Oleh Frans Sartono http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/22/00431278/secara.kultural.kita.se dang.kalah Saini KM genap berusia 70 tahun pada 16 Juni lalu. Budayawan, penyair, penulis drama, penulis esai itu memprihatinkan budaya bangsanya yang tengah jatuh dan kehilangan arah. Ia mengelus dada dengan budaya kekerasan yang merupakan indikator suatu bangsa yang kehilangan rujukan budaya. Secara kultural, kita sebenarnya telah kalah, kata Saini Kosim yang ditemui di rumahnya di Pasir Jaya, Bandung, Kamis (19/6) siang. Saya menyadari dalam suatu kebudayaan itu ada masa naik-turun. Sekarang ini kebudayaan kita sedang turun. Ini berbahaya kalau terus berlanjut. Karena dalam gelombang globalisasi, bangsa yang tak punya karakter akan lenyap. Bangsa yang tak punya pendirian akan hilang. Kalau hilang, itu artinya budaya bangsa lain yang akan masuk, kata Saini dengan tutur kata santun dan lembut. Perilaku keras, beringas, korupsi, keterpurukan ekonomi yang berkelanjutan adalah pertanda kekalahan budaya itu. Karakter bangsa, menurut Saini, dibentuk oleh kreativitas bangsa itu sendiri. Kreativitas itu akan berkaitan erat dengan kesejahteraan dan kekenyalan bangsa ketika menghadapi persoalan. Bangsa yang kreatiflah yang akan bertahan dan kukuh berdiri di dalam sejarah di tengah bangsa-bangsa lain. Kreativitas suatu bangsa itu akan terjaga jika bangsa tersebut memelihara tradisi. Dengan begitu, warga bangsa tersebut bisa kembali menghayati local genius yang pernah dicapai bangsanya. Apa problem mendasar dari bangsa ini? Kita kalah. Kita tidak mempelajari sejarah. Kita kehilangan tumpuan untuk bertolak. Sekarang coba kita bicara soal hukum? Kita seperti tak punya arah mau apa. Berapa kekayaan negara yang sudah dijual, digadaikan? Kita ini belum mempunyai kesadaran berkebudayaan secara khusus. Kita harus membahas secara mendalam kebudayaan kita. Berbudaya itu hidup dengan menetapkan nilai-nilai. Mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah. Mana yang suci dan tidak suci. Kalau kita betul-betul berkebudayaan, kita seharusnya memikirkan hal itu secara khusus. Kita lihat budaya Jepang. Saya seorang pengagum budaya Jepang. Coba lihat anak muda Jepang bersikap terhadap orang tua. Ketika ada orang tua meninggalkan ruangan, anak muda itu membungkuk. Bahkan setelah orang tersebut tidak terlihat, mereka tetap membungkuk. Mereka mempraktikkan apa yang ada di hati. Begitulah budaya Jepang. Apa yang ada dalam hati itu terlihat dalam gerak-geriknya. Kita belum siap dengan satu landasan budaya? Dulu ketika bangsa kita merdeka, kita mencari-cari kebudayaan Indonesia itu seperti apa. Tapi, kemudian luntur lagi. Sekarang ini komersialisme menghebat dan lebih berat dari sebelumnya. Sekarang ini kulturisasi, pembudayaan, tengah berhadapan dengan komersialisasi. Itu mulai terasa sekitar pertengahan Orde Baru. Waktu itu kami, sastrawan, masih bisa membedakan siapa yang berkebudayaan dan siapa yang tak berbudaya. Waktu itu anak-anak masih ngobrol tentang Chairil Anwar, Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane. Sekarang tidak ada. Itu semua sekarang ambrol. Apakah budaya tradisi tak mampu menolong? Di dalam keluarga orang masuk dalam kebudayaannya. Tapi, di luar keluarga sudah kacau. Sekarang orang Sunda pun malu berbicara dengan bahasa Sunda. Orang Jawa mungkin juga begitu. Mereka menganggap bahasa Indonesia itu yang paling hebat, padahal Indonesia itu disumbang oleh budaya daerah. Dan kelihatannya pemerintah belum peka pada masalah ini. Budaya daerah mandek? Kebudayaan global begitu cepat. Tapi, yang kita terima adalah budaya global komersial seperti yang kita lihat di televisi itu. Masuk ke dalam kebudayaan global itu artinya bukan masuk dalam kebudayaan komersial itu. Kebudayaan global yang sesungguhnya bukan itu, tapi di belakang itu. Kalau kita tengok bangsa-bangsa di Eropa, seperti Perancis, sebenarnya mereka juga terkena budaya komersial. Tapi, mereka sadar bahwa budaya komersial itu bukan kebudayaan mereka, itu hanya komersialisme, itu dagang. Budaya mereka yang sesungguhnya tidak di situ. Mereka masih nonton opera, menikmati teater yang bermutu. Tapi, yang dijual ke bangsa lain adalah budaya komersial itu. Hilangnya simbol dan acuan bersama Saini melihat adanya dilema dalam kebudayaan di Indonesia. Di satu sisi simbol-simbol lama sudah hilang atau tak dikenal. Seniman yang menggunakan simbol lama tak lagi komunikatif. Di sisi lain, simbol-simbol baru justru menciptakan kesenjangan antara seniman dan masyarakatnya. Saini yang pernah menjadi Direktur Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung itu memaparkan panjang lebar soal makna dan simbol tradisi yang kini tak lagi komunikatif dengan publiknya, terutama pada sebagian besar kaum muda. Pranata kesenian yang bisa memelihara simbol dan makna kesenian, seperti lembaga pendidikan, gedung kesenian, atau museum, kurang mendapat perhatian masyarakat dan pemerintah. Dia menganggap Indonesia terlambat dalam memelihara simbol dan makna kebudayaan lamanya. Akibatnya, seni tradisi tidak lagi menarik bagi kaum muda yang tersapu gelombang kesenian global yang tak lain berupa komersialisme. Makna dan simbol budaya tradisi tak lagi nyambung? Saya selalu menganjurkan agar kita tetap mempertahankan yang kuno, tapi juga memperkenalkan yang baru. Itu yang saya terapkan di STSI. Lambang dan simbol tradisional yang tak terpelihara menjadikan minat kaum muda pada seni tradisi menurun. Sekarang kaum muda lebih dekat dengan yang komersial itu? Itu sebenarnya kekalahan kita. Itulah yang lebih banyak dikembangkan oleh komersialisme. Adapun musik, teater, sastra kita sangat miskin dan terluputi. Waktu kita baru merdeka Bung Karno mengusahakan Serampang Dua Belas, lagu-lagu daerah dikembangkan. Tapi, Bung Karno kalah dan komersialismelah yang bangkit. Apa yang bisa dilakukan dalam kondisi seperti itu? Kalau saya jadi orang gedean, saya ingin mengajari anak-anak simbol-simbol dan nilai tradisional. Akan tetapi, simbol-simbol baru kita hidupkan juga. Namun, perlu dicatat, simbol baru itu baru akan bisa dimengerti jika simbol-simbol lama telah dipahami. Kalau simbol lama ditinggalkan, akan terputus. Generasi muda berada dalam situasi pelik. Mereka putus hubungan dengan simbol-simbol lama, tapi mereka juga belum sampai dengan simbol- simbol baru. Mengapa Eropa mampu memelihara simbol lama dan mengembangkan yang baru? Mereka sadar bahwa komersialisasi itu hanya dagangan. Dengan kesadaran itu, mereka tetap memelihara kesenian lama. Bahkan itu diajarkan di sekolah. Mereka mempunyai dana dari pemerintah agar anak-anak bisa menikmati opera. Semua yang baik diajarkan. Memang di sana terjadi perubahan dalam kesenian, tapi kesenian yang baku itu tetap dijaga. Kalau kita pergi ke Paris, kita akan menjumpai musik-musik yang kacau. Tapi, kalau kita ingin menikmati musik, kita akan diantar menikmati opera. Mereka mampu mempertahankan tradisi sebagai rujukan dalam menghasilkan momen kreatif. Apakah kita tak punya rujukan semacam itu? Begini contohnya. Kalau saya suka musik Sunda, Cianjuran itu, karena saya pernah merujuk ke satu nilai Sunda. Ada keagungan dan kesetiaan di sana yang saya rasakan. Sekarang hanya sedikit orang yang menyukai tembang Sunda. Sedikit sekali orang yang mengerti apalagi menikmati tembang Sunda. Paling juga lagu jaipongan. Kebanyakan orang sudah kehilangan rujukan. Mereka tak memahami keagungan seperti yang saya rasakan. Dalam teater ada upaya menggunakan simbol baru? Saya positif dengan cara Nano (Riantiarno). Mereka (Teater Koma) tidak jelek untuk ditangkap. Dia mengacu pada teater rakyat. Teater rakyat memang isinya bodoran banyolan. Gajah dibawa ke panggung itu khas teater rakyat. Atau pemain yang nyanyi meski tidak bisa nyanyi, itu tidak apa-apa. Tapi, antara teater dan penonton bisa menyatu. Dan kita lihat, mereka banyak ditonton. Tapi, Arifin (C Noer) cuma sedikit ditonton karena dia menggunakan simbol yang terlalu Cirebon atau terlalu modern. Yang berhasil memang Riantiarno dalam hal mengumpulkan penonton. Tapi, saya toleran dengan Putu, Arifin. Biarlah Putu punya penonton, Rendra punya penonton. Kesenian di pantura mampu beradaptasi dengan modernitas. Mereka menggunakan keyboard untuk memainkan musik tradisi? Pantura itu suatu kultur tersendiri. Daerah Cirebon sampai Indramayu itu mencari diri sendiri. Kebetulan gangguan agama tidak banyak di sana, jadi bebas saja. Masyarakat pantura mempunyai rujukan budaya yang jelas dan kuat. Masyarakat Batak, Sunda, atau Jawa yang ke sana semuanya sangat terbuka karena ada pintu-pintu untuk menerima mereka. Mereka punya manajemen yang modern, tapi penari masih harus menyembah. Yang modern dan tradisi saling mengisi. Kekerasan rujukannya ke mana? Itu bukan kita. Kekerasan itu adalah akibat tidak mengerti. Mereka tidak mengerti bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak benar. Mereka bangga dengan kekerasan dan berkaok-kaok seperti jagoan. Dalam penyebaran agama, tidak ada kekerasan. Agama mengajarkan kesantunan. Saya ingat, dulu di masyarakat Sunda kalau ada anak berkelahi akan dilerai orangtua sendiri. Dan kata ayah saya, "Jangan begitu, itu mah bukan orang Sunda." Kekerasan itu tergantung dari lingkungan. Sunda mempunyai tanah yang subur. Itu menumbuhkan cara bergaul yang santun.

