http://www.tnial.mil.id/tabid/61/articleType/ArticleView/articleId/659/Default.aspx
PRESIDEN RI SAKSIKAN AKSI TEMPUR LAUT LATGAB TNI 2008

________________________________

Latihan puncak gabungan (Latgab) TNI 2008 yang diberi Sandi “Yudha Siaga 2008” 
digelar diperairan Kalimantan timur mendapat perhatian khusus dari Presiden 
Republik Indonesia DR.Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah menteri Kabinet 
Indonesia bersatu, Komisi I DPR RI, Panglima TNI dan pejabat TNI lainnya, para 
Athase pertahanan negara-negara sahabat dan beberapa mantan Kasal menyaksikan 
langsung  diatas geladak KRI dr. Soeharso.  (Minggu 15/6 ).
 
Satuan tugas laut  dibawah Komando Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur 
(Pangarmatim) selaku Komandan Sub Komando Tugas Gabungan Amfibi  Latihan 
Gabungan TNI Tahun 2008  dengan melibatkan 43 kapal pemukul bergerak membentuk 
formasi  ”Halong 7”. Formasi ini merupakan formasi kapal-kapal tabir untuk 
melindungi badan utama dari serangan dan ancaman dari musuh. Hal ini 
dimaksudkan karena tahap Gerakan Menuju Sasaran (GMS) konvoi kapal tidak 
tertutup kemungkinan adanya ancaman terhadap konvoi,  baik berupa kapal selam, 
kapal permukaan  dan pesawat udara musuh.
 
Dalam aksi ini salah satu kapal dalam konvoi KRI Fatahillah-361 melalui alat 
deteksi bawah air Sonar PHS-32 berhasil mengidentifikasi kehadiran sebuah kapal 
selam tak dikenal mendekat kearah konvoi. Laporan ini diperkuat dengan laporan 
pengamatan visual oleh pesawat patroli maritim  TNI AL yang dengan segera 
memberikan laporan kepada konvoi kapal.
 
Dari komunikasi taktis diketahui nama sandi  kontak kapal selam dalam bahasa 
koordinasi hasil analisa Pusat informasi tempur yang ada di konvoi kapal. 
Setelah diketahui dan berhasil mengidentifikasi kapal selam tersebut maka KRI 
Nala-363 selaku koordinator peperangan anti kapal selam merubah klasifikasi 
kapal selam menjadi musuh.
 
Dengan kehadiran kapal selam ini maka KRI Nala-363 menaikan derajat kesiagaan 
dengan menugaskan 2 atau lebih kapal untuk melaksanakan SAU (Search Attack 
Unit) atau UCB (Unsur Cari Binasa), dimana perwira komando taktis merubah 
taktis formasi untuk keluar dari LLA (Limiting Line of Approash) atau biasa 
dikenal dengan garis bahaya pendekatan dari kapal selam musuh,  selanjutnya KRI 
Fatahillah-361 dan KRI Nala-363 melaksanakan Urgent Attack (serangan mendadak 
terhadap kapal selam musuh, dengan menembakkan senjata ASROC (Anti Submarine 
Rocet) atau biasa dikenal dengan (Roket Anti Kapal Selam).
Roket Anti Kapal Selam merupakan senjata strategis yang dimiliki KRI 
Fatahillah-361 dengan jarak luncur antara 1600 yard sampai dengan 3600 yard dan 
akan meledak dibawah permukaan laut pada seting kedalaman yang ditentukan. 
Ledakan Roket Anti Kapal Selam ini akan memberikan efek tekanan kejut yang 
sangat tinggi sehingga mampu menghancurkan kapal selam yang ada di kedalaman 
laut.
 
Usai melakukan serangan KRI Fatahillah-361 dan KRI Nala-363 bergerak membentuk 
formasi “Y” yang merupakan formasi kapal-kapal unsur cari binasa dalam 
menghadapi kapal selam, dengan menggunakan Gas Turbin kedua KRI bergerak dengan 
kecepatan maksimum dan siap kembali meluncurkan Roket Anti Kapal Selam. 
 
Sementara melalui komunikasi taktis KRI Cut Nyak Din-375 mengirim informasi 
bahwa kembali telah mendeteksi kontak kapal selam musuh di lambung kanan konvoi 
selanjutnya koordinator anti peperangan kapal selam segera menugaskan 3 KRI 
yaitu KRI Cut Nyakdin-375, KRI Teuku Umar-385 dan KRI Ciptadi-881, untuk 
melaksanakan serangan mendadak terhadap kapal selam tersebut, dengan 
menggunakan senjata pemukul Roket Bom Laut RBU 6000
 
Ketiga kapal tersebut merupakan KRI tipe Perusak Kawal dan kapal ini merupakan 
mengemban fungsi asasinya sebagai anti  kapal permukaan, anti kapal selam, dan 
pertahanan udara dilengkapi dengan berbagai persenjataan antara lain Meriam 
kaliber 57 mm, senjata anti kapal permukaan, Rocet Bom Laut RBU 6000 dan Bom 
Laut B-1, senjata pertahanan udara dengan menggunakan Roket Strela, Meriam 30mm 
dan 20mm kapal jenis ini merupakan kapal yang dapat digunakan sebagai penyebar 
ranjau laut dilengkapi dengan  2 rel peluncur ranjau.
 
Sementara dari laporan intelijen diperoleh informasi kehadiran 2 kapal perang 
musuh berpeluru kendali dan kapal cepat akan menghambat gerakan konvoi ke 
Daerah Sasaran Amfibi, maka dalam taktik peperangan anti kapal permukaan 
disiapkanlah bentuk serangan untuk menghancurkan  kekuatan musuh berupa pukulan 
pendahuluan, pukulan pokok dan pukulan lanjutan. 
 
Berdasarkan pengamatan visual dari pesawat udara diketahui kehadiran 2 kapal 
perang musuh yang mendekati konvoi dari arah timur dan dari arah barat laut, 
dari hasil identifikasi dan pengenalan, kapal yang berada disebelah timur 
adalah jenis PKR (Perusak Kawal berpeluru kendali) dari negara musuh. Dengan 
senjata peluru kendali anti kapal permukaan kapal ini merupakan ancaman yang 
berbahaya bagi konvoi KRI, lebih-lebih salah satu kapal musuh telah mendekat 
dari arah barat laut adalah jenis kapal cepat yang memiliki meriam anti kapal 
permukaan.
 
KRI Fatahillah-361 selaku koordinator peperangan anti kapal permukaan 
meningkatkan derajat kesiagaan merah untuk ancaman permukaan dan udara. Dan 
memerintahkan KRI Layang-805 dan KRI Hiu-804 untuk melaksanakan penghancuran, 
sasaran musuh yang berada di arah timur konvoi akan dihancurkan dengan peluru 
kendali C-802 yang dimiliki oleh KRI Layang-805 dan torpedo SUT dari kapal 
selam KRI Cakra-401.
 
Kapal perang musuh yang menjadi sasaran tembak ini adalah eks KRI Karang Galang 
yang telah pensiun dari pengabdiannya sebagai kapal perang TNI AL. Sasaranpun 
hancur lebur tatkala secara bersamaan rudal C-802 yang ditembakkan dari KRI 
Layang-805 dan Torpedo SUT yang ditembakkan dari Kapal Selam KRI Cakra-402 
secara bersamaan menghantam sasaran yang mengakibatkan kapal tenggelam..
 
Dari akurasi penembakan kedua senjata strategis Kapal Perang TNI  AL tersebut 
presiden RI Susilo Bambang Yudoyono dan sejumlah Menteri Kabinet Indonesia 
Bersatu serta berbagai tamu Athase pertahanan negara Sahabat, para petinggi TNI 
dan mantan Kasal yang berada diatas KRI dr. Soeharso yang menyaksikan jalannya 
latihan tersebut memberikan applus terhadap ketepatan dan akurasi tembakan 
tersebut, kedasyatan senjata-senjata pamungkas yang dimiliki Kapal Perang 
Indonesia  membuktikan bahwa mesin-mesin perang TNI AL siap mengamankan dan 
mempertahankan setiap jengkal wilayah NKRI dari setiap ancaman.
 
Peluru kendali  C-802 merupakan peluru kendali terbaru yang dimiliki oleh TNI 
AL dengan kemampuan jarak tembak maksimum mencapai 120 km, sedangkan Torpedo 
SUT (Surface and Under Water Torpedo) merupakan senjata andalan kapal selam 
sebagai Torpedo anti kapal permukaan dan anti kapal selam dan senjata ini momok 
menakutkan dari kapal atas air.
 
Usai menyaksikan jalannya aksi pertempuran laut Presiden RI Susilo Bambang 
Yudoyono beserta para undangan  dengan menggunakan KRI dr. Soeharso bergerak 
menuju pantai pendaratan Ampfibi di pantai Sekerat Sangatta Kalimantan Timur 
untuk selanjutnya pada pukul 04.30 dini hari waktu Indonesia bagian tengah akan 
menyaksikan langsung pendaratan Amfibi pasukan TNI yang melibatkan berbagai 
jenis Tank dan persenjataan berat yang dimiliki TNI untuk merebut kembali 
daerah yang dikuasai musuh. 
 
RUDAL - 802
 
-  Merupakan rudal anti kapal permukaan buatan China.
-  Panjang misil 6, 383 meter, berat 705 kg (165 kg diantaranya hulu ledak TNT 
7 RDX), diameter 36 cm, mempunyai sayap (wing span) 1,22 meter.
-  Sistem penggerak berupa Solid Rocket Booster & Turbo Jet.
-  Jangkauan tembakan maksimum  120 km.
-  Fire Power hulu ledak rudal ini mampu menghancurkan sebuah kapal perang type 
Destroyer bertonase 3000 ton.
-  Ketika ditembakan dari KRI Layang-805 rudal akan melesat membentuk sudut 30 
derajat ke udara dengan ketinggian 20 meter, dengan kecepatan 0,8 kali 
kecepatan suara (800 km per jam). Setelah mencapai ketinggian 20 meter, rudal 
akan meluncur di atas permukaan laut dan melintas mendatar, namun  5  km 
menjelang target kapal musuh, rudal akan menukik dan melintas pada ketinggian 5 
m di atas permukaan laut sebelum menghancurkan sasaran.
-  Total waktu yang diperlukan ketika KRI Layang-805 menembak target eks KRI 
Karang Galang yang berjarak 60 km adalah 3 menit 12 detik dan berhasil mengenai 
sasaran hingga tenggelam. Sedangkan penembakan tersebut dilaksanakan pada pukul 
16.35 WITA.   
 
PENEMBAKAN RUDAL  MALAM HARI
 
Pada malam harinya Presiden akan menyaksikan penembakan rudal. Sebanyak 18 KRI 
akan melaksanakan penembakan rudal AAROFEX (Anti Air Rapid Open Fire Exercise = 
rudal anti serangan udara) dengan sasaran diperumpamakan pesawat  musuh yang 
terbang pada malam hari.
 
Demikian berita Dinas Penerangan Angkatan Laut.


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke