ngomong2 soal perkataan yg BAIK, standarnya apa mas?
saya punya contoh nih perkataan orang-orang yg menggunakan nama islami, kaya'na 
orang islam dah, kliatannya dari namanya siy, tp apakah perkataannya BAIK?


Prof. Dr. Nurcholish Madjid:
Umat Islam pun diperintahkan untuk 
senantiasa menegaskan bahwa kita semua, para penganut kitab suci yang 
berbeda-beda itu, sama-sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa, dan sama-sama pasrah 
(muslimun) kepada-Nya.

Komentar: 
Ini satu bentuk 
penyembunyian kebenaran. Sebab Allah menegaskan dalam Al-Qur’an: “Perangilah 
orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari 
kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan 
Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu 
orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar 
jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS At-Taubah: 
29).

Dr. Alwi Shihab, Ketua Umum Partai Kebangkitan 
Bangsa:
Prinsip lain yang digariskan oleh Al Quran, adalah pengakuan 
eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas beragama dan, 
dengan begitu, layak memperoleh pahala dari Tuhan. 

Komentar:
Ungkapan itu bertentangan dengan ayat-ayat 
Allah: “ Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali 
tidaklah 
akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang 
yang rugi. (QS Ali Imran: 85). 

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang 
yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam’, padahal Al 
Masih (sendiri) berkata: ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan 
Tuhanmu’. 
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti 
Allah 
mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi 
orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 
72).)

Muhammad Ali, Pengajar di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam 
Negeri Jakarta:
Ayat-ayat surat Ali Imran: 19 dan 85 harus ditafsirkan 
dalam kerangka pluralisme, yakni "Islam" di dalam ayat itu, harus diartikan 
sebagai "agama penyerahan diri" .

Komentar:
Ungkapan 
itu bertentangan dengan sabda Nabi saw: 
Hadits dari Abi Hurairah dari 
Rasulullah saw bahwa beliau bersabda, Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di 
Tangan-Nya, tidaklah mendengar padaku seseorang dari umat ini, baik dia itu 
Yahudi ataupun Nasrani, kemudian dia mati dan tidak beriman dengan (Islam) yang 
aku diutus dengannya kecuali dia termasuk penghuni-penghuni neraka.” (HR 
Muslim). 

Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj, Ketua Syuriah Nahdlatul 
Ulama:
Agama yang membawa misi Tauhid adalah Yahudi, Nasrani (Kristen) dan 
Islam. 

Komentar:
Perkataan itu bertentangan dengan 
ayat:
“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putera Allah’ dan orang Nasrani 
berkata: ‘Al Masih itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan 
mulut 
mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati 
Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS At-Taubah: 
30).

Ulil Abshar Abdalla, Kordinator JIL (Jaringan Islam 
Liberal):
Semua agama sama. 
Semuanya menuju jalan kebenaran. 
Jadi, 
Islam bukan yang paling benar. 

Komentar:
Ungkapan itu 
bertentangan dengan ayat:
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka 
sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat 
termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran; 85).
“Kebenaran itu adalah 
dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang 
ragu.” 
(QS Al-Baqarah: 147).
“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan 
kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS Yunus: 
32).)

Sukidi, Direktur Eksekutif Pusat Studi Agama dan Peradaban 
Pimpinan Pusat Muhammadiyah:
Bangunan epistemologis teologi inklusif Cak 
Nur (Nurkholis Madjid) diawali dengan tafsiran al-Islam sebagai sikap pasrah ke 
hadirat Tuhan. Kepasrahan ini, menjadi ciri pokok semua agama yang benar. 
Inilah 
world view Al Quran, bahwa semua agama yang benar adalah 
al-Islam…

Komentar:
Ya, tetapi Al-Qur’an tidak seperti 
yang dimaui Nurcholish. Al-Qur’an menegaskan, ahli kitab [Yahudi dan Nasrani] 
-yang tidak mau masuk Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw- itu 
kafir:
“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang 
musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu 
adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS Al-Bayyinah: 6).

Dr. Djalaluddin 
Rakhmat, orang Bandung yang menyebut dirinya Susi, Sunni-Syi’ah (satu sebutan 
yang sangat aneh):
Dalam Al-Qur’an, kata kafir tidak pernah didefinisikan 
sebagai kalangan nonmuslim. Definisi kafir sebagai orang nonmuslim hanya 
terjadi 
di Indonesia saja.

Komentar:
Perkataan tokoh Syi’ah 
yang tidak berterus terang dirinya Syi’ah ini bertentangan dengan 
ayat:

“Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan 
kepada seorang laki-laki di antara mereka: ‘Berilah peringatan kepada manusia 
dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang 
tinggi di sisi Tuhan mereka’. Orang-orang kafir berkata: ‘Sesungguhnya orang 
ini 
(Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata’…” (QS Yunus: 2) 

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Pengajar di Fakultas Usuluddin 
Universitas Islam Negeri Jakarta (14 Jun 2000):
Di masa Nabi Muhammad saw, 
orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak dikatakan sebagai kafir, tetapi disebut 
ahlul kitab. 

Komentar:
Perkataan ini bertentangan 
dengan ayat: 
“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putera Allah’ dan orang 
Nasrani berkata: ‘Al Masih itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka 
dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. 
Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS At-taubah: 
30).

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka 
sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera 
Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada 
Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka 
persekutukan.” (QS At-taubah: 31).

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya 
(agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki 
selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak 
menyukai.” (QS At-Taubah: 32).

“Orang-orang kafir” dalam ayat itu 
penekanan pembicaraan ayat sebelumnya jelas Yahudi dan Nasran, jadi siapa lagi 
kalau bukan mereka. Juga tegas-tegas Allah menyebutkan: 
“Sesungguhnya 
orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke 
neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk 
makhluk.” (QS Al-Bayyinah: 6).

Prof. Dawam Rahardjo, Wakil Ketua 
Pimpinan Pusat Muhammadiyah:
Ahmadiyah (golongan yang mengakui Mirza 
Ghulam Ahmad sebagai Nabi selepas Rasulullah) sama dengan kita.... Jadi kita 
tidak bisa menyalahkan atau membantah akidah mereka, apapun akidah mereka itu. 

Komentar:
Ungkapan Dawam itu menyalahi 
Al-Qur’an:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di 
antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah 
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Ahzaab: 40).

Dan 
bertentangan dengan hadits:
1092. Hadis Abu Hurairah r.a: Nabi s.a.w 
bersabda: “Segala urusan Bani Israel diatur oleh para Nabi. Apabila seseorang 
Nabi itu meninggal dunia, dia digantikan oleh seorang Nabi yang lain. Tetapi 
sesungguhnya tidak akan ada Nabi sesudahku. Pada suatu ketika nanti akan muncul 
Khalifah. Para Sahabat bertanya: ‘Apakah yang anda perintahkan kepada kami?’ 
Nabi s.a.w menjawab: ‘Patuhilah pelantikan khalifah yang pertama, kemudian yang 
seterusnya. Penuhilah hak-hak mereka, sesungguhnya Allah akan menanyakan 
tentang 
apa yang telah dipertanggungjawabkan kepada mereka’...” (HR Muttafaq 
‘alaih).

Ahmad Baso, aktivis Jaringan Islam Liberal, tokoh muda 
NU:
Mushaf Utsmani adalah konstruk Quraisy terhadap al-Qur'an dengan 
mengabaikan sumber-sumber Mushaf lainnya.

Komentar:
Ini 
salah satu hujatan terhadap para sahabat Nabi Muhammad saw tanpa bukti ilmiah 
dan akhlaq baik, sekaligus untuk menanamkan racun keraguan terhadap kemurnian 
Al-Qur’an. Allah-lah yang akan menghakiminya bila penguasa di dunia tidak mau. 

Taufik Adnan Amal, Pengajar Ulumul Qur’an di IAIN (Institut Agama 
Islam Negeri) Alaudin Makasar:
… proses tersebut (pembukuan Mushaf 
Utsmani) masih meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi 
teks 
maupun pemilihan bacaannya, yang kita warisi dalam mushaf tercetak dewasa ini 

Komentar:
Yang memiliki sejumlah masalah mendasar 
bukan pembukuan Mushaf Utsmani, tetapi otak pelontar ini sendiri yang telah 
dicocok hidungnya oleh para orientalis Yahudi dan Kristen yang anti Islam. 
Padahal mereka sudah mencari-cari masalah yang ingin mereka sebarkan untuk 
meragukan kemurnian Al-Qur’an sejak berlama-lama tidak berhasil, maka kini 
punya 
murid dari kalangan yang mengaku dirinya Muslim, maka gembiralah mereka. Hanya 
saja, kenapa untuk menggembirakan orang yang anti Islam, mesti mengorbankan 
keilmuan dan keyakinan. Itulah masalahnya yang mendasar, dan lebih drastis 
ketimbang sekadar apa yang ia sebut sejumlah masalah mendasar.

Ulil 
Abshar Abdalla, Koordinator Jaringan Islam Liberal:
Menurut saya, tidak 
ada yang disebut "hukum Tuhan" dalam pengertian seperti difahami kebanyakan 
orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian, jual beli, pernikahan, 
pemerintahan, dsb.

Komentar:
Ungkapan ini mengingkari 
ayat Al-Qur’an, hadits Nabi saw, dan pernikahan yang dia lakukan sendiri pula, 
yang tentu saja memakai hukum Islam, yaitu hukum Allah swt yang dibawa Nabi 
Muhammad saw. Kalau dia nanti mati, mau dikubur dengan cara apa, kalau tidak 
mengakui adanya hukum Tuhan?

Hukum Tuhan dia anggap tidak ada, tetapi 
perkataan orang-orang kafir pun dia kais-kais sebagai landasan dalam berbicara 
dan menulis. Padahal, menirukan perkataan orang kafir itulah kecaman berat yang 
difirmankan Allah swt dalam surat Al-Bara’ah atau At-Taubah. Nama surat 
al-Bara’ah itu sendiri sudah mengandung makna “lepas diri” tidak mau cawe-cawe 
terhadap kafirin, yaitu Ahli Kitab dan musyrikin plus munafiqin. Tetapi mengapa 
justru orang-orang yang wajib dibaro’ahi itu oleh Ulil Abshar Abdalla dan 
sindikatnya dijadikan boss, pemberi dana, pengarah, pembimbing, dan pemberi 
petunjuk; hingga perkataan nenek moyangnya yang menentang Allah swt pun 
dikais-kais untuk dimunculkan sebagai racun terhadap umat Islam? Betapa 
keblingernya ini. 

Kalau orang atheis tidak mengakui adanya Tuhan, maka 
orang yang menirukannya cukup mengatakan, tidak ada hukum Tuhan. 

Kalau 
orang bertauhid meyakini bahwa Tuhan itu hanya satu, maka orang musyrik 
menambahnya menjadi dua, tiga, dan banyak. Sebaliknya orang atheis meniadakan 
Tuhan sama sekali. 

Akibatnya, orang bertauhid mengikuti hukum Allah swt 
apa adanya. Orang musyrik menambah-nambah dan membuat-buat hukum semau mereka, 
sedang orang yang tidak percaya Allah maka mereka menganggap hukum Allah tidak 
ada, lalu mereka membuat sendiri atau menirukan kafirin terdahulu dan menolak 
hukum apa saja yang dari Allah swt.
Jadi, kesimpulannya hanyalah menolak 
hukum Allah, sambil mengais-ngais apa saja yang dari kafirin. Tentu saja 
setelah 
duitnya.
Sialnya, kemungkinan nanti dia tidak ke sana tidak ke sini –laa ilaa 
haaulaa’ walaa ilaa haa ulaa’ . Pihak kafirin tidak percaya kepadanya, sedang 
pihak mukminin pun marah kepadanya. Tragis benar!

Ulil Abshar 
Abdalla:
Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam 
dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi. 

Komentar
Apakah Ulil mendapatkan mandat dari Allah swt 
untuk membatalkan ayat-ayat Allah? Di antaranya QS Al-Mumtahanah/60: 10 dan QS 
Al-Baqarah 221. Padahal jelas sudah tidak ada nabi lagi sesudah Nabi Muhammad 
saw. Jadi Ulil sedang menangkringkan dirinya sebagai “Tuhan”?

Allah 
Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah 
kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) 
mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah 
mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan 
mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi 
orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. 
Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan 
tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. 
Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan 
perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu 
bayar; 
dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum 
Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu.. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha 
Bijaksana.” (QS Al-Mumtahanah/ 60: 10).

“Dan janganlah kamu nikahi 
wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang 
mu'min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan 
janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu'min) 
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu'min lebih baik dari orang 
musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah 
mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan 
ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil 
pelajaran.” (QS Al-Baqarah: 221).

Prof. Dawam Rahardjo, Wakil Ketua 
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Presiden III-T Indonesia:
“… menurut hemat 
saya, Ulil justru mengangkat wahyu Tuhan di atas 
syariat.”

Komentar:
Bukan mengangkat wahyu Tuhan, 
tetapi mengangkat dirinya sendiri disejajarkan dengan Tuhan. Sedang yang 
mendukungnya ini ingin memisahkan syari’at dengan wahyu. Jadi sama-sama 
rusaknya, saling dukung mendukung.

Dr. Zainun Kamal, pengajar Fakultas 
Ushuluddin Universitas Islam Negeri Jakarta:
“Hanya sebahagian ulama yang 
berpendapat muslimah haram menikah dengan non-muslim.” 

Komentar:
Ulama tidak berpendapat pun Al-Qur’an dan 
Hadits sudah ada. Ulama pun faham bahwa tidak ada ijtihad mengenai yang sudah 
ada nashnya (teks ayat atau hadits yang sudah jelas dan tegas maknanya). 
Ayatnya 
sudah jelas:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu 
perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. 
Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui 
bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada 
(suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang 
kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan 
berikanlah 
kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa 
atasmu 
mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu 
tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan 
hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta 
mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di 
antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Mumtahanan/ 
60: 10).

Dr. Muslim Abdurrahman, tokoh Muhammadiyah:
Korban 
Pertama dari Penerapan Syari’at Adalah 
Perempuan.

Komentar:
Ini sama dengan menuduh Allah swt 
yang mensyari’atkan syari’at untuk manusia itu zhalim. Perkataan itu sangat 
terlalu. Kalau Allah dianggap dhalim, apakah justru syetan yang 
adil?

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah 
yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS 
Al-Maaidah: 50).

Orang yang “tidak doyan” syari’at model ini kalau buang 
air apakah tidak cebok? Dan kalau cebok, mungkin merasa dirinya jadi korban 
syari’at. Lantas kalau dirinya mati nanti, menurut Adian Husaini, dipersilakan 
jasad model orang yang menolak ditegakkannnya syari’at itu agar dicantelkan 
saja 
di pohon, tidak usah dikubur. Karena menguburkan jenazah itu termasuk bagian 
dari syari’at.

KH Abdurrahman Wahid:
Bagi saya, peringatan Natal 
(Krismas) adalah peringatan kaum Muslimin juga. Kalau kita konsekuen sebagai 
seorang Muslim merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad saw, maka adalah harus 
konsekuen merayakan malam Natal. 

Komentar:
Pernyataan 
Gus Dur itu waktu dia jadi presiden RI. Meskipun presiden, kalau menyalahi 
Islam 
ya tetap salah. 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil 
orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian 
mereka 
adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil 
mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. 
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (QS 
Al-Maaidah: 51).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan 
bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih 
mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan 
mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS 
At-Taubah: 23).
“Barangsiapa menyerupai dengan suatu kaum maka dia termasuk 
(golongan) mereka.” (HR Abu Daud, kata As-Sakhowi ada yang dha’if tapi punya 
syawahid/ saksi-saksi. Ibnu Taimiyyah berkata, sanadnya jayyid/ baik. Ibnu 
Hajar 
dalam kitab Fathul Bari berkata, sanadnya hasan/ bagus).

Ucapan Abdullah 
bin Amru bahwa ia berkata: “Barangsiapa membangun di bumi musyrikin dan membuat 
nairuz dan mahrojan mereka (upacara hari-hari besar kafirin/ musyrikin) dan 
menyerupai dengan mereka sehingga mati maka dia akan dikumpulkan bersama mereka 
(musyrikin) di hari Kiamat.” (Sunan Al-Baihaqi al-Kubro, lihat Aunul Ma’bud 
syarah Sunan Abi Dawud, dan Faidhul Qadir).

Prof. Dr. M. Amin 
Abdullah, Ketua Majlis Tarjih Muhammadiyah, bekas rektor IAIN 
Jogjakarta:
“Tafsir-tafsir klasik Al-Quran tidak lagi memberi makna dan 
fungsi yang jelas dalam kehidupan umat..”

Komentar:
Ini 
mengingkari ilmu. Sebab tafsir-tafsir klasik itu menyampaikan warisan ilmu dari 
Nabi Muhammad saw yang disampaikan kepada para sahabat, diwarisi tabi’in, lalu 
tabi’it tabi’in, yang kemudian diwairisi para ulama. Dengan cara menafikan 
makna 
dan fungsi tafsir-tafsir klasik Al-Qur’an, maka sebenarnya yang akan dibabat 
justru Al-Qur’annya itu sendiri. Karena kalau umat Islam sudah menafikan 
tafsir-tafsir klasik Al-Qur’an, maka tidak tahu lagi mana makna yang rajih 
(kuat) dan yang marjuh (lemah) dalam mengetahui isi Al-Qur’an. Di samping itu, 
masih mengingkari keadaan manusia. Seakan-akan manusia sekarang ini bukanlah 
manusia model dulu, tetapi makhluq yang baru sama sekali, tidak ada sifat-sifat 
kesamaan dengan manusia dulu. Padahal, dari dulu sampai sekarang, dan insya 
Allah sampai nanti, ciri-ciri dan sifat-sifat manusia itu sama. Yang munafiq ya 
ciri-ciri dan sifat-sifatnya sama dengan munafiq zaman dulu. Yang kafir pun 
demikian. Sedang yang mu’min sama juga ciri dan sifatnya dengan mu’min zaman 
dulu. Maka Allah telah mencukupkan Islam sebagai agama yang Dia ridhai, dan 
Al-Qur’an menjadi pedoman sepanjang masa, karena manusia zaman diturunkannya 
Al-Qur’an itu sifatnya sama dengan zaman sekarang ataupun nanti. Tinggal 
tergolong yang mana? Mu’min, munafiq atau kafir. Hanya itu.

Apalagi hanya 
tafsirnya, sedang Al-Qur’annya itu sendiri tidak menambah apa-apa kecuali 
menambah kerugian bagi orang-orang dhalim, dan menambah larinya orang-orang 
kafir dari kebenaran, memang.

Allah swt berfirman:
“Dan Kami turunkan 
dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang 
beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim 
selain 
kerugian.” (QS Al-Israa’: 82).
“Dan sesungguhnya dalam Al Qur'an ini Kami 
telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan 
ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari 
kebenaran).” (QS Al-Israa’: 41). 




----- Original Message ----
From: imuchtarom <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, June 26, 2008 10:58:42 PMom
Subject: [ppiindia] Re: Massa Habieb Rizieq ... ( True = Good? )




buat mas Irwan,

mungkin yang dimaksud di bawah ini 
adalah hadith Nabi:

>>>>>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>
>>
>> Man kaana yu'minu billahi wa al-yaumi 
>> al-aakhir fal yaqul khairan au li yasmut."
>> ------------ --------- --------- --------- --------- -
>> "Whoever believes in Allah and the Day
>> of the Judgment, he should speak good 
>> or keep quiet."
>>
>>>>>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>>>>>> >>>>

jadi arti "fal yaqul khairan" terjemahannya mestinya
adalah supaya "berkata yang baik", dan bukan diterjemah
kan "berkata yang benar".

Soalnya kalau ukurannya "benar", prinsip-prinsip
yang dibela oleh FPI, "according-to- the-book" ,
mungkin juga bisa dikatakan "benar", atau setidak
tidaknya dasar/hujjah/ argumentasinya.

Yang dipersoalkan masyarakat adalah apakah cara
yang digunakan tersebut "baik" atau "tepat"
atau "bijaksana", jika merujuk pada situasinya.

***

Apalagi di jaman di mana orang menggunakan sumber
rujukan nilai yang berbeda-beda, maka apa yang
disebut "benar" bisa menjadi sesuatu yang nisbi.

Tetapi justeru kalau kita gunakan kata "baik"
saya rasa lebih banyak bisa kita dapatkan titik-
temunya. 

It looks like a paradox:
------------ --------- ----

The word "goods" which usually imply a 
'subjective' perception - in my opinion -
could find "common/universal" ground
more easily than the world "true/truth"
which usually imply something absolute.

wassalam,

----( ihsan hm )----------- --------- --------- ------

--- In IrwanK <[EMAIL PROTECTED] ..> wrote:

> 
> Berkatalah yang benar atau diam... 
> kata Rosulullah S.A.W.
> Memang tidak mudah.. termasuk bagi saya sendiri..
> 
> CMIIW..
> 
> Wassalam,
> 
> Irwan.K
> 

    


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke