Bagi saya bukan masalah mudanya.
Buat apa muda kalau hanya menjadi agen Amerika dan menjadikan Indonesia sebagai
sapi perahan AS?
Yang penting adalah pemimpin yang bisa membuat Indonesia mandiri mengolah
sendiri kekayaan alamnya sehingga hasilnya bisa dinikmati sebesar2nya untuk
kemakmuran rakyat. Terserah mau muda, sedang, atau tua.
Salam
--- On Sun, 7/13/08, fadhli yafas <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: fadhli yafas <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [LISI] "Saatnya Kaum Muda Memimpin: Siapa mau menyusul?
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, July 13, 2008, 7:52 PM
ini rizal yg menjadi timnya exxon mobile utk minyak cepu? yg
mengakibatkan minyak bumi indonesia dikuasai amerika? si Rizal yg dengan
freedom institutenya mendukung kenaikan harga minya? well, siap-siap saja
negeri ini makin manut ke Amerika dan harga minyak bakal naik lagi kalau dia yg
jadi presiden.
============ ========= ========= =========
Koboi AKKBB in action ! klik disini (http://fadhliyafas. blogspot. com/2008/
06/koboi- dari-akkbb. html)
( ) "....Kemudian akan ada khilafah rasyidah yang sesuai dengan manhaj kenabian
(HR. Imam Ahmad)
( ) Download gratis kitab2 B. Arab dari Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Bukhari,
Imam Muslim, Imam
Syaukani, Imam Suyuthi dll di www.saaid.net atau www.almeshkat. net
( ) Alhamdulillah akhirnya punya blog juga (fadhliyafas. blogspot. com)
( ) Beragam aplikasi untuk PPC dan Cellular (segalarupa. blogspot. com)
----- Original Message ----
From: Tatang muttaqin <[EMAIL PROTECTED] com>
To: alumni unpad unpad <milis-ika-unpad@ yahoogroups. com>; fikom_unpad@
yahoogroups. com; milis fikom <fikomunpad92@ yahoogroups. com>; [EMAIL
PROTECTED] ups.com; alumnirancabogo@ yahoogroups. com; alumnisabang17@
yahoogroups. com; [EMAIL PROTECTED] com
Sent: Monday, July 14, 2008 9:44:03 AM
Subject: [LISI] "Saatnya Kaum Muda Memimpin: Siapa mau menyusul?
Temans yang baik,
Genderang kampanye politik sudah dimulai, dan selama 9 bulan kita akan
menyaksikan serunya pertandingan politik. Smoga dapat menghibur seperti piala
Eropa.....:)
Di tengah 'derasnya' hasrat kepemimpinan baru dan muda, salah seorang telah
memulainya. Semoga menjadi stimulan bagi kaum muda yang lainnya.
Salam hangat, Tatang
RIZAL MALLARANGENG FOR PRESIDENT -- You have my vote!
BEBERAPA waktu lalu, beberapa tokoh muda di Jakarta mendeklarasikan
suatu gerakan dengan tema "Saatnya Kaum Muda Memimpin". Deklarasi itu,
menurut saya, bagus sekali. Memang, harus terjadi peremajaan dalam
kepemimpinan politik di negeri kita. Kalau tidak, maka kita akan
terjerembab kedalam "gerontokrasi" , yakni kepemimpinan orang-orang tua
yang, memang, umumnya bijaksana tetapi, terus terang, sudah kekurangan
"sentuhan" dengan perkembangan dan gerak nadi sejarah; "out of touch
with the history".
Dengan seluruh apresiasi saya pada gerakan yang sangat baik itu, ada
beberapa kelemahan pokok dalam gerakan itu.
Pertama, anak-anak muda yang mengusung ide itu tidak menyadari bahwa
telah terjadi arus "peremajaan" dalam kepemimpinan politik kita,
minimal seperti terjadi dalam partai-partai politik sekarang. Banyak
anak muda yang dengan mengesankan menjadi tokoh-tokoh politik yang
cukup baik. Hal ini bisa kita lihat dalam sejumlah partai, seperti
PKB, PPP, PDIP, PAN, dll.
Kalau yang dimaksud "kaum muda memimpin" adalah anak-anak muda yang
menggerakkan ide tersebut, ya itu urusan lain. Saya kira, yang
dimaksudkan dengan istilah itu adalah bukan sekedar "kaum muda" yang
membuat gerakan tersebut, tetapi kaum muda secara umum. Oleh karena
itu, siapa saja yang masuk dalam definisi kaum muda bisa maju dan
mempersiapkan diri menjadi pemimpin.
Kedua, istilah "kaum muda memimpin" masih sangat kabur dan bisa
ditafsirkan macam-macam. Memang ada segi positifnya pengertian frasa
itu dibiarkan seperti apa adanya, kabur dan ambigu. Tetapi, menurut
saya haruslah diberilah semacam "isyarat" apa yang dimaksudkan dengan
"memimpin" di sana. Menurut saya, tanpa harus dikatakan, sebetulnya
apa yang dimaksud dengan "memimpin" adalah menduduki jabatan politik
tertinggi dalam negeri kita, yaitu RI-1 atau presiden.
Saya menduga, pengertian inilah yang tampaknya dimaksudkan oleh para
penggerak ide di atas. Sebab, jika yang dimaksudkan dengan "memimpin"
adalah pengertiannya yang umum, sebetulnya sudah banyak kaum muda yang
masuk dalam sektor-sektor kepemimpinan dalam masyarakat, baik dalam
ranah politik atau non-politik.
Ketiga, kelemahan pokok gerakan itu adalah bahwa anak-anak muda yang
mengusung ide tersebut sama sekali tak menyebut siapa anak-anak muda
yang mereka anggap layak menjadi "pemimpin", i.e. presiden. Mereka tak
mencoba membangun "mesin politik" untuk mewujudkan cita-cita politik
itu.
Salah satu fakta yang jarang disadari oleh kalangan muda sendiri
sekarang adalah bahwa tak ada seorang tokoh muda pun saat ini yang
cukup "standing out", cukup menonjol, cemlorot, di atas rata-rata, dan
semua orang memberikan pengakuan yang memadai sehingga kalau yang
bersangkutan maju sebagai calon pemimpin (baca: presiden), maka semua
orang akan "marching" atau "siap-satu-barisan" (istilah ini metaforis
saja, jangan dimengerti secara harafiah) untuk mendukungnya.
Saat ini memang ada beberapa anak muda yang lumayan menonjol. Tetapi,
kita harus jujur saja, tokoh-tokoh yang ada itu tidak kelihatan
"spesial" sekali. Dengan kata lain, di satu pihak ada kehendak kuat di
kalangan anak-anak muda untuk memimpin negeri ini, tetapi di pihak
lain tidak tersedia "materi" atau bahan mentah yang cukup di kalangan
mereka untuk menjadi pemimpin.
Itulah sebabnya gerakan kemaren itu tampaknya, mohon maaf, seperti
semacam "wishful thinking" saja, alias berharap-harap yang hanya
sebatas "keinginan" tanpa didukung oleh kondisi objektif.
Tak heran jika gerakan kemaren itu mendapat tanggapan yang "lukewarm"
atau hangat-hangat tahi ayam saja dari kalangan partai politik. Bahkan
Wapres Jusuf Kalla dan beberapa tokoh politik lain saat itu
mengemukakan tanggapan yang agak kurang antusias, untuk tak mengatakan
sinis.
Bermain dalam dunia politik harus "strike the balance" atau menempuh
keseimbangan antara cita-cita --dan yang namanya cita-cita, tentu
boleh muluk-muluk- - dan kenyataan objektif. Orang-orang yang bijaksana
sering berpetuah bahwa yang disebut "berpolitik" adalah memainkan
semacam seni untuk mencapai "yang mungkin".
"Mencapai yang mungkin" terjadi karena tokoh politik bersangkutan
mengerti dengan baik titik-titik di mana terjadi pertemuan antara
kondisi ideal yang dicita-citakan dengan kenyataan objektif. Hal ini
mudah dikatakan, tetapi sulit dilaksanakan dalam kenyataan kongkrit.
Yang kerapkali terjadi adalah, dan ini sering saya lihat di kalangan
anak-anak muda, "kemauan besar, tenaga kurang," untuk meminjam istilah
yang agak berbau-bau (maaf) "viagra" yang sering dipakai di kalangan
masyarakat Jakarta saat ini.
SEJAK dideklarasikannya gerakan "kaum muda memimpin" itu, saya sudah
menunggu-nunggu dengan sedikit resah, siapa "cah nom" atau anak muda
yang dengan sigap, niat-kuat-bulat, penuh determinasi, dan kompeten
yang berani mengajukan diri sebagai calon presiden. Hingga detik-detik
terakhir, saya tak mendengar satupun anak-muda, terutama dari kalangan
yang mencetuskan ide di atas, yang berani tampil ke muka.
Hingga akhirnya, beberapa waktu lalu, di luar dugaan, saya mendapat
kabar dari teman-teman di Jakarta bahwa Rizal Mallarangeng -- yang
kerap kami panggil Celli itu-- berniat untuk maju dari barusan
anak-muda untuk menjadi kandidat presiden. Sungguh saya tak siap
menerima kabar ini.
Selama ini, Rizal sudah akrab dengan dunia politik, meskipun selalu
bermain dari balik layar. Tetapi Rizal belum pernah secara terbuka
masuk ke dalam gelanggang politik di barisan kursi depan.
Rizal, sepanjang pengalaman saya bergaul selama ini, adalah pekerja
gigih, mempunyai determinasi tinggi, memiliki bacaan tentang
teori-teori politik yang kuat, tetapi juga mengerti dengan baik betapa
rumitnya gelanggang politik kongkret dalam dunai sehari-hari. Di mata
saya, dialah orang yang mengerti dengan baik apa makna politik sebagai
"seni bermain dengan yang mungkin" itu.
Kualitas pada Rizal yang menurut saya layak disebut adalah kemampuan
bahasa Inggrisnya yang baik (kualitas yang dibutuhkan untuk pergaulan
politik internasional saat ini), juga kemampuannya untuk memainkan
diplomasi yang elegan. Rizal adalah seorang "lobbyist" yang setahu
saya sangat pandai.
Dia mempunyai "warna suara" yang dibutuhkan oleh seorang orator yang
baik. Kemampuannya untuk menyampaikan pidato yang baik, di mata saya,
sangat mengesankan. Saat Rizal menyampaikan sebuah pidato, seseorang
merasa "dilibatkan" . Inilah salah syarat penting dari seorang orator
yang baik.
Menyaksikan dari dekat (jangan salah: maksudnya lewat televisi) proses
pemilu untuk presiden 2008 di Amerika Serikat saat ini, saya sadar
pentingnya sebuah orasi atau pidato dalam dunia politik. Memang orasi
bukanlah segala-segalanya. Tetapi orasi adalah piranti penting dalam
sebuah proses politik di masyarakat yang demokratis, sebab politik
juga adalah sebuah seni untuk membujuk publik. Hanya dalam masyarakat
yang otoriter dan tertutup saja, seni orasi dibenci, sebab
segalanya-galanya ditentukan melalui sebuah komando. Publik tak perlu
dibujuk, tetapi dipaksa.
Menurut saya, politik kita di Indonesia saat ini kering dari orasi
yang baik, cerdas, dan menggugah, persis seperti yang saya saksikan
saat Barack H. Obama memberikan pidato yang mengulas soal ras berjudul
"A More Perfect Union" yang ia sampaikan pada 18 Maret 2008 di
Contitution Centre, Philadelphia.
Demi Tuhan, saya menangis saat mendengarkan pidato itu. Inilah pidato
yang menggabungkan semua elemen yang dibutuhkan untuk sebuah orasi
yang akan terus diingat oleh publik, orasi seorang "vurtuoso": seni
berkata-kata yang tinggi, kecerdasan, keluasan wawasan, menggugah,
akting panggung/podium yang lihai, permaian dengan intonasi, dan
kecerdasan bermain dengan kalimat-kalimat yang "quotable" atau layak
dikutip dan karena itu diingat.
Usai mendengar pidato Obama itu, saya langsung berpikir: ini bukan
sekedar pidato, tetapi pendidikan politik bagi publik. Saya bertemu
dengan banyak kawan di Amerika, dan mereka selalu ingat pidato itu.
Pidato Obama itu mengingatkan publik di Amerika akan orasi legendaris
yang pernah disampaikan oleh Presiden John F. Kennedy pada 12
September 1960 di Greater Houston Ministerial Association. Saat itu,
Kennedy dengan jantan dan cerdas menghadapi isu kontroversial mengenai
kepercayaan dia sebagai seorang Katolik.
Saya memandang, bahwa Rizal mempunyai kualitas-kualitas yang
membuatnya bisa mengetengahkan pidato politik yang cerdas dan
menggugah publik seperti itu--sesuatu yang dibutuhkan untuk pendidikan
politik bagi publik kita.
Seorang tokoh politik yang baik adalah ia yang tidak semata-mata taat
dan menurut saja pada kemauan politik, walaupun kemauan atau opini
publik itu berlawanan dengan sesuatu yang ia anggap benar. Tentu
seorang tokoh politik tidak boleh mengabaikan opini publik, tetapi
tokoh yang baik adalah ia yang berani melawan opini itu seandainya
memang opini tersebut justru membahayakan kepentingan bangsa dan
kemanusiaan.
Mendayung dengan melawan arah opini publik sangat tidak mudah. Kita
lihat saat ini para tokoh politik kita membuat terlalu banyak kompromi
di berbagai bidang, terutama dalam wilayah yang menyangkut dasar-dasar
pokok dari konstitusi kita. Kompromi itu dibuat karena khawatir akan
kehilangan dukungan dari konstituen "agama" terbesar di negeri kita.
Kita perlu seorang tokoh politik yang bisa memainkan keseimbangan
antara "mendengarkan" opini publik, dan keberanian mengatakan "tidak"
jika opini itu melawan kepentingan bangsa.
Saya melihat potensi itu pada Rizal.
Dengan kualitas-kualitas seperti itu, saya cukup heran kenapa Rizal
selama ini tidak mengambil keputusan untuk maju ke depan dari barisan
anak-anak muda, mencalonkan diri sebagai pemimpin bangsa ini. Dengan
kebiasaan Rizal selama ini untuk selalu bermain "di balik layar", saya
menduga, mungkin ia memang memilih peran seperti itu.
Tetapi dugaan saya itu salah. Rizal ternyata sekarang telah mengambil
keputusan lain, dan saya anggap itu adalah keputusan yang baik dan
tepat pada waktunya. Ia telah dengan berani mencalonkan dirinya
menjadi kandidat presiden.
Rizal lahir pada 29 Oktober 1964. Dengan demikian, ia sekarang berumur
44 tahun. Saat ini, Barack Obama yang sudah definitif menjadi calon
presiden AS dari Partai Demokrat, berumur 47 tahun (ia lahir 4 Agustus
1961). Pada saat John F. Kennedy terpilih menjadi presiden Amerika
Serikat pada 1960, mengalahkan calon dari Partai Republik, Richard
Nixon, ia berumur 43 tahun. Rentang umur antara 40 dan 50 tahun adalah
usia yang sangat ideal untuk menjadi tokoh politik.
Rizal memenuhi kondisi ideal itu. Jika Rizal mampu meyakinkan publik
bahwa dialah kandidat yang tepat untuk memimpin negeri ini, dan
benar-benar terpilih menjadi presiden pada pemilu mendatang, maka dia
akan menjadi presiden termuda dalam sejarah Indonesia, sebagaimana
John F. Kennedy adalah presiden termuda dalam sejarah Amerika Serikat.
Tantangan terbesar yang harus dihadapi Rizal adalah partai politik
mana yang akan mencalonkan dirinya. Rizal secara teknis saat ini
bukanlah bagian dari partai manapun. Sementara itu, partai-partai
besar saat ini sudah tampak memiliki calonnya masing-masing, mungkin
kecuali Golkar.
Ini tantangan berat yang tentu tidak mustahil bisa ditaklukkan oleh
Rizal. Tantangan berikutnya adalah meyakinkan publik bahwa dia adalah
kandidat paling tepat untuk menjadi presiden mendatang. Saya sudah
mengemukakan alasan-alasan kenapa Rizal adalah pilihan yang tepat
untuk Indonesia mendatang. Selebihnya, Rizal akan diuji untuk
mengeluarkan seluruh energi dan jurus-jurusnya untuk meyakinkan
publik.
Rizal, go ahead, you have my vote!
Ulil Abshar-Abdalla
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]