Kronik Sairara:
 
 
MENGHAYATI  KEBHINNEKAAN BANGSA 
 
 
Bahwa Indonesia adalah sebuah  bangsa dan negeri yang  bhinneka, tentu sudah 
menjadi pengetahuan umum. Paling tidak ia diajarkan sejak Sekolah Dasar, jika 
dilihat dari segi pendidikan formal. 
 
Pertanyaannya: Apakah masalah kebhinnekaan sebagai nilai budaya sudah kita 
hayati benar, seperti halnya sekali pun kita fasih menyebut Republik dan 
Indonesia, apakah kita mengerti Republik dan Indonesia sebagai suatu rangkaian 
nilai? 
 
Pertanyaan ini muncul di benak saya, karena ketika bekerja di Indonesia 
bertahun-tahun dan pulang kembali paling tidak setahun sekali,  saya 
menyaksikan bahwa keberadaan di Indonesia, bukan jaminan bahwa kita mengenal 
Indonesia. Untuk mengenal negeri sendiri diperlukan kerja keras,  baik melalui 
belajar atau pun penelitian. Jangankan mengenal Indonesia, mengenal kampun kita 
sendiri pun sering kita gagal. Paling-paling yang kita kenal adalah gejala 
serta permukaan gejala, dan   itu pun kita mengenalnya secara 
sepotong-sepotong. Pengenalan mendalam memerlukan kegiatan belajar dan 
pengkajian serta penelitian serius. Sampai sekarang, saya masih bertahan pada 
hipotesa bahwa terkadang kita lebih tahu tentang Barat, Amerika daripada tahu 
tentang Indonesia, sekali pun kita berada di Indonesia secara fisik.
 
Konstatasi ini agaknya diperkuat oleh maskot kera dan cawat Dayak yang 
digunakan oleh Panitya PON XVII Bontang Kaltim sekarang. Dari penjelasan 
mengenai makna lambang maskot kerat bercawat Dayak ini, nampak pada saya bahwa 
pengetahuan pihak Panitya PON XVII sangat minim. Saya tidak tahu, apakah di 
dalam Pantiya PON di Bontang terdapat orang Dayak yang turut serta dan telah 
didengar pendapatnya. Jika  benar ada orang Dayak dalam Panitya, maka saya 
kira, penggunaan maskot kera bercawat Dayak yang dianggap sebagai lambang khas 
Kaltim, hanya memperlihatkan keterasingan seorang Dayak akan kampung-halamannya 
sendiri. Keterasingan Panitya PON Ke-XVII dari negeri sendiri. Belum 
dikhayatinya oleh Panitya PON Ke-XVII kebhinnekaan budaya negeri dan bangsa 
ini.  Menunjukkan ketidaktahuannya tentang lambang-lambang lokal dan makna yang 
tersirat dalam lambang-lambang tersebut. 
 
Masalah arti penting lambang dan memperebutkan arti lamban dan lambang itu 
sendiri, bukan hanya terjadi di Indonesia, misalnya pada masa Orba tapi juga 
terjadi di berbagai negeri. Jean d'Arc [Joan of Arc], pahlawan perempuan 
Perancis dalam menghalau agresor Inggris, diperebutkan oleh kaum neo-nazi 
Perancis dan nasionalis lainnya. 
 
Dalam sejarah Dayak, penggunaan lambang untuk menindas etnik ini banyak 
didapat. Akibatnya, sampai-sampai tidak sedikit orang Dayak yang malu mengaku 
diri Dayak, karena ide Belanda tentang "Dajakers" sebagai lambang segala 
keburukan dan kejahatan tertanam dalam.  Karena itu, pengunaan lambang adalah 
suatu bentuk kekerasan budaya terhadap pola pikir dan mentalitas pihak lain.  
Oleh sebab itu pula maka ada istilah genocide budaya yang tidak kalah 
kriminalitasnya dengan masakre fisik. Dalam sejarah berbagai bangsa, agresi 
fisik dan agresi budaya , nampak sering dilakukan bersamaan. Simultan. 
 
Dari kasus maskot kera dan cawat Dayak serta penjelasan Panitya tentang makna 
lambang [Lihat:Lampiran] yang saya lihat sangat menonjol adalah ketidaktahuan 
pihak Panitya tentang makna lambang , khususnya lambang-lambang Dayak. Sekali 
lagi, ketidaktahuan yang lebih, bahkan hanya  memperlihatkan keterasingan diri 
dari segi budaya terhadap negeri dan bangsa sendiri. Memperlihatkan gejala  
bahwa kita yang mengaku diri Indonesia  tapi sebenarnya menjurus ke kehilangan 
diri sebagai Indonesia dalam artian nilai budaya.  Kehilangan diri ini oleh 
Alain Touraine, sosiolog Perancis terkemuka, pengajar di l'Ecole des Hautes 
Etudes en Sciences Sociales [l'EHESS], Paris, disebut sebagai "kekosongan [la 
vide, the emptiness]. "Kekosongan" menurut Alain Touraine, adalah keadaan yang 
sangat berbahaya, karena pada saat ini manipulasi bisa leluasa bermanuvre dan 
orang-orang kehilangan orientasi. Saat ini pula maka kekuatan luar bisa leluasa 
bermanuvre menancapkan
 gurita pengaruh dan kekuasaannya tanpa disadari oleh terkait. 
 
Saya khawatir bahwa maskot kera bercawat  Dayak adalah  salah satu petunjuk 
saja dari beradanya bangsa dan negeri ini pada keadaan kekosongan. 
 
Apakah makna yang disimbolkan oleh kera dan cawat Dayak yang digunakan oleh 
Panitya PON XVII?
  
Di sini saya menggunakan acuan yang ada di Dayak Katingan , Kalimantan Tengah.  
Kera [bakei -- bahasa Dayak Katingan] adalah lambang dari ketidak beradaban. 
Tidak beradat. Bakei adalah makian paling keras terhadap seseorang. Bukan 
anjing. Anjing adalah sabahat manusia, terutama ketika berada di tengah hutan 
atau berburu atau di ladang. Anjing adalah lambang kesetiaan.  Dengan 
menggunakan keras sebagai maskot tipik Dayak, saya kira, secara tidak sadar, 
karena tidak tahu dan keterasingan budaya, maka Panitya PON XVII mengatakan 
masyarakat Dayak Kaltim khususnya adalah orang-orang yang tidak beradab. 
Orang-orang yang tidak beradat. Tudingan yang sangat keras setara dengan simbol 
"Dajakers" yang digunakan oleh kolonialisme Belanda ketika menterapkan politik 
budaya "ragi usang"nya. 
 
Sedang cawat, menunjukkan kepada tingkat komunitas Dayak  yang oleh antropolog 
kolonialis Barat disebut sebagai "masyarakat primitif" untuk membenarkan yang 
mereka sebut sebagai "mission sacrée", bahwa Tanah Dayak adalah suatu terra in 
cognita yang perlu  diadabkan.  Secara nyata dan statistik, berapa banyak 
gerangan, orang Dayak yang bercawat. Mengapa cawat yang melambangkan 
keterbelakangan diambil sebagai bagian dari maskot bertubuh kera? Lagi-lagi 
dari pengambilan cawat sebagai lambang, saya melihat keterasingan koseptor 
maskot dan Panitya PON XVII  dari tanahairnya dan kebhinnekaan budaya. 
 
Oleh makna lambang demikian, saya tidak heran jika sebagian masyarakat Dayak 
Kaltim menjadi marah dan tidak rela dihina. Mencabut maskot-maskot, menurunkan 
spanduk-spanduk yang menghina demikian, saya kira masih dalam batas kewajaran 
dan belum sampai ke tindak kriminal. Tindakan keras ini akan lebih berarti jika 
pihak masyarakat Dayak Kaltim melakukan langkah-langkah hukum.Langkah yang 
menunjukkan bahwa bangsa dan negeri ini sangat beragam dan selayaknya untuk 
bisa saling menghormati dan menghargai, tanpa usaha melaklukan tindakan sadar 
atau tidak hina menghina. 
 
Penangkatan masalah pesut, lumba-lumba hitam Sungai Mahakam adalah sesuatu yang 
baik. Apalagi dihadapan bencana kepunahan pesut yang langka. Sayangnya dalam 
penjelasan Panitya PON XVII, masalah lingkungan ini sama sekali tidak 
disinggung sepatahkata pun. Adakah kaitannya kealpaan ini dengan soal kesadaran 
lingkungan? 
 
 
Inti dari persoalan maskot kera bercawat Dayak ini, dalam penglihatan saya 
terletak pada belum dikhayatinya masalah  kebhinnekaan budaya, makna rangkaian 
nilai dan berkeindonesiaan. Tanda bahwa kita masih terasing dari negeri 
sendiri. Tanda adanya masalah dalam sooal wacana atau wawasan integral 
berbangsa dan bernegeri.  Benarkah?***
 
 
Paris, Juli 2008
----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris.
 
 
 
LAMPIRAN:
 
On Wed, 9/7/08, budi baskoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: budi baskoro <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [dayak] Re: Makna Maskot PON XVII Kaltim
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, 9 July, 2008, 6:41 PM

teman2 di bawah ini saya postingkan penjelasan makna maskot PON dari web resmi
PON XVII dan dari web keluarga pelajar mahasiswa balikpapan di yogyakarta. utk
melihat gambar, langsung saja klik kedua web tsb. mereka juga tidak mengulas
masalah cawat yg dikenakan monyet dlm maskot tsb. dan pada gambar yg tertera
dlm kedua site itu memang tak ada gambar cawat. entahlah yg beredar di kaltim
sana. jika saja ini hanya soal maskot, bisa jadi, ini hanya masalah perbedaan
memaknai maskot tsb. memang juga sangat boleh jadi dlm maskot tsb itu terdapat
anasir konstruksi yg melecehkan dayak, meskipun mungkin itu tanpa disadari oleh
si pembuat maskot. tapi, yg jelas, di balik kemegahan PON kaltim, ternyata
kaltim tidak sedang baik2 saja. 

satu hal yg juga menarik, pastinya maskot ini telah dilaunching dan ramai
beredar sebelum PON berlangsung. tapi kenapa protes baru muncul sekarang? yang
juga menarik, diberitakan di TV bahwa para pedagang yg menangguk cukup banyak
untung dari penjualan maskot itu adalah pedagang yg datang dari luar kaltim.
ada juga yg dari yogyakarta. silakan didiskusikan lebih jauh.

iBaz

Maskot Resmi PON XVII
(http://www.ponxvii-kaltim.com/index.php?menu=beranda&sub_menu=maskot_logo)

  Burung Engang [ Maskot untuk Cabang Olah Raga Udara ] 
•       Makna Gambar    :       Burung Enggang sangat dekat dengan kehidupan 
Masyarakat
Kaltim
•       Wajah Engang    :       Dengan mulut tersenyum menandakan masyarakat 
Kaltim yang
ramah dan mulut sedikit terbuka mengisyaratkan atau memanggil seluruh anak
negeri untuk berkumpul dan bersatu di Bumi Etam.
•       Medali Emas     :       Sayap tangan yang memegang medali menandakan 
suatu prestasi
yang baik dicapai dengan upaya yang positif dan menjujung tinggi sportifitas.

 Pesut [ Maskot untuk Cabang Olah Raga Air ] 
•       Makna Gambar    :       Pesut Merupakan hewan khas perairan Sungai 
Mahakam yang
populasinya sangat langka.
•       Wajah Pesut     :       Tersenyum sebagai pertanda masyarakat Kaltim 
yang ramah dan
bersahaja.

 Orang Utan [ Maskot untuk Cabang Olah Raga Darat ] 
•       Makna Gambar    :       Orangutan mengambil bentuk posisi seakan sedang 
berlari
dengan membawa obor api PON
•       Wajah Orang Utan        :       Dengan mulut tersenyum memberikan kesan 
yang ceria,
ramah tamah dan suka cita menyambut PON XVII di Kaltim

  Logo Resmi PON XVII
 
  Makna Gambar Logo Resmi PON XVII – 2008 Kaltim :
•       Bagian utama logo berbentuk ekor pesut dalam posisi melambai yang dapat
terlihat ketika menyelam, dari atas permukaan air menggambarkan lambaian salam
selamat datang.
•       Tiga buah ring berwarna biru, bermakna PON XVII – 2008 Kaltim, 
menjunjung
kekompakan dan persatuan untuk mencapai Tri Sukses PON yaitu Sukses Prestasi,
Sukses Penyelenggaraan dan Sukses Pemberdayaan Ekonomi Rakyat.
•       Bentuk lengkung motif khas Kaltim ini melambangkan deburan ombak Sungai
Mahakam yang merupakan tempat habitat Pesut. 
•       Tulisan Kaltim 2008 dan PON XVII memberikan informasi Kaltim sebagai 
Tuan
Rumah Penyelenggara Pekan Olahraga Nasional XVII Tahun 2008. 
•       Slogan ini bermakna semua peserta PON berlomba untuk daerah 
masing-masing,
namun pada hekekatnya : Semua adalah satu, Bangsa Indonesia.

 

Arti Logo Pon KALTIM May 8, 2008
Filed under: Informasi terbaru, info kaltim — KPMB Yogyakarta @ 1:18 am 
Tags: kaltim, logo, pon


Pon sudah semakin dekat, pelaksanaannya dijadwalkan 6-17 juli 2008. tapi sudah
tahukan teman2 arti logo pon kaltim yang baru, bentuknya, lambangnya, warnanya,
maskotnya … kami ulas semua disini..

BURUNG ENGGANG

Makna Gambar : Burung Enggang sangat dekat dengan kehidupan Masyarakat Kaltim.


Wajah Enggang dengan mulut tersenyum menandakan masyarakat Kaltim yang ramah
dan mulut sedikit terbuka mengisyaratkan atau memanggil seluruh anak negeri
untuk berkumpul dan bersatu di Bumi Etam.

Medali Emas sayap tangan yang memegang medali menandakan suatu prestasi yang
terbaik dicapai dengan upaya yang positif dan menjunjung Tinggi sportifitas.

Rompi Khas Kaltim Melambangkan sebuah Busana perjuangan untuk Meraih kemenangan
sejati.
IKAN PESUT

Makna gambar : pesut Merupakan hewan khas perairan sungai mahakam yang
populasinya sangat langka.

Wajah pesut tersenyum sebagai pertanda masyarakat kaltim yang ramah dan
bersahaja,sirip tangan pesut memegang cincin menandakan persahabatan dan
persatuan yang penuh optimisme.

Rompi khas kaltim, melambangkan sebuah busana perjuangan untuk meraih
kemenangan sejati.
ORANG UTAN

Makna Gambar : Orang utan mengambil bentuk posisi seakan sedang berlari dengan
membawa sebuah obor Api PON.

Wajah Orangutan dengan mulut tersenyum memberikan kesan ceria, ramah tamah dan
suka cita menyambut PON XVII di Kaltim.

Rompi Khas Kaltim, melambangkan sebuah busana perjuangan untuk meraih
kemenangan sejati.


Bagian utama logo berbentuk ekor pesut dalam posisi melambai yang dapat
terlihat ketika menyelam, dari atas permukaan air menggambarkan lambaian salam
selamat datang.

Lima buah ring berwarna biru, kuning, hitam, hijau dan merah, bermakna PON
XVII-2008 di Kaltim mendukung pencapaian prestasi olahraga dunia.

Bentuk melengkung motif Khas Kaltim ini melambangkan deburan ombak Sungai
Mahakam yang merupakan tempat habitat Pesut.

Tulisan Kaltim 2008 dan PON XVII memberikan informasi Kaltim sebagai Tuan Rumah
penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional XVII tahun 2008.

Slogan ini bermakna semua peserta PON berlomba untuk daerah masing-masing,
namun pada hakekatnya, semua adalah satu, Bangsa Indonesia.


(http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://kpmbyogya.files.wordpress.com/2008/05/maskot-pon.jpg&imgrefurl=http://kpmbyogya.wordpress.com/2008/05/08/arti-logo-pon-kaltim/&h=250&w=344&sz=7&hl=id&start=1&tbnid=-Pc4ZputRdkf5M:&tbnh=87&tbnw=120&prev=/images%3Fq%3D%2522maskot%2Bpon%2522%26gbv%3D2%26hl%3Did%26sa%3DG)



      New Email names for you! 
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke