anda itu al munafiqun, sesat menyesatkan


----- Original Message ----
From: si pitung <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, July 14, 2008 15:59:17
Subject: Re: [ppiindia] Yang Penting Mandiri - "Saatnya Kaum Muda Memimpin: 
Siapa mau menyusul?


ente koq gitu bgt? terserah donk, ni khan negara demokratis, terserah orang mo 
ngomong ape, apalagi klo cuma omongan.

----- Original Message ----
From: Peter Sleman <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Sent: Monday, July 14, 2008 1:06:59 PM
Subject: Re: [ppiindia] Yang Penting Mandiri - "Saatnya Kaum Muda Memimpin: 
Siapa mau menyusul?

ente kok bgt?, terserah org lain mo jd apa, yg ptg ada gak yg milih!.
jd di negera demokratis terserah org mo jd apa, apalg kalo msh cita2.

kalo sip pitung ini paling bs nya jd teroris.

----- Original Message ----
From: si pitung <sipitung68@ yahoo. com>
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Sent: Monday, July 14, 2008 11:36:03
Subject: Re: [ppiindia] Yang Penting Mandiri - "Saatnya Kaum Muda Memimpin: 
Siapa mau menyusul?

yg model begituan mo jd presiden, kaga tau malu tuh orang :)

----- Original Message ----
From: A Nizami <[EMAIL PROTECTED] com>
To: ekonomi-nasional@ yahoogroups. com; Indonesia Raya <indonesiaraya@ 
yahoogroups. com>; [EMAIL PROTECTED] s.com; sabili <[EMAIL PROTECTED] . com>
Sent: Monday, July 14, 2008 10:39:08 AM
Subject: [ppiindia] Yang Penting Mandiri - "Saatnya Kaum Muda Memimpin: Siapa 
mau menyusul?

Bagi saya bukan masalah mudanya.
Buat apa muda kalau hanya menjadi agen Amerika dan menjadikan Indonesia sebagai 
sapi perahan AS?

Yang penting adalah pemimpin yang bisa membuat Indonesia mandiri mengolah 
sendiri kekayaan alamnya sehingga hasilnya bisa dinikmati sebesar2nya untuk 
kemakmuran rakyat. Terserah mau muda, sedang, atau tua.

Salam

--- On Sun, 7/13/08, fadhli yafas <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
From: fadhli yafas <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [LISI] "Saatnya Kaum Muda Memimpin: Siapa mau menyusul?
To: [EMAIL PROTECTED] com
Date: Sunday, July 13, 2008, 7:52 PM

ini rizal yg menjadi timnya exxon mobile utk minyak cepu? yg mengakibatkan 
minyak bumi indonesia dikuasai amerika? si Rizal yg dengan freedom institutenya 
mendukung kenaikan harga minya? well, siap-siap saja negeri ini makin manut ke 
Amerika dan harga minyak bakal naik lagi kalau dia yg jadi presiden.

============ ========= ========= =========

Koboi AKKBB in action ! klik disini (http://fadhliyafas. blogspot. com/2008/ 
06/koboi- dari-akkbb. html)

( ) "....Kemudian akan ada khilafah rasyidah yang sesuai dengan manhaj kenabian 
(HR. Imam Ahmad)

( ) Download gratis kitab2 B. Arab dari Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Bukhari, 
Imam Muslim, Imam 

Syaukani, Imam Suyuthi dll di www.saaid.net atau www.almeshkat. net

( ) Alhamdulillah akhirnya punya blog juga (fadhliyafas. blogspot. com)

( ) Beragam aplikasi untuk PPC dan Cellular (segalarupa. blogspot. com)

----- Original Message ----

From: Tatang muttaqin <[EMAIL PROTECTED] com>

To: alumni unpad unpad <milis-ika-unpad@ yahoogroups. com>; fikom_unpad@ 
yahoogroups. com; milis fikom <fikomunpad92@ yahoogroups. com>; [EMAIL 
PROTECTED] ups.com; alumnirancabogo@ yahoogroups. com; alumnisabang17@ 
yahoogroups. com; [EMAIL PROTECTED] com

Sent: Monday, July 14, 2008 9:44:03 AM

Subject: [LISI] "Saatnya Kaum Muda Memimpin: Siapa mau menyusul?

Temans yang baik,

Genderang kampanye politik sudah dimulai, dan selama 9 bulan kita akan 
menyaksikan serunya pertandingan politik. Smoga dapat menghibur seperti piala 
Eropa.....:)

Di tengah 'derasnya' hasrat kepemimpinan baru dan muda, salah seorang telah 
memulainya. Semoga menjadi stimulan bagi kaum muda yang lainnya. 

Salam hangat, Tatang

RIZAL MALLARANGENG FOR PRESIDENT -- You have my vote!

BEBERAPA waktu lalu, beberapa tokoh muda di Jakarta mendeklarasikan

suatu gerakan dengan tema "Saatnya Kaum Muda Memimpin". Deklarasi itu,

menurut saya, bagus sekali. Memang, harus terjadi peremajaan dalam

kepemimpinan politik di negeri kita. Kalau tidak, maka kita akan

terjerembab kedalam "gerontokrasi" , yakni kepemimpinan orang-orang tua

yang, memang, umumnya bijaksana tetapi, terus terang, sudah kekurangan

"sentuhan" dengan perkembangan dan gerak nadi sejarah; "out of touch

with the history".

Dengan seluruh apresiasi saya pada gerakan yang sangat baik itu,  ada

beberapa kelemahan pokok dalam gerakan itu.

Pertama, anak-anak muda yang mengusung ide itu tidak menyadari bahwa

telah terjadi arus "peremajaan" dalam kepemimpinan politik kita,

minimal seperti terjadi dalam partai-partai politik sekarang. Banyak

anak muda yang dengan mengesankan menjadi tokoh-tokoh politik yang

cukup baik. Hal ini bisa kita lihat dalam sejumlah partai, seperti

PKB, PPP, PDIP, PAN, dll.

Kalau yang dimaksud "kaum muda memimpin" adalah anak-anak muda yang

menggerakkan ide tersebut, ya itu urusan lain. Saya kira, yang

dimaksudkan dengan istilah itu adalah bukan sekedar "kaum muda" yang

membuat gerakan tersebut, tetapi kaum muda secara umum. Oleh karena

itu, siapa saja yang masuk dalam definisi kaum muda bisa maju dan

mempersiapkan diri menjadi pemimpin.

Kedua, istilah "kaum muda memimpin" masih sangat kabur dan bisa

ditafsirkan macam-macam. Memang ada segi positifnya pengertian frasa

itu dibiarkan seperti apa adanya, kabur dan ambigu. Tetapi, menurut

saya haruslah diberilah semacam "isyarat" apa yang dimaksudkan dengan

"memimpin" di sana. Menurut saya, tanpa harus dikatakan, sebetulnya

apa yang dimaksud dengan "memimpin" adalah menduduki jabatan politik

tertinggi dalam negeri kita, yaitu RI-1 atau presiden.

Saya menduga, pengertian inilah yang tampaknya dimaksudkan oleh para

penggerak ide di atas. Sebab, jika yang dimaksudkan dengan "memimpin"

adalah pengertiannya yang umum, sebetulnya sudah banyak kaum muda yang

masuk dalam sektor-sektor kepemimpinan dalam masyarakat, baik dalam

ranah politik atau non-politik.

Ketiga, kelemahan pokok gerakan itu adalah bahwa anak-anak muda yang

mengusung ide tersebut sama sekali tak menyebut siapa anak-anak muda

yang mereka anggap layak menjadi "pemimpin", i.e. presiden. Mereka tak

mencoba membangun "mesin politik" untuk mewujudkan cita-cita politik

itu.

Salah satu fakta yang jarang disadari oleh kalangan muda sendiri

sekarang adalah bahwa tak ada seorang tokoh muda pun saat ini yang

cukup "standing out", cukup menonjol, cemlorot, di atas rata-rata, dan

semua orang memberikan pengakuan yang memadai sehingga kalau yang

bersangkutan maju sebagai calon pemimpin (baca: presiden), maka semua

orang akan "marching" atau "siap-satu-barisan" (istilah ini metaforis

saja, jangan dimengerti secara harafiah) untuk mendukungnya.

Saat ini memang ada beberapa anak muda yang lumayan menonjol. Tetapi,

kita harus jujur saja, tokoh-tokoh yang ada itu tidak kelihatan

"spesial" sekali. Dengan kata lain, di satu pihak ada kehendak kuat di

kalangan anak-anak muda untuk memimpin negeri ini, tetapi di pihak

lain tidak tersedia "materi" atau bahan mentah yang cukup di kalangan

mereka untuk menjadi pemimpin.

Itulah sebabnya gerakan kemaren itu tampaknya, mohon maaf, seperti

semacam "wishful thinking" saja, alias berharap-harap yang hanya

sebatas "keinginan"  tanpa didukung oleh kondisi objektif.

Tak heran jika gerakan kemaren itu mendapat tanggapan yang "lukewarm"

atau hangat-hangat tahi ayam saja dari kalangan partai politik. Bahkan

Wapres Jusuf Kalla dan beberapa tokoh politik lain saat itu

mengemukakan tanggapan yang agak kurang antusias, untuk tak mengatakan

sinis.

Bermain dalam dunia politik harus "strike the balance" atau menempuh

keseimbangan antara cita-cita --dan yang namanya cita-cita, tentu

boleh muluk-muluk- - dan kenyataan objektif. Orang-orang yang bijaksana

sering berpetuah bahwa yang disebut "berpolitik" adalah memainkan

semacam seni untuk mencapai "yang mungkin".

"Mencapai yang mungkin" terjadi karena tokoh politik bersangkutan

mengerti dengan baik titik-titik di mana terjadi pertemuan antara

kondisi ideal yang dicita-citakan dengan kenyataan objektif. Hal ini

mudah dikatakan, tetapi sulit dilaksanakan dalam kenyataan kongkrit.

Yang kerapkali terjadi adalah, dan ini sering saya lihat di kalangan

anak-anak muda, "kemauan besar, tenaga kurang," untuk meminjam istilah

yang agak berbau-bau (maaf) "viagra" yang sering dipakai di kalangan

masyarakat Jakarta saat ini.

SEJAK dideklarasikannya gerakan "kaum muda memimpin" itu, saya sudah

menunggu-nunggu dengan sedikit resah, siapa "cah nom" atau anak muda

yang dengan sigap, niat-kuat-bulat, penuh determinasi, dan kompeten

yang berani mengajukan diri sebagai calon presiden. Hingga detik-detik

terakhir, saya tak mendengar satupun anak-muda, terutama dari kalangan

yang mencetuskan ide di atas, yang berani tampil ke muka.

Hingga akhirnya, beberapa waktu lalu, di luar dugaan, saya mendapat

kabar dari teman-teman di Jakarta bahwa Rizal Mallarangeng -- yang

kerap kami panggil Celli itu-- berniat untuk maju dari barusan

anak-muda untuk menjadi kandidat presiden. Sungguh saya tak siap

menerima kabar ini.

Selama ini, Rizal sudah akrab dengan dunia politik, meskipun selalu

bermain dari balik layar. Tetapi Rizal belum pernah secara terbuka

masuk ke dalam gelanggang politik di barisan kursi depan.

Rizal, sepanjang pengalaman saya bergaul selama ini, adalah pekerja

gigih, mempunyai determinasi tinggi, memiliki bacaan tentang

teori-teori politik yang kuat, tetapi juga mengerti dengan baik betapa

rumitnya gelanggang politik kongkret dalam dunai sehari-hari. Di mata

saya, dialah orang yang mengerti dengan baik apa makna politik sebagai

"seni bermain dengan yang mungkin" itu.

Kualitas pada Rizal yang menurut saya layak disebut adalah kemampuan

bahasa Inggrisnya yang baik (kualitas yang dibutuhkan untuk pergaulan

politik internasional saat ini), juga kemampuannya untuk memainkan

diplomasi yang elegan. Rizal adalah seorang "lobbyist" yang setahu

saya sangat pandai.

Dia mempunyai "warna suara" yang dibutuhkan oleh seorang orator yang

baik. Kemampuannya untuk menyampaikan pidato yang baik, di mata saya,

sangat mengesankan. Saat Rizal menyampaikan sebuah pidato, seseorang

merasa "dilibatkan" . Inilah salah syarat penting dari seorang orator

yang baik.

Menyaksikan dari dekat (jangan salah: maksudnya lewat televisi) proses

pemilu untuk presiden 2008 di Amerika Serikat saat ini, saya sadar

pentingnya sebuah orasi atau pidato dalam dunia politik. Memang orasi

bukanlah segala-segalanya. Tetapi orasi adalah piranti penting dalam

sebuah proses politik di masyarakat yang demokratis, sebab politik

juga adalah sebuah seni untuk membujuk publik. Hanya dalam masyarakat

yang otoriter dan tertutup saja, seni orasi dibenci, sebab

segalanya-galanya ditentukan melalui sebuah komando. Publik tak perlu

dibujuk, tetapi dipaksa.

Menurut saya, politik kita di Indonesia saat ini kering dari orasi

yang baik, cerdas, dan menggugah, persis seperti yang saya saksikan

saat Barack H. Obama memberikan pidato yang mengulas soal ras berjudul

"A More Perfect Union" yang ia sampaikan pada 18 Maret 2008 di

Contitution Centre, Philadelphia.

Demi Tuhan, saya menangis saat mendengarkan pidato itu. Inilah pidato

yang menggabungkan semua elemen yang dibutuhkan untuk sebuah orasi

yang akan terus diingat oleh publik, orasi seorang "vurtuoso": seni

berkata-kata yang tinggi, kecerdasan, keluasan wawasan, menggugah,

akting panggung/podium yang lihai, permaian dengan intonasi, dan

kecerdasan bermain dengan kalimat-kalimat yang "quotable" atau layak

dikutip dan karena itu diingat.

Usai mendengar pidato Obama itu, saya langsung berpikir: ini bukan

sekedar pidato, tetapi pendidikan politik bagi publik. Saya bertemu

dengan banyak kawan di Amerika, dan mereka selalu ingat pidato itu.

Pidato Obama itu mengingatkan publik di Amerika akan orasi legendaris

yang pernah disampaikan oleh Presiden John F. Kennedy pada 12

September 1960 di Greater Houston Ministerial Association. Saat itu,

Kennedy dengan jantan dan cerdas menghadapi isu kontroversial mengenai

kepercayaan dia sebagai seorang Katolik.

Saya memandang, bahwa Rizal mempunyai kualitas-kualitas yang

membuatnya bisa mengetengahkan pidato politik yang cerdas dan

menggugah publik seperti itu--sesuatu yang dibutuhkan untuk pendidikan

politik bagi publik kita.

Seorang tokoh politik yang baik adalah ia yang tidak semata-mata taat

dan menurut saja pada kemauan politik, walaupun kemauan atau opini

publik itu berlawanan dengan sesuatu yang ia anggap benar. Tentu

seorang tokoh politik tidak boleh mengabaikan opini publik, tetapi

tokoh yang baik adalah ia yang berani melawan opini itu seandainya

memang opini tersebut justru membahayakan kepentingan bangsa dan

kemanusiaan.

Mendayung dengan melawan arah opini publik sangat tidak mudah. Kita

lihat saat ini para tokoh politik kita membuat terlalu banyak kompromi

di berbagai bidang, terutama dalam wilayah yang menyangkut dasar-dasar

pokok dari konstitusi kita. Kompromi itu dibuat karena khawatir akan

kehilangan dukungan dari konstituen "agama" terbesar di negeri kita.

Kita perlu seorang tokoh politik yang bisa memainkan keseimbangan

antara  "mendengarkan" opini publik, dan keberanian mengatakan "tidak"

jika opini itu melawan kepentingan bangsa.

Saya melihat potensi itu pada Rizal.

Dengan kualitas-kualitas seperti itu, saya cukup heran kenapa Rizal

selama ini tidak mengambil keputusan untuk maju ke depan dari barisan

anak-anak muda, mencalonkan diri sebagai pemimpin bangsa ini. Dengan

kebiasaan Rizal selama ini untuk selalu bermain "di balik layar", saya

menduga, mungkin ia memang memilih peran seperti itu.

Tetapi dugaan saya itu salah. Rizal ternyata sekarang telah mengambil

keputusan lain, dan saya anggap itu adalah keputusan yang baik dan

tepat pada waktunya. Ia telah dengan berani mencalonkan dirinya

menjadi kandidat presiden.

Rizal lahir pada 29 Oktober 1964. Dengan demikian, ia sekarang berumur

44 tahun. Saat ini, Barack Obama yang sudah definitif menjadi calon

presiden AS dari Partai Demokrat, berumur 47 tahun (ia lahir 4 Agustus

1961). Pada saat John F. Kennedy terpilih menjadi presiden Amerika

Serikat pada 1960, mengalahkan calon dari Partai Republik, Richard

Nixon, ia berumur 43 tahun. Rentang umur antara 40 dan 50 tahun adalah

usia yang sangat ideal untuk menjadi tokoh politik.

Rizal memenuhi kondisi ideal itu. Jika Rizal mampu meyakinkan publik

bahwa dialah kandidat yang tepat untuk memimpin negeri ini, dan

benar-benar terpilih menjadi presiden pada pemilu mendatang, maka dia

akan menjadi presiden termuda dalam sejarah Indonesia, sebagaimana

John F. Kennedy adalah presiden termuda dalam sejarah Amerika Serikat.

Tantangan terbesar yang harus dihadapi Rizal adalah partai politik

mana yang akan mencalonkan dirinya. Rizal secara teknis saat ini

bukanlah bagian dari partai manapun. Sementara itu, partai-partai

besar saat ini sudah tampak memiliki calonnya masing-masing, mungkin

kecuali Golkar.

Ini tantangan berat yang tentu tidak mustahil bisa ditaklukkan oleh

Rizal. Tantangan berikutnya adalah meyakinkan publik bahwa dia adalah

kandidat paling tepat untuk menjadi presiden mendatang. Saya sudah

mengemukakan alasan-alasan kenapa Rizal adalah pilihan yang tepat

untuk Indonesia mendatang. Selebihnya, Rizal akan diuji untuk

mengeluarkan seluruh energi dan jurus-jurusnya untuk meyakinkan

publik.

Rizal, go ahead, you have my vote!

Ulil Abshar-Abdalla

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

    

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke