salah? Tentu saja tidak! Siapa bilang poligami boleh dilakukan sampai memiliki dua puluh istri? Kini, banyak sinetron `religi' yang hanya menjual aksi setan-setanan ala film horor. Ada juga sinetron `religi' lain yang mempertunjukkan bagaimana azab akan diturunkan di dunia kepada orang-orang yang melampaui batas. Akhirnya, Islam dicap sebagai agama yang mistis dan penuh kekerasan. Padahal ajaran Islam sama sekali tidak demikian. Ini tidak lebih dari sebuah penyesatan opini. Menyebut pejuang Palestina sebagai `teroris' adalah sebuah dagelan yang sama tidak lucunya seperti ketika Pemerintah Belanda di masa lalu menyebut gerilyawan Indonesia sebagai `ekstremis'. Menyebut kaum muslimah yang menutup auratnya secara sempurna sebagai `fundamentalis' adalah sebuah keanehan luar biasa. Bukankah manusia yang tidak fundamentalis adalah manusia yang plin-plan dan tidak bernilai sama sekali? Beginilah cara mereka menyesatkan opini global. wassalaamu'alaikum wr. wb.

