Sejarak Uluran Tangan
oleh : Akmal (http://akmal.multiply.com/journal/item/682)



assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Saat
memberikan kuliah hari Sabtu yang lalu (05/07), Ust. Didin Hafidhuddin
membagi kisah yang didapatnya dari perbincangan dengan Gubernur Jabar
yang baru saja terpilih, yaitu ust. Ahmad Heryawan.  Menurut
cerita Sang Gubernur, tidak lama setelah beliau dilantik, datanglah
seorang pengusaha besar kepada beliau yang hendak ‘menyetor’ uang.  Jumlahnya 
tidak main-main ; tidak kurang dari 1 miliar rupiah!
 
Bagi mereka yang mengenal ust. Ahmad Heryawan secara pribadi pasti tahu bahwa 
beliau adalah pribadi yang sangat bersahaja.  Kehidupannya selama ini selalu 
sederhana, baik sebelum menjadi anggota dewan maupun sesudah.  Menolak 1 miliar 
rupiah bukan perkara yang gampang.  Bayangkan
betapa banyak permasalahan finansial yang bisa diselesaikan dengan uang
sebanyak itu ; mulai dari sekolah anak sampai kuliahnya, biaya hidup,
biaya renovasi rumah (kalau perlu), beli mobil (kalau mau), dan
sebagainya.
 
Akan tetapi uang itu ditolak dengan lembut.  Kata
Sang Ustadz (merangkap Gubernur), kalau mau menyumbang, nanti ia akan
mengirimi daftar sekolah yang butuh bantuan, rumah sakit yang kurang
dana, dan semacamnya.  Tidak perlu lagi setor-setor ke Gubernur, karena 
masing-masing sudah mendapat gaji yang cukup layak.
 
Ust. Didin menambahkan bahwa kalau ustadz yang jadi pejabat memang harus beda 
dari yang lain.  Tidak
lupa beliau juga memberi saran agar lain kali menerima tamu yang
semacam itu harus ditemani minimal dengan seorang sahabat yang
terpercaya.  Selain supaya ada saksi (supaya nama
baik tidak tercemar di mata KPK), juga untuk menguatkan hati agar tidak
pernah tergoda untuk melakukan maksiat..
 
Saya pun berbisik pada Mas Satriyo, “Dalam satu malam saja bisa bikin pahala 
semiliar!  Ngiri nggak tuh?”
 
Bicara memang gampang.  Tapi sebenarnya posisi Sang Ustadz tidak seenak itu 
ketika melihat uang semiliar di hadapannya.  Sebab selain berpotensi mendulang 
pahala semiliar rupiah, beliau pun bisa mendapat dosa semiliar rupiah.  Semua 
tergantung pada imunitasnya sendiri terhadap godaan hawa nafsu.  Mau melawan 
atau tunduk?  Mau yang enak tapi haram, atau yang jauh lebih enak tapi halal?
 
Kontras sekali dengan posisi Al Amin Nur Nasution yang – saya yakin – kini 
sedang menghadapi masa-masa terberatnya.  Sudah jatuh tertimpa tangga, itu 
masih lumayan.  Sekarang ini ia sudah jatuh, tertimpa tangga, lalu digebuki 
massa pula.  Belum selesai kasus suapnya, kini mengemuka beberapa tuduhan baru 
setelah rekaman pembicaraannya disiarkan ke seluruh penjuru Indonesia.  Belum 
lagi urusan rumah tangganya yang carut-marut.
 
Kita tidak perlu mendahului pengadilan.  Al Amin belum dinyatakan bersalah oleh 
Hakim.  Yang jelas, sebelum palu diketuk pun, masyarakat sudah menghakiminya 
duluan.  Ini adalah siksaan yang sangat berat, dan saya tidak mau membayangkan 
bagaimana rasanya berada dalam posisi Al Amin kini.
 
Kasus
Al Amin – terutama rekaman suara yang diperdengarkan kemarin – telah
mengajarkan kepada kita betapa orang-orang yang suaranya terekam di
situ telah kehilangan sensitifitas hati nuraninya.  Mereka merasa jauh dari 
pengawasan Allah SWT, dan jelas telah jauh pula dari predikat ‘ihsan’.  Betapa 
ngeri membayangkan uang ratusan juta bisa dikorup hanya melalui pembicaraan 
singkat di telepon saja.  Seratus-dua
ratus juta rupiah yang seharusnya menjadi rejeki rakyat bisa bergerak
ke mana saja tergantung negosiasi orang-orang tertentu.  Dalam sekejap, uang 
ratusan juta bisa berpindah rekening.  Yang
mengirimnya mendapatkan ratusan juta dosa, yang menerimanya mendapatkan
ratusan juta dosa, dan yang mengetahui dan mendiamkannya pun
mendapatkan ratusan juta dosa.  Betapa dinamisnya transaksi pengiriman dosa di 
dunia para pejabat!
 
Ratusan juta rupiah uang haram bukan satu-satunya aspek mengerikan yang dibahas 
via telepon itu.  Masih ada pula transaksi perempuan panggilan yang tidak 
ubahnya sebuah mouse pad dalam transaksi pembelian komputer ; cuma bonus!  
Tidak ada harganya, murahan, dan diberikan cuma-cuma sebagai ‘pengikat hubungan 
baik’.  Cis!  Celaka transaksinya, celaka yang bertransaksi, dan celaka 
perempuan yang mau dihargai sebagai bonus murahan..  Untuk yang satu ini, saya 
tidak bisa menemukan ‘konversi’ yang tepat untuk mengkalkulasi dosanya.  
Cukuplah ucapan : na’uudzubillaahi min dzzaalik!
 
Semakin tinggi posisi kita berada, memang semakin di ujung tanduk.  Jalan 
menuju surga dan neraka cuma sejarak uluran tangan.  Jika tawaran berlumur 
maksiat itu disambut, maka barangkali nerakalah tempat kita tinggal kelak.  
Namun
jika berhasil menguatkan diri untuk menolaknya, maka surga penuh dengan
kenikmatan yang tak pernah mata melihatnya, tak pernah telinga
mendengarnya, dan tak pernah akal membayangkannya.  Pilihannya sederhana, namun 
tidak selalu mudah.  Dalam dunia pejabat, pilihannya malah tak pernah mudah.
 wassalaamu’alaikum wr. wb


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke