Salam,

Biar meriah saya kasi tanggapannya


Dimas. 


From: Habe Arifin <habearifin@ yahoo. com>

Subject: Re: [jurnalisme] Re: Habib Rizieq Tentang Tempo

To: [EMAIL PROTECTED] ups.com

Date: Thursday, July 10, 2008, 8:32 AM

Ini memang bukan hak jawab. sebaiknya Rizieq membuat tulisan sendiri 
mengenai 'si goen' itu atau AKKBB dan "tak perlu mengirimkannya ke 
Tempo -- karena pasti tidak akan dimuat. Kirimkan saja ke Sabili atau 
majalah yang kira-kira bisa menerima tulisan Rizieq. Kalau tetap tak 
ada yang memuatnya, ya bikin majalah sendiri saja Bos!! nah kalau 
yang terakhir ini, banyak lo di sini yang bia bantu membuatkan Rizieq 
sebuah majalah. sponsor, ya kan banyak negara petrodolar. masak sih 
gak bisa inves ke Habib Rizieq gitu loch!! hehehe

habe


--- On Thu, 7/10/08, didikelpambudi <didikelpambudi@ yahoo.co. id> 
wrote:

From: didikelpambudi <didikelpambudi@ yahoo.co. id>
Subject: [jurnalisme] Re: Habib Rizieq Tentang Tempo
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com

Date: Thursday, July 10, 2008, 7:37 PM

Kalau igauan yang disebut hak jawab ini dimuat tempo, malah tempo
sudah tak paham lagi dengan apa yang dinamakan hak jawab. 
poinnya, caping gm itu opini. balaslah dengan opini. jadilah polemik.
jika rizik tak mampu menulis opini dengan baik jangan salahkan tempo
yang tak memuatnya.
Hak jawab untuk berita, bung. bukan untuk opini. dan tentu hak jawab
punya struktur dan etika penulisan. bukannya penuh igauan dan makian.

tabik

didik l. pambudi 


From: Sirikit Syah <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, July 11, 2008 6:09:37 AM
Subject: Re: [jurnalisme] Re: Habib Rizieq Tentang Tempo

Betul, menurut saya memang tulisannya tidak layak muat. Sayang ya, 
orang-orang dengan pemikiran yang bisa jadi benar, gagal penyampaian 
karena hambatan bahasa:(Betul juga Uly, kalau saja mereka meng-hire 
saya sebagai penulis atas pikiran-pikiran mereka .... . Kalau 
gratisan aku gak mau dong, saya belum cukup kaya untuk menyumbang 
pada Habib Rizieq. Tapi kalau di-hire secara profesional, akan saya 
pertimbangkan. Kasihan saja. Kadang-kadang banyak orang pintar
berbahasa juga tong kosong nyaring bunyinya, yang pikirannya 
cemerlang gak bisa nulis.
 
Oh ya, tulisan GM yang sangat elegan dan intelek di Caping 
terbarunya, yang menulis -berdasarkan khayalan: "Kami Islam, oleh 
sebab itu kami berhak membunuh!", itu tergolong kasar gak ya?
 
salam,
 
sirikit syah

--- On Thu, 7/10/08, Uly Siregar <zenit_zohal@ yahoo.com> wrote:

From: Uly Siregar <zenit_zohal@ yahoo.com>
Subject: [jurnalisme] Re: Habib Rizieq Tentang Tempo
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Date: Thursday, July 10, 2008, 10:09 AM

Maaf, maaf, nggak bisa nggak komentar. I'm so glad he is not my
leader whatsoever.. . Saya nggak bisa bayangkan punya pemimpin yang
mempermalukan diri sendiri dengan menulis komentar di bawah ini.
Seram rasanya kalau punya pemimpin yang hobi memaki seperti ini...
Duh, coba dia kirim dulu komentarnya ke Sirikit (saya yakin Sirikit
akan dengan senang hati mau membantu) buat dibenahi, jadi nggak
muncul tulisam makian ala warung kopi seperti ini.

Saya percaya salah satu syarat menjadi pemimpin adalah 
intelektualitas, dan salah satu alat ukurnya adalah cara
berkomunikasi, baik verbal maupun non verbal. Semoga Habib Rizieq
(huruf besar bukan karena saya hormat, tapi memang demikian aturan
penulisan;) memiliki kualitas komunikasi verbal yang baik, karena
secara non verbal jelas dia di bawah rata-rata.

Salam

--- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, Chairul Akhmad 
<chairulakhmad@ ...>
wrote:
>
Re: Habib Rizieq Tentang Tempo (to Mbak Sirikit) 

Ya, saya juga setuju dengan saudara Tony. Memang, tampaknya di
Indonesia ini banyak pemuka agama yang merasa dirinya sudah paling
benar. Seakan-akan merekalah yang akan masuk surga. Saya rasa budaya
berdeliberasi pemimpin kita perlu diperbaiki.

--- In [EMAIL PROTECTED], Sirikit Syah <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Saya sangat setuju pendapat Sdr. Tony. Sayang, memang sayang. Sudah
bahasanya buruk, tidak santun pula.
  
> Kalau diminta beramal lillahi ta ala, ke tempat lain aja:). Tapi
kalau dibayar sebagai profesional, dan tak bertentangan dengan
keyakinan/kebenaran, sulit menolaknya:).
  
> sirikit

>

-- In [email protected], riri cute <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>

> Si goen 
>   
> Setelah membaca catatan pinggir si goen dalam majalah tempo edisi 
16-22 Juni 2008, saya rasakan sel tahanan yang semula sempit dan 
pengap, berubah menjadi luas dan nyaman.. 
>   
> Tadinya, saya enggan menulis tanggapan ini, tapi karena si goen 
bertanya dan memantang, maka saya gunakan HAK JAWAB saya. Di sini 
saya sengaja menulis namanya dengan singkat "si goen", itu pun cukup 
dengan huruf kecil. Bagi saya huruf besar hanya untuk orang yang 
besar, apalagi nama MUHAMMAD hanya untuk orang mulia. 
>   
> Saya senang dengan catatan pinggir si goen, bahkan saya sempat 
tertawa saat membacanya. Bagaimana tidak? Bukankah hal yang sangat 
membahagiakan ketika kita mendapatkan "musuh" galau dan panik, 
apalagi depresi berat, ketakutan dan hilang kontrol. 
>   
> Anehnya, si goen yang selama ini tidak pernah memuji pemerintah, 
tiba-tiba melalui catatan pinggirnya menjilat Polisi, Jaksa, Hakim 
hingga Presiden. Kenapa? Takut atau cari muka? Mungkin si goen sedang 
depresi, takut dituntut dan diperiksa sebagai "biang kerok" insiden 
Monas? 
>  
> Atau si goen sedang ketar-ketir kedoknya terbuka sebagai antek 
asing? Atau si goen sedang bingung hilangkan jejak dana asing ratusan 
juta dolar yang diterimanya bersama "gang" akkbb, dari bosnya di 
amerika, melalui asia foundation ford foundation, usaid, ndi, 
rockefeller, dll? 
>   
> Lebih anehnya lagi, si goen ingin "menggurui" saya dan Al-Ustadz 
Asy-Syeikh Abu Bakar Ba'asyir tentang iman, ketuhanan, kemanusiaan, 
keadilan, dan Pancasila. 
>   
> Lucu, si goen dan "gerombolannya" yang selama ini mati-matian 
membela pornografi, pornoaksi, sex bebas, homo sex, lesbi, nabi 
palsu, aliran sesat. Bahkan menghina Allah dan Rasul-Nya, memfitnah 
Iskam dan Al-Qur'an. Dia ingin menggurui kami? Itukah "iman" 
dan "ketuhanan" yang ingin diajarkan si goen kepada saya dan Syeikh 
Ba'asyir?! 
>       
>       
> Sejak kapan si goen mengenal kemanusiaan dan keadilan? Saat "geng" 
si goen "dikemplang bambu" oleh Komando Laskar Islam (KLI) pimpinan 
Sang Pahlawan Munarman, teriakan si goen dan "gerombolannya" keras 
sekali. 
>  
> Namun dimana suara mereka untuk ribuan Umat Islam yang "dibantai 
dengan sadis" di Sampit, Sambas, Ambon, dan Poso? Mana pula suaranya 
untuk Kasus Banyuwangi? 
>   
> Selain itu, si goen ini getol betul membela pki, bahkan nekat 
memutar-balikan fakta sejarah dengan mengatakan bahwa pki 
sebagai "korban pembantaian" . 
>  
> Lalu bagaimana dengan kebiadaban pki yang telah membakar pesantren, 
membantai santri, membunuh kyai, menculik jenderal, mengkhianati 
negara, mengangkangi Pancasila? Kemanusiaan dan keadilan itukah yang 
ingin ditunjukkan si goen kepada saya dan Ustadz Ba'asyir?! 
>   
> Soal Pancasila, lagi-lagi si goen sok menggurui. Saya ingin 
bertanya: Pancasilais kah orang macam berikut ini: yang membela pki 
sang pengkhianat Pancasila? yang ingin memperkosa kawan 
gadis "lsm"nya sendiri? yang membayar orang miskin untuk demo tentang 
apa yang tidak mereka paham? yang menipu orang kampung dengan janji 
wisata ke Dunia Fantasi-Ancol, ternyata diajak demo di Monas? 
>  
> Yang membohongi publik dengan publikasi foto Panglima KLI yang 
sedang mencekik anak buahnya sendiri, lalu dipelintir menjadi berita 
Panglima KLI mencekik anggota gerombolan akkbb? 
>  
> Yang menerima dana asing untuk memecah belah bangsa? Yang menjadi 
antek asing? Yang membentuk atau mendukung lsm-lsm komprador yang 
menjadi antek asing? Yang  menjual harkat dan martabat bangsa dengan 
dolar? 
>   
> Pantaskah orang macam itu bicara Pancasila? Orang model itukah yang 
ingin menggurui saya dan Amir MMI?!  Memalukan sekali.  Orang yang 
tidak bermoral bicara tentang moral. Orang yang rasis dan fasis 
berbicara tentang kekeluargaan dan persamaan. 
>   
> Saya ingatkan anda goen: Indonesia memang bukan Arab dan Turki, 
tapi jangan lupa Indonesia bukan amerika! Indonesia memang bukan 
negara Agama, tapi Indonesia juga bukan negara syetan yang kau bisa 
seenaknya menistakan agama dan budaya. 
>   
> Indonesia adalah Indonesia, negeriku tercinta, yang takkan 
kubiarkan orang macammu untuk merusak dan menghancurkannya. Aku anak 
Indonesia dan kau gundik amerika. 
>   
> Ingat, orang yang hidupnya hanya berpikir tentang apa yang masuk ke 
perutnya, maka harga dirinya sama dengan apa yang keluar dari 
perutnya. 
>     
> Jakarta, 21 Juni 2008 
> 
> 
> 
>   
> Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab 
> Ketua Umum Front Pembela Islam 
> 
> 
> 
>       Start at the new Yahoo!7 for a better online experience. 
www..yahoo7.com.au
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke