Jadi Siapa yang Pikirannya Tertutup Selama Ini ?
oleh: akmal (http://akmal.multiply.com/journal/item/213)
assalaamu'alaikum wr. wb.
Ada banyak reaksi atas sebuah jurnalberisi link-link yang saya kumpulkan dalam
rangka menghadapi penyebarluasan Islam liberal di Indonesia. Kebanyakan
menyambutnya dengan baik (alhamdulillaah), artinya banyak juga orang yang
merasa prihatin dengan perkembangan ghazwul fikri mutakhir di negeri ini. Di
lain pihak, ada juga orang-orang tertentu yang secara terbuka menentang.
Alasannya sebenarnya sangat primitif. Saya (dan siapa pun yang menempuh
langkah semacam ini) dianggap close-minded,
menganut aliran 'penafsiran tunggal', lancang membuat klaim kebenaran,
jumud, dan antikemajuan. Mengapa saya sebut primitif? Karena
predikat-predikat inilah yang selalu mereka berikan pada orang-orang
yang tidak sependapat dengan mereka. Jadi, walaupun mereka menyebut
dirinya sendiri liberalis, namun sebenarnya tidak ada kemerdekaan
berpendapat di dalamnya.
Mari kita
selami masalah ini dengan baik. Walaupun membuat begitu banyak artikel
yang menentang ide-ide yang dilontarkan oleh kaum liberalis, tapi saya
(dan juga yang lain) tidak pernah bertindak anarkis dan tidak pernah
pula menyarankan orang lain untuk bersikap anarkis. Adian Husaini --
yang barangkali merupakan penulis paling produktif dalam bidang ini --
juga tidak pernah memprovokasi siapa pun untuk 'membungkam paksa' mulut
kaum liberalis. Tidak ada anjuran untuk menghancurkan rumah-rumah
mereka, tidak ada pula ajakan untuk menculik para aktifisnya.
Mengapa? Karena memang tidak perlu!
Pemikiran akan dihadapi dengan pemikiran. Predikat 'close-minded'
tidak bisa diberikan pada siapa pun hanya karena ia tidak sependapat
dengan kita, bukan? Demikian juga kaum liberalis tidak punya hak untuk
mengecam siapa pun yang tidak setuju dengan mereka. Bukankah mereka
sendiri terang-terangan menentang pendapat berbagai kalangan lain di
tubuh umat Islam? Jika mereka memang mengaku terbiasa dalam iklim
perbedaan pendapat, maka sekaranglah waktu yang tepat untuk
membuktikannya!
Bahkan kalau
mau diperiksa lebih lanjut, artikel-artikel yang mereka anggap
'antikemajuan' itu sebenarnya justru mengandung banyak argumen-argumen
ilmiah. Jauh berbeda dengan 'argumen-argumen' yang biasa mereka
lontarkan saat berdiskusi dengan orang lain. Jadi, ditilik dari segi
intelektualitas, para penentang liberalisme tidak bisa dianggap sebagai
golongan yang close-minded. Selama argumen-argumen itu masih
disampaikan secara ilmiah dan menggunakan kata-kata yang baik, maka
yang terjadi adalah diskusi, bukan debat kusir. Jadi, apa yang harus
dikeluhkan?
Salahkah saya
jika saya terang-terangan menentang kata-kata JIL? Bukankah JIL
sendiri secara terang-terangan menentang MUI dalam banyak fatwanya?
Salahkah jika saya mengedepankan pendapat saya sendiri di sebuah forum
yang bebas? Jika saya tidak bebas, lantas mengapa mereka bisa
dibebaskan berbuat seenaknya?
Di sisi lain,
para penentang liberalisme selalu menggunakan data-data yang otentik
(ambil contoh dari karya-karya Adian Husaini). Mereka senantiasa
bertindak adil dengan menggunakan referensi-referensi yang benar.
Kalau mengatakan tidak setuju dengan pendapat si A yang disampaikan
pada suatu acara, misalnya, maka referensi itu disebutkan dengan
jelas. Artinya, penentangan terhadap ide-ide liberalisme selalu
dilakukan dengan observasi yang ilmiah.
Di lain
pihak, kita melihat begitu banyak contoh dimana kaum liberalis bersikap
tanpa melakukan observasi terlebih dahulu. Anda dapat melihat
contoh-contohnya pada jurnal saya yang lain yang berjudul "Berikanlah Argumen
yang 'Berisi' !". Penentangan pada Harun Yahya hanya mereka sampaikan dengan
kalimat olok-olok seperti "Ah, Harun Yahya aja dipercaya!" Demikian pula
mereka mendiskreditkan Majalah Sabili hanya dengan kalimat-kalimat semacam
"Ngapain baca Sabili?" Sama sekali tidak ada argumen ilmiah!
Ada satu bukti lainnya. Seorang rekan saya (non-MPers) beberapa kali telah
mencoba mem-posting artikel-artikel saya sebagai tanggapan atas artikel-artikel
yang dimuat di homepage JIL. Kenyataannya, meskipun mereka mengusung nama
liberalisme
(kebebasan atau kemerdekaan), sampai detik ini belum satu pun artikel
tersebut dimuat. Apa yang terjadi? Hancurnya kebebasan berpendapat di
kandang liberalisme? Matinya kemerdekaan berbicara di tanah
kebebasan? Atau hipokrasi terang-terangan?
Ah, saya rasa sudah jelas sekarang, siapa yang intelek dan siapa yang emosional
; yang mana yang close-minded dan yang mana yang open-minded. Anda sebagai
pembaca memiliki hak penuh untuk percaya atau tidak percaya. Maka, bacalah!
wassalaamu'alaikum wr. wb.
[Non-text portions of this message have been removed]