perhatikan "nada" si wartawan dalam reportasenya: memihak polisi ato netral. caranya, perhatikan fokus dari reportasenya, termasuk pemakaian istilah "pemuda tani" yang sangat asosiatif itu. si wartawan juga CUMA "mewawancarai" si bos polisi. kok dia gak mewawancarai para demonstran?! perhatikan juga cara si bos polisi membela korpsnya dan menegatifkan "demo" yang terjadi. bukankah menurut orang pinter yang polisi ini CUMA mahasiswa yang boleh demo anti kenaikan harga BBM! yang lainnya pasti "penghasut" alias punya kepentingan tertentu. khas cara berpikir fascis Orde Baru Suharto!!!
============= Unjuk Rasa Polisi Tangkap 16 Orang Rabu, 25 Juni 2008 | 03:00 WIB Jakarta, Kompas - Polisi menangkap 16 orang yang diduga menghasut dan merusak dalam demonstrasi di depan Gedung DPR dan di depan Kampus Universitas Atma Jaya. Dari ke-16 orang yang ditangkap tersebut, status sebagian besar dari mereka bukan mahasiswa. "Demonstrasi tersebut bukan lagi protes yang murni. Ada yang berkepentingan," ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira, Selasa (24/6) malam. Dari peristiwa di depan Gedung DPR, polisi menangkap lima orang yang diduga melakukan perusakan. Mereka sebagian besar adalah remaja belasan tahun, yaitu Reza (17), Fajar (17), Eka Susanto (20), Yulio Niko (13), dan Sukarman (30). Dari demonstrasi di depan Gedung DPR, polisi juga menyita puluhan spanduk dan batu. Spanduk-spanduk tersebut di antaranya bertuliskan nama organisasi Pemuda Tani Indonesia. Sementara itu, dari demonstrasi di depan Universitas Atma Jaya, polisi menangkap 11 warga yang belum diketahui asal organisasinya. Mereka adalah Romson Poskora Purba (33), Andre Ricard Fernandes (16), Budiarto (29), Feri Supriyadi (32), Sapti Hidayat (43), Suhaedir (20), Agus Wandi (18), Komaruddin (21), Safruddin (22), Yulia Zuardiman (28), dan Sahala Napitupulu (25). Saat mereka tiba di Polda Metro Jaya, ketika ditanya oleh wartawan, beberapa dari mereka mengaku sebagai wartawan dari media yang tak dikenali namanya. Dalam peristiwa unjuk rasa di kedua tempat itu jatuh korban luka- luka, yaitu 16 anggota polisi, 5 warga yang di antaranya wartawan, dan seorang mahasiswa yang tertabrak mobil patroli di depan Gedung DPR. Ditanya apakah benar polisi seperti sengaja menabrak mahasiswa tersebut dengan mobil patroli, Abubakar membantah hal itu. "Kalau polisinya sengaja menabrak, itu polisi gila. Kondisi saat itu, massa sudah merusak dua mobil patroli. Ada gejala mobil itu mau dirusak lagi sehingga polisi di dalamnya berusaha menyelamatkan diri, tetapi malahan menabrak orang," tuturnya. Demonstrasi di depan Gedung DPR juga telah mengakibatkan kerusakan pagar Gedung DPR, 1 unit karavan polisi lalu lintas, mobil hardtop polantas, 3 truk Brimob, 2 mobil patroli, dan 1 mobil berisi logistik makanan untuk polisi. Avanza dibakar Unjuk rasa di ruas Jalan Sudirman, di depan Kampus Universitas Atma Jaya Jakarta, diwarnai dengan pembakaran dan perusakan mobil milik pemerintah. Menurut Abubakar Nataprawira, mobil yang dibakar adalah milik Kementerian Negara Riset dan Teknologi bernomor polisi B 1019 PQ. Mobil jenis multiguna Toyota Avanza ini dibalik dan kemudian dibakar oleh massa pengunjuk rasa. Kedua penumpangnya berhasil menyelamatkan diri. Selain itu, sebuah mobil lain milik pemerintah dirusak. Awalnya mobil tersebut hendak digulingkan dan dibakar massa. Namun, ketika diketahui mobil itu adalah milik perwakilan Provinsi DI Yogyakarta, massa mengurungkan niatnya. Namun, kaca mobil itu telanjur dihancurkan oleh massa pengunjuk rasa. Aksi massa itu menyebabkan arus jalan dari arah Thamrin dan dari arah Blok M macet total. Hanya ruas jalur lambat yang dapat dilalui karena jalur utama diblokir pengunjuk rasa dengan menggunakan mobil yang dibalik dan pagar seng, apalagi kala itu bersamaan dengan jam pulang kantor. Unjuk rasa yang mengatasnamakan gerakan mahasiswa itu awalnya menuntut pemerintah untuk membatalkan kenaikan harga bahan bakar minyak. Namun, entah siapa yang memulai, massa menjadi beringas dan ketika sebuah kendaraan milik pemerintah lewat, kendaraan itu menjadi sasaran amuk massa. Mereka juga membakar kayu dan membongkar pagar seng yang menjadi penyekat proyek perbaikan jalan. Kendaraan yang telah dirusak kemudian dibalik dan melintang di tengah jalan. Setelah dibalik, seorang pemuda mengambil besi penyangga rambu lalu lintas dan menghantamkannya ke tangki bahan bakar mobil itu. Kemudian seorang pengunjuk rasa lain mengambil karton dan menyulutnya dengan api, dan karton itu kemudian dilemparkannya ke arah tangki bahan bakar yang telah bocor. Api perlahan-lahan membesar dan kemudian melalap habis kendaraan. Beberapa kali terdengar ledakan. Tolak kenaikan harga BBM Pada saat bersamaan, beberapa pengunjuk rasa dan koordinator lapangan terus menyerukan penolakan atas kenaikan harga BBM dan mengecam pemerintah. Sebagian pengunjuk rasa dan koordinator mereka beristirahat sambil menyaksikan mobil yang terbakar itu. Lengah dengan kondisi sekitarnya, tiba-tiba seorang koordinator pengunjuk rasa ditangkap oleh polisi yang berpakaian sipil. Pengunjuk rasa lainnya langsung berlarian, sebagian di antaranya melompat masuk ke halaman Kampus Universitas Atma Jaya Jakarta. Segera sesudah itu, dari arah Jembatan Semanggi, tiga panser penyemprot milik polisi melaju menuju kerumunan massa. Sebanyak dua panser penyemprot itu kemudian memadamkan api yang masih membakar bangkai kendaraan. Bersama kehadiran tiga panser penyemprot, polisi juga mengerahkan dua kompi Sabhara dan satu kompi Pelopor. Mereka kemudian mengamankan ruas jalan dan membersihkan jalan dari puing kendaraan yang hangus terbakar. Setelah itu, arus lalu lintas kembali lancar. Demonstrasi yang terjadi saat jam pulang kantor itu menyebabkan arus lalu lintas di Jalan Sudirman macet parah. Banyak pekerja kantor yang menggunakan kendaraan umum telantar dan berjalan kaki di trotoar. Koordinator Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid mengimbau polisi dan pengunjuk rasa agar tidak menggunakan kekerasan. Usman meminta agar penyampaian aspirasi dilakukan tanpa menimbulkan sikap antipati publik. (Sf/JOS/WIN)

