hmhmhmhmh kalau basi nya baru dikit masih bisa di makan Bang.
Mane kuenya Bang.. sini biar ane yang panasin deh.

On 6/26/08, si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> bASIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII bang 
> baruaja
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Ahmad Badrudduja <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]; Islam Liberal <[EMAIL PROTECTED]>; Wanita Muslimah 
> <[EMAIL PROTECTED]>; Zamanku <[EMAIL PROTECTED]>; PPI India 
> <[email protected]>; Islamic I <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Wednesday, June 25, 2008 8:08:33 PM
> Subject: [ppiindia] Kesaksian Korban Tragedi Peringatan Hari Pancasila
>
>
> Kesaksian Korban
>
> Tragedi Peringatan Hari Pancasila
>
>
>
> Oleh Imdadun Rahmat,
>
> (Aktivis NU, wakil sekretaris ICRP dan Direktur Yayasan PARAS)
>
>
>
> Saya datang di sudut tenggara Monas pada jam 12.30. Rombongan yang
> hadir bersama saya adalah para Relawan PARAS sebanyak 14 orang (2
> perempuan 12 laki-laki) plus 2 orang anak saya (Rausyan, 11 th. dan
> Satya 8 th.) dan Khamami Zada (LAKPESDAM NU) yang membawa anaknya, Aria
> 4 th. Kami datang dengan suasana hati gembira dan penuh semangat karena
> kami akan bersama-sama tokoh-tokoh nasional merayakan hari lahir
> Pancasila dan menyerukan penghargaan pada kebhinekaan. Saya datang
> sebagai anggota panitia sekaligus sebagai koordinator relawan PARAS
> yang mendapatkan tugas dari Aliansi untuk mengisi persembahan musik
> perdamaian yang akan ditampilkan di sela-sela pidato para tokoh dan
> sebelum acara dimulai (menunggu peserta hadir semua). Kami datang
> dengan 3 mobil. Semula, mobil-mobil kami parkir di sudut tenggara Monas
> sambil menunggu peserta lain yang belum datang. Ketika kami menunggu,
> kami bertemu dengan para peserta lain di antaranya sekitar 20 orang dari
>
> LAKPESDAM NU Society.
>
>
>
> Setelah sebagian peserta telah masuk area Monas, maka kami putuskan
> untuk menuju ke sana. Karena ingin cepat-cepat sampai untuk segera
> tampil, maka tiga mobil kami bawa masuk ke Monas, dan kami parkir tak
> jauh dari mobil Sound System. Maka saya bersama tim musik segera
> menurunkan peralatan-peralatan musik dan satu set mini amply dan
> kemudian mensetnya serta menghubungkannya dengan soun sistem utama yang
> dimuat di atas truk.
>
>
>
> Ketika kami sedang mencek suara gitar, bas, dan mikrofon, korlap saat
> itu Saudara Saidiman mempersilahkan para peserta untuk merapat ke sound
> komando dan meminta mereka untuk duduk. Para peserta yang sebagian
> besar kaum perempuan itupun duduk. Ada sebagian yang masih berjalan
> merapat, dan tiba-tiba ada suara gaduh, "FPI datang". Saidiman meminta
> kepada para hadirin untuk tenang dan jangan terprofokasi. Pada saat
> itu, rombongan sekitar 200 an orang FPI semakin mendekat. Suasana makin
> tidak tenang, karena FPI meneriakkan suara-suara bernada ancaman.
>
>
>
> Tak lama kemudian pasukan FPI dengan pentungan bambu mengepung dan
> melontarkan sumpah serapah "Ahmadiyah kafir", "hancurkan", "habisin"
> dan sebagainya. Sementara anggota FPI lain memukuli peserta serta kaum
> ibu, salah seorang dari mereka mulai membanting bongo dan alat percusi
> milik kami. Saya menghanginya dengan mengatakan "jangan begitu, jangan
> pakai kekerasan". Dengan kasar dia menghardik "kamu Ahmadiyah" saya
> bilang "saya orang NU". Ia bilang "NU apa, kamu kafir".
>
>
>
> Orang itu lalu memukul kepala saya dengan tongkatnya, saya berhasil
> menangkisnya, dan terus memukul saya, saya bisa mempertahankan diri.
> Saya sempat melihat teman saya dari PARAS (Mansur) mencoba melawan FPI
> yang memukulinya, saya tahan dia untuk tidak melawan. Saat itu, saya
> pikir kami tidak mungkin melawan, karena kedua anak saya ada di dekat
> saya, dan saya hawatir jika melawan korban akan semakin banyak, karena
> sebagian besar dari kami adalah ibu-ibu. Buru-buru saya teriak ke
> keponakan saya (Ninik, relawan PARAS) untuk membawa pergi anak-anak
> saya. Selanjutnya saya dikeroyok ramai-ramai, tidak hanya dengan bambu
> tetapi juga dengan besi (alat musik milik kami, High Head) saya hanya
> bisa menangkis yang dari depan, sementara yang dari belakang dan dari
> samping tak bisa dibendung. Saya terus dikeroyok. Saat itu saya
> merasakan sakit yang luar biasa di beberapa bagian dari kepala saya.
> Saya merasa menghadapi kematian. Saya bergumam Allahu Akbar
>
> berkali-kali. Para penyerang saya juga berteriak "kafir", "bunuh", "Allahu 
> Akbar".
>
>
>
> Pada saat genting demikian, naluri saya mengatakan harus lari. Saya
> kemudian lari, dan terus dipukuli oleh anggota FPI yang lain. Saya
> tersandung dan jatuh, pada saat itu saya merasakan pelipis kiri saya
> ditendang dan kepala bagian belakang saya dipukul dengan pentungan.
> Saya bangkit dan terus berlari, saya dikejar, saya berhasil menjauh
> dari kerumunan FPI.
>
>
>
> Saya merasa kepala saya sakit semua. Semula saya belum sadar kalo saya
> luka-luka. Mula-mula leher saya terasa dingin, ternyata darah saya
> mengalir deras dari bagian belakang kepala saya. Kaos saya basah oleh
> darah. Lalu saya merasa pelipis saya perih, yang teranyata mengeluarkan
> darah.
>
>
>
> Namun kemudian saya merasa lega ternyata saya ketemu dengan ponakan dan
> 2 anak saya yang menangis ketakutan di pinggir sebelah timur Monas.
> Saya juga ketemu Hamami dan Sahal (LAKPESDAM NU) beserta
> teman-temannya. Saya peluk anak-anak saya dan darah saya dibersihkan
> oleh keponakan saya. Kaos PARAS yang saya pakai penuh darah dan saya
> lepas agar tidak ditandai dan diserang lagi oleh FPI. Kemudian saya
> beristirahat di pinggir Monas, karena kepala saya mulai pusing-pusing.
>
>
>
> Saya tidak mungkin terus ke rumah sakit karena saya masih meninggalkan
> tanggung jawab di sana. Saya belum tahu bagaimana nasip teman-teman
> saya, khususnya teman-teman relawan pemusik, yang menjadi sasaran
> penyerangan pertama dari FPI. Tiga mobil kami yang masih terparkir di
> tempat penyerangan juga masih di sana. Sebab, setelah menurunkan
> relawan musik berikut alat-alat musiknya, kami belum sempat
> memindahkannya di tempat parkir stasiun Gambir, seperti yang kami
> rencanakan. Alat-alat musik kami juga masih ada di sana, dan kami belum
> tahu nasip alat-alat kami seperti apa. Saya dihantui ketakutan jika
> mobil-mobil kami turut dirusak atau dibakar.
>
>
>
> Dalam kekalutan itu, saya telephon Masdar Mas'udi, mengabarkan apa yang
> menimpa kami. Dia tak percaya, heran dan marah. Dia meminta saya tabah
> dan segera ke rumah sakit. Saya merasa didoakan oleh kiai NU. Saya
> merasa lebih tenang. Saya segera teringat beliau karena sehari
> sebelumnya, saya diundang oleh beliau di PBNU untuk mempresentasikan
> buku saya tentang Islam Radikal pada acara konsolidasi imam dan khotib
> NU dalam mengantisipasi "direbutnya" mesjid dan musholla NU oleh
> kalangan Islam radikal.
>
>
>
> Saya terus kontak teman-teman saya untuk mencari tahu apa yang menimpa
> mereka. Ternyata banyak korban luka-luka. Saya ketemu Mas Suaedy yang
> dagunya bengkak dan berdarah, saya ketemu Pak Syafii Anwar yang
> kepalanya memar-memar, dan saya sangat marah dan sedih ketika mendengar
> Guntur terluka parah, juga Kiai Maman Ainul Haq.. Kalau seandainya Gus
> Dur, Gus Mus, Amin Rais, Buya Syafi'i Ma'arif telah hadir di sana
> mungkin beliau-beliau akan menjadi korban pula.
>
>
>
> Ketika pusing kepala saya makin parah, saya putuskan untuk segera ke
> rumah sakit. Saya khawatir saya kehilangan banyak darah. Saya
> kesampingkan semua urusan mobil dan peralatan musik. Yang penting saya
> selamat. Anak saya yang kecil saya titipkan ke teman-teman PARAS, saya
> bersama anak pertama saya menuju Gedung Kebudayaan seperti disarankan
> teman-teman, untuk mendapatkan penanganan medis. Dari situ kami diantar
> Ibu Amanda menuju rumah sakit Bakti Waluyo, Menteng. Luka di kepala
> saya dijahit, luka-luka di dahi saya diobati dan diperban, memar-memar
> di kepala saya diolesi krim anti bengkak. Dan saya disuntik dan minum
> obat.
>
>
>
> Alhamdulillah, teman-teman PARAS tidak ada yang terluka serius. Mansur
> luka memar di beberapa bagian kepalanya, dan rusuknya sakit, karena
> dikeroyok. Edy kepalanya memar kena pentungan. Ais kepalanya
> memar-memar dan punggungnya bengkak. Amo tangannya berdarah kena kawat
> berduri waktu lari dikejar FPI. Dila kakinya bengkak karena keseleo
> ketika menyelamatkan diri. Mobil saya, mobil PARAS dan mobil relawan
> PARAS (dr. Elvy), tidak mengalami kerusakan apa-apa. Tiga gitar dan
> satu bass bisa diselamatkan (dibawa lari oleh personil musik). Yang
> membuat saya gusar, tiga amplyfier rusak (mudah-mudahan bisa diservis),
> dan satu hilang. Alat-alat percusi saya rusak parah (gak bisa dipake
> lagi), hard cover gitar rusak parah dan sound effek hilang. Kabel-kabel
> juga raib entah kemana. Mungkin FPI juga doyan kabel.. Total kerugian
> peralatan musik sekitar 9 juta. Yang meresahkan saya hingga hari ini
> adalah kondisi psikologis anak saya. Semoga ia tidak mengalami phobia
>
> atau bahkan trauma, naudzubillah min dzalik. Mereka berdua akan
> menjalani terapi psikologis setelah selesai ujian semesteran. Ahh..,
> memang kebangetan FPI.
>
>
>
> Bagi saya kejadian ini merupakan bukti bahwa di negeri kita tidak ada
> jaminan bagi kebebasan berfikir, berpendapat dan berkeyakinan.
> Bayangkan, di siang bolong, di pusat Ibu Kota negara, di hari yang
> sakral (hari lahirnya Pancasila—ideologi negara) ada sekelompok orang
> dengan leluasa dan sewenang-wenang menyerang dan menganiaya orang-orang
> yang berkumpul untuk merayakan hari lahir Pancasila. Orang-orang yang
> diserang itu adalah kumpulan dari para aktivis dan tokoh penyeru
> kebangsaan, pro-demokrasi, pro-pluralisme dan datang dari berbagai
> agama dan kepercayaan. Negara ada di posisi mana sih? Bingung gue...
>
>
>
> Selain itu, peristiwa ini membuktikan bahwa keberagamaan kita ada dalam
> masalah besar. Bagaimana ada sekelompok orang dengan nama Islam,
> berbaju taqwa, meneriakkan kalam suci Allahu Akbar dengan beringas
> menganiaya orang-orang yang tidak melawan, tidak berdaya dan tidak
> bersalah, hanya karena dianggap berbeda dengan mereka. Dan yang
> memprihatinkan, ada banyak orang yang mendukung dan membenarkan
> penyerangan itu. Kata teman saya "jangankan penyerangan, penganiayaan,
> pengeboman yang membunuh ratusan orang tak berdosa juga mereka benarkan
> kok".. Memang benar sih, sebagian besar kalangan yang mendukung
> penyerangan adalah pula orang-orang yang mendukung terorisme selama
> ini.. Yah mau bagaimana lagi, yang radikal-radikal dipiara...
>
>
>
> Pengalaman ini adalah pengalaman batin, bahwa Islam yang benar adalah
> Islam yang rahmatan lil 'alamin. Saya hanya beriman kepada Islam yang
> hanif, yang tawassuth, yang damai, yang tidak membenci. Semakin jelas
> bukti di mata saya bahwa yang dicontohkan para guru saya di pesantren
> adalah Islam yang benar. Amar ma'ruf nahi munkar yang dilakukan para
> kiai saya adalah perjuangan membimbing ummat, mengajari mereka siang
> malam untuk menjadi muslim yang soleh, bertaqwa dan kuat iman. Mereka
> bekerja secara tulus, ikhlas, tanpa mengharap bayaran. "Benteng
> keimanan adalah nomor satu" kata mereka. Itu pula yang dicontohkan ibu
> dan keluargaku. Semangat membela Islam tidak didasari oleh kebencian
> kepada orang lain. Apalagi membela Islam dengan menjadi preman...
> Naudzubillah min dzalik...
>
>
>
>
>
>

------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke