Ngeriiii ah ketemu ma manusia amphibi, jgn2 ini termasuk alien jg ya?


'Manusia Ampibi'
oleh: AKMAL


assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Secara sederhana, Ampibi adalah makhluk yang dapat hidup di ‘dua alam’.  Hidup 
di air bisa, di darat pun insya Allah selamat.  Lain di darat lain di air.  
Mereka bukan makhluk yang munafik, karena memang demikianlah fitrah yang telah 
ditetapkan untuknya.
 
Ada juga manusia yang hidup di ‘dua alam’.  Al-Qur’an
menjelaskan ciri-ciri mereka, salah satunya adalah mereka selalu bicara
dengan penuh keyakinan bahwa mereka berada di jalan yang benar.
 
Dan
jika dikatakan kepada mereka, “Janganlah membuat kerusakan di bumi!”,
mereka berkata, “Sesungguhnya kami ini orang-orang yang membuat
perbaikan!”  
(Q.S. Al-Baqarah [2] : 11)
 
Bagaimana komentar Al-Qur’an terhadap mereka?
 
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi 
mereka tidak sadar.  
(Q.S. Al-Baqarah [2] : 12)
 
Di sini Al-Qur’an sama sekali tidak berusaha mendebat para manusia ‘Ampibi’ 
tersebut.  Tidak ada lagi diskusi yang layak dilakukan dengan mereka.  
Rasulullah saw. sendiri sudah sejak lama mengingatkan bahwa manusia mampu 
berbuat apa saja kalau rasa malunya sudah lenyap.  Informasi pada ayat ke-12 
itu biarlah disimpan antara Allah SWT dan hamba-hamba-Nya yang beriman saja.  
Tahu sama tahu sajalah.
 
Meskipun diskusi sudah kehilangan arti dengan orang-orang ini, namun kita tetap 
wajib menasihati mereka.  Al-Qur’an menjelaskan bentuk respon yang mungkin 
mereka berikan terhadap nasihat-nasihat kita :
 
Apabila
dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain
telah beriman.” mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana
orang-orang yang bodoh itu telah beriman?”  
(Q.S. Al-Baqarah [2] : 13)
 
Allah SWT dan hamba-hamba-Nya – seperti biasa – sudah tahu sama tahu.
 
Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak 
tahu.  
(Q.S. Al-Baqarah [2] : 13)
 
Andaikan penjelasan ini saja belum cukup, maka Al-Qur’an menggenapkannya 
sebagai berikut :
 
Dan
bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka
mengatakan, “Kami telah beriman”, dan bila mereka kembali kepada
syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami
sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.”  
(Q.S. Al-Baqarah [2] : 14) 
 
Demikianlah ‘manusia Ampibi’.  Di tengah-tengah orang-orang yang beriman 
mulutnya manis dan pandai bicara.  Di tengah-tengah para syaitan, berubah pula 
kosa katanya.  Dan lagi-lagi, Al-Qur’an tak merasa perlu meminta pendapat 
mereka untuk menegaskan pendiriannya :
 
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing 
dalam kesesatan mereka.  Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan 
petunjuk.  Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka 
mendapat petunjuk.  
(Q.S. Al-Baqarah [2] : 15-16)
 
Persis seperti ayat di atas, para ‘manusia Ampibi’ memang senantiasa jadi bahan 
olok-olokan manusia.  Jika
mereka berusaha mengolok-olok Allah dan para malaikat pencatat
perbuatan manusia, maka dengan mudah Allah bisa membalikkan situasinya.  Dengan 
sedikit modifikasi saja, pisau akan berbalik menyerang pemiliknya.  Kontradiksi
sikap mereka itulah yang membuat semua orang berakal sehat secara
refleks menertawakannya, dan akhirnya takkan ada yang menganggapnya
serius.  Mereka hanya bisa bergaul dengan sesama ‘Ampibi’ saja, sementara Allah 
dan orang-orang yang beriman sudah tahu sama tahu.
 
Tempo hari seorang teman mem-forward sebuah e-mail dari seseorang yang tak suka 
menuliskan gelar-gelar kehormatan di belakang nama para Nabi.  Bahkan sebutan 
“Nabi” pun biasa ditinggalkannya.  Maka
Nabi Muhammad saw. (atau Rasulullah saw.) disingkat menjadi “Muhammad”,
Nabi Musa as. menjadi “Musa” saja, Nabi ‘Isa as. menjadi “Isa” (atau
bahkan “Jesus”), dan seterusnya.  Alasannya?  Karena pembicaraan ini hanya 
berlangsung di milis, dan bukan di khutbah Jum’at.  Seketika
saya pun bergidik membayangkan keadaan seorang manusia di alam kubur
atau akhirat, sementara para Nabi bergantian datang dan bertanya
kepadanya, “Apakah kami ini tidak kauanggap Nabi ketika engkau
meninggalkan mimbar khutbah Jum’at?”  Tentu saja, impian itu lenyap begitu saya 
sadar bahwa orang yang bersangkutan nyaris tak mungkin menjadi Khatib Jum’at.  
Jadi kapankah ia akan menyebut nama para Nabi dengan gelar kehormatannya?
 
Tidak jauh beda dengan seniornya yang kini sedang mengambil beasiswa di Boston 
setelah kelepasan berkata, “MUI tolol!”.  Ulil Abshar Abdalla, meskipun rajin 
sekali diskusi dan konon juga banyak membaca buku, namun tetaplah ‘Ampibi’.  
Suatu ketika, ia menulis sebuah artikel untuk menyanggah artikel karya Amran 
Nasution.  Artikel Ulil itu – seperti biasa – diberi judul yang ‘wah’ : Kolom 
Amran dan Beberapa Kekeliruan.  Apa
dinyana, Amran Nasution menjawabnya kembali dengan artikel lain dan
menggarisbawahi begitu banyak pengaburan fakta di dalamnya.  Sudah
barang tentu reaksi Amran Nasution sangat keras, karena sebagai
wartawan, ia paham betul bahwa pengaburan fakta adalah ‘dosa’ yang
sangat besar bagi seorang penulis.
 
Kita sudah tahu sama tahu siapa Ulil.  Tapi bagaimanakah respon Ulil berikutnya?
 
Sekedar informasi, tanggapan itu saya tulis sebagai sebuah posting di milis.  
Saya memang tak pernah mengoreksi posting-posting yang saya tulis di milis.  
Begitu selesai, langsung saya kirim, sebab toh saya bukan menulis sebuah kolom 
atau artikel di majalah atau koran.  Kalau saya menulis kolom, tentu saya akan 
“memelototi” tulisan saya sebelum saya kirim.
 
Hanya
Ulil dan kawan-kawannya sajalah yang tahu mengapa menulis di milis
tidak perlu terlalu memusingkan masalah validitas data, sedangkan
menulis di majalah atau koran sebaliknya.  Begitulah gaya hidup ‘manusia 
Ampibi’.  Tempo hari menulis artikel dengan nada keras, kemudian meleleh dan 
berkilah dengan segala cara ketika sudah ketahuan belangnya.
 
Anjing menggonggong, kafilah berlalu.  ‘Manusia ampibi’ berkilah, kita tahu 
sama tahu.
 
wassalaamu’alaikum wr. wb.


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke