lucuuu bgt nih..hahaha manusia lebih hebat dari Tuhannya, mantaf tenan!
Sampaikanlah Hujjah-mu! (Tanggapan Atas Pendapat Dr. Djohan Effendi Perihal Shalat Dwibahasa) http://akmal.multiply.com/journal/item/60 assalaamualaikum wr. wb. Bagi Jaringan Islam Liberal (JIL) dan para pendukungnya, masalah shalat dwibahasa belum selesai. Di mata mereka, Ustadz Roy adalah korban yang telah dizalimi oleh berbagai kalangan yang merasa memiliki otoritas dengan mengatasnamakan Islam. Dengan demikian, membela sang korban tentu akan membuat mereka terlihat seperti pahlawan. Saya pribadi setuju bahwa tidak ada seorang pun manusia di muka bumi ini yang boleh mengaku memiliki otoritas dengan mengatasnamakan Islam. Tidak boleh ada manusia yang kemudian mengambil posisi bagaikan seorang Paus di dalam dunia Katolik. Islam adalah ajaran yang sesuai dengan kehendak Allah, bukan fatwa manusia. Dengan demikian, fatwa manusialah yang harus disesuaikan dengan kehendak Allah, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, dalam memutuskan segala sesuatunya, saya tidak ingin kita terikat oleh suatu tokoh. Bagi saya, seorang ulama pun bisa berbuat kesalahan, dan seorang tukang becak pun bisa mengatakan hal yang benar. Karena itu, marilah kita kembali pada argumen (hujjah) yang benar, tanpa diganggu oleh ego pribadi. Singkirkanlah ego pribadi kita, karena agama Islam berdiri di atas ketentuan Allah, bukan selera manusia. Dalam menyikapi masalah ini, saya pun hanya memperhatikan segala hujjah yang dipaparkan. Janganlah kita mengatakan, MUI berkata begini, Muhammadiyah bilang begitu, atau PKS berpendapat demikian, karena Islam tidak tergantung pada organisasi-organisasi tersebut. Justru organisasi-organisasi itulah yang harus menyesuaikan diri dengan ajaran Islam. Kita tidak bisa menarik sebuah kesimpulan hanya berdasarkan kata-kata orang lain, meskipun ia adalah seorang ulama besar sekelas Yusuf Qardhawi, misalnya. Saya pribadi sangat menghormati beliau, namun kita harus tetap memperhatikan hujjah yang digunakannya dalam membuat fatwa. Karena itu, marilah kita bersikap adil! Marilah kita cermati wawancara yang dilakukan oleh JIL melalui salah seorang reporternya yang bernama Novriantoni dengan salah seorang pakar yang sering dijadikan rujukan oleh kalangan JIL, yaitu Dr. Djohan Effendi. Wawancara ini dilaporkan dalam sebuah artikel berjudul Bahasa Hanya Budaya, Bukan Inti Ibadah yang dimuat di dalam homepage JIL. Sekali lagi, ijinkanlah saya untuk mengingatkan agar kita senantiasa bersikap adil. Singkirkanlah dahulu segala prasangka dan cermatilah secara obyektif setiap hujjah yang diberikannya! Ketika ditanya mengenai masalah shalat dwibahasa yang sempat mengundang kericuhan di Malang, Djohan Effendi berpendapat bahwa masalah ini sebenarnya adalah masalah yang sudah muncul sejak lama. Karena itu, maraknya pemberitaan soal kasus di Malang ini terlihat agak berlebihan, karena perdebatan mengenai hal ini sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu. Sebetulnya ini bukan soal baru, dan polemiknya sudah ada sejak zaman klasik. Paling tidak, yang sudah tercatat adalah pendapat Abu Hanifah (wafat tahun 150 H) yang membolehkan salat dengan bahasa non-Arab. Pendapat seperti itu tercantum dalam kitab-kitab fikih klasik. Sudah banyak yang mengatakan bahwa Abu Hanifah memang berpendapat bahwa shalat dwibahasa itu dibolehkan. Akan tetapi, tidak ada yang menjelaskan pada kesempatan apa Abu Hanifah berpendapat demikian. Apakah beliau menuliskannya di salah satu bukunya? Apakah beliau mengatakannya dalam sebuah forum diskusi? Tidak ada yang tahu, karena memang tidak ada yang mau mencantumkan referensinya secara jelas. Ini adalah sebuah kecacatan dalam hujjah. Saya tidak ingin menuduh yang bukan-bukan, hanya saja, tidak ada manusia yang mau dipersalahkan atas kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulutnya sendiri. Jika memang benar Abu Hanifah berpendapat demikian, maka referensinya harus jelas, agar kita tidak terhindar dari dosa memfitnah orang lain. Masalah kedua dalam pernyataan ini adalah : Djohan Effendi hanya menyebutkan bahwa polemik masalah ini terjadi sejak dulu, tanpa menjelaskan bagaimana perkembangan polemik itu sendiri. Sekarang rakyat Indonesia gemar sekali berbicara mengenai masalah korupsi. Bagaimana kalau ada yang datang kepada Anda dan mengatakan, Ah, masalah korupsi sudah ada sejak dulu! Kata-kata ini tidak bermanfaat sama sekali, karena hanya menyatakan fakta bahwa masalah ini sudah ada sejak dulu tanpa menawarkan solusi sama sekali. Dalam kaitannya dengan polemik shalat dwibahasa, Djohan Effendi sama sekali tidak menjelaskan hujjah apa yang digunakan oleh orang-orang yang membolehkan shalat dwibahasa itu dan yang melarangnya. Mungkin benar bahwa polemik ini sudah terjadi sejak dulu, tapi itu adalah fakta sejarah. Hanya dengan berbekal fakta itu saja kita, kita belum bisa menarik sebuah kesimpulan. Dan masalah ini tidak akan kunjung selesai jika hujjah dari masing-masing kelompok tidak dijelaskan dengan baik. Kemudian, Djohan Effendi berpendapat bahwa penggunaan bahasa Arab hingga kini dalam shalatnya umat Islam lebih karena suatu pengaruh arabisasi yang amat kuat : Tapi saya kira, karena kuatnya pengaruh arabisasi, maka keislaman dan kearaban itu selalu dianggap menyatu. Saya adalah seorang warga negara Indonesia yang lahir dengan darah Minang tulen. Kalau boleh, saya juga ingin melaksanakan shalat dengan bahasa Minang yang terkenal dengan nilai sastranya yang tinggi. Tapi saya tetap pada pendirian saya bahwa shalat itu memang wajib menggunakan bahasa Arab. Bukan karena arabisasi, karena toh saya tidak pernah berpikiran bahwa orang-orang Arab itu lebih mulia daripada saya. Tidak ada hubungannya dengan kebangsaan Arab. Masalahnya terletak pada bahasanya. Jika kita membaca karya-karya Quraish Shihab yang mana saja maka akan jelas bagi kita bahwa Allah memilih bahasa Arab bukannya tanpa rencana. Bahasa Arab adalah bahasa yang paling rumit yang ada di muka bumi dengan kosa kata yang paling kaya dan spesifik. Dengan demikian, harus diakui, bahasa Arab adalah bahasa yang paling tepat untuk menampung begitu banyak hikmah dalam sebuah kalimat. Karena itulah Al-Quran diturunkan ke dalam bahasa Arab, bukan bahasa Inggris, India, Indonesia, dan juga bukan bahasa Minang. Seberapa pun cintanya kita pada bahasa ibu kita, namun kita harus menerima kenyataan bahwa memang bahasa Arablah yang paling tepat untuk digunakan dalam Al-Quran. Jika memang ada bahasa lain yang bisa menggantikannya, maka ajukanlah sebuah hujjah! Saya sudah memaparkan secara mendalam mengenai betapa tidak tergantikannya bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran dalam artikel saya yang lain berjudul Mengapa Harus Bahasa Arab? Djohan Effendi pun menyatakan bahwa polemik semacam ini tidak hanya terjadi di dunia Islam. Beliau mengambil contoh apa yang terjadi pada umat Katolik di masa lalu, ketika bahasa ibadah mereka dibatasi hanya pada bahasa Latin yang tidak dipahami oleh kebanyakan umat Katolik sendiri. Tapi sesungguhnya polemik ini bukan khas Islam. Dulu, soal bahasa apa yang absah digunakan dalam liturgi juga menjadi persoalan Gereja Katolik. Dulunya, bahasa ibadah mereka dibatasi pada bahasa Latin yang tidak banyak dipahami orang. Tapi kemudian, itu direformasi. Istilah direformasi pada akhir kutipan di atas membuat pembaca tersugesti dengan pemikiran bahwa apa yang dilakukan oleh Gereja Katolik (yaitu membolehkan penggunaan bahasa lain dalam ibadah) adalah suatu hal yang baik. Pertanyaannya sederhana saja : Mengapa Gereja Katolik melakukan hal tersebut? Dan apakah umat Islam perlu menirunya? Saya sudah mengajukan hujjah mengenai tidak tergantikannya bahasa Arab dalam Al-Quran dan shalat. Maka apakah alasannya Gereja Katolik membolehkan penggunaan banyak bahasa? Jika itu memang kehendak mereka, dan jika mereka memang memiliki alasan yang bagus untuk melakukannya, maka hal tersebut tidak ada urusannya dengan umat Islam. Bagi saya, sampai detik ini, tidak ada alasan untuk mengganti bahasa Arab dalam shalat dengan bahasa Indonesia. Dan yang jelas, belum ada seorang pun yang bisa memberikan alasan yang bagus untuk melakukan hal semacam itu. Karenanya, kutipan ini pun tidak bisa dianggap sebagai sebuah hujjah yang lengkap. Lebih lanjut, Djohan Effendi tetap berpendapat bahwa penggunaan bahasa Arab disebabkan karena Rasulullah saw. memang diturunkan di tanah Arab. Jika beliau diutus di Polandia, maka beliau akan shalat dalam bahasa Polandia. Demikian juga bila beliau diutus di tanah Jawa, Sunda, Papua, atau Nigeria, maka beliau akan shalat dalam bahasa lokal.. Djohan Effendi berkesimpulan bahwa sebenarnya shalat adalah masalah hati.. Itu karena Nabi memang diutus di tanah Arab. Andaikata dia diutus di tanah Jawa, sudah pasti dia akan salat dengan bahasa Jawa. Jadi faktor bahasa hanyalah faktor budaya dan bukan bagian inti dari ibadah. Inti salat adalah bagaimana orang bisa berkomunikasi dengan Tuhan secara mesra. Dan itu biasanya diungkapkan dalam bentuk bahasa yang merupakan ungkapan hati. Inti dari ibadah sebetulnya hati. Sebenarnya komentar ini hanyalah spekulasi. Kenyataannya, Rasulullah saw. memang dilahirkan di tanah Arab, dan bahasa Al-Quran dan shalat menggunakan bahasa Arab. Kesimpulan bahwa jika Rasulullah saw. turun di tanah Jawa maka beliau akan shalat dengan bahasa Jawa adalah sebuah kesimpulan tidak berdasar. Tidak ada bukti bahwa bahasa Jawa bisa menggantikan bahasa Arab dalam hal kompleksitasnya. Jika memang benar bahasa Jawa bisa menggantikan bahasa Arab, maka buatlah semisal satu ayat dalam Al-Quran dengan bahasa Jawa, lalu kita perbandingkan secara terbuka. Menurut saya, Allah akan menurunkan Al-Quran dalam bahasa yang paling lengkap dan mencukupi. Seluruh hikmah dirangkum dalam sebuah kitab yang amat ringkas. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah bahasa yang memiliki kemampuan untuk merangkum seluruh hikmah tersebut secara singkat pula. Jika memang Al-Quran diturunkan dalam bahasa Jawa, maka pastilah Allah telah menjadikan bahasa Jawa tersebut sebagai bahasa yang lengkap! Jika bahasa Perancis lebih berkualitas, maka Al-Quran pun pasti diturunkan dalam bahasa Perancis dan Rasulullah saw. pastilah seorang bangsa Galia! Di sisi lain, klaim bahwa shalat dalam bahasa Arab karena kebetulan saja Rasulullah saw. dilahirkan di tanah Arab adalah sebuah penghinaan terhadap Allah. Bagaimana mungkin sebuah perbuatan Allah dinyatakan sebagai sebuah kebetulan yang tidak memiliki tujuan yang pasti? Apakah Allah secara tidak sengaja memilih tanah Arab? Apakah Allah memilih bahasa Arab tanpa alasan yang jelas? Kita harus berterima kasih kepada Harun Yahya dan para ilmuwan Muslim lainnya karena telah membuktikan bahwa tidak ada secuil pun ciptaan Allah yang tidak ada tujuannya. Warna-warni daun dijadikan-Nya lembut di mata kita untuk menenangkan syaraf manusia. Kalau saja warna-warni tetumbuhan terlihat mencolok, maka mata kita akan segera lelah dan syaraf pun menjadi tegang. Bahkan segala hal yang diciptakan-Nya di langit dan di bumi ini senantiasa sesuai dengan kebutuhan manusia. Keberadaan segala ciptaan-Nya adalah fungsi dari keseimbangan kehidupan. Bahkan kecoak pun memiliki arti penting dalam sebuah ekosistem. Pantaskah bila kita menuduh bahwa Allah telah memilih bahasa Arab hanya karena kebetulan? Subhaana rabbika rabbil izzati ammaa yashifuun... Selanjutnya, Djohan Effendi berpendapat bahwa sebenarnya setiap Muslim tidak boleh bersifat alpa dalam shalatnya.. Artinya, kita semua harus mengerti apa yang kita baca dalam shalat. Shalat dwibahasa, pada hakikatnya, adalah sebuah ajaran yang ditujukan untuk menghindari kealpaan dalam shalat tsb. Kita kantidak hanya disuruh membaca Alquran, tapi juga berusaha memahaminya. Kalau kita tidak memahaminya seperti di dalam salat, kita akan terkena ayat Wailun lil mushallîn, alladzîna hum `an shalâtihim sâhûn (celakalah orang-orang yang mengerjakan salat tapi mereka alpa di dalam salatnya!). Jadi, kata sâhûn itu bisa juga diartikan tidak mampu memahami apa yang dia baca di dalam salat. Karena itu, logis juga kalau Abu Hanifah membolehkan salat tidak dengan bahasa Arab, biar kita tidak sâhûn. Nah, Ustadz Roy ini saya kira tidak ingin masuk ke dalam kelompok yang sâhûn tadi. Tanpa mendiskusikan masalah penafsiran sebuah ayat dari surah Al-Maauun di atas, saya harus mengatakan bahwa saya pribadi setuju bahwa kita harus memahami apa yang kita baca dalam shalat. Kita sudah menemukan banyak sekali ulama yang telah bekerja keras menafsirkan Al-Quran dan telah menuliskan begitu banyak karya yang dapat kita baca. Menurut saya, jika kita ingin memahami apa yang kita baca, maka kita harus mencari kitab tafsir, bukan sekedar terjemahannya! Mengucapkan terjemahan dari bacaan-bacaan shalat dalam bahasa Indonesia jelas-jelas telah menyempitkan artinya. Misalnya ucapan Basmalah diterjemahkan sebagai Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Apakah ini bukan sebuah penyempitan makna? Apa yang Anda pahami dari membaca terjemahan tersebut? Apakah memang ucapan bismi memang sekedar bermakna dengan nama? Apakah Ar-Rahmaandan Ar-Rahiimmemang hanya bermakna Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang? Apakah wal ashr hanya bermakna demi masa? Logiskah jika Allah bersumpah demi masa bahwa setiap manusia pasti merugi, kecuali mereka yang memenuhi empat kriteria dalam surah Al-Ashr? Saya telah mengulas khusus masalah surah Al-Ashr ini dalam artikel Penyesalan di Waktu Ashr. Jika kita membaca kitab-kitab tafsir Al-Quran, maka kita akan paham bahwa pemahaman harus berhubungan dengan penafsiran, bukan penerjemahan. Jika memang para pelaku shalat dwibahasa ingin memahami shalat mereka dan ini memang keinginan yang baik maka seharusnya ia banyak membaca tafsir Quran dan berdiskusi dengan para ahli, bukan malah menyempitkan pemahamannya dengan sekedar penerjemahan Al-Quran saja! Inti permasalahannya menurut saya adalah karena Djohan Effendi, JIL, dan para pendukungnya, tidak merasa nyaman hidup dalam sebuah aturan. Mereka tidak ingin dipaksa-paksa, tapi toh mereka selalu memaksakan pendapat mereka, bahkan kepada Tuhan sekalipun! Misalnya, saya berpendapat bahwa minum obat ketika puasa tidak akan membatalkan puasa saya, dan itu saya negosiasikan langsung kepada Allah. Sebab, saya menanggap yang membatalkan puasa adalah makan yang mengenyangkan. Karena itu, hukumnya langsung saja saya serahkan kepada Tuhan. Pendapat bahwa meminum obat tidak membatalkan puasa adalah pendapatnya pribadi. Hal ini sama sekali tidak bersumber dari wahyu Allah. Padahal Allah tidak pernah menyuruh orang sakit untuk berpuasa. Mengapa ia harus memaksakan puasa sambil minum obat? Djohan Effendi pun terlihat memaksakan pendapatnya kepada Tuhan. Allah tidak pernah mengatakan bahwa shaum itu artinya tidak boleh makan makanan yang mengenyangkan. Dalam shaum, semua yang masuk lewat kerongkongan (selain udara) dilarang. Namun Djohan Effendi hanya mengajukan satu hujjah : Itulah pendapat saya! Hukumnya terserah Tuhan. Seolah-olah ia hendak berkata, Inilah keinginan saya! Terserah Tuhan maunya apa! Apakah ini bukan sebuah bentuk kesombongan di hadapan Allah? Nauudzubillaah... Menurut pendapat saya pribadi, Djohan Effendi jelas-jelas berpendapat bahwa otoritas manusia bisa melampaui Tuhan (sekali lagi, nauudzubillaah...). Hal ini terlihat jelas dalam komentarnya yang memperbandingkan antara agama dan politik : Karena itu para ulama menetapkan bahwa fatwa agama itu bersifat tidak mengikat. Kalau mau yang mengikat, lebih baik mengambil otoritas politik! Sungguh sulit bagi saya untuk membuat kesimpulan, karena justru Djohan Effendi (yang mewakili para pendukung shalat dwibahasa) tidak mengajukan satu hujjah pun yang memiliki nilai ilmiah. Secara ilmiah, teori-teori yang telah dipaparkannya tidak lebih dari sekedar prasangka, spekulasi, dan keinginan pribadi saja. Dan kelihatannya beliau pun harus lebih berhati-hati di masa depan agar tidak terjerumus dalam sikap menuduh yang bukan-bukan kepada Allah (misalnya menuduh bahwa Allah telah berbuat sesuatu secara kebetulan atau tanpa tujuan yang pasti) dan menantang Allah (dengan mengutamakan pendapat pribadi daripada kehendak Allah). Hujjah sudah dipaparkan, keadilan sudah ditegakkan. Tinggallah akal yang perlu mencernanya lebih dalam. wassalaamualaikum wr. wb. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

