Agama dan Spirit Perdamaian Global

Oleh; Muhammadun AS, peneliti Center for Pesantren and Democracy 
Studies (CePDeS) Jakarta

Memasuki alam baru di era milenium ketiga, telah terjadi keterbelahan 
dahsyat dalam struktur dunia Islam. Ada yang berada di garis 
moderatisme global, yakni mereka yang dalam melihat teks agama tidak 
literal, menghargai perbedaan, dan terus menggali tafsir kritis-
emansipatoris. Mereka biasanya mengusung keberagamaan di bawah payung 
perdamaian, kerukunan, toleransi, dan persaudaraan universal.

Kemudian ada yang berada di garis puritanisme. Ciri paling menonjol 
kelompok ini dalam hal keyakinan adalah penganut paham absolutisme 
dan tak kenal kompromi. Dalam banyak hal, orientasi kelompok ini 
cenderung menjadi puris, dalam arti ia tidak toleran terhadap 
berbagai sudut pandang yang berkompetisi dan memandang realitas 
pluralis sebagai suatu bentuk atas kebenaran sejati. Di level wacana 
pergerakan, kelompok ini tidak segan-segan menggunakan pemaksaan dan 
kekerasan terhadap orang lain (the others) yang tidak mengikuti pola 
pemikiran keagamaan yang diyakininya. Tidak berlebihan kemudian 
publik menilai kelompok ini sebagai sumber lahirnya berbagai 
kekerasan dan terorisme global yang berbaju agama.

Di tengah keterbelahan inilah, dibutuhkan komitmen bersama untuk 
membangun perdamaian global. Dan, posisi agama sangat strategis bila 
menjadi locus dalam merumuskan dan menyuarakan perdamaian global. 
Dengan begitu agama akan tampil kembali sebagai sumber perdamaian, 
bukan sumber kekerasan dan kebidaban.

Mengapa harus agama yang dijadikan referensi merumuskan perdamaian? 
Karena agama mempunyai perangkat paling strategis dan menyentuh 
kedalaman kalbu kemanusiaan, sehingga setiap rumusan yang hadir dari 
agama akan mudah ditransfer ke masyarakat. Dan, publik pun akan 
sangat mudah menerimanya, karena perangkat agama telah merasuk dalam 
pola kebudayaan masyarakat. Dengan demikian, rumusan agama atas 
perdamaian, apalagi pesantren dijadikan locus transformasi, akan 
menjadi kekuatan besar di Indonesia yang siap menghadang gerakan 
puritanisme global yang terus berkembang di Indonesia.

Dalam kerangka perumusan tersebut, perlu kiranya kita mengetahui 
historisitas lahirnya gerakan puritan di dunia Islam. Menurut Khaled 
Abou El Fadl (2006: 61-62) sejarah kaum puritan lebih tepat dimulai 
dari kaum Wahabi. Kaum Wahabi telah memengaruhi gerakan puritan di 
dunia Islam era kontemporer. Setiap kelompok Islam yang dilekati 
citra buruk di dunia internasional, seperti Taliban dan Al-Qaeda, 
sangat kuat dipengaruhi oleh pemikiran Wahabi.

Dasar teologi Wahabi dibangun oleh seorang fanatik abad ke-18, yakni 
Muhammad ibn Abd al-Wahhab (w. 1206 H/1792 M). Gagasan utama Abd al-
Wahhab menyatakan bahwa umat Islam telah melakukan kesalahan dengan 
menyimpang dari Islam yang lurus, dan hanya dengan kembali ke satu-
satunya agama yang benar mereka akan diterima dan mendapat ridho dari 
Allah. Dengan semangat puritan, Abd al-Wahhab hendak membebaskan 
Islam dari semua kerusakan yang diyakininya telah menggerogoti Islam, 
seperti tasawuf, doktrin perantara (tawassul), rasionalisme, ajaran 
syiah, serta banyak praktik lain yang dinilainya sebagai inovasi 
bid'ah. Wahhabisme memperlihatkan kebencian yang luar biasa terhadap 
semua bentuk intelektualisme, mistisisme, dan sektarianisme di dalam 
Islam, dengan memandang semua itu sebagai inovasi menyimpang yang 
telah masuk dalam Islam.

Kaum Wahabi kemudian membangun perselingkuhan kekuasaan dengan 
keluarga Al-Saud. Dalam konteks ini, kaum Wahabi telah menempatkan 
agama sebagai media penopang rezim kekuasaan. Terlebih perselingkuhan 
keduanya juga ditopang dengan rezim kolonial, Inggris. Pada 1915, 
Raja Abd Aziz menandatangani pakta "persahabatan dan kerja sama" 
dengan Inggris, dan ia menerima tunjangan hidup bulanan yang sangat 
besar dari pemerintah Inggris yang tak dapat ia cegah.

Dalam posisi demikian, Wahabi menjadi rezim kuasa absolut dalam 
urusan keagamaan. Mekkah dan Madinah dikuasai secara penuh. Dengan 
nalar ortodok dan puritan, Wahabi memaksakan ajarannya kepada seluruh 
jemaah haji dari seluruh dunia. Mereka tidak mengenal kompromi 
terhadap jemaah haji yang tidak mengikuti syariah mereka. Bahkan 
mereka tidak segan-segan mengeksekusi mereka yang menentang dan 
membangkang. Perselingkuhan agama dan kekuasaan yang dijalankan kaum 
Wahabi ini kemudian juga dilakukan kaum puritan kontemporer.

Rezim Taliban dan al-Qaeda adalah bukti bahwa selain pola pikir 
mereka terdoktrin kaum Wahabi, pola gerakan agama juga mencerminkan 
hal yang sama. Kaum puritan kontemporer, sama hipokritnya dengan 
puritan klasik, dan kongkalikong dengan kuasa kaum colonial 
kontemporer. Rezim Taliban tidak segan-segan berkoalisi dengan 
Amerika Serikat untuk menumbangkan rezim Rusia di Afghanistan, 
walaupun akhirnya AS justru meruntuhkan kaum Taliban.

Melihat pola pikir dan pola gerakan kaum puritan, sangat tepat bila 
Forum Perdamaian Dunia mampu menghadirkan tafsir Islam berdasarkan 
kerangka maqoshid al-syariah li maslahah dengan spirit moderatisme 
global. Kita butuh tafsir kemaslahatan untuk mengukuhkan kerangka 
fakir yang selalu menempatkan kemaslahatan umat sebagai prioritas 
kebijakan global. Yakni kemaslahatan terhadap perlindungan agama (al-
din), harta (al-mal), jiwa (al-nafs), rasio (al-aql), dan keturunan 
(al-nasl). Tafsir demikian, tidak hanya mampu mendekontruksi sekian 
ajaran hipokrit kaum puritan, tetapi juga mampu membangun aliansi 
global yang dapat menggandeng seluruh elemen manusia, baik Muslim 
maupun non-Muslim, dalam mengampanyekan keberagamaan global yang 
humanis.

Langkah seperti ini merupakan salah satu upaya menyelamatkan Islam 
dari gerakan puritanisme. Masih banyak celah yang dapat dilakukan 
umat Islam khususnya, agar pola pikir dan pola gerakan puritanisme 
yang telah menjungkirbalikkan nalar agama untuk kepentingan kekuasaan 
segera berakhir. Agama harus kembali kepada peran profetiknya dalam 
menjaga dan memberdayakan kemaslahatan publik serta mengusung 
persaudaraan dan perdamaian global. (telah diterbitkan di suara karya,





Kirim email ke