http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/Kekerasan_Tim_Tim2008071\
4



Indonesia Akui Bersalah Soal Kekerasan Tim-Tim Tahun 1999

Radio Nederland Wereldomroep

14-07-2008

Indonesia Akui Bersalah Soal Kekerasan TimTim Tahun 1999 
<http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/id_tossi_laporan_kkp_20080714_44\
_1kHz.mp3>

Pemerintah akan mengakui kesalahan lembaga TNI dalam kekerasan di Timor
Timur seputar referendum tahun 1999. "Kami akan menerima laporan
(Komisi-bersama Indonesia dan Timor Leste untuk Kebenaran dan
Persahabatan, KKP) dan melaksanakan sejumlah rekomendasinya," demikian
pernyataan Deplu, Sabtu lalu. Laporan KKP yang resminya Selasa ini akan
diterima kedua Kepala Negara, Susilo Bambang Yudhoyono dan José
Ramos-Horta di Denpasar, menyimpulkan, kekerasan itu merupakan kesalahan
kelembagaan, yang terjadi karena Indonesia tengah mengalami sulitnya
transisi kekuasaan. Tapi tepatkah alasan yang demikian itu?

Laporan koresponden Aboeprijadi Santoso, dari Jakarta.

Laporan KKP, berjudul "Per Memoriam Ad Spem" yang berarti "Dari Ingatan
Menuju Harapan" dan mencapai 300an halaman itu, merupakan laporan yang
serius, namun pada intinya, tak banyak hal yang baru. Ada konsensus
kedua negara, ada kesalahan kelembagaan, bukan kesalahan perorangan, dan
ini harus diperbaiki. Komisaris KKP, Letjen Pur. Agus Widjojo, sudah
mengungkapnya kepada Radio Nederland Wereldomroep, akhir April yang lalu
:

Agus Widjojo: Komisi ini berbahagia dan patut berbangga bahwa semua
temuan komisi itu didapat melalui konsensus. Karena harus merupakan
kesepakatan bersama. Untuk selanjutnya kita mencari tanggung jawab
kelembagaan. Itu memang merupakan mandat yang harus ditemukan oleh
komisi ini, sehingga memang komisi ini berakhir dengan memberikan
jawaban siapa lembaga yang bertanggungjawab.

Lembaga yang bertanggungjawab tak lain adalah TNI yang pada zaman itu
masih menyebut diri ABRI. Dengan keharusan konsensus dan kesepakatan
menuding lembaga, maka Laporan KKP mau-tak-mau lebih merupakan dokumen
politik-diplomatik antara kedua negara, ketimbang dokumen data empirik
yang lengkap dan terverifikasi.

Hindari tudingan
Ibarat film-film roman gaya tahun 1950an, sejak mula kedua pihak sudah
sepakat ini adalah sebuah cerita yang harus ditutup dengan happy ending,
akhir yang bahagia. Dengan menghindari tudingan kepada pejabat-pejabat
militer bertanggungjawab, maka Indonesia tak perlu menempuh risiko
guncangan politik domestik menjelang pemilu 2009.

Tapi dengan pengakuan bersalah pihak Indonesia, Timor Leste juga
terhibur, karena berhasil menggolkan tudingannya. Presiden SBY dan TNI
rupanya tak ingin ada gejolak baru dengan mengorbankan Jenderal Wiranto,
Mayjen Zacky Anwar Makarim, Mayjen Adam Damiri dan Mayjen Tono Suratman,
misalnya. Sulit bagi Jakarta memang untuk tidak menyalahkan tentaranya,
karena PBB yang tidak mengakui KKP dalam laporan UNAMET pernah
menyimpulkan kesalahan lembaga TNI.

Dan Presiden José Ramos-Horta kini pun dapat berkelit terhadap
kritik-kritik gereja dan masyarakat bahwa pihak Indonesia toh akhirnya
mengaku salah, jadi untuk apa dipersoalkan lagi. Dengan begitu, Laporan
Final KKP ini lebih merupakan bunga-bunga saja bagi suatu persahabatan,
ketimbang upaya menggali kebenaran.

Inilah semacam Finlandisasi gaya Asia, yaitu cara-cara hidup
berdampingan secara damai yang dipaksakan pada dua negara bertetangga,
yang secara geopolitik amat timpang. Indonesia yang membayang-bayangi
Timor Leste menjadi semacam Uni Soviet dulu membayang-bayangi dan
menekan tetangga Finlandia.

Kekerasan
Namun yang menarik, Laporan Final KKP ini menunjuk, para perwira TNI
sendiri memberi pandangan yang berbeda-beda tentang milisi
pro-integrasi, yaitu biang utama kekerasan dan pembakaran Dili. Mantan
Pangdam Udayana Adam Damiri mengatakan Pamswakarsa bukanlah milisi, dan
tidak di bawah TNI. Tetapi Zacky Anwar Makarim mengatakan, Pamswakarsa
terkait tugas Wanra dan Kamra yang dibenarkan undang-undang, sebagai
milisi rakyat dalam sistim pertahanan Sishankamrata. TNI rupanya
kebingungan, tak mempunyai bahasa yang sama dalam memberi pembenaran
kepada keberadaan dan tugas milisi yang dipeliharanya di TimTim.

Pokok lain yang jauh hari sudah ditetapkan KKP sebagai kesepakatan
politik adalah transisi negara di Jakarta sebagai penyebab kekerasan.
April yang lalu Letjen Agus Widjojo pun sudah mematokkan kesimpulan itu.

Agus Widjojo: Kita harus melihat dalam konteks. Kejadian ini terjadi
pada tahun 1999. Peristiwa tersebut terjadi pada masa transisi politik
di Indonesia, yang juga menurunkan perubahan-perubahan di dalam tatanan
kewenangan aparat-aparat keamanan di Indonesia. Sehingga di dalam masa
yang penuh kekacauan dan masa transisi kita melihat adanya sebuah
kelemahan dan kevakuman yang bisa dimanfaatkan juga oleh fihak-fihak
lain yang memang punya kepentingan sehingga terjadilah chaos.

Kesimpulan KKP ini khususnya berlaku bagi polisi yang ketika itu masih
sepenuhnya berada di bawah ABRI. Mantan perwira tinggi polisi Bambang
Widodo yang juga dosen hukum dan kepolisian menjelaskan kebingungan
Kapolda Dili Timbul Silaen.

Bambang Widodo: Saya juga merasakan bagaimana selama tergabung di dalam
ABRI, memang terutama pejabat-pejabat tingginya ya, itu sudah terbentuk
sikap bahwa bekerja dia adalah untuk negara, negara dalam hal ini
pemerintah. Dalam menjalankan tugas ternyata setelah Reformasi ada
tindakan-tindakan yang melanggar HAM, mereka jelas merasa takut sekali.
Karena tidak disadari pada saat awal di ABRI itu bahwa tindakan-tindakan
yang dilakukan sampai melampaui batas-batas rasa kemanusiaan, itu
melanggar HAM pada waktu itu.

Kompromi politik
Tetapi TNI sendiri sama sekali tidak memperlihatkan kebingungan
transisi, malah terbukti menyiapkan milisi sejak November 1998. Banyak
warga Dili seminggu sebelumnya sudah mengetahui, dan lari ke hutan
selepas referendum. Radio Nederland kala itu mencatat kedatangan ratusan
pasukan TNI tambahan sejak hasil referendum diumumkan.

KIPER, yaitu Komite Independen Pemantau Referendum, tim LSM terbesar
dengan 800an pemantau di 13 distrik, yang kinerjanya dipuji Kepala badan
PBB UNAMET, Ian Martin, misalnya mengutip notulen rapat Kodim Baucau
yang memutuskan mengirim 1500an pucuk senjata.

Sidang KKP sendiri mencatat kesaksian pemimpin milisi Fransisco Lopez de
Carvalho mengenai persiapan logistik dan senjata oleh TNI bagi milisi.
Peneliti dan staf UNAMET Geoffrey Robinson menduga tentara dan milisi
mengamuk karena terkejut melihat hasil referendum dan kehadiran dunia
internasional di Dili.

Jadi, sulit mengatakan bahwa aksi-aksi kekerasan itu merupakan cermin
kekalutan transisi TNI dan transisi negara di Jakarta, karena semuanya
seperti sudah terencana sebelumnya.

Walhasil, Laporan Final KKP lebih merupakan kompromi politik guna
mengubur aib dan tragedi kekerasan tahun 1999 untuk selamanya, sekaligus
menjaga persahabatan kedua negara, ketimbang menggali kebenaran.

Jenderal Wiranto pun barangkali sudah memperhitungkan semua ini. "Saya
yakin dia tak akan kaget, meski citranya bisa terganggu," jelas Despen
Ompusunggu, mantan koordinator media Wiranto yang mengenal baik
jenderal, yang partainya, Hanura, lagi naik daun ini. Bagi Presiden SBY,
pengakuan salah pihak RI dapat memicu reformasi TNI tanpa menimbulkan
gejolak di kalangan jenderal purnawirawan seperti Wiranto.

Pantas, di Jakarta ada yang menyimpulkan KKP akhirnya menjadi kemenangan
Jenderal Wiranto dan tantangan ke depan bagi reformasi TNI





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke