Begitulah, mas Ihsan. Kalau kita belajar dari sejarah, sambil melihat suasana negara negara sekeliling kita, kita harus upayakan se-obyektif mungkin.
Yang di-idam idamkan oleh kebanyakan Muslim melalui syariat, ialah adanya tatanan yang adil dan merata, tidak saja dalam aspekt materi namun juga rohani (hak hak warga, keadilan, dsb). Tatanan yang islami. Jadi bukan kekayaan suatu bangsa yang terakumulasi melalui penjajahan dan pemerasan bangsa lain. Bangsa bangsa penjajah dapat di kategorikan dalam dua kelompok: 1) Penjajah kuno, yakni yang menjajah demi keagungan negaranya, dengan segala apsek: perekonomian, budaya, agama dan keunggulan ras. Ini adalah Spanyol dan Portugal. Mereka tidak saja menjajah, namun juga menguras kekayaan bumi, dan sekaligus menghancurkan budaya bangsa yang dijajah, dan menggantikannya dengan budaya dan agama mereka, dengan kekerasan. Akibatnya: seluruh Amerika Latin berbahasa Spanyol atau Portugis, dan beragama Katholik, dan berbudaya dasar Barat. Beberapa suku Indian, misalnya bangsa Caribb (yang memnjadi nama Caribia), lenyap dari muka bumi. TETAPI, dimanakah kekayaan yang mereka kumpulkan itu? Musna sudah, kecuali bekas monumen monumen gagah di kota kota besar serta museum yang padat barang barang seni dari tanah jajajahan. Dari segi ekonomi, kedua negara ini yang paling terlantar di Eropa barat, termiskin, dan sebelum ada matauang bersama Euro, mata uang mereka adalah yang terlemah. Jadi: penjajahan TAK automatis menghasilkan kejayaan yang terlihat masa kini, apalagi lalu berhasil menata masyarakat yang madani, teatur dan dewasa. Dimama jaminan sosial terwujud 100%. Di Portugal masih ada pekerja kanak kanak, terutama dalam bidang industri sepatu, tas dan barang barang kulit (sampai bola sepak bola). b) Penjajah modern, yang terutama menjajah untuk membangun imperium ekopnomi, terutama Inggris, Belanda, Perancis dan Belgia. Mereka menghisap perekonomian tanah jajahan, namun tidak memaksakan budaya mereka dan agama. Bukan karena sifat mulia, justru karena keangkuhan, tak mau berbudaya dan agama yang sama. Pemerintah Hindia Belanda lama sekali menolak pendidikan rohaniwan pribumi. Duduk dalam bangku yang sama dengan pribumi di gereja? Tak lahh yauuu.. Juga, mereka ini, BUKAN juara perekonomian dan tata sosial yang modern di Eropa. Belanda dan Belgia, Inggris dan Perancis termasuk amburadul! Pengangguran juga cukup tinggi. Di Belanda penggunakan drugs merajalela, di Perancis, Belgia dan belanda kriminalitas tinggi sekali (mobil teman saya, warga Belanda kelahiran Indonesia kehilangan mobil barunya yang diparkir dihalaman rumahnya di Amstelveen). Nah, kalau kita bicara tatanan sosial, yang oleh teman teman Muslim disebut islami, justru kita temukan di negara negara yang tak pernah mengandalkan jajahan terutama diluar Eropa: Jerman, negara negara Skandinavia, Swiss, Inggris, Liechtenstein... Jerman TAK pernah menjajah bangsa bangsa NON bule, demikian pula Austria. Jajahan Austria dahulu negara bule semua! Italia utara, Hongaria, Cekoslowakia, Yugoslawia, Rumania... Disini BUKAN kekayaan negara yang membuat kita kagum (mereka rata rata MISKIN SDA), namun keandalan SDM, kesamarataan sosial. kemakmuran yang dinikmati bersama. Carilah mal mal mewah ala Plaza Indonesia, Pacific Place, Pondok Indah Mal di Austria, Swiss, Jerman, Swedia, Norwehia, Denmark kalau ketemu! Tak ada! Carilah cara berbusana yang mewah mewahan di negara negara ini: TAK ada. Mobil dinas? Barang langka, apalagi setaraf Alphard, yang memang tak ada disini. Mobil perwira tinggi dengan tanda bintang, satu sampai empat di plaat nomor? Tak akan kita temui. Anggauta Direksi, atasan saya naik subway sama dengan saya! Tetapi, mereka memiliki dana untuk kepentingan sosial, pelarian dan pengungsi dari Timur tengah yang Muslim dengan jilbab di Denmark mereka santuni dan sediakan perumahan sosial. Juga di Austria dan Swiss. Di Indonesia yang Muslim ini? Lihat Sidoardjo. Kawan kawan Muslim yang berkesempatan berada di Eropa, seperti mas Ihsan, pasti dapat menyaksikan kesemuanya ini dengan mata dan kepala sendiri. Tatanan Islami? Tak selalu harus melalui pen-Syariatan sebuah negara...namun dengan perwujudan masyarakat Social Society. Bukan negara yang berkuasa, namun warga, yang aktif dalam mewujudkan kehidupan bernegara. Korupsi? Hal yang memalukan disini! Salam kesejahteraan sosial Danardono --- In [email protected], "imuchtarom" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Perkenankan saya menanggapi diskusi > yang bagus antara pak Danar dan > mas Irwan, dalam subject: > "Diskusi tv-one 03/07/2008" > > *** > > Nampaknya mas Irwan dan pak Danar > sebenarnya tidak *-persis-* mengacu > pada nama-nama negara barat yang sama. > > When each of you is saying about "european > countries", I see that each of you could > actually be referring to different 'set' > of western countries. > > Kritik mas Irwan mengenai negara barat > yang merupakan kekuatan imperialis di > masa lalu memang lebih tepat jika di > arahkan pada 'tipe' negara-2 'old- > europeans' seperti Spanyol, Inggris > dan Perancis. > > { > dan untuk konteks abad-20, peran > sebagai kekuatan 'imperialis' > terbesar dipegang oleh Amerika :-) > } > > *** > > Kalau kita telaah benar-benar, konflik > 'berdarah' yang melibatkan 'Islam' melawan > 'barat/eropa' di masa pasca Perang Dunia > II, apa yang disebut sebagai 'pihak barat' > sebenarnya akhirnya "mengerucut" pada 2 > bangsa Anglosaxon: USA dan UK! > > dengan beberapa perkecualian yang 'langka' > seperti: > > -> perang 'kemerdekaan Aljazair' melawan > Perancis tahun 1950-an > > -> invasi Uni-Soviet di Afghanistan th. 1979 > > -> perang Balkan (Bosnia & Kosovo) th. 1990-an > > Konflik di Palestina juga sebenarnya mengerucut > antara kelompok-2 Muslim yang mendukung Palestina > melawan negara yang paling getol mendukung Israel: > USA. > > Awalnya yang dihujat oleh Osama bin Laden kan > juga USA & UK, dan bukan negara-2 eropa yang > lain. > > *** > > Harus saya akui, pak Danar cukup 'jeli' > untuk memilih beberapa negara kecil Eropa > yang relatif 'bersih' dari 'dosa imperialisme' > di masa lalu. > > Ini sambil mengingatkan bahwa Islam di > dalam sejarah juga pernah terlibat > perbuatan imperialisme. Kalo mo dibuat > perhitungan 'akuntansi' antara dosa & > jasa para penjajah di masa lalu, termasuk > penjajahan oleh Sriwijaya & Majapahit > ya pasti akan puanjang diskusinya, > > masing-masing bisa punya versi laporan > 'akuntansi' yang berbeda :-)) > > *** > > Apa yang beberapa kali di kemukakan pak > Danar selama ini, bahwa justeru dalam > kenyataanya saat ini negara-negara non- > Muslim yang telah berhasil mewujudkan > tatanan masyarakat dengan tertib-hukum/ > order yang justeru 'konon-secara-teoritis' > dicita-citakan oleh Islam. > > (tentu dengan berbagai 'catatan' di sana-sini). > > Apa yang diutarakan pak Danar tsb. sebetulnya > juga diakui oleh banyak Muslim yang merantau > di negara-negara maju seperti di negara-2 EU > ini. There is no 'secret' about this > acknowledgments. > > Dengan beberapa 'koreksi/perbaikan' di sana- > sini, maka tatanan masyarakat di negara-2 > EU ini justeru lebih mendekati apa yang di > cita-cita kan oleh Islam: > > Ini jika Islam dilihat sebagai 'pesan > universal' dan bukan hanya sebagai nama > kelompok sebuah 'organized religion'). > > Saya masih ingat, tahun 1989/1990, ketika > pertama kali kenal dengan internet dan > pertama kali ikut sebuah mailing-list yang > dinamai ISNET (Islamic Network), yang setahu > saya mailing-list Muslim Indonesia yang paling > awal dibentuk. > > Waktu itu, 'lurah/moderator' nya Isnet > mengatakan: contoh negara yang menurut > dia paling 'islami' waktu itu, adalah: > Jerman. > > ---( ihsan hm )------------------------- > > > Irwan: > ------ > Kalau kemajuan mereka hasil dari SDA > dan SDM mereka sendiri tanpa dari hasil > penjajahan atas negara lain, apa yang > berjalan di negara" eropa patut diacungi > jempol.. > > > > RMDH: > ----- > *** Dari penjajahan atas negara lain TAK > mungkin muncul kemajuan. Tidak percaya? > > Spanyol dan Portugal adalah negara penjajah > pertama dan utama didunia, tetapi kini > mereka termasuk negara Eropa yang ter- > belakang. > > Negara negara TER-maju di Eropa rata rata > tak punya jajahan: Swiss, Denmark, Norwegia, > Swedia, Austria... Mereka termasuk yang TER > makmur didunia! > > Jadi jangan kait kaitkan kemajuan negara > dengan penjajahan, tidak match. > > Irwan: > ------ > Akan beda rasanya kalau keberhasilan mereka > dicapai dari tindakan kejam/bengis dan > manipulatif.. sejak dulu sampai sekarang... > > RMDH: > ----- > **** Keberhasilan dalam menyusun masyarakat > yang makmur tertata, atau islami menurut > istilah bung Doni Doang, adalah hasil dari > kemampuan me-manage negara. TAK mungkin > hasil kebengisan. > > Singapura, misalnya, sangat berhasil menata > masyarakat yang teratur, dan idam idamam > mereka yang ingin bersyariat ( masyarakat > islami), tetapi tidak bengis tu? Demikian > pula Korea. Hongkong. Taiwan. > > Negara bengis sih tetap bengis saja, tak > ada sangkut pautnya dengan keberhasilan > mengatur negara, hingga dinamakan islami. > Rusia, misalnya mampu sangat bengis, tapi > makmur? sejak kapan? > > Yang menjadi fakta, adalah, negara negara > yang meraih nilai islami sesuai dengan > definisi bung Doni Doang, adalah negara > negara Non Muslim. > > Negara negara Muslim, TAK satupun yang > memenuhi penilaian islami sesuai definisi > bung Doni Doang (gratis sekolah, kesejahte- > raan masyarakat, dsb). > > Mau makmur dan islami? Ya berkerja keras > dan disiplin, tanpa embel embel agama. > Sudah pernah ke Swiss? > > Atau, saya keliru bung Irwan? > > Salam pemakmuran >

