benar masdimas, orang Aceh itu bener-bener sangat welcome dengan orang luar...

nah kalau kita bercerita tentang masa konflik...itu panjang sekali... kemana 
ada tentara dan hidup kita selalu di bayangi dengan kekerasan, dan kedamaian 
adalah impian rakyat Aceh, namun haru  di pahami kedamaian yang dimaksud 
disnini bukan kedamaian yang semu, (bisa kesawah, bisa keladang, bisa kekebun 
dll) namun kedamaian yang hakiki, baik damai dalam mendapatkan keadilan, damai 
dalam mendapatkan kesejahteraan, dan ini adalah keinginan rakyat Aceh. dan 
mungkin rakya di propinsi lainya.

namun saya mau menjelaskan kembali bahwa orang Aceh itu sangat baik, selama 
tamu yang datang tidak mengganggu, dan mungkin hal ini bukan hanya di Aceh 
saja, hampir disemua daerah seperti itu.

maka kalau di Aceh mau digerakkan parawisata (seperti judul ini ) maka 
parawisata tersebut harus menganut nilai islami (walaupun saat ini banyak yang 
melanggar )

dan kalau jakarta mau bener-bener syariat islam dilaksanakan maka banyak hal 
yang harus di buat, misalnya Polisi syariah, Jaksa Syariah, Hakim Syariah, dan 
Penjara Syariah.

bila hal tersebut di atas tidak ada maka syariat islam yang saat ini di 
gaungkan hanya menjadi macan ompong. ( contoh ada kasus perzinaan, dan si 
pelaku diserhkan ke polisi, namun polisi tidak bisa menjeratnya, karena tidak 
ada UU yang mengatur masalah perzinaan yang ada hanya perkosaan saja, lalu si 
pelaku di bebaskan dengan alasan gak UU yang menagtur hal tersebut...........! 
nah gimana mau di jalankan syariat )

dan saat ini syariat hanya berlaku pada rakyat kecil, sedangkan para koruptur 
belum ada satu pun yang masuk daftar polisi syariat ( pengawasan syariat )

maka saat ini syariat islam di Aceh seperti salah satu anak muda yang dibelikan 
mobil namun dia tidak di kasih kunci, sehingga dia gak bisa mengemudi mobil 
tersebut, yang dia bisa hanya memberitahukan saya punya mobil ... dan saya 
menjaga mobil tesebut tetap bersih dan baik......

demikian dari saya, saya tunggu tanggapannya


Saleum DAMEe


----- Original Message ----
From: masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, June 23, 2008 12:05:21 AM
Subject: [ppiindia] Re: Hotel dan Restoran Diminta Patuhi Syariat Islam


Salam,
Ketika saya ke Aceh, Aceh belum benar-benar aman. Rombongan saya 
selalu dikelilingi tentara. Berita yang santer ketika itu: ada 
anggota DPRD yang baru diculik GAM. Padahal Bupati daerah yang Ketua 
DPRD-nya diculik itu, teman dekat pimpinan GAM waktu kecil. Saya 
ngobrol lama dengan bupatinya, dan Pak Bupati memamerkan foto saat 
mereka berdua masih akrab.
Sekali waktu, sore-sore saya dan teman-teman nyelonong mencoba 
mie Aceh, setelah ketagihan kopi Aceh yang termashur itu, ke tempat 
kongkow/pasar kaki lima tak jauh dari kantor Bupati. Sejumlah tentara 
segera menyusul mengelilingi saya dan kawan-kawan, dan melihat saya 
dengan wajah cemas. "Aduh, Bapak, kalau pergi kasi tahu, dong. Di 
sini belum 'bersih'. Saya bisa kena marah komandan." 
Saya meminta maaf kepada rekan TNI itu dan juga komandannya, dan 
sejak itu saya dalam kawalan mereka. Hari berikutnya saya menikmati 
duren Aceh dan ngobrol berjam-jam dengan pedagang durennya. Orang 
Aceh terkenal suka ngobrol dan ramah dengan tamu, dan saya suka. 
Saya masuk ke Aceh lewat darat dari Medan, dan melakukan 
perjalanan daerah-daerah yang dibakar GAM, sampai ke Lhokseumawe dan 
Banda Aceh. Perjalanan yang menegangkan, menyenangkan, tak 
terlupakan, dan membuat saya ingin ke sana lagi. 
Di Banda Aceh saya keluar kota bareng anggota LSM yang 
bersaudara dengan pentolan GAM. Saya dapat cerita, dulu saat masih 
konflik, anggota GAM sering bareng main bola dengan anggota Brimob, 
tapi Brimobnya tidak tahu mereka GAM. Karena menarik, saya minta 
diperkenalkan dengan saudaranya itu. Lokasinya masih di Banda Aceh, 
agak keluar kota sedikit. Rute yang saya ingat, melewati kampus 
Universitas Aceh yang terkena.
Deg-degan karena senang, saya berkenalan dengan orang itu. Dan 
ngobrol lama. Sayang, kami tak bisa foto bersama. Dia menolak difoto. 
Kesimpulannya: Nggak ada yang menghalangi saya jalan-jalan ke 
Aceh, kalau saya mau, dan tidak ada yang akan mengusir kalau saya 
masih betah. Saya warga negara Indonesia dan berhak kemana pun saya 
pergi, kalau saya mau. Sebagai wartawan, mendatangi daerah konflik 
bukan suatu yang merisaukan. Lagi pula, sejauh saya ingat, kemana pun 
saya pergi, saya membawa damai. 
Saat Aceh masih gawat dan ada GAM yang masih beraksi saja -- dan 
konon sebagian warganya juga Anti Orang Jawa - , saya jalan 
berkeliling ke sana dan banyak dapat teman/sahabat, sampai sekarang. 
Mengapa saya takut di saat GAM resmi berkuasa dan sudah aman seperti 
sekarang?

Wassalam,

Dimas. 
PS: Sejauh yang saya ingat, tukang kopi, tukang mie, dan tukang duren 
di Aceh menerima dengan suka cita uang dari saya. 

--- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "RM Danardono HADINOTO" 
<rm_danardono@ ...> wrote:
>
> --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, radja perdamaian 
> <radja_perdamaian@ > wrote:
> >
> > bagus dunk..
> > 
> > heheheh...semoga perjalanan anda ke daerah lain bisa membuat hati 
> anda senang... 
> 
> *** Lha iya dong (bukan dunk), hati saya selalu senang kalau 
> berwisata.
> > 
> > di Aceh gak butuh uang dari anda kok..kalau anda gak datang orang 
> Aceh gak lapar kok...
> 
> **** Lha iya lah, tanpa saya datang juga sudah lapar kok
> 
> > 
> > di Aceh tu gak seperti yang anda bayangkan... .
> > 
> > 
> >*** Gimana? Lebih serem?
> 
> 
> > 
> > ----- Original Message ----
> > From: RM Danardono HADINOTO <rm_danardono@ >
> > To: [EMAIL PROTECTED] s.com
> > Sent: Thursday, June 19, 2008 8:00:55 PM
> > Subject: [ppiindia] Re: Hotel dan Restoran Diminta Patuhi Syariat 
> Islam
> > 
> > 
> > Adalah wajar untuk menjungjung budaya diatas segalanya, bahkan 
> diatas 
> > kesuksesan pariwisata. Siapa saja boleh boleh saja menggariskan 
> > wisata yang islami, buddhawi, kristiani, nJawani, dll, namun, 
kita 
> > harus bisa membedakan antara kenyataan dan angan angan.
> > 
> > Angan angan adalah kalau ingin menggalakkan pariwisata dengan 
hukum 
> > hukumnya sendiri (tanyakan pada juara pariwisata dunia seperti 
> Swiss 
> > dan Austria), sekaligus, menggariskan aturan aturan agama yang 
tak 
> > relevan bagi industri pariwisata.
> > 
> > Setahu saya, teman teman di Jerman, Swiss atau Austria tak ada 
yang 
> > ber-angan angan ke Aceh. Semua full book ke bali, Toraja, 
> Borobudur, 
> > Segigi beach. Saya lebih pilih ke Bora Bora, Tahiti atau 
Barbados...
> > 
> > Aloha!
> > 
> > Danardono
> > 
> > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, radja perdamaian 
> > <radja_perdamaian@ ...> wrote:
> > >
> > > kalau anda melihat seperti itu, maka penduduk Bali menggunakan 
> > ketaatan pragmatis... ...
> > > 
> > > kalau itu menjadi ukuran, maka semua orang bisa aja datang ke 
> Aceh, 
> > namun ini berbicara wilayah aturan yang sudah di atur dalam 
agama, 
> > tentang mana yang boleh dan mana yang tidak....
> > > 
> > > maka agama bukan untuk di jual...kalau ketaatan agama yang 
> > pragmatis di jual..ke publik maka menurut saya itu adalah sebuah 
> > pendekreditan dari nilai sebuah agama....
> > > 
> > > kita tahu dalam semua agama punya aturan... maka apa yang 
terjadi 
> > di bali tidak mungkin bisa terjadi di Aceh..misalnya di sanur ada 
> > bulek yang pakai bikini..maka di Aceh tidak bisa seperti itu...
> > > 
> > > jadi pariwisata yanh islami itu adalah pariwisata yang 
menjunjung 
> > nilai dari islam itu sendiri
> > > 
> > > 
> > > ----- Original Message ----
> > > From: masdimas62 <masdimas62@ ...>
> > > To: [EMAIL PROTECTED] s.com
> > > Sent: Wednesday, June 18, 2008 10:24:52 PM
> > > Subject: [ppiindia] Re: Hotel dan Restoran Diminta Patuhi 
Syariat 
> > Islam
> > > 
> > > 
> > > Salam,
> > > 
> > > Ditinjau dari kualitas keberagamaan, Umat Hindu Bali layak 
> disebut 
> > > paling religius dan "paling beragama" di Indonesia. 
> > > Beragam-ragam aturan keagamaan menjadi kegiatan mereka sehari-
> hari. 
> > > Bali adalah wilayah teraman dan paling tenteram, akibat 
kepatuhan 
> > > warganya pada agama, sebelum pendatang tinggal di sana.
> > > Kini Bali menjadi kawasan yang paling mendatangkan turis dan 
> paling 
> > > dikenal di dunia
> > > Jadi, mengapa agama harus menghambat turis?
> > > Kecuali bila para penganut agama menafsirkan ajarannya secara 
> picik 
> > > sehingga antipati pada kehadiran turis!
> > > 
> > > Wassalam,
> > > 
> > > Dimas
> > > 
> > > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, radja perdamaian 
> > > <radja_perdamaian@ ...> wrote:
> > > >
> > > > Jadi kalau mau maju parawisata harus bebas semua ya.....?
> > > > 
> > > > kalau saya lihat itu yang salah, kalau hal ini dijadikan 
alasan 
> > > untuk memajukan parawisata sama juga memajukan kemaksiatan, dan 
> > > memajukan kehidupan barat di negara kita.....
> > > > 
> > > > maka kiat selaku orang yang punya agama kayaknya harus 
kemabali 
> > ke 
> > > hakikat kita, mana yang benar dan mana salah, mana yang boleh 
dan 
> > > mana yang tidak boleh...
> > > > 
> > > > kalau itu tidak kita puanya maka kehancuran dan bencana yang 
> akan 
> > > kita dapatkan...
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > ----- Original Message ----
> > > > From: masdimas62 <masdimas62@ ...>
> > > > To: [EMAIL PROTECTED] s.com
> > > > Sent: Wednesday, June 18, 2008 5:20:14 PM
> > > > Subject: [ppiindia] Re: Hotel dan Restoran Diminta Patuhi 
> Syariat 
> > > Islam
> > > > 
> > > > 
> > > > Sungguh sia-sialah bicara dengan para pemabuk...
> > > > Terlebih lagi dengan pemabuk agama ....
> > > > 
> > > > Dimas.
> > > > 
> > > > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, Satrio Arismunandar 
> > > > <satrioarismunandar @...> wrote:
> > > > >
> > > > > Sebelum adanya aturan syariat, dunia pariwisata Indonesia 
> SUDAH 
> > > > luluh lantak.
> > > > > Penyebabnya ya karena dikelola secara tidak profesional. 
> Tidak 
> > > usah 
> > > > cari kambing hitam ke agama.... 
> > > > > 
> > > > > ----- Original Message ----
> > > > > From: mediacare <mediacare@ ..>
> > > > > To: mediacare <[EMAIL PROTECTED] u ps.com>; media aceh 
> <media-
> > > > [EMAIL PROTECTED] com>; media sumatera <media-
> > > > [EMAIL PROTECTED] s.com>; tourismindonesia@ yahoogroups. 
com; 
> > > > pariwisata-indonesi [EMAIL PROTECTED] com; zamanku 
> > > > <[EMAIL PROTECTED] s .com>; [EMAIL PROTECTED] s.com; 
> > pluralitas-
> > > > [EMAIL PROTECTED] com
> > > > > Sent: Wednesday, June 18, 2008 8:22:56 AM
> > > > > Subject: [ppiindia] Hotel dan Restoran Diminta Patuhi 
Syariat 
> > > Islam
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > Apakah ini jadi pertanda bakal luluh lantaknya dunia 
> pariwisata 
> > > > Indonesia? Dunia pariwisata akan maju kalau tidak berembel-
> > > embelkan 
> > > > agama. 
> > > > > 
> > > > > Serambi Indonesia - Rabu, 18 Jun 2008 | 03:32:43 WIB 
ARSIP : 
> > > > > 
> > > > > 17/06/2008 09:46 WIB
> > > > > 
> > > > > Hotel dan Restoran Diminta Patuhi Syariat
> > > > > 
> > > > > BANDA ACEH - Pengelola hotel dan restoran di Banda Aceh 
> diminta 
> > > > untuk mengikuti dan mematuhi 
> > > > > ketentuan Qanun-qanun Syariat Islam (QSI), dalam 
menjalankan 
> > > > usahanya. Misalnya, tidak menyediakan makanan dan minuman 
yang 
> > > > dilarang agama dan menyediakan mushala atau tempat shalat. 
> > > Pengelola 
> > > > hotel dan restoran juga harus menjaga kebersihan, ketertiban, 
> dan 
> > > > keamanan lingkungan sekitar.
> > > > > 
> > > > > "Keberhasilan pelaksanaan syariat Islam sangat ditentukan 
> oleh 
> > > > peran serta semua pihak. Terutama 
> > > > > pelaku pelayanan jasa baik perhotelan maupun restoran yang 
> > > selalu 
> > > > dikunjungi banyak orang," kata Kepala Dinas Pariwisata dan 
> > > Kebudayaan 
> > > > Kota Banda Aceh, Drs Ramli Rasyid, saat membuka 
> > > > > Pembekalan Qanun SI bagi pengelola hotel dan restoran se-
> Banda 
> > > > Aceh, 
> > > > > di Wisma Diana, Senin (16/6) kemarin. 
> > > > > 
> > > > > Kepala Dinas Syariat Islam dan Keluarga Sejahtera Kota 
Banda 
> > > Aceh, 
> > > > Drs M Natsir Ilyas MHum 
> > > > > mengatakan, kegiatan pembekalan qanun syariat Islam itu 
> > > bertujuan 
> > > > > agar pengelola hotel dan restoran di Banda Aceh lebih 
> memahami 
> > > isi 
> > > > > dari qanun-qanun yang ada. "Kami mengharapkan pengelola 
hotel 
> > > dan 
> > > > > restoran dapat menjadi partner pemerintah dalam 
mensukseskan 
> > > > > pelaksanaan dan penerapan Syariat Islam di Banda Aceh," 
> > ujarnya. 
> > > > > 
> > > > > Ia menyebutkan, materi yang diberikan antara lain mengenai 
> > > > implementasi QSI bagi pengelola hotel dan 
> > > > > restoran di Banda Aceh dan pelaksanaan konsep pariwisata 
> dalam 
> > > > > bingkai SI. "Materi koordinasi stakeholders guna menunjang 
> visi 
> > > > > bandar wisata Islami, dan pelaksanaan Syariat Islam bagi 
> warga 
> > > > asing 
> > > > > dan non muslim juga diberikan," rinci Natsir.(ami)
> > > > > 
> > > > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > 
> > > > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > > > >
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > > >
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>

    


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke