memang benar, manusia yg mengidap SEPILIS di tingkat senior yg sdh mengenyam beasiswa dr bule, bhsnya memang indah2, santun2, walaupun isinya tetep SAMPAH. jadi kemasannya bagus, isinya busuk! sedangkan manusia pengidap SEPILIS di tingkat junior yg BELUM mengenyam beasiswa dr bule, bhsnya kotor, jorok, tanpa argumentasi yg jelas, hobi menuduh. Kemasannya jelek, isinya barang busuk!
Berikanlah Argumen yang 'Berisi' ! oleh : akmal (http://akmal.multiply.com/journal/item/207) assalaamualaikum wr. wb. Seringkali saya mengamati sebuah perdebatan yang kelihatannya memang tidak ditakdirkan untuk menemui ujungnya, lantaran orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak pandai berargumen. Tidak jarang saya temui orang-orang yang bahkan tidak melontarkan sebuah argumen apa pun yang bernilai ilmiah. Inilah cara terbaik untuk menghancurkan sebuah diskusi, yaitu dengan mencabut segala bentuk intelektualitas darinya, sehingga tinggallah emosi yang tak tertahankan dan ego yang tak terkalahkan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membedakan yang mana yang fakta dan yang bukan fakta. Kalau Anda lahir dan besar di Surabaya, besar kemungkinan Anda akan mengatakan bahwa hawa di kota Bandung sangat dingin. Tapi tidak ada gunanya berdebat mengenai masalah ini dengan orang Ciwidey, misalnya, hanya karena mereka menganggap bahwa cuaca Bandung sebenarnya cukup panas. Orang Surabaya terbiasa hidup di daerah panas, sedangkan Ciwidey jauh lebih dingin daripada Bandung. Ini semua hanyalah pendapat yang sangat berkaitan erat dengan kebiasaan. Suatu hari ada seseorang yang berlagak cerdas dan berkata, Bagi saya, segala provokasi yang dilakukan oleh Majalah Sabili itu lebih berbahaya daripada Playboy! Perlukah argumen ini dijawab? Tentu tidak! Argumen ini sama sekali tidak bernilai ilmiah, karena si pelontar pendapat bahkan tidak menjelaskan mengapa ia berpendapat bahwa Majalah Sabili lebih berbahaya daripada Playboy. Kalau mau bersikap intelek, harusnya pendapat itu disertai dengan pemaparan data (walaupun tidak mesti kuantitatif) yang mendukung. Pada kesempatan lain, orang yang sama juga melontarkan sebuah pernyataan bernada sindiran : Sabili aja dipercaya! Ungkapan ini tidak jauh beda dengan ucapan Harun Yahya aja dipercaya! seperti yang pernah saya ceritakan pada jurnal saya yang lain. Sama-sama tidak bernilai ilmiah. Jika ia ingin mengatakan bahwa Majalah Sabili atau Harun Yahya adalah sebuah referensi yang buruk, maka seharusnya ia memaparkan bukti-bukti bahwa keduanya telah melakukan kesalahan atau manipulasi berita. Tapi dengan begitu saja mendiskreditkan seseorang atau sebuah organisasi tanpa argumen yang intelek sama saja dengan meludah ke arah langit ; air ludah itu akhirnya malah mengenai muka sendiri. Ia justru tengah mempertunjukkan kepada dunia intelektualitasnya yang tidak seberapa. Ada pula orang yang berkata bahwa RUU APP akan mengancam keragaman budaya di Indonesia. Argumen ini tidak lebih dari pernyataan sampah yang seharusnya dicampakkan segera ke pembuangan limbah terdekat. Tidak ada bukti bahwa RUU APP akan mengancam budaya asli Indonesia. Mereka bahkan tidak mencermati pasal demi pasalnya, seraya menunjukkan pasal-pasal mana saja yang mereka anggap akan mencederai keragaman budaya Indonesia. Lantas ada isu bahwa warga Papua akan dilarang mengenakan pakaian adatnya yang serba minim. Anda bisa melihat sendiri bahwa mereka tidak memiliki data otentik apa pun untuk mendukung isu-isu yang mereka kobarkan sendiri. Sama sekali tidak ilmiah. Saya juga pernah berdebat dengan orang-orang yang menyebut Al-Quran sebagai kitab puisi. Kenyataannya, mereka gagal membedakan antara puitis dan puisi. Bahkan setelah ada seseorang yang menunjukkan arti kata puitis dan puisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang menunjukkan bahwa mereka seharusnya menggunakan kata puitis, bukan puisi mereka tetap bersikeras pada pendapatnya. Apa argumen mereka? Tidak ada! Bukan main betapa cerdasnya. Mereka telah menunjukkan dirinya sebagai makhluk yang tidak bertindak berdasarkan akal sehat. Ada lagi orang-orang yang berkata bahwa syariat Islam tidak akan mampu membawa kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Alasannya, karena negara-negara di Timur Tengah pun (yang notabene adalah negara-negara Islam) tidak mengalami kemajuan yang seberapa di pergaulan internasional. Sebaliknya, negara-negara yang jauh dari syariat Islam seperti Amerika Serikat dan para sekutunya malah hidup lebih sejahtera. Konyol sekali! Melihat keterpurukan bangsa-bangsa Arab lantas menyalahkan ajaran Islam sebagai biang keroknya. Memang mayoritas penduduk di Timur Tengah beragama Islam, tapi apakah otomatis pemerintahannya juga menerapkan ajaran-ajaran Islam dengan baik? Lantas apa maksud dari gelar para raja di sana? Bukankah bentuk pewarisan tahta turun-temurun seperti itu adalah penyimpangan dari ajaran Islam? Tidak, mereka tidak bisa menyalahkan syariat Islam karena hal semacam ini, karena negara-negara Arab pun sudah terbukti tidak menjalankan syariat dengan baik. Mereka tidak bisa dijadikan parameter syariat Islam yang benar. Lagipula, siapa bilang orang-orang yang hidup di negara-negara sekutu AS itu lebih sejahtera? Kalau mereka memang sejahtera dengan gaya hidupnya, lantas mengapa 9 dari 10 pernikahan berakhir dengan perceraian? Mengapa tingkat kriminalitas terus bertambah, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya? Mengapa HIV / AIDS tidak bisa dicegah meskipun kondom bisa dibeli dimana-mana? Mengapa banyak orang menderita depresi di negara-negara yang sejahtera itu? Mengapa banyak keluarga yang tercerai-berai? Mengapa banyak anak perempuan yang menyesal telah merelakan keperawanannya, meskipun hidup bebas adalah hal yang mereka pilih sendiri? Pendapat yang mengatakan bahwa para penduduk di negara-negara maju hidup lebih sejahtera sama sekali tidak dilengkapi dengan data yang meyakinkan. Memang penghasilan mereka rata-rata lebih besar, namun penghasilan hanyalah salah satu faktor dari kesejahteraan hidup, bukan satu-satunya. Anda juga bisa melihat betapa orang-orang yang sudah punya nama besar pun kadang-kadang melontarkan pendapat-pendapat yang sama sekali tidak mengandung nilai ilmiah. Mereka melontarkan argumen-argumen yang sangat tidak cerdas dan justru mencoreng kebesaran namanya sendiri. Anda bisa melihat artikel saya yang mengomentari hasil wawancara JIL dengan Djohan Effendi (saya enggan menyebut gelar profesornya lantaran sikap ketidakilmiahannya yang ditunjukkan secara terang-terangan dalam wawancara itu) dan Gus Dur. Kalau mau berdebat dengan kaum liberalis, Anda harus terbiasa menghadapi argumen-argumen tidak ilmiah yang disampaikan dengan pilihan kata yang cukup canggih. Begitulah modus operandinya sejak dahulu, dari jaman Ahmad Wahib sampai Nurcholis Madjid, kemudian diwariskan kepada para penerusnya hingga kini. Cermatlah meneliti kata-kata yang indah, karena jangan-jangan hal itu justru untuk menutup-nutupi intelektualitas mereka yang sangat rendah. Jangan lupa untuk mengingatkan diri sendiri untuk tidak terintimidasi dengan gelar-gelar akademis yang dipamerkan di depan dan belakang nama mereka. Bagaimana pun, seorang lulusan S3 kadang-kadang bisa melakukan kealpaan seperti anak SD, jika ia tidak berhati-hati dalam ucapan dan tindakannya. Ketika menghadapi argumen-argumen seperti itu, yang paling penting adalah tidak kehilangan kendali diri. Jangan marah, apalagi mengamuk. Justru itulah yang mereka inginkan.. Tetaplah tenang, kendalikan diri dan berikanlah argumen yang cerdas dengan santai. Sekali-sekali, tertawalah. Toh perdebatan yang tidak intelek semacam ini hanyalah sebuah dagelan belaka, tidak lebih. Meskipun santai dan diselingi canda, tapi harus tetap ilmiah, lho! wassalaamualaikum wr. wb. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

