http://nanas-readings.blogspot.com/2008/06/rusmi-ingin-pulang.html

RUSMI INGIN PULANG adalah judul kumpulan cerpen tulisan penulis yang tak asing 
lagi di belantara sastrawan di Nusantara, Ahmad Tohari. Ada lima buah cerpen 
yang terpilih untuk dimasukkan ke dalam buku ini; yakni “Rusmi Ingin Pulang”, 
“Nyanyian Malam”, “Si Minem Beranak Bayi”, “Blokeng”, dan “Bulan Kuning Sudah 
Tenggelam” yang panjangnya bisa dikategorikan novela.
Seolah ingin menegaskan kepiawaiannya dalam tema yang membuatnya sebagai 
seorang sastrawan yang cukup disegani dengan triloginya yang berjudul RONGGENG 
DUKUH PARUK, LINTANG KEMUKUS DINI HARI, dan JANTERA BIANGLALA, dalam kelima 
cerpen ini pun Ahmad Tohari bermain-main dengan permasalahan yang biasa menimpa 
kaum perempuan yang hidup di pedesaan. Kelima cerpen yang termaktub dalam 
kumpulan cerpen ini semua bertutur tentang perempuan desa dengan segala 
permasalahannya, sebagai tokoh utama.
Dalam “Rusmi Ingin Pulang”, Tohari terlihat ingin menyentil keberadaan kaum 
agamawan dan tokoh masyarakat yang bukannya ikut tergerak untuk melindungi kaum 
yang termajinalkan (seorang perempuan yang menjadi janda karena ditinggal mati 
suaminya). Mereka hanya berdiam diri saja melihat para penduduk desa memojokkan 
sang janda, Rusmi, yang menjalani kehidupan yang sulit semenjak sang suami yang 
menjadi sandaran hidupnya meninggal dalam sebuah kecelakaan, sehingga dia harus 
pergi meninggalkan desa kelahirannya tersebut.
Dalam “Nyanyian Malam”, Tohari bercerita tentang seorang perempuan dengan tipe 
yang tak jauh beda dari cerpen yang pertama. Dengan cara “menghidupkan kembali 
aib lama dusun dimana dia tinggal”, Jebris, seorang janda beranak satu, 
meneruskan kehidupannya setelah diceraikan oleh suaminya, sebagai seorang 
pelacur. Sebuah surau yang dibangun tak jauh dari rumah Jebris, untuk menghapus 
aib lama, tak mempan memberi penerangan di hati Jebris. Siapakah yang harus 
bertanggung jawab terhadap hidup seorang janda yang tak memiliki pendidikan 
formal apa-apa, juga kemampuan menciptakan lapangan kerja?
Dalam “Si Minem Beranak Bayi”, Tohari memilih tema yang sedikit berbeda: 
keluguan orang-orang desa yang berpikir bahwa tugas orang tua akan berakhir 
setelah menikahkan anaknya, meskipun si anak masih berusia belasan tahun. 
Kebanggaan bahwa “anak-anaknya laris manis” lebih penting baginya daripada 
membekali anak-anaknya dengan pendidikan yang cukup, agar memperoleh 
penghidupan yang lebih layak dari orang tuanya. Bahkan tatkala sang anak, dalam 
usia yang masih sangat muda, empat belas tahun, melahirkan bayi prematur, 
sehingga membuat hidupnya seperti di ujung tanduk, karena tidak mendapatkan 
pertolongan medis yang memadai, tidak cukup membuatnya menjadi risau.
Cerpen keempat yang berjudul “Blokeng” memiliki sentilan sosial yang amat kuat. 
Ketika ada seorang perempuan idiot, tak memiliki sanak keluarga, bertahan hidup 
dengan cara mengais sampah di pasar, tinggal di sebuah gubuk tanpa perabot, 
tanpa lampu, siapakah yang akan mau bertanggung jawab jika tiba-tiba perempuan 
ini hamil? Orang-orang yang merasa dirinya jauh lebih terhormat dibandingkan 
Blokeng, si perempuan idiot ini, ternyata justru jauh lebih tak bermartabat. 
Blokeng dengan serta merta mengatakan bahwa bukan Lurah Hadining lah yang 
menghamilinya, ketika sang tokoh masyarakat ini dengan bijak mengatakan kepada 
warganya bahwa dia akan bertanggung jawab terhadap bayi yang dilahirkan, untuk 
menghentikan kesaling-curigaan, saling tuduh menuduh, dan untuk menghentikan 
keresahan yang menimpa desa tempat tinggal mereka. Bagaimana Blokeng tahu bahwa 
bukan Lurah Hadining yang menghamilinya, sedangkan gubuknya dalam keadaan gelap 
gulita, tatkala seorang
 laki-laki datang malam-malam, menidurinya? Dan bagaimana pula reaksi warga 
mendengarkan kesaksian Blokeng?
“Bulan Kuning Sudah Tenggelam” (BKST) lebih tepat disebut novela dibandingkan 
cerita pendek dari segi panjang cerita, sekaligus tema sentral cerita yang 
bercabang. Dibandingkan “Blokeng” yang pendek namun sangat kuat penokohan sang 
tokoh utama, “BKST” menurutku sangat kedodoran, dan terlalu bertele-tele dalam 
mengemukakan konflik batin sang ‘aku’, seorang perempuan bernama Yuning. Satu 
hal yang kurang tereksplorasi dengan utuh adalah konflik antara Yuning dengan 
suaminya. Di awal cerita Tohari menceritakan Yuning yang keukeuh untuk tetap 
memilih hidup bersama suaminya, dibandingkan dengan kedua orang tuanya yang 
telah renta. Sayangnya setelah sang ayah meninggal dunia, Tohari tidak 
mengeksplorasikan bagaimana perasaan sang suami, Koswara, setelah mertua 
laki-lakinya meninggal karena kepongahan Koswara. Novela ini akan menjadi 
‘lengkap’ jika ada bagian percakapan antara Yuning dengan Koswara, setelah 
ayahnya meninggal dunia, untuk
 mengungkapkan bagaimana perasaan Koswara, sehingga rasa bersalah itu tidak 
hanya menghinggapi seorang Yuning, namun juga dibagikan kepada sang suami yang 
tentu juga ikut andil dalam ‘membunuh’ sang mertua. Sayangnya Tohari terlalu 
asyik ‘bermain-main’ dengan tokoh Yuning. Kehadiran tokoh yang bernama Sabina 
Salahudin di akhir cerita terasa sangat dipaksakan. Cerita sudah akan menjadi 
sangat menarik jika Tohari tetap berkutat di konflik utama, Yuning, sang anak 
angkat dari seorang tokoh masyarakat yang sangat disegani, yang memilih 
menikahi seorang insinyur pertenakan yang miskin.
RUSMI INGIN PULANG diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Matahari, Jogjakarta, 
pada tahun 2004.
PT56 15.23 240608


Minds are like parachutes, they only function when they are open.   (Sir James 
Dewar)
visit my blogs please, at the following sites
http://afemaleguest.blog.co.uk
http://afeministblog.blogspot.com
http://afemaleguest.multiply.com

THANK YOU
Best regards,
Nana



      

Kirim email ke