Essay - MENUJU JURNALIS MULTIMEDIA
Oleh Satrio Arismunandar
Saya beruntung menghadiri acara peluncuran buku “Manusia Komunikasi, Komunikasi
Manusia” di Wisma Antara, Jakarta, hari Sabtu (12 Juli 2008). Buku yang berisi
kumpulan tulisan para akademisi ilmu komunikasi dan praktisi media itu dicetak
oleh grup penerbitan Kompas, untuk memperingati 75 tahun Prof. Dr. M. Alwi
Dahlan.
Alwi Dahlan adalah pakar ilmu komunikasi dari Universitas Indonesia, yang
pernah menjadi Menteri Penerangan RI dan Ketua BP7. Karena karirnya yang
panjang di dunia akademis dan di birokrasi pemerintahan, tak heran jika banyak
mantan mahasiswa dan sejawatnya, yang berpartisipasi dalam penulisan buku itu,
sekaligus hadir sebagai undangan di acara peluncurannya.
Saya tak pernah jadi mahasiswa ilmu komunikasi, tetapi hadir di situ karena
mewakili atasan saya, DR. Ishadi SK, Dirut Trans TV yang juga murid Prof. Alwi
Dahlan. Memberi sambutan di acara itu, Jakob Oetama, pimpinan KKG (Kelompok
Kompas Gramedia). Saya juga bertemu beberapa mantan senior saya di Kompas,
seperti: August Parengkuan, St. Sularto, dan J. Osdar. Juga mantan atasan saya
di Harian Media Indonesia, Dja’afar Assegaff.
Di luar acara seremonial, sambutan Jakob Oetama saya pikir menarik. Tokoh pers
dan salah satu guru saya di bidang jurnalistik ini mengatakan, perkembangan
media yang disertai cepatnya perubahan teknologi informasi di dunia saat ini,
secara umum bisa dijelaskan dengan tiga kata sifat: global, serentak, dan
interaktif.
Media semakin bersifat global. Sebuah peristiwa di satu ujung dunia, bisa
diketahui oleh bagian dunia lain, karena sifat media yang sudah mengglobal
tersebut. Sampainya sebuah informasi ke audiens itu juga terjadi secara
serentak atau seketika, berkat perkembangan teknologi informasi, seperti
internet atau satelit siaran langsung. Kemudian, arah perkembangan media
informasi sekarang juga semakin bersifat interaktif, bukan lagi satu arah
seperti sebelumnya.
Di sela-sela acara, saya bertanya kepada mas Sularto (STS), yang kebetulan
duduk di sebelah saya, apakah betul bahwa KKG sekarang bergerak ke arah
jurnalisme multimedia. Misalnya, dengan diluncurkannya format baru
htt://www.kompas.com baru-baru ini. Juga, diluncurkannya versi digital dari
Harian Kompas versi cetak. Saya menyimpulkan, sadar atau tak sadar, wartawan
media cetak Kompas sebetulnya praktis sudah menjadi wartawan media online,
karena semua tulisan mereka kini bisa diakses dengan mudah secara online, yang
isinya persis sama dengan versi cetaknya. STS mengiyakan.
STS juga menjelaskan, kini para wartawan kompas.com sudah dibekali sekitar 70
ponsel beraplikasi BlackBerry. Lewat sarana canggih tersebut, para wartawan ini
bisa langsung menulis dan mengirim berita dari lapangan. Beritanya juga bisa
langsung dimuat di Kompas versi online, sesudah diedit secara cepat oleh
redaktur.
Jadi, era di mana sehabis meliput, si wartawan harus buru-buru pulang ke
kantor, mengetik berita, dan menyerahkan naskahnya ke redaktur untuk diedit,
itu pada prinsipnya sudah berlalu. Meskipun, untuk edisi cetak, pola kerja
seperti itu masih digunakan. Namun, trennya pola kerja seperti itu akan semakin
ditinggalkan.
Jika benar demikian, Kompas mungkin termasuk salah satu media nasional, yang
merintis penggunaan aplikasi BlackBerry pada ponsel atau handset, bagi
penulisan dan pengiriman berita oleh para wartawannya ke kantor pusat. Di masa
mendatang, hal-hal semacam ini akan menjadi kelaziman yang biasa saja.
Sedangkan para wartawannya sendiri, mungkin akan berkembang sesuai tuntutan
kebutuhan, menjadi “jurnalis multimedia.” Saya membayangkan, media yang akan
diadopsi meluas di masa depan, adalah media yang unsur-unsur penyajiannya
paling “lengkap,” dalam arti memadukan unsur teks, grafis, suara, dan gambar.
Artinya, memadukan unsur-unsur yang selama ini secara terpisah menjadi
keunggulan media cetak, media radio, dan media televisi. Berkat teknologi,
keterpaduan semacam ini sudah dimungkinkan sekarang.
Jakarta, 15 Juli 2008
Satrio Arismunandar