The Legacy of 'Urang Awak'
oleh : akmal (http://akmal.multiply.com/journal/item/683)



assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Ketika mempresentasikan makalah berjudul Metode Pendidikan Islam dalam 
Pandangan Buya Hamka, seorang teman mengajukan pertanyaan : “Kita semua tahu 
Buya Hamka adalah seorang tokoh ulama besar.  Tapi mengapa sampai kini belum 
ada penggantinya?”
 
Pertanyaan bagus.
 
Saya pun memberikan jawaban sejujurnya.  Sebagai generasi 80-an, terus terang 
saya tidak tahu banyak tentang Buya Hamka.  Sebagai catatan, saya lahir pada 
tahun yang sama dengan wafatnya beliau, yaitu 1981.  Memang
saya tak pernah sempat berinteraksi secara langsung dengan dakwah
beliau, namun menjadi pertanyaan besar kiranya jika dalam kurun waktu
beberapa tahun saja karya-karya tulis beliau telah ‘tenggelam’ begitu
saja dimakan jaman, sehingga generasi saya nyaris tak mengenalnya.  Well, semua 
orang tahu Buya Hamka adalah orang baik, ulama besar, orator handal, penulis 
kampiun, tapi seberapa banyak sih orang generasi sekarang yang menyelami 
pemikiran beliau?
 
Menariknya, selain Buya Hamka, ada tokoh besar lainnya yang lahir pada tahun 
yang sama, yaitu pada tahun 1908.  Tokoh tersebut – yang lahir hanya lima bulan 
setelah Buya Hamka – adalah Mohammad Natsir.  Hamka lahir pada tanggal 17 
Februari, sementara M. Natsir menyusul pada tanggal 17 Juli.
 
Kedua tokoh ini telah mengharumkan nama urang awak ke seantero jagat.  Banyak 
orang yang akan protes jika Indonesia mengklaim keduanya sebagai ulama milik 
bangsa, karena banyak yang merasa memilikinya.  Nama Hamka sudah dikenal di 
seluruh Asia Tenggara, sementara M. Natsir adalah pemimpin de facto bangsa 
Indonesia dalam pandangan para ulama Timur Tengah.  Sama-sama urang awak, 
sama-sama ulama besar, sama-sama membanggakan Republik Indonesia, dan sama-sama 
mengagumkan dari segala sisi kehidupannya.
 
Buya
Hamka adalah ulama yang sastrawan, seorang pecandu buku, pembelajar
otodidak yang sangat luar biasa, ulama yang dicintai dan disegani,
bahkan ditakuti oleh dua presiden RI yang berkuasa di Orde Lama dan
Orde Baru.  Sekolahnya tidak tinggi, tapi ia diangkat menjadi Doktor oleh 
Universitas Al-Azhar, Mesir.  Pengakuan lain datang dari Malaysia, dan tentu 
saja juga dari Indonesia.  Almarhum Papa saya memberikan gambaran tentang 
beliau, “Di tahun 60-an dan 70-an, Jakarta hanya bisa sepi karena dua hal.  
Pertama, kalau pertandingan Muhammad Ali disiarkan di TV.  Kedua, kalau ceramah 
Buya Hamka disiarkan di TV atau radio.”
 
Cukup jelas, kan?
 
Nah, M. Natsir memiliki track record yang lain lagi.  Beliau bukan muballigh 
spesialis
yang memiliki kharisma sedahsyat Hamka, namun kalau bicara soal dakwah
Nusantara di jamannya, adalah suatu kezaliman jika tidak menyebut nama
beliau.  Natsir adalah tokoh yang nampak ‘di
belakang layar’ di Indonesia, namun di kancah dakwah internasional,
nama Natsir bahkan lebih terkenal daripada Indonesia itu sendiri.  Berkali-kali 
beliau memegang jabatan tinggi di antara ulama internasional.  Bahkan
Buya Hamka pun mengakui bahwa dalam setiap perjalanannya ke Timur
Tengah, semua orang pasti menanyakan Natsir, Natsir, dan Natsir..  
 
Antara kedua tokoh besar ini memang terjalin ikatan kasih sayang yang amat 
mengharukan.  Natsir sering menjadikan Hamka sebagai rujukan, sementara Hamka 
senantiasa memuji-muji Natsir dalam banyak artikelnya.  Dua-duanya sama-sama 
rendah hati dan saling mendahulukan satu sama lainnya.
 
Membayangkan kedua tokoh ulama sekaliber mereka hidup bersama di satu negara 
saja sudah membuat bulu kuduk saya berdiri.  Merinding rasanya.  Kalau negeri 
ini bisa menjaga ‘kuota’ untuk selalu memiliki seorang Hamka dan seorang Natsir 
dalam waktu yang bersamaan....
 
Subhaanallaah, saya tak mampu membayangkan!
 
Kembali pada pertanyaan semula (yang sedikit dimodifikasi) : mengapa Buya Hamka 
dan M. Natsir belum ada penerusnya?  Kalau melihat track record yang luar biasa 
dari kedua tokoh urang awak ini, rasanya memang tidak wajar jika 
pemikiran-pemikirannya sirna
begitu cepat, sampai-sampai generasi 80-an tidak banyak yang
mendalaminya.  Jelas sekali ada fabrikasi sejarah ; pengaburan fakta secara 
sistematis yang menyebabkan masyarakat Indonesia tercerai dari sejarah besar 
para ulamanya.
 
Memang sangat mencurigakan.  Mengapa
tulisan-tulisan Buya Hamka yang nilainya begitu tinggi (dari sisi
pemikiran dan sastra) kini begitu susah ditemukan di toko-toko buku
terkemuka?  Ketika saya menemukan sebagian karya
tulisnya di perpustakaan Pascasarjana UIKA, saya menemukan
pemikiran-pemikiran yang begitu segar, meskipun saya membacanya lebih
dari tiga puluh tahun setelah buku itu ditulis.  Masalah-masalah
yang kini dibicarakan oleh ust. Adian Husaini, ust. Didin Hafidhuddin,
dan sebagainya, ternyata sudah dibicarakan dengan sangat lugas oleh
beliau.  Masalah benturan pemikiran dengan sekularisme dan pluralisme adalah 
barang lama bagi mereka yang sudah melahap buku-buku Hamka.  Sayang,
hingga kini saya belum banyak membaca karya-karya M. Natsir, namun saya
cukup sering berinteraksi dengan ‘anak-anak ideologisnya’ di Dewan
Da’wah (DDII).  Baik Buya Hamka maupun M. Natsir sama-sama tokoh yang tak 
mungkin hilang pemikirannya kalau bukan karena fabrikasi sejarah.
 
Semakin saya menyelami pemikiran keduanya, konspirasi itu pun semakin nampak 
bentuknya.  Buya Hamka, sebagai contoh, telah mengalami fitnah bertubi-tubi.  
Diawali
dari kaum liberalis yang memotong-motong Tafsir Al Azhar untuk
membenarkan paham pluralisme, lantas ditindaklanjuti oleh Baitul
Muslimin yang mengadakan acara peringatan seabad Buya Hamka untuk
menyebarkan fitnah serupa.  Kemudian Majalah
Madina pun mengangkat profil beliau, lagi-lagi dengan penekanan pada
ajaran pluralisme yang sesungguhnya sangat berseberangan dengan
pendirian Buya Hamka.
 
Kini,
sementara Dewan Da’wah sibuk memperingati seabad M.. Natsir, muncul
laporan yang mengatakan bahwa Majalah Tempo pun meliput profil M.
Natsir, tentunya dengan ‘cara mereka sendiri’.  Konon, di majalah itu, 
identitas Natsir sebagai pendakwah atau ulama sama sekali tak disinggung.  
Sebagai gantinya, beliau disebut-sebut sebagai penganjur ‘pergaulan 
multikultural’.  ‘Multikultural’
adalah istilah yang baru-baru ini dipergunakan (baca : diselewengkan)
oleh kalangan pluralis ; barangkali karena sudah banyak yang menyadari
kerancuan istilah ‘pluralisme’.
 
Dua ulama besar, dua tokoh urang awak yang hidup sejaman, yang hingga kini 
belum tergantikan, dan hingga kini
masih ditakuti oleh musuh-musuh Islam, meskipun jasadnya sudah tak lagi
bersama kita.  Begitu menakutkannya pemikiran Buya Hamka dan M. Natsir, 
sampai-sampai fitnah tak henti-henti melanda keduanya.
 
Pertanyaan cerdas berikutnya : siapa yang berani mengambil tanggung jawab untuk 
menggantikan mereka?
 wassalaamu’alaikum wr. wb


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke