Kita tidak menyepakati tindakan Taufik Ismail yang telah membatasi kebebasan 
berekspresi bagi pekerja budaya. Apa yang ditakutkan oleh Taufik Ismail adalah 
prasangka buruk yang sebenarnya masih kental dengan alam berfikir Orde Baru. 

Akan tetapi, kita juga tidak membenarkan logika berfikir Ayu Utami yang 
terbalik-balik. Setahu saya, yang suka memberi stigma bukan PKI, tetapi orba 
lah yang selalu mengeluarkan stigma "PKI" kepada lawan-lawan politik. Ayu Utami 
berangkat dari berkesenian komersil, rendah mutu dan lemah otak dan pengetahuan 
sehingga selalu melakukan kesalahan-kesalahan seperti ini. Ayu Utami memang 
cukup liberal, dan memang dia adalah salah satu pengusung ideologi tersebut.

Sehingga pertarungan antara Taufik Ismail versus Ayu Utami adalah pertarungan 
antara konservatisme versus liberalisme. Jadi tidak ada hubungannya dengan 
sosialisme, komunisme ataupun PKI-sme! tetapi kok PKI jadi bahan umpatan. Ayu 
Utami sudah membesarkan stigma, sesuatu yang juga pernah dilakukan oleh ORBA. 
dan setahuku, Taufik Ismail justru tokoh anti PKI paling terdepan?  
Ayu...ayu...(mikir yah?)


"Tugas Manusia adalah Menjadi Manusia" (Multatuli)
Stand up for Democracy! Website http://www.arahkiri2009.blogspot.com


--- On Thu, 7/10/08, masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ppiindia] Ayu Utami: Taufik Ismail Seperti PKI Saja
To: [email protected]
Date: Thursday, July 10, 2008, 1:58 AM










    
            Ayu Utami:

Taufik Ismail Seperti PKI Saja

Iin Yumiyanti - detikNews



Jakarta - Penyair Taufik Ismail belum lama ini kembali menegaskan

keresahannya akan Gerakan Syahwat Merdeka. Gerakan ini salah satunya

muncul lewat sastra. Mereka yang masuk dalam barisan yang dituding

Taufik adalah para penulis fiksi yang suka mencabul-cabulkan karya.



Salah satunya yang kena tuding adalah Ayu Utami, si pemenang Sayembara

Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998 lewat novel fenomenal 'Saman'.

Taufik menyebut si Parasit Lajang ini sebagai pelopor angkatan sastra

Fraksi Alat Kelamin (FAK). Itu gara-gara novel 'Saman' yang ditulis

Ayu yang menabrak tabu seks menjadi trend dan banyak diikuti penulis

lainnya.



Bagaimana pandangan Ayu atas tudingan yang dilontarkan Taufik Ismail?

Di sela-sela memenuhi permintaan penggemar untuk menandatangani novel

'Bilangan Fu' dan foto bersama, Ayu menjawab semua tudingan itu.



Perempuan kelahiran Bogor itu mengaku surprise, karena meskipun ia

dituding sebagai pelopor angkatan sastra Fraksi Alat Kelamin, ternyata

sejumlah penggemarnya yang datang adalah dari kalangan perempuan

berkerudung.



Berikut wawancara Ayu Utami dengan Iin Yumiyanti dari detikcom:



Apa pandangan anda terhadap sastra Indonesia kini? Taufik Ismail belum

lama ini kembali menegaskan munculnya Gerakan Syahwat Merdeka. Apa

pendapat anda?



Pernyataan Pak Taufik Ismail itu kurang baik karena ia suka memberi

stigma. Itu sama seperti orang-orang PKI saja. Cara-cara seperti itu

kurang sehat. Menurut saya itu terjadi karena pemikiran Pak Taufik

terlalu sederhana, picik.



Saya merasa Pak Taufik seperti ini, seumpama melihat perempuan, dia

kan punya mata, tangan, kaki, tapi Pak Taufik melihatnya kok hanya

dari alat kelaminnya saja. Mengapa yang dia pikir hanya itu? Fokus dia

hanya melihat pada syahwat dan kelamin. Saya pikir ada masalah dengan

fokus Pak Taufik.



Menurut saya, kita boleh saja tidak setuju dengan sesuatu, tapi tidak

boleh dengan memberikan stigma.



Tapi kalau diamati, setelah novel Saman yang anda buat, di dunia

sastra memang seperti kebanjiran tema yang mengangkat masalah seks

secara berani dan kebanyakan ini dilakukan para penulis perempuan.

Tanggapan anda?



Sekarang soal sastra, atau baiklah soal novel. Kalau kita lihat

setelah Saman atau tepatnya setelah reformasi, tiba-tiba novel atau

fiksi yang mengangkat masalah seks meningkat. Ini kita harus

melihatnya secara menyeluruh dan rileks. Jangan dilihat hanya

sepotong-sepotong.



Harus diketahui masa itu kita baru saja mendobrak zaman yang represif.

Situasi chaos dan terjadi euforia kebebasan setelah rezim Orba yang

represif tumbang. Pada masa itu memang terjadi euforia kebebasan,

termasuk masalah seks.



Euforia seks tidak hanya dilakukan sastrawan perempuan, ada juga

laki-laki, Moammar Emka yang membuat Jakarta Undercover, itu kan laris

luar biasa.



Tapi sekarang, setelah 10 tahun, pendulum beralih lagi. Sekarang

pendulumnya pada agama. Setelah masa chaos, orang rindu pada hal-hal

yang berbau spiritual, maka novel seperti Ayat Ayat Cinta pun laris.



Jadi apapun sebenarnya bisa jadi pasar bagi industri, penerbit juga

film. Seks bisa jadi pasar, agama juga bisa.



Jadi menurut anda tidak ada Gerakan Syahwat Merdeka dalam sastra?



Saya tidak setuju dengan tudingan soal Gerakan Syahwat Merdeka. Yang

dituduh itu kan salah satunya saya. Itu pandangan yang picik. Ada

banyak hal dalam tulisan-tulisan saya, mengapa yang dilihat kok hanya

seksnya?.



Maksudnya kalau ada syahwat merdeka, lawannya apa sih? Syahwat

terikat? Itu sadomasokis namanya. Kalau mau menyalurkan syahwat harus

diikat-ikat dulu.



Menurut anda, sebaiknya bagaimana memandang seks?



Seks harus diakui sebagai bagian dari kekuatan manusia. Maka harus

diregulasi dengan baik. Diberi tempat aman, diberi ruang untuk

berfantasi. Silakan mau syahwat merdeka, syahwat terikat, tapi jangan

memberi gembok pada tukang pijat. Silakan saja liar dalam berfantasi,

tapi dalam bertindak tetap dibatasi.



Saya sebetulnya mengajak orang untuk terbuka. Jangan membuat peraturan

karena ketakutan. Kita takut begini lantas kita larang. Di negeri yang

banyak VCD porno tidak semua terjadi perkosaan. Tidak ada relevansi

antara pornografi dengan perkosaan. Kita ambil contoh di Jepang. Di

sana, di restoran yang juga dikunjungi anak-anak , banyak disediakan

komik yang isinya mengerikan sekali, seksnya kasar. Tapi di sana,

jumlah perkosaan tidak tinggi.



Tingkat perkosaan tinggi, justru di mana perempuan sebagai individu

tidak dihargai, dimana perempuan dianggap sebagai obyek.



Saya kira banyak kok laki-laki beradab yang merasa gengsi untuk memerkosa.



Kesimpulannya sastra masih aman-aman saja dan tidak perlu terlalu

dikhawatirkan?



Tidak perlu takut dengan seks. Aku heran, kenapa sih takut pada seks?

Kalau mau tahu, data IKAPI justru memperlihatkan buku yang laku itu

adalah buku pendidikan dan buku agama. Jadi tidak usah takut atau

takut berlebih-lebihan pada seks. Nanti malah jadi neurotis.



============ ========= ========= ========= ========= ========= === 



Kamis, 10/07/2008 08:56 WIB



Ayu Utami: Saya Tak Pernah Nulis Buku untuk Laris

Iin Yumiyanti - detikNews



Jakarta - Justina Ayu Utami. Perempuan ini rupanya sedang

ditunggu-tunggu. Siang itu, puluhan orang datang khusus untuk bertemu

dengannya dan meminta tanda tangan penulis novel fenomenal 'Saman'

tersebut.



Ayu, siang itu hadir di Pameran Buku Ikapi, Istora, Senayan, dalam

acara jumpa pengarang. Acara itu terkait dengan peluncuran novel

teranyar Ayu, 'Bilangan Fu'. Ini merupakan novel ketiga perempuan yang

memenangkan sayembara menulis roman Dewan Kesenian Jakarta 1998

tersebut, setelah novelnya 'Larung' yang terbit tujuh tahun lalu.



Maka siang itu, tidak heran jika penggemar perempuan langsing ini

berdatangan. Dalam hitungan tidak ada satu jam, Bilangan Fu pun laku

70 eksemplar lebih.



Bilangan Fu berkisah tentang cinta segitiga antara dua laki-laki

pemanjat dinding beranama Yudha dan Parangjati dengan seorang

perempuan bernama Marja.



Lewat "Bilangan Fu", Ayu mengangkat tema yang disebutnya sebagai

'spiritualisme kritis'. Ini merupakan keprihatinan Ayu atas banyaknya

sikap intoleran dan beragama secara formalitis setelah reformasi.



Di sela-sela melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama dengan

penggemarnya, Ayu membeberkan proses penulisan Bilangan Fu. Seperti

apa? Lalu apa maksud Ayu mengaku tidak ingin menyenangkan orang?

Berikut petikan wawancara Iin Yumiyanti dari detikcom dengan Ayu Utami:



Bisa anda ceritakan proses pembuatan novel Bilangan Fu. Idenya dari mana?



Prosesnya agak panjang. Idenya? Saya punya pacar, namanya Erik

Prasetya. Ia dulu seorang pemanjat tebing. Tapi ia berhenti memanjat

karena sahabatnya meninggal dunia. Teman pacar saya ini namanya Sandy

Febijanto. Ia salah satu dari pemanjat tebing terbaik Indonesia.



Pengalaman ini (kematian Sandy) mungkin membuat trauma atau sedih yang

terlalu berat sehingga pacar saya lantas meninggalkan dunia panjat

tebing. Ia tidak mau lagi ke Bandung untuk latihan ataupun melihat

tebing-tebing.



Tapi ia selalu bercerita masalah ini kepada saya. Saya sampai pada

titik sudah penuh dengan ceritanya. Akhirnya saya putuskan, oke saya

akan menulis novel dengan tokoh pemanjat tebing.



Apa yang ingin anda sampaikan lewat Bilangan Fu?



Begini, kalau Saman, keprihatinan saya itu kan kerasnya represi pada

masa Orde Baru. Bilangan Fu ini keprihatinan saya setelah reformasi.

Saya melihat setelah reformasi , marak sikap intoleran dan cara

beragama yang terlalu formalistis.



Bilangan Fu bercerita tentang cinta antara dua pemanjat tebing dengan

seorang perempuan. Nah saya ingin memadukan kedua hal ini, kisah cinta

pemanjat tebing dan persoalan religiositas bangsa ini.



Bagi saya, ada kesamaan antara memanjat tebing dan beragama. (Ayu

lantas tersenyum). Nanti kalau kamu baca novel ini akan ada

kesamaannya. Kesamaannya gini, pemanjat dan orang beragama sama-sama

ingin mencapai puncak.



Pemanjat tebing ada yang kotor atau dirty climbing. Mereka ini

pemanjat yang merusak tebing. Mereka memasangi berbagai macam alat,

bor, paku dan sebagainya untuk mencapai tujuannya mencapai puncak.

Yang penting bagi mereka bisa sampai atas.



Begitu pula agama. Dalam mensiarkan kebenaran agamanya, ada yang

mamakai cara seperti cara-cara pemanjat tebing kotor. Misalnya dengan

main paksa saja, semua dihajar saja, kebudayaan setempat dihajar.



Tapi ada juga pemanjat tebing yang bersih, mencapai puncak dengan

cara-cara terpuji, dengan cara-cara berdialog.



Jadi dalam mencapai tujuan apapun kita bisa melakukan dua jalan, jalan

yang kotor, yang memaksa, yang merusak atau jalan yang bersih yang

tidak memaksa.



Inspirasi novel ini adalah pacar anda, Erick. Apakah tokoh utama dalam

novel ini yaitu Yudha sebagai pelukisan pribadi Erick?



Tokoh Yudha sebetulnya adalah saya juga. Yudha itu bagian diri saya

yang skeptis dan sinis. Kalau Parangjati bagian diri saya yang

bijaksana (Ayu lantas tertawa). Tapi saya lebih suka tokoh Yudha,

karena tanpa tokoh sinis kita melihat dunia terlalu lempeng, terlalu

biasa.Yudha tokoh yang mengacaukan banyak hal, memandang dunia dengan

cara berbeda.



Hubungan Anda dengan Erick masih sampai sekarang?



Masih.



Mengapa anda bukan sebagai Marjanya?



Itulah salahnya, orang selalu mencari saya mewakili tokoh perempuan.

Padahal belum tentu. Di Saman, banyak yang mengira saya sebagai

Lailanya. Padahal sebenarnya saya sebagai Samannya.



Tokoh Marja terinspirasi dari beberapa teman-teman perempuan saya yang

orangnya baik. Ia sederhana, tidak usah pakai teori macam-macam, tapi

hatinya memang baik saja.



Novel kedua anda, Larung, tidak sesukses Saman, bahkan ada yang

menyebut gagal karena kurang laku di pasaran. Lalu dibandingkan Saman

dan Larung, Bilangan Fu ini, apa istimewanya?



Sekali lagi saya tidak pernah menulis buku untuk laris. Saya selalu

mencadangkan kalau buku saya tidak disukai orang karena memang saya

tidak pengin menyenangkan orang. Saya ingin menyampaikan apa yang

menurut saya perlu. Saya ingin menyampaikan ide pergulatan saya. Jadi

saya selalu siap jika novel saya tidak laris.



Soal Larung, orang yang suka sastra mengatakan bab I Larung bagus

sekali. Tapi memang tidak ringan bagi banyak orang. Tidak semanis

Saman. Tapi ya gak papa. Kalau disebut gagal ya tidak apa-apa.



Apa istimewanya Bilangan Fu?



Saman dan Larung dengan Bilangan Fu memiliki banyak perbedaan tapi ada

banyak persamaan. Beda utama Bilangan Fu dengan Saman dan Larung,

adalah zaman yang menjadi settingnya. Saman settingnya zaman Orba,

dimana represi pemerintah masih keras sekali di semua bidang.



Saya ingin membongkar paradigma itu. Karena itu Saman dan Larung

sebagai sebuah novel strukturnya tidak rapi. Ia seperti mozaik,

fragmen yang terpisah-pisah. Tidak memakai plot yang lurus. Tapi itu

merupakan salah satu cara yang saya ambil sebagai reaksi saya dari

terlalu tertibnya nilai-nilai dan terlalu tertibnya kaidah menulis

yang saya rasakan di zaman itu.



Sekarang justru saya merasa terlalu banyak akrobat dalam penulisan.

Maka saya ingin kembali ke plot yang sederhana dan linear. Karena itu

Bilangan Fu, dari segi plot dan cerita jauh lebih sederhana.



Jadi dari segi plot lebih sederhana. Tapi tetap mengandung banyak

perdebatan. Lebih banyak perdebatannya dibandingkan dengan Saman.



Bilangan Fu masih mengangkat tema cinta yang sering menjadi cara

klasik untuk menarik pembaca. Mengapa?



Bagi saya, cinta itu selalu menakjubkan. Di novel ini, tokohnya sangat

dingin, sinis dan mengejek masyarakat. Tapi di sini kisah cinta bukan

tempelan. Dihadirkan bukan hanya sebagai bumbu agar seru ceritanya.



Kamu bisa melihat perbedaan bagaimana seks digarap dalam film

Hollywood dengan film Prancis. Di Hollywood, seks sering hadir sebagai

bumbu pembungkus, dibikin erotis. Di film Prancis, seks dihadirkan

sebagai persoalan manusia, misalnya laki-lakinya tidak bisa ereksi.

Jadi cinta atau seks bukan sekadar bumbu.



Jadi Bilangan Fu lebih ringan dibaca dibandingkan Saman dan Larung?



Hmmm, susah menjawabnya. Mungkin lebih berat, kan lebih tebal

(halamannya) . Novel ini banyak sekali perdebatannya. Tapi

perdebatannya tangkas. Saya menawarkan kata kunci baru yaitu

spiritualisme kritis. Yang saya maksud adalah, orang tetap percaya

sesuatu, apakah itu Tuhan atau nilai yang lain tapi ia tetap kritis

pada apa yang dia percayai. Ia tidak buru-buru menerapkan kebenarannya

pada orang lain. Karena kebenaran hakiki tetap jadi misteri. Yang

lebih baik pada hari ini adalah kebaikan itu sendiri.



Mengapa sampai butuh waktu sangat lama untuk menyelesaikan novel ini?



Untuk mengetahui detail dunia panjat tebing, saya ikut latihan panjat

tebing pada akhir 2003. Saya masuk sekolah Panjat Tebing Skygers. Lalu

saya mulai menulisnya tahun 2004. Selama empat tahun saya melakukan

pencarian yang tepat untuk menuliskan kisah ini. Tapi saya selalu

tidak puas.



Baru September 2007 lalu saya menemukan cara menulis yang saya merasa

puas. Setelah itu saya menulis nonstop. Jadi 4 tahun pencariannya, 9

bulan penulisan bentuk terakhir.



Biodata:



Nama Lengkap: Justina Ayu Utami

Lahir: Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968

Pendidikan: S-1 Sastra Rusia Universitas Indonesia

Buku yang ditulis:



Saman (memenangkan Sayembara Mengarang Dewan Kesenian Jakarta 1998)

Larung

Parasit Lajang

Sidang Susila

Bilangan Fu




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke