Saturday, June 21, 2008
 

Ahmadiyah Debat Kusir
 



Dalam beberapa acara debat Ahmadiyah yang saya saksikan di televisi, saya 
melihat kelompok JAI lebih senang debat kusir daripada membahas masalah yang 
substansial. Mereka lebih senang memperdebatkan HAM, penafsiran, SKB, atau 
sejenisnya. Mereka sering menghindar ketika lawan debat mereka mempersoalkan 
masalah seputar kenabian Mirza Ghulam Ahmad, Tadzkirah, dan takfir. 
 
Kenabian Mirza Ghulam Ahmad
 
Tidak ada satupun dalil naqli yang menyebutkan Nubuwah Mirza Ghulam Ahmad. Jika 
ada, maka hal itu akan diketahui secara umum oleh umat Islam seluruh dunia dari 
dulu hingga sekarang. 
 
Yang ada adalah dalil yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw. sebagai Nabi 
penutup dan tidak ada Nabi setelahnya. Ini merupakan kesepakatan para ulama 
(ijma’ul ulama) dari dulu hingga sekarang dan tidak akan berubah hingga akhir 
zaman. 
 
Jadi, jika ada orang yang mengakui dirinya sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad, 
maka dia adalah pendusta dan pengikutnya di cap sesat dan kafir. 
 
Mirza tidak ada bedanya dengan Musailamah, Syuja, Thulaihah bin Khuwailid, 
Jundab bin Kaltsum, Kahmisy al-Kilaby, Abu Ja’wanah al-Amiri, Hudzail bin 
Ya’fur, Hudzail bin Wasi’, Mukhtar bin Ubaid, Handhalah bin Yazid al-Kufi, Lia 
Eden, Ahmad Mushaddeq, atau Nabi-Nabi palsu lainnya. 
 
Oleh karena itu, mereka tidak berhak mengatakan bahwa diri mereka muslim.
 
Ini adalah harga mati (qath’iy) bagi setiap muslim. 
 
Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya akan ada pada umatku tiga puluh orang 
pendusta. Masing-masing mengaku sebagai nabi. Padahal, akulah penutup para 
nabi, tidak ada lagi nabi sesudahku.” (HR Abu Dawud).  
 
Kelompok Mu’tazilah sendiri tidak pernah mengatakan bahwa akan datang seorang 
Nabi setelah Nabi Muhammad. Begitupun dengan kelompok Syiah. 
 
Apalagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Adalah suatu hal yang aneh ketika kelompok 
Kristen ikut campur pada masalah ini. 
 
Padahal orang-orang Kristen menyebut Nabi Muhammad sebagai Nabi palsu, 
sedangkan Mirza tidak mereka sebut Nabi palsu. Ini sungguh aneh. 
 
Sebenarnya apa mau mereka? Jika mereka mau bersikap konsisten, seharusnya 
mereka juga menolak kenabian Mirza Ghulam Ahmad, bukannya malah membela 
Ahmadiyah. 
 
Cendekiawan Muslim Pakistan, Dr. Muhammad Iqbal pernah ditanya oleh Jawaharlal 
Nehru mengapa kaum Muslimin bersikap keras untuk memisahkan Ahmadiyah dari 
Islam? Iqbal menjawab, “Ahmadiyah berkeinginan untuk membentuk dari umat Nabi 
Arabi (Muhammad saw) satu umat yang baru bagi Nabi Hindi.” 
 
Iqbal dalam bukunya Islam and Ahmadism juga mengatakan, Setiap kelompok 
masyarakat keagamaan yang secara historik timbul dari Islam, yang mengakui 
kenabian baru sebagai landasannya dan menyatakan semua ummat Muslim yang tidak 
mengakui kebenaran wahyunya itu sebagai orang-orang kafir, sudah semestinya 
dianggap oleh setiap Muslim sebagai bahaya besar terhadap solidaritas Islam. 
Hal itu memang sudah semestinya, karena integritas ummat Islam dijamin oleh 
Gagasan Kenabian Terakhir (Khatamun Nabiyyin) itu sendiri.” 
 
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, dalam Tafsir al-Manar, Juz II, menyatakan, 
“Mereka (Ahmadiyah) itu ada dua golongan. Segolongan menyatakan (Mirza Ghulam 
Ahmad) al-Qadiyani adalah pembaharu dan bukannya nabi. Mereka ini ialah ahli 
bid’ah. Segolongan lagi menyatakan bahwa ia adalah seorang (Nabi) yang diberi 
wahyu oleh Allah. Mereka ini adalah orang-orang kafir, murtad.” 
 
Tadzkirah
Kedudukan Tadzkirah bagi orang Ahmadiyah tidak ada bedanya dengan kedudukan 
Kitab suci al-Quran bagi kaum Muslimin. Tadzkirah berisikan “wahyu-wahyu” Tuhan 
yang diturunkan kepada Mirza Ghulam Ahmad. Begitupun dengan al-Quran yang 
berisikan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. 
 
Jika demikian, Tadzkirah sejajar dengan al-Quran atau minimal hadits qudsi. 
Kalau memang diposisikan sebagai hadits qudsi, tentu Tadzkirah tidak lepas dari 
kritik. Karena hadits qudsi sendiri kadang dikritik dari segi sanad dan 
matannya, seperti halnya hadits-hadits lainnya. 
 
Hadits menurut tingkatannya ada yang mungkar, maudhu, dhaif, hasan, hasan 
shahih, dan shahih. 
 
Para ulama sepakat, bahwa hadits yang mungkar dan maudhu (palsu) dinyatakan 
batil untuk diamalkan. Sedangkan untuk hadits dhaif para ulama berbeda 
pendapat, sebagian mengatakan menolak secara menyeluruh, sebagian lagi menerima 
hanya untuk motivasi beramal.
 
 
Dan matan hadits tidak bisa dilepaskan dari al-Quran. Para ulama telah sepakat 
jika ada hadits yang bertentangan dengan al-Quran, maka hadits tersebut 
tertolak. Lantas, bagaimana dengan Tadzkirah, apakah juga telah dilakukan upaya 
di atas? Apakah pengikutnya sudah paham betul dengan isi Tadzkirah dan 
al-Quran? Ataukah pengikutnya telah “menuhankan” pimpinan-pimpinan Ahmadiyah 
seperti halnya orang-orang Yahudi dan Nasrani “menuhankan” pendeta-pendetanya. 
 
Saya mendengar ucapan dari seorang pendukung Ahmadiyah yang merupakan peneliti 
Wahid Institute bahwa dirinya belum meneliti tentang ajaran Ahmadiyah. 
 
Lantas, mengapa dia bisa menjadi bagian dari pembela Ahmadiyah sementara dia 
sendiri tidak tahu Ahmadiyah itu benar atau salah. Pantas saja ketika 
ditanyakan kepadanya apakah Ahmadiyah itu benar atau salah, dia tidak bisa 
mengatakan bahwa Ahmadiyah itu benar atau salah. Jadi, patokan kebenaran yang 
dia pegang itu apa? 
 
Begitupun yang terjadi dengan orang-orang dari Jaringan Islam Liberal (JIL) 
ketika mewawancarai seorang pengurus JAI, pertanyaan-pertanya an yang mereka 
ajukan datar-datar saja dan terlihat mereka benar-benar tidak mengetahui ajaran 
Ahmadiyah itu seperti apa. 
 
Kalau mereka tahu ajaran Ahmadiyah seperti apa, niscaya mereka akan “mengejar” 
orang Ahmadiyah itu dengan rentetan pertanyaan yang sambung menyambung. 
 
Misalnya saja ditanyakan tentang ekslusifitas Ahmadiyah, orang Ahmadiyah 
kemudian mengatakan tidak benar Ahmadiyah ekslusif. Nah, seharusnya JIL kembali 
bertanya, bukankah menurut kitab Ahmadiyah anu, anu, dan anu disebutkan begini 
dan begini (yang intinya menyebutkan bahwa Ahmadiyah ekslusif). 
 
Nyatanya kan tidak, JIL merasa cukup dengan satu pertanyaan saja. Oleh karena 
itu, JIL tidak bisa disebut pewawancara yang objektif dan menginginkan 
kebenaran sesungguhnya. JIL yang katanya terdiri orang-orang pinter ternyata 
blo’on dan bener-bener keblinger.    
 
Takfir Ahmadiyah Terhadap kaum Muslimin
Mirza Ghulam Ahmad berkata, “Dan dari sejumlah ilham-ilham itu, ada diantaranya 
yang didalamnya sejumlah ulama yang menentangku dinamakan Yahudi dan Nasrani.” 
(Hamamat al-Bushra, hal. 19). 
 
Dan katanya, “Maka barangsiapa yang tidak percaya pada wahyu yang diterima Imam 
yang ijanjikan (Ghulam Ahmad), maka sungguh ia telah sesat, sesesat-sesatnya, 
dan ia akan mati dalam kematian jahiliyah, dan ia mengutamakan keraguan atas 
keyakinan.” (Mawahib al-Rahman, hal. 38). 
 
Ghulam Ahmad juga mengaku, “Dan termasuk di antara tanda-tanda (kebenaran 
dakwahku) yang nampak dalam zaman ini ialah matinya orang-orang yang 
menentangku dan menyakitiku serta memusuhiku habis-habisan.” (semua orang juga 
akan mati-aiN)
 
Dan katanya lagi, “Maka barangsiapa yang tidak percaya pada wahyu yang diterima 
Imam yang dijanjikan (Ghulam Ahmad), maka sungguh ia telah sesat, 
sesesat-sesatnya, dan ia akan mati dalam kematian jahiliyah, dan ia 
mengutamakan keraguan atas keyakinan.” (Mirza Ghulam Ahmad, Mawahib al-Rahman, 
hal. 38). 
 
Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad mengatakan, ”Apabila iman bukan semata-mata 
karena mengikuti dengaran dari tuturan ibu-bapak, melainkan hasil penyelidikan 
dan pengamatan, niscaya kita mengambil salah satu dari kedua hal yaitu 
mengingkari semua nabi atau menerima pengakuan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.” 
(Da’watul Amir: Surat Kepada Kebenaran, hlm. 374).
 
Dalam Surat Edaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia tanggal 25 Ihsan 1362/25 Juni 
1983 M, No. 583/DP83, perihal Petunjuk-petunjuk Huzur tentang Tabligh dan 
Tarbiyah Jama’ah, dinyatakan, 
 
“Harus dicari pendekatan langsung dalam pertablighan. Hendaknya diberitahukan 
dengan tegas dan jelas bahwa sekarang dunia tidak dapat selamat tanpa menerima 
Ahmadiyah. Dunia akan terpaksa menerima Pimpinan Ahmadiyah. Tanpa Ahmadiyah 
dunia akan dihimpit oleh musibah dan kesusahan dan jika tidak mau juga menerima 
Ahmadiyah, tentu akan mengalami kehancuran.” 
 
Bagaimana menurut pandangan Anda setelah membaca pernyataan Mirza ini? Apakah 
Anda tidak marah? Seluruh kaum muslimin yang menolak Ahmadiyah dari generasi 
awal hingga akhir zaman dinyatakan sesat, kafir, Nasrani, Yahudi, dan mati 
dalam keadaan jahiliyah. 
 
Apakah Anda masih tidak marah? Baiklah, bagaimana jika ayah dan ibu Anda 
dikatakan sebagai pelacur padahal kenyataannya tidak, apakah Anda masih tidak 
marah? Jika Anda tidak marah, berarti ada yang salah pada diri Anda. Lantas, 
bagaimana jika Ahmadiyah dengan jelas-jelas melecehkan Rasulullah dan menodai 
agama Anda? 
 
Dr. Muhammad Iqbal berkata, “Orang yang mengakui mendapatkan wahyu seperti itu 
adalah orang yang tidak patuh kepada Islam. Karena kelompok Qadiani mempercayai 
pendiri gerakan Ahmadiyah sebagai penerima wahyu semacam itu, berarti mereka 
menyatakan bahwa seluruh dunia Islam adalah kafir.”  
 
Kesimpulan
Berdasarkan keputusan Konferensi Organisasi Islam se-Dunia  pada tahun 1985 dan 
keputusan Rabithah Alam Islami yang dihadiri oleh tokoh dan ulama seluruh dunia 
pada tahun 1394 H/ 1974 M telah menetapkan bahwa Ahmadiyah adalah sekte yang 
menyesatkan dan tidak ada kaitan dengan agama Islam. 
 
Hasil muktamar memutuskan “Kufurnya kelompok ini dan keluar dari Islam. Meminta 
kepada kaum muslimin berhati-hati terhadap bahaya kelompok ini dan tidak 
bermu’amalah dengan pengikut Ahmadiyah, serta tidak menguburkan pengikut 
kelompok ini di pekuburan kaum Muslimin.” 


Pada 7 September 1974, Majelis Nasional Pakistan menetapkan dalam Konstitusi 
Pakistan, bahwa semua orang yang tidak percaya kepada Nabi Terakhir Muhammad 
secara mutlak dan tanpa syarat telah keluar dari kelompok umat Islam.
 
Keputusan Munas Alim Ulama  se-Indonesia tahun 1980 telah memutuskan bahwa 
Ahmadiyah adalah kelompok di luar Islam, sesat dan menyesatkan. Ini dituangkan 
dalam Keputusan No 05/Kep/Munas II/MUI/1980 (pada 17 Rajab 1400H/1 Juni 1980M, 
ditandatangani oleh Ketua MUI Prof. Dr. Hamka dan Sekretaris Drs H. Kafrawi MA, 
juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI (Menag) Alamsyah R. Prawiranegara) . 
 
Di samping itu juga ada Surat Edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji 
Departemen Agama No D/B4.01/5099/ 84, tgl 20 September 1984 , yang berisi 
penegasan supaya ulama menjelaskan 
tentang sesatnya Jemaat Ahmadiyah. 
 



Posted at 03:08 pm by mafaza




      Get the name you always wanted with the new y7mail email address.
www.yahoo7.com.au/mail

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke