Apa benar liputan naskah berita(humor atau sarkasme?) dibawah ini tentang
negara kita dan penduduknya?
Teringat aku sewaktu berkunjung ke tanah air beberapa tahun yang lalu. Wah aku
tertegun melihat ,istana2,villa2 penduduk tingkat atas di Jakarta. Malahan
danau pun diwujutkan untuk me-mentereng-kan villa. Belum kepikir kalau soal air
itu ada pasang surutnya. Musim hujan air bah melanda di-mana2. Musim kemarau
mau mandi sekali seminggu saja sudah susah (terutama buat orang kere).
Inilah contohnya kalau cari duit (ber-korupsi ria?) di Indonesia itu memang
jadi target para koruptor. Jadi ngak heran apa bila phrasing ini kedengarannya
jitu.......cari gampang ya buang gampang pula, toh ya bila duit abis ya cari
(ber-korupsi ria) lagi kembali gampang didapati-nya. Kapan negara dan rakyatnya
bisa maju kalau begini.
Harry Adinegara
----- Fw: Bercermin diri..sebuah Renungan!
.......
Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang di Jepang atau di
Australia,baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau
rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah
mengetahui riwayat pekerjaan dan jabatannya di perusahaan.
Sempat berkenalan juga dengan seseorang yang berada di stasiun kereta
di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik
kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis
sepatu yang di pakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek, wah ini
yang ndeso siapa yah?
Satu bulan di Jepang, saya tidak melihat orang menggunakan HP Nokia
Communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Setelah saya baca
koran, ternyata konsumen terbesar HP Nokia Communicator adalah
Indonesia.
Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah
Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Bandara Narita.
Pengusaha tersebut bertolak dari Tokyo menggunakan kendaraan umum,
sementara pejabat Indonesia yang akan dijemput menggunakan mobil
dinas
Kedutaan yaitu Mercedes Benz.
Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan
melihat rumah mewah dan berukuran besar. Rata-rata rumah di Jepang
memiliki tinggi plafon yang bisa digapai dengan tangan hanya dengan
melompat. Sehingga untuk duduk pun banyak yang lesehan.
Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang sedang menumpuk, rakyat
banyakyang mulai ngamuk. Negara sedang kere, rakyat banyak yang antri
beras, minyak tanah, minyak goreng dan lain-lain. Maka harga diri
kita
tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain
asing, banyak perayaan yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas,
merek
mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst…
Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo hutang sudah lunas, kelaparan
tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, angka kriminal
rendah,
korupsi berkurang, pendidikan terjangkau, sarana
kesehatan memadai, punya posisi tawar terhadap kekuatan global,serta
geopolitik dan geostrategi yang disegani. Maka orang Ndeso (alias
norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan
krisis
sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah, karena yang
menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai
adalah negara normal atau bahkan mengikut negara maju.
Bayangkan ada daerah yang menganggarkan dana untuk sepak bola 17
milyar
Rupiah, sementara anggaran kesejahteraan rakyatnya hanya 100 juta
Rupiah, wiiieh!!! Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang
sangat
mengerikan dari atas sampai bawah:
- Orang bisa antri Raskin sambil pegang HP,
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok,
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli TV dan
kulkas,
- Orang bule mabuk karena kelebihan uang, orang kampung mabuk beli
minuman patungan,
- Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya,
- Orang-orang dapat membeli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah,
- Ijazah Doktor luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang
sempit di Cibubur,
- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk Mc
Donald,
- Kelihatannya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia
persepakbolaan,
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP,
- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja,
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa-dansi di
acara
tembang kenangan,
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol
ngebor,
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret,
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan,
- Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere,
maka harus bisa tampil keren.
Tulisan ini sangat menarik. Untuk itu, mari sama-sama kita
renungkan.Semoga, kita segera lepas dari tuduhan
â€Å"desoâ€
dan tidak
terus-menerus berlagak keren, padahal aslinya kere.
--- End forwarded message ---
Get the name you always wanted with the new y7mail email address.
www.yahoo7.com.au/mail
[Non-text portions of this message have been removed]