emang bener mas, namenye mental tikus susah dibenerin, untung aje 
manusie-manusie mental tikus bgini kaga byk muncul di jaman penjajahan blande, 
bs repot nih nenek moyang ane.
jgn jd tikus ah, maluuuu..



Kucing Adalah Kucing Karena Tikus Adalah Tikus
oleh AKMAL


assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Manusia memang tak pernah hidup sendiri.  Keadaannya dipengaruhi oleh 
orang-orang di sekitarnya.  Bahkan tidak salah kiranya jika kita katakan bahwa 
jati diri seseorang tergantung pada orang lain.  Dalam bahasa yang lebih 
cantiknya, “saudara kita adalah cermin dari diri kita sendiri.”
 
Sebagai
contoh, tidak layak seorang lelaki menepuk-nepuk dadanya dengan
membanggakan diri sebagai kepala rumah tangga yang baik, sementara
istri dan anaknya tidak berpendapat demikian.  Tidak mungkin ia bisa menjadi 
juri bagi dirinya sendiri.  Jika ingin tahu kualitas seorang kepala rumah 
tangga, maka referensi terbaik adalah anak dan istrinya.
 
Dalam Islam, tidak ada yang boleh mengaku (atau merasa) sudah saleh jika masih 
cuek-bebek dengan keadaan tetangganya.  Jangan merasa sudah bertaqwa hanya 
dengan modal shalat, shaum, zakat, dan naik haji.  Kualitas diri seseorang juga 
sangat tergantung pada ‘sertifikasi’ yang diberikan oleh orang-orang di 
sekitarnya.
 
Tidak semua orang bisa jadi pemimpin, apalagi pemimpin yang sukses.  Pemimpin
hanya bisa sukses jika orang-orang yang dipimpin mengakuinya sebagai
pemimpin dan – dengan sendirinya – patuh pada instruksinya.  Jika
di mata bawahannya ia hanyalah seorang oportunis yang menyebalkan, maka
sampai kapan pun ia takkan pernah sukses, karena timnya tidak solid.
 
Menurut Ibnu Khaldun, sebuah bangsa akan terpuruk jika sudah memenuhi syarat 
untuk terpuruk.  Jika bangsa itu dipandang sebagai bangsa yang mudah untuk 
dikendalikan, maka bangsa-bangsa lain akan berlomba mencaploknya.  Begitulah 
ironinya.  Seringkali seseorang tertindas karena ia sendiri yang menunjukkan 
‘bakat’ untuk menjadi yang tertindas.
 
Beberapa waktu yang lalu, saya menyaksikan sebuah liputan hasil penelitian 
mutakhir seputar ‘syaraf takut’ pada tikus.  Secara alamiah, tikus memang 
menganggap kucing sebagai makhluk yang berbahaya.  Entah bagaimana, tikus-tikus 
(terutama yang badannya kecil) mewariskan pengetahuan ini dari generasi ke 
generasi.  Akibatnya, reaksi umum seekor tikus ketika bertemu kucing adalah 
lari ketakutan.
 
Entah bagaimana, para ahli menemukan suatu cara untuk mengatasi ketakutan 
tersebut.  Beberapa tikus dijadikan bahan eksperimen dengan mematikan syaraf 
yang membuatnya merasa takut pada kucing..  Setelah proses yang njelimet itu, 
tikus-tikus itu pun berubah menjadi ‘supertikus’ : mereka tidak lagi takut 
kepada kucing.  Mereka memperlakukan kucing sebagaimana hal-hal baru lainnya 
dalam hidup.  Mereka
mendatanginya, menyodorkan moncong ke arahnya, mencium baunya,
mengendus-endus di depan mukanya, bahkan sampai berani mencolek-colek
wajah kucing.
 
Bagaimana nasib si kucing?  Di hadapan tikus-tikus ajaib itu, ternyata sang 
predator malah kebingungan sendiri.  Apa yang terjadi?  Mengapa tikus-tikus itu 
menjadi ‘tidak tahu diri’?  Mengapa mereka tidak takut lagi dengan saya?  
Begitulah kira-kira pertanyaan yang berkecamuk dalam benak si kucing.
 
Kejadian ini sebenarnya tidak seberapa mengherankan.  Kita sering melihatnya 
dalam kehidupan sehari-hari, meski dalam bentuk yang berbeda.  Jika
ada mobil menyenggol mobil lainnya, misalnya, perdebatan mengenai siapa
yang salah biasanya tidak ditentukan oleh polisi, bukti, ataupun saksi,
melainkan siapa yang lebih agresif dalam ‘melakukan serangan’.  Siapa yang 
lebih galak biasanya akan menang.
 
Begitulah dunia intimidasi..  Siapa yang lebih nekat biasanya sudah setengah 
jalan menuju kemenangan.  Sebaliknya,
mereka yang sebenarnya punya potensi untuk berjaya tapi terlalu takut
untuk menghadapi tantangan akan tertinggal di belakang.  Mereka yang kalah oleh 
intimidasi sudah kalah sebelum bertarung.
 
Menyusul kepergian Syafiq Mughni – seorang petinggi Muhammadiyah dari Jawa 
Timur – ke markas zionis Israel beberapa waktu yang lalu masih menyisakan sesal 
bagi banyak pihak.  Syafiq Mughni sendiri sempat melayangkan ‘pembelaannya’ 
mengenai insiden ini.  Meski demikian, pertanyaan besarnya tetap belum terjawab 
: Mengapa Syafiq Mughni bersikap begitu ‘mesra’ dengan kaum Zionis?
 
Syafiq Mughni tidak pulang tanpa oleh-oleh.  Sekembalinya
dari markas Zionis, selain menulis artikel pembelaan diri tadi, ia juga
menggambarkan hasil pemikirannya selama perjalanan itu dan dimuat di surat 
kabar Jawa Pos.  Salah satu inti dari pemikirannya adalah bahwa Israel terlalu 
kuat (lihat paragraf ke-13) untuk dihadapi secara militer.  Dengan
demikian, Syafiq Mughni menyarankan Palestina untuk menggunakan pola
perjuangan yang lebih lunak dan kooperatif terhadap kaum penjajahnya.  Tidak 
makan waktu lama, artikel ini langsung disambut dengan artikel sanggahan yang 
sangat keras karya Khalid Amayreh, seorang jurnalis asli Palestina.  Isi
artikel tersebut benar-benar menggambarkan pedihnya hati seorang Muslim
Palestina menyaksikan ‘cendekiawan Muslim’ dari negeri yang konon
memiliki jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia, namun asyik
‘bermesraan’ dengan Shimon Peres.
 
Barangkali memang beginilah wajah dunia intimidasi itu.  Kucing adalah kucing 
karena tikus adalah tikus.  Ketika tikus berubah menjadi ‘supertikus’, barulah 
kucing mati langkah.  Hal ini harus menjadi bahan pemikiran kita bersama.  
Barangkali kaum Zionis menjadi kuat karena kita terlalu pengecut.  Barangkali 
mereka bebas menjajah saudara-saudara kita karena kita sendiri yang merasa tak 
mampu melawannya.  Jika tikus pun bisa menjadi ‘supertikus’, lantas mengapa 
masih ada saja ‘cendekiawan Muslim’ yang bermental tikus?
 wassalaamu’alaikum wr. wb


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke