Jurnal Sairara
Kepada Saudara Taufiq Ismail
17. DENDAM
"Bagaimana kita akan maju dalam peradaban bila sebagai bangsa kita masih
saling mendendam? Saya serukan pada mahasiswa yang hadir, yang terpengaruh
ideologi usang-lapuk ini agar membuangnya, karena wacana ideologi abad 19 ini
sudah kuno ke mana-mana, terbukti gagal total di seluruh dunia, dan berbau
amis-hanyir 120 juta mayat korbannya. Ideologi ini sudah terbukti keropos. Yang
mau mengusungnya pasti cuma karena memikul beban dendam", tulis Saudara Taufiq
Ismail dalam alinea ke 7 respons pertamanya.
Pertanyaanku: Apakah kalimat-kalimat alinea Saudara Taufiq Ismail di atas tidak
menyimpan rasa dendam yang yang beliau hujat sendiri? Dendam kepada "ideologi
usang-lapuk", "kuno", dan "keropos"sementara keusangan-lapukan , kuno dan
keropos masih memerlukan penjelasan lebih rinci dan sebenarnya juga merupakan
hak tak tergugat dari siapa pun yang masih memilihnya? Dimana dan bagaimana
usang-lapuk, kuno dan keroposnya ideologi Marxisme yang bersarikan "mencari
kebenaran dari kenyataan"? Ataukah hak dasar memilih pandangan hidup ini mau
ditiadakan di negeri bernama Indonesia dan memillih rangkaian nilai yang
bernama republiken?
Reaksi keras dari berbagai pulau terhadap RUU Anti Pornoaksi dan Pornografi,
kupahami sebagai petunjuk bahwa etnik-etnik berbagai pulau ingin mempertahankan
budaya dan kebiasaan mereka. Orang Dayak di pedalaman biasa mandi di sungai dan
dalam rangka RUU Anti Pornoaksi dan Pornografi, sementara golongan mencoba
melarang kebiasaan mandi di sungai in. Adilkah ini? Adilkah juga memaksa orang
Papua untuk tidak mengenakan koteka atau perempuan di sementara etnik
membiarkan payudara mereka terbuka? Keragaman adalah suatu kenyataan di negeri
kita, dan mestikah kita melenyapkan kenyataan ini atas nama peradaban? Apakah
peradaban? Dan jika demikian siapakah yang tidak beradab dengan memaksakan
kehendak serta menterapkan "la pensée unique" atas nama apa pun, termasuk dewa
dan dewi dan lain-lain dari langit ketujuh?
Sangat sulit dipahami bagaimana seorang pendendam tanpa toleransi menyerukan
agar dendam dibuang atas nama peradaban yang secara tidak langsung menyebut
diri sebagai seorang beradab. Maaf, aku tidak mengatakan bahwa Saudara Taufiq
Ismail tidak beradab, tapi aku hanya mengikuti alur pikiran yang terdapat pada
kalimat-kalimat beliau sendiri, yang biografinya kurang lebih kita kenal
secara garis-besar. Apakah dengan kalimat-kalimat di atas, beliau tidak merasa
menghujat diri sendiri secara tidak sadar? Terlalu manis dan sempurna suatu
kemunfikan jika menyerukan "perdamaian total" sementara di lain pihak
menyerukan anjuran yang mengandung dendam tanpa toleran apalagi jika secara
ternyata kongkret tidak melakukan apa-apa yang nyata dan praktis ke jurusan
yang disarankannya sendiri. Aku ingin sekali mendapatkan penjelasan dari segi
dasar-dasar ilmu logika pernyataan begini. Sebab jika A =B dan B=A , maka A =B
. Dari segi dasar
logika ini maka A dan B yang identik dengan Saudara Taufiq Ismail?
Waktu aku berada dan bekerja di RRT sejak masa Revolusi Besar Kebudayaan
Proletar [RBKP] -- suatu gerakan yang kemudian dinilai oleh Tiongkok sendiri
sebagai gerakan "kekiri-kiran" -- tapi tidak menegasi seluruhnya --- aku memang
mendengar dan membaca anjuran PKT untuk "jangan lupa perjuangan kelas" dan
"memelihara dendam kelas". Aku melihat betapa Mao Zedong dijadikan semacam
Tuhan sehingga Lin Piao -- wakil ketua I PKT dan dikatakan sebagai penerus Mao
Zedong -- mengatakan : "Mengerti tidak mengerti apa yang dikatakan dan
diajarkan oleh Mao Zedong , harus dilaksanakan karena kata-katanya adalah
kebenaran". Aku dan beberapa teman, tentu saja tidak bisa menerima pandangan
ini. Menolaknya dengan keras, seperti juga aku sempat memprotes mengapa gambar
Liu Sao-chi -- presiden RRT dan oleh RBKP dijadikan salah satu sasaran utama
sebagai "markas borjuasi" -- dihapuskan ketika memproklamasikan berdirinya RRT
di Tian An-men pada 1 Oktober 1949. Aku
memprotes hal ini karena kuanggap tidak jujur pada kenyataan sejarah.
Mendengar protesku ini, seorang kolonel Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok
menjawabku: "Kau memihak siapa? Kau mau mempropagandakan borjuasi?".
Pertanyaan ini kujawab dengan sederhana bahwa aku mencoba selalu setia pada
kenyataan dan menolak pemutarbalikan kenyataan. Kalau kita mengatakan bahwa
Marxisme itu mencari kebenaran dari kenyataan, dan dalam praktek kita
mengingkarinya, apa bedakan kaum Marxis dari kaum idealis? [idealis dalam
pengertian filosofi!]. Yang mau kukisahkan denan contoh ini adalah untuk
memperlihatkan tajamnya pergulatan intern di kalangan PKT pada waktu itu.
Pergulatan pikiran yang merambat ke pergulatan fisik seperti juga yang terjadi
di negeri kita, di kalangan kelompok dan aliran mana pun. Tanpa kecuali.
Tentang "perjuangan kelas", adanya kelas-kelas dalam masyarakat yang oleh
pengarang Sunda, Uuty Tatang Sontani yang meninggal di Moskow, disebut
"lapisan atas" dan "lapisan bawah" [Lihat: "Di bawah Langit Tak Ada Bintang].
Adanya kelas, golongann, tingkat-tingkat dalam masyarakat dan entah istilah
apalagi untuk menunjukkan heteroginitas masyarakat, kukira adalah suatu
kenyataan yang nyata ada , lepas dari kita suka atau tidak suka, kita akui atau
tidak. Kalau kita tidak mengakuinya, kukira kita menutup mata pada kenyataan
yang benar-benar nyata dan ada di hadapan kita. Masalahnya: Bagaimana kita
menangani, bagaimana kita mengelola kelompok-kelompok, golongan, kelas dan
entah apalagi istilahnya, dengan kepentingan masing-masing, agar bisa hidup
bersama secara manusiawi seperti yang dikatakan oleh konsep manusia Dayak
tentang kehidupan di bumi dan bumi ini, yaitu wacana "rengan tingang nyanak
jata" [ anak enggang putera-puteri naga], dasar dari
budaya betang [rumah panjang, lamin atau long house]? Menyelaraskan
kepentingan individual dengan kepentingan bersama. Dalam hal ini barangkali,
wacana tentang negara menjadi sangat menentukan. Apakah negara dengan segala
perangkatnya berfungsi sebagai "alat penindas suatu kelas terhadap kelas lain"
[Lihat: Negara dan Revolusi] seperti konsep Lenin, ataukah sebagai alat
pengatur kebersamaan sebagaimana praktek negara-negara kesejahteraan, dan
wacana-wacana lainnya. Agaknya Tiongkok , cq PKT agaknya mengakui bahwa dalam
masyarakat Tiongkok sekarang mengakui masih adanya kelas-kelas dalam masyarakat
Tiongkok. Mengakui bahwa dalam masyarakat Tiongkok sekarang masih terdapat
kelas-kelas dan unsur-unsur kapitalisme yang oleh Liu Shao-chi dikatakan harus
diperhitungkan jika benar mau realis dan melangkah setapak demi setapak secara
materialis dialektika historis dan bukan bertindak secara idealis [Lihat :Li
Shao-chi: "Bagaiman Menjadi
Komunis Yang baik"]. Tidak melompat terlalu jauh ke depan. Tapi juga tidak
mengekor hingga melakukan ekorisme. Karena itu setelah RBKP, PKT kemudian
merumuskan bahwa masyarakat Tiongkok bukanlah masyarakat sosialis, tapi masih
berada pada taraf pra-sosialisme yang bisa berlangsung ratusan tahun lamanya.
Dengan merumuskan keadaan masyarakat Tiongkok secara demikian, barangkali PKT
pada galibnya menterapkan pemaduan wacana negara antara konsep Lenin dan posisi
sosial demokrat bahwa negara bersifat mengatur, mengelola adanya kelas-kelas
dalam masyarakat. Di dunia akademi Tiongkok masalah ini masih menjadi
perdebatan terbuka sebagaimana yang diperlihatkan oleh majalah "Idea" Perancis
dalam salah satu nomor khususnya tentang Tiongkok. Republik dan Indonesia,
kukira, barangkali adalah salah satu wacana pengelolaan negeri yang majemuk
juga barangkali. Jika benar demikian dan jika dihubungkan dengan masalah
dendam, apakah tidak selayaknya
penyelenggara negara mengambil sikap sebagai pengelola kemajemukan dengan
menterapkan rangkaian nilai republiken dan berkeindonesiaan?
Mengenai "dendam kelas" dan "jangan sekali-sekali melupakan perjuangan
kelas", seperti yang dianjurkan pada masa RBKP di Tiongkok, aku memahaminya
terutama dari segi bahwa masyarakat senyatanya terdiri dari berbagai golongan
dan kelompok dengan berbagai kepentingan masing-masing. Sedangkan soal "dendam
kelas", aku pahami sebagai mimpi akan keadilan dalam hidup, keinginan untuk
hidup manusiawi , tidak melupakan arti penindasan. "Dendam kelas" kupahami
sebagai jangan biarkan penindasan berlanjut. Sedangkan mengenai masalah
keadilan, agaknya John Rawl alm. lebih rasional, sama rasionalnya dengan sikap
Tiongkok dengan menyatakan diri masih berada pada tingkat "pra sosialis". Jadi
"dendam kelas", "jangan sekali-kali melupakan perjuangan kelas" , aku pahami
secara lain. Bukan dendam dalam arti harafiah, apalagi jika aku ingat tentang
apa yang disebut 'penumpahan air pahit", suatu kegiatan mengingatkan
bentuk-bentuk penindasan yang pernah mereka
alami di masa sistem Kuomintang Chiang Kai-shek. "Penumpahan air pahit" adalah
cara untuk meningkatkan pertarungan melawan ketidakadilan demi kehidupan
manusiawi. Bukan dendam pribadi tapi gugatan pada suatu sistem anti
kemanusiaan.
Untuk melahirkan sistem masyarakat yang manusiawi, sejak lama terdapat beberapa
jalan, yaitu jalan revolusi, jalan damai dan pemaduan di antara keduanya.
Perdebatan mengenai jalan inilah antara lain yang sejak lama menimbulkan
adanya aliran-aliran di kalangan kaum Marxis [tanpa memasuki rinciannya].
Sehingga pengakuan akan adanya kelas, golongan, kelompok dan
kepentingan-kepentingan mereka, kukira, tidak serta-merta identik dengan
revolusi dalam pengertian mengobah tatanan masyarakat dengan kekerasan.
Revolusi, kukira, bisa juga dimaknakan dengan perobahan tatanan masyarakat
secara radikal dengan tujuan memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat
tanpa kemutlakan menggunakan jalan kekerasan.
Apakah usaha terus-menerus tak kenal susah-payah, jatuh-bangun dan
berdarah-darah ini guna mewjudkan tujuan di atas merupakan suatu ide usang,
lapuk, kuno dan keropos? Sekali lagi, apakah yang tidak usang, lapuk, kuno dan
keropos itu? Totalitarianisme, militerisme atau kapitalisme buas [savage
capitalism]? Globalisasi kapitalisme? Adanya kelompok Porto Allegre dengan
semboyan "Manusia Dunia Tidak Dijual" adalah sanggahan terhadap pendapat ini.
Di sinilah barangkali terletak arti penting wacana, arti penting adanya
penyelenggara negara yang berwacana, demokratis dan terbuka, berangkat dari
kenyataan serta menyetiai kenyataan. Berangkat dari kenyataan untuk menemukan
kebenaran, kukira, dalam istilah Marxis, yang sering dikatakan juga bersandar
dan percaya pada massa. Disebut juga bahwa massa adalah ibu kreativitas dalam
dunia sastra-seni. Sikap yang bisa dipertanggungjawabkan dari segi
empistemologi. Emosi memang manusiawi, tapi apakah ia bisa dijadikan dasar
rasional bagi bertindak dan mengurus keragaman? Apakah ia bisa dijadikan dasar
"rekonsilasi nasional" dan "perdamaian total"?
Dari segi pandangan di atas, aku mempertanyakan: Apakah dendam yang lebih
bersifat emosional itu, ada kaitannya dengan dekonsturuksi dan rekonstruksi
tatanan masyarakat ke arah yang manusiawi? Aku sendiri terus merenungkan soal
ini tanpa menyertakan apriorisme yang tidak lain dari suatu halangan melangkah
ke depan lebih jauh.
Dalam konteks ini, yang aku ingin tahu, apa bagaimana wacana Saudara Taufiq
Ismail tentang dendam ketika beliau menulis kalimat-kalimat di atas?
Paris, Juni 2008
-----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
[Bersambung.....]
Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist.Download it now!
http://sg.toolbar.yahoo.com/
[Non-text portions of this message have been removed]