Si goen 
  
Setelah membaca catatan pinggir si goen dalam majalah tempo edisi 16-22 Juni 
2008, saya rasakan sel tahanan yang semula sempit dan pengap, berubah menjadi 
luas dan nyaman.. 
  
Tadinya, saya enggan menulis tanggapan ini, tapi karena si goen bertanya dan 
memantang, maka saya gunakan HAK JAWAB saya. Di sini saya sengaja menulis 
namanya dengan singkat "si goen", itu pun cukup dengan huruf kecil. Bagi saya 
huruf besar hanya untuk orang yang besar, apalagi nama MUHAMMAD hanya untuk 
orang mulia. 
  
Saya senang dengan catatan pinggir si goen, bahkan saya sempat tertawa saat 
membacanya. Bagaimana tidak? Bukankah hal yang sangat membahagiakan ketika kita 
mendapatkan "musuh" galau dan panik, apalagi depresi berat, ketakutan dan 
hilang kontrol. 
  
Anehnya, si goen yang selama ini tidak pernah memuji pemerintah, tiba-tiba 
melalui catatan pinggirnya menjilat Polisi, Jaksa, Hakim hingga Presiden. 
Kenapa? Takut atau cari muka? Mungkin si goen sedang depresi, takut dituntut 
dan diperiksa sebagai "biang kerok" insiden Monas? 
 
Atau si goen sedang ketar-ketir kedoknya terbuka sebagai antek asing? Atau si 
goen sedang bingung hilangkan jejak dana asing ratusan juta dolar yang 
diterimanya bersama "gang" akkbb, dari bosnya di amerika, melalui asia 
foundation ford foundation, usaid, ndi, rockefeller, dll? 
  
Lebih anehnya lagi, si goen ingin "menggurui" saya dan Al-Ustadz Asy-Syeikh Abu 
Bakar Ba'asyir tentang iman, ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, dan Pancasila. 
  
Lucu, si goen dan "gerombolannya" yang selama ini mati-matian membela 
pornografi, pornoaksi, sex bebas, homo sex, lesbi, nabi palsu, aliran sesat. 
Bahkan menghina Allah dan Rasul-Nya, memfitnah Iskam dan Al-Qur'an. Dia ingin 
menggurui kami? Itukah "iman" dan "ketuhanan" yang ingin diajarkan si goen 
kepada saya dan Syeikh Ba'asyir?! 
      
      
Sejak kapan si goen mengenal kemanusiaan dan keadilan? Saat "geng" si goen 
"dikemplang bambu" oleh Komando Laskar Islam (KLI) pimpinan Sang Pahlawan 
Munarman, teriakan si goen dan "gerombolannya" keras sekali. 
 
Namun dimana suara mereka untuk ribuan Umat Islam yang "dibantai dengan sadis" 
di Sampit, Sambas, Ambon, dan Poso? Mana pula suaranya untuk Kasus Banyuwangi? 
  
Selain itu, si goen ini getol betul membela pki, bahkan nekat memutar-balikan 
fakta sejarah dengan mengatakan bahwa pki sebagai "korban pembantaian" . 
 
Lalu bagaimana dengan kebiadaban pki yang telah membakar pesantren, membantai 
santri, membunuh kyai, menculik jenderal, mengkhianati negara, mengangkangi 
Pancasila? Kemanusiaan dan keadilan itukah yang ingin ditunjukkan si goen 
kepada saya dan Ustadz Ba'asyir?! 
  
Soal Pancasila, lagi-lagi si goen sok menggurui. Saya ingin bertanya: 
Pancasilais kah orang macam berikut ini: yang membela pki sang pengkhianat 
Pancasila? yang ingin memperkosa kawan gadis "lsm"nya sendiri? yang membayar 
orang miskin untuk demo tentang apa yang tidak mereka paham? yang menipu orang 
kampung dengan janji wisata ke Dunia Fantasi-Ancol, ternyata diajak demo di 
Monas? 
 
Yang membohongi publik dengan publikasi foto Panglima KLI yang sedang mencekik 
anak buahnya sendiri, lalu dipelintir menjadi berita Panglima KLI mencekik 
anggota gerombolan akkbb? 
 
Yang menerima dana asing untuk memecah belah bangsa? Yang menjadi antek asing? 
Yang membentuk atau mendukung lsm-lsm komprador yang menjadi antek asing? Yang  
menjual harkat dan martabat bangsa dengan dolar? 
  
Pantaskah orang macam itu bicara Pancasila? Orang model itukah yang ingin 
menggurui saya dan Amir MMI?!  Memalukan sekali.  Orang yang tidak bermoral 
bicara tentang moral. Orang yang rasis dan fasis berbicara tentang kekeluargaan 
dan persamaan. 
  
Saya ingatkan anda goen: Indonesia memang bukan Arab dan Turki, tapi jangan 
lupa Indonesia bukan amerika! Indonesia memang bukan negara Agama, tapi 
Indonesia juga bukan negara syetan yang kau bisa seenaknya menistakan agama dan 
budaya. 
  
Indonesia adalah Indonesia, negeriku tercinta, yang takkan kubiarkan orang 
macammu untuk merusak dan menghancurkannya. Aku anak Indonesia dan kau gundik 
amerika. 
  
Ingat, orang yang hidupnya hanya berpikir tentang apa yang masuk ke perutnya, 
maka harga dirinya sama dengan apa yang keluar dari perutnya. 
    
Jakarta, 21 Juni 2008 



  
Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab 
Ketua Umum Front Pembela Islam 



      Start at the new Yahoo!7 for a better online experience. 
www..yahoo7.com.au

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke