Aliran "Garis Keras" dan Puritanisme
06-December-2007

Sikap tidak mendukung pluralisme dalam kehidupan beragama cenderung 
melahirkan teroris baru. Demikian ungkap Intelektual Muslim, 
Jalaluddin Rahmat, saat membahas buku berjudul "Dua Wajah Islam: 
Moderatisme Vs Fundamentalisme", karya Stephen Sulaiman Schwartz 
terbitan The Wahid Institute. Buku itu memotret salah satu aliran 
Islam di Arab Saudi, Wahabi (Kompas, 3/11).  

Jalaluddin mengakui, penganut Wahabi ditandai dengan melekatnya 
perasaan paling suci. Mereka menganggap kelompok mereka sebagai 
penganut tauhid murni. Dengan melekatnya perasaan paling suci, kaum 
Wahabi cenderung eksklusif dan antipluralisme. Mereka menganggap 
surga hanya miliknya. Sikap itu berdampak pada keengganan beradaptasi 
terhadap tradisi daerah setempat. Mereka hanya mengakui tradisi dari 
Arab Saudi, tempat asalnya. 

Pernyataan Jalaluddin ini menunjukkan bahwa radikalisme dan terorisme 
merupakan buah dari corak teologi. Sebagaimana diketahui bahwa 
teologi yang berkembang dalam sejarah Islam sebenarnya cukup banyak. 
Di antaranya yaitu Mu'tazilah, Khawarij, Murji'ah, Maturidiyah, 
Asy'ariyah, dll. Masing-masing teologi mengembangkan corak penafsiran 
akidah yang khas. Namun secara garis besar semua aliran teologi itu 
dapat dipetakan dalam kelompok liberal, progresif, moderat yang 
cenderung inklusif, dan puritan, fundamentalis yang cenderung 
eksklusif. 

"Garis Keras" 
Dalam awal sejarah Islam, penganut teologi Khawarij disebut oleh para 
sejarawan sebagai kelompok yang merepresentasikan "garis keras". 
Mereka cenderung tidak toleran terhadap kelompok lain di luar 
teologinya. Bahkan mereka melancarkan aksi pembunuhan terhadap 
kelompok dan tokoh yang dinilai sudah keluar dari ajaran Islam 
(kafir). Sayidina Ali ra. merupakan salah satu korban pembunuhan dari 
kelompok ini. 
Pada dasarnya puritanisme dan fundamentalisme yang dianut Khawarij 
adalah ekspresi keimanan yang paling dalam. Jadi merupakan sesuatu 
yang tulus dari hati mereka. Namun ekspresi keimanan itu malah 
menimbulkan kerusakan terhadap lingkungannya. Hal ini disebabkan oleh 
corak teologi yang tidak memberi ruang adanya perbedaan interpretasi. 
Selain itu juga terlalu rigid dalam melihat persoalan. 

Dengan demikian apa yang dikatakan Jalaluddin di atas, memiliki 
landasan historis. Jika saat ini juga ada kelompok Islam yang corak 
teologinya puritan dan fundamentalis, maka memiliki kecenderungan 
menjadi radikal dan menggunakan teror dalam ekspresi keagamaannya. 
Sementara itu KH Abdurahman Wahid, pendiri The Wahid Institute, 
justru mempertanyakan alasan kaum Wahabi memilih "garis keras" yang 
kurang dimunculkan dalam buku itu. Kita harus obyektif. Pahami dulu 
latar belakang sejarah mereka dan hubungan kerjasama mereka dengan 
dinasti Saudi. 

Pernyataan Gus Dur bisa dikategorikan sebagai gugatan terhadap 
simplikasi penilaian bahwa semua kelompok yang beraliran Wahabi 
sebagai negatif dan menyukai kekerasan. Obyektivitas, sebagaimana 
ditegaskan Gus Dur, memang menjadi sesuatu yang penting dalam 
penelitian sosial. Peran faktor tertentu yang menyebabkan sebuah 
kecenderungan tertentu dalam suatu masyarakat, belum tentu berlaku 
sama dalam masyarakat lain. Obyektivitas dimaksudkan sebagai upaya 
menyingkirkan prasangka dalam penelitian sosial. Bukan tidak mungkin 
bahwa ada faktor lain yang memengaruhi kekerasan dan radikalisme 
dalam kasus gerakan Wahabi di Arab Saudi. 

Perlu Objektivitas 
Menurut Bryan Fay, seorang pakar Filsafat Ilmu Sosial dari Conectitut 
University America, obyektivitas adalah kebenaran yang tidak hanya 
ada dalam pikiran. Kebenaran yang hanya dalam pikiran merupakan 
distorsi terhadap realitas. Hal ini merupakan cermin dari ideologi. 
Karena itu obyektivitas merupakan sesuatu yang penting dalam 
menganalisis kasus Wahabi. 

Sedangkan menurut Direktur Program Yayasan Wakaf Paramadina, Ihsan 
Ali Fauzi, buku Stephen memberikan potret lain dari Arab Saudi yang 
selama ini hanya dikenal sebagai tempat menunaikan ibadah Haji dan 
penghasil minyak. Diperkirakan akan banyak orang Indonesia yang 
terkejut dengan isi buku ini karena terkait penggambaran Arab Saudi. 
Survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengenai negara asing 
favorit orang Indonesia, Arab Saudi menempati peringkat pertama 
dengan pemilih sebanyak 92 persen. 

Sebenarnya hasil survei LSI tidak terlalu mengejutkan. Bagi sebagian 
besar umat Islam di dunia, Arab Saudi, masih menjadi kiblat nilai-
nilai kebaikan. Jadi Indonesia merupakan cermin dari perasaan hampir 
semua negara-negara Muslim di dunia. Selain itu hubungan tokoh-tokoh 
Islam Indonesia dengan Arab Saudi, terutama Mekah dan Madinah, sudah 
terjalin sangat lama, kira-kira sejak abad ke-16 (lihat Azyumardi 
Azra, Jaringan Ulama Nusantara abad ke-17 dan 18). Relasi itu 
menempatkan Indonesia sebagai "murid" dan Arab Saudi sebagai "guru". 

Dalam hampir semua aspek kebudayaan, masyarakat Islam Indonesia 
memandang kebudayaan Arab Saudi sebagai sepenuhnya Islam yang ideal. 
Dengan begitu, amat boleh jadi, penggambaran yang bernuansa negatif 
atau kritis terhadap Arab Saudi akan mengejutkan sebagian masyarakat 
Islam Indonesia.(CMM/M. Hilaly Basya) 



Kirim email ke