sampaikanlah hujjahmu!


----- Original Message ----
From: Ferry Adriansyah <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, July 17, 2008 12:10:41 PM
Subject: RE: [ppiindia] Sampaikanlah Hujjah-mu! (Tanggapan Atas Pendapat Dr. 
Djohan Effendi Perihal Shalat Dwibahasa)


Tung, malem kemaren gw ngaji di pengajian ustad Somad! Tau kaga lo? Itu
besannya ustad sabeni! Nah, ustad sabeni gurunya ustad samiun! Masa si
pitung kaga kenal ya? Kenalnya ustad arab mulu bukan ustad betawi. Malu ama
nama dong!

Nah, kata ustad somad, eh bocah-bocah, gw kasih tau nih yee... kalo lo
belajar fikihnya imam hanafi, itu ada kebolehan bacaan sholat pake bahasa
yang kita mengerti kalo kita kaga ngatri bahasa arab! Nah lo... emang elmu
lo cetek sih tung! Kaya gw doang! Udah pinter, ganteng lagi! Itu kata ustad
sadeli! Lo tau kaga ustad sadeli? Ustad sadeli itu, muridnya ustad somad!
Anaknya ustad sadeli, si zaitun di kawinin ama anaknya ustad samiun! Kaga
tau juga? Ya elo tong! Eh ya elo tung! 

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] s.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] s.com] On Behalf
Of si pitung
Sent: 17 Juli 2008 10:16
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Subject: [ppiindia] Sampaikanlah Hujjah-mu! (Tanggapan Atas Pendapat Dr.
Djohan Effendi Perihal Shalat Dwibahasa)

lucuuu bgt nih..hahaha

manusia lebih hebat dari Tuhannya, mantaf tenan!

Sampaikanlah Hujjah-mu!  (Tanggapan Atas Pendapat Dr. Djohan Effendi Perihal
Shalat Dwibahasa)

http://akmal. multiply. com/journal/ item/60

assalaamu’alaikum wr. wb.

Bagi Jaringan Islam Liberal (JIL) dan para pendukungnya, masalah shalat
dwibahasa belum selesai.  Di mata mereka, ‘Ustadz’ Roy adalah korban yang
telah dizalimi oleh berbagai kalangan yang merasa memiliki otoritas dengan
mengatasnamakan Islam..  Dengan demikian, membela sang korban tentu akan
membuat mereka terlihat seperti pahlawan. 

Saya

pribadi setuju bahwa tidak ada seorang pun manusia di muka bumi ini

yang boleh mengaku memiliki otoritas dengan mengatasnamakan Islam.  Tidak
boleh ada manusia yang kemudian mengambil posisi bagaikan seorang Paus di
dalam dunia Katolik.  Islam adalah ajaran yang sesuai dengan kehendak Allah,
bukan fatwa manusia.  Dengan demikian, fatwa manusialah yang harus
disesuaikan dengan kehendak Allah, bukan sebaliknya.

Oleh karena itu, dalam memutuskan segala sesuatunya, saya tidak ingin kita
terikat oleh suatu tokoh.  Bagi saya, seorang ulama pun bisa berbuat
kesalahan, dan seorang tukang becak pun bisa mengatakan hal yang benar.
Karena itu, marilah kita kembali pada argumen (hujjah) yang benar, tanpa
diganggu oleh ego pribadi.  Singkirkanlah ego pribadi kita, karena agama
Islam berdiri di atas ketentuan Allah, bukan selera manusia.

Dalam menyikapi masalah ini, saya pun hanya memperhatikan segala hujjah yang
dipaparkan.  Janganlah

kita mengatakan, “MUI berkata begini”, “Muhammadiyah bilang begitu”,

atau “PKS berpendapat demikian”, karena Islam tidak tergantung pada

organisasi-organisa si tersebut.  Justru organisasi-organisa si itulah yang
harus menyesuaikan diri dengan ajaran Islam.  Kita

tidak bisa menarik sebuah kesimpulan hanya berdasarkan kata-kata orang

lain, meskipun ia adalah seorang ulama besar sekelas Yusuf Qardhawi,

misalnya.  Saya pribadi sangat menghormati beliau, namun kita harus tetap
memperhatikan hujjah yang digunakannya dalam membuat fatwa.

Karena itu, marilah kita bersikap adil!  Marilah

kita cermati wawancara yang dilakukan oleh JIL melalui salah seorang

reporternya yang bernama Novriantoni dengan salah seorang pakar yang

sering dijadikan rujukan oleh kalangan JIL, yaitu Dr. Djohan Effendi.
Wawancara

ini dilaporkan dalam sebuah artikel berjudul “Bahasa Hanya Budaya,

Bukan Inti Ibadah” yang dimuat di dalam homepage JIL.  Sekali lagi,
ijinkanlah saya untuk mengingatkan agar kita senantiasa bersikap adil.
Singkirkanlah dahulu segala prasangka dan cermatilah secara obyektif setiap
hujjah yang diberikannya!

Ketika ditanya mengenai masalah shalat dwibahasa yang sempat mengundang
kericuhan di Malang, Djohan Effendi berpendapat bahwa masalah ini sebenarnya
adalah masalah yang sudah muncul sejak lama.  Karena itu, maraknya
pemberitaan soal kasus di Malang ini terlihat agak berlebihan, karena
perdebatan mengenai hal ini sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu.

“Sebetulnya ini bukan soal baru, dan polemiknya sudah ada sejak zaman
klasik.  Paling tidak, yang sudah tercatat adalah pendapat Abu Hanifah
(wafat tahun 150 H) yang membolehkan salat dengan bahasa non-Arab.  Pendapat
seperti itu tercantum dalam kitab-kitab fikih klasik.” 

Sudah banyak yang mengatakan bahwa Abu Hanifah memang berpendapat bahwa
shalat dwibahasa itu dibolehkan.  Akan tetapi, tidak ada yang menjelaskan
pada kesempatan apa Abu Hanifah berpendapat demikian.  Apakah beliau
menuliskannya di salah satu bukunya?  Apakah beliau mengatakannya dalam
sebuah forum diskusi?  Tidak ada yang tahu, karena memang tidak ada yang mau
mencantumkan referensinya secara jelas.  Ini adalah sebuah kecacatan dalam
hujjah.  Saya

tidak ingin menuduh yang bukan-bukan, hanya saja, tidak ada manusia

yang mau dipersalahkan atas kata-kata yang tidak pernah keluar dari

mulutnya sendiri.  Jika memang benar Abu Hanifah

berpendapat demikian, maka referensinya harus jelas, agar kita tidak

terhindar dari dosa memfitnah orang lain.

Masalah

kedua dalam pernyataan ini adalah : Djohan Effendi hanya menyebutkan

bahwa polemik masalah ini terjadi sejak dulu, tanpa menjelaskan

bagaimana perkembangan polemik itu sendiri.  Sekarang rakyat Indonesia gemar
sekali berbicara mengenai masalah korupsi.  Bagaimana kalau ada yang datang
kepada Anda dan mengatakan, “Ah, masalah korupsi sudah ada sejak dulu!”
Kata-kata

ini tidak bermanfaat sama sekali, karena hanya menyatakan fakta bahwa

“masalah ini sudah ada sejak dulu” tanpa menawarkan solusi sama sekali.
Dalam kaitannya dengan polemik shalat dwibahasa, Djohan Effendi sama sekali
tidak menjelaskan hujjah apa yang digunakan oleh orang-orang yang
membolehkan shalat dwibahasa itu dan yang melarangnya.  Mungkin benar bahwa
polemik ini sudah terjadi sejak dulu, tapi itu adalah fakta sejarah.  Hanya
dengan berbekal fakta itu saja kita, kita belum bisa menarik sebuah
kesimpulan.  Dan masalah ini tidak akan kunjung selesai jika hujjah dari
masing-masing kelompok tidak dijelaskan dengan baik.

Kemudian,

Djohan Effendi berpendapat bahwa penggunaan bahasa Arab hingga kini

dalam shalatnya umat Islam lebih karena suatu pengaruh arabisasi yang

amat kuat :

“Tapi saya kira, karena kuatnya pengaruh arabisasi, maka keislaman dan
kearaban itu selalu dianggap menyatu.”

Saya adalah seorang warga negara Indonesia yang lahir dengan darah Minang
tulen.  Kalau boleh, saya juga ingin melaksanakan shalat dengan bahasa
Minang yang terkenal dengan nilai sastranya yang tinggi.  Tapi saya tetap
pada pendirian saya bahwa shalat itu memang wajib menggunakan bahasa Arab.
Bukan karena arabisasi, karena toh saya tidak pernah berpikiran bahwa
orang-orang Arab itu lebih mulia daripada saya.  Tidak ada hubungannya
dengan kebangsaan Arab.  Masalahnya terletak pada bahasanya.

Jika

kita membaca karya-karya Quraish Shihab – yang mana saja – maka akan

jelas bagi kita bahwa Allah memilih bahasa Arab bukannya tanpa rencana.
Bahasa Arab adalah bahasa yang paling rumit yang ada di muka bumi dengan
kosa kata yang paling kaya dan spesifik.  Dengan

demikian, harus diakui, bahasa Arab adalah bahasa yang paling tepat

untuk menampung begitu banyak hikmah dalam sebuah kalimat.  Karena itulah
Al-Qur’an diturunkan ke dalam bahasa Arab, bukan bahasa Inggris, India,
Indonesia, dan juga bukan bahasa Minang.  Seberapa

pun cintanya kita pada bahasa ibu kita, namun kita harus menerima

kenyataan bahwa memang bahasa Arablah yang paling tepat untuk digunakan

dalam Al-Qur’an.  Jika memang ada bahasa lain yang bisa menggantikannya,
maka ajukanlah sebuah hujjah!  Saya

sudah memaparkan secara mendalam mengenai betapa tidak tergantikannya

bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an dalam artikel saya yang lain

berjudul “Mengapa Harus Bahasa Arab?”

Djohan Effendi pun menyatakan bahwa polemik semacam ini tidak hanya terjadi
di dunia Islam.  Beliau

mengambil contoh apa yang terjadi pada umat Katolik di masa lalu,

ketika bahasa ibadah mereka dibatasi hanya pada bahasa Latin yang tidak

dipahami oleh kebanyakan umat Katolik sendiri.

“Tapi

sesungguhnya polemik ini bukan khas Islam. Dulu, soal bahasa apa yang

absah digunakan dalam liturgi juga menjadi persoalan Gereja Katolik.

Dulunya, bahasa ibadah mereka dibatasi pada bahasa Latin yang tidak

banyak dipahami orang. Tapi kemudian, itu direformasi.”

Istilah

‘direformasi’ pada akhir kutipan di atas membuat pembaca tersugesti

dengan pemikiran bahwa apa yang dilakukan oleh Gereja Katolik (yaitu

membolehkan penggunaan bahasa lain dalam ibadah) adalah suatu hal yang

baik.  Pertanyaannya sederhana saja : Mengapa Gereja Katolik melakukan hal
tersebut?  Dan apakah umat Islam perlu menirunya?

Saya sudah mengajukan hujjah mengenai tidak tergantikannya bahasa Arab dalam
Al-Qur’an dan shalat.  Maka apakah alasannya Gereja Katolik membolehkan
penggunaan banyak bahasa?  Jika

itu memang kehendak mereka, dan jika mereka memang memiliki alasan yang

bagus untuk melakukannya, maka hal tersebut tidak ada urusannya dengan

umat Islam.  Bagi saya, sampai detik ini, tidak ada alasan untuk mengganti
bahasa Arab dalam shalat dengan bahasa Indonesia.  Dan yang jelas, belum ada
seorang pun yang bisa memberikan alasan yang bagus untuk melakukan hal
semacam itu.  Karenanya, kutipan ini pun tidak bisa dianggap sebagai sebuah
hujjah yang lengkap.

Lebih

lanjut, Djohan Effendi tetap berpendapat bahwa penggunaan bahasa Arab

disebabkan karena Rasulullah saw. memang diturunkan di tanah Arab.  Jika
beliau diutus di Polandia, maka beliau akan shalat dalam bahasa Polandia.
Demikian juga bila beliau diutus di tanah Jawa, Sunda, Papua, atau Nigeria,
maka beliau akan shalat dalam bahasa lokal..  Djohan Effendi berkesimpulan
bahwa sebenarnya shalat adalah masalah hati..

“Itu

karena Nabi memang diutus di tanah Arab. Andaikata dia diutus di tanah

Jawa, sudah pasti dia akan salat dengan bahasa Jawa. Jadi faktor bahasa

hanyalah faktor budaya dan bukan bagian inti dari ibadah. Inti salat

adalah bagaimana orang bisa berkomunikasi dengan Tuhan secara mesra.

Dan itu biasanya diungkapkan dalam bentuk bahasa yang merupakan

ungkapan hati. Inti dari ibadah sebetulnya hati.”

Sebenarnya komentar ini hanyalah spekulasi.  Kenyataannya, Rasulullah saw.
memang dilahirkan di tanah Arab, dan bahasa Al-Qur’an dan shalat menggunakan
bahasa Arab.  Kesimpulan

bahwa “jika Rasulullah saw. turun di tanah Jawa maka beliau akan shalat

dengan bahasa Jawa” adalah sebuah kesimpulan tidak berdasar.  Tidak ada
bukti bahwa bahasa Jawa bisa menggantikan bahasa Arab dalam hal
kompleksitasnya.  Jika

memang benar bahasa Jawa bisa menggantikan bahasa Arab, maka buatlah

semisal satu ayat dalam Al-Qur’an dengan bahasa Jawa, lalu kita

perbandingkan secara terbuka.

Menurut saya, Allah akan menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa yang paling
lengkap dan mencukupi.  Seluruh hikmah dirangkum dalam sebuah kitab yang
amat ringkas.  Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah bahasa yang memiliki
kemampuan untuk merangkum seluruh hikmah tersebut secara singkat pula.  Jika

memang Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Jawa, maka pastilah Allah

telah menjadikan bahasa Jawa tersebut sebagai bahasa yang lengkap!  Jika

bahasa Perancis lebih berkualitas, maka Al-Qur’an pun pasti diturunkan

dalam bahasa Perancis dan Rasulullah saw. pastilah seorang bangsa Galia!

Di

sisi lain, klaim bahwa “shalat dalam bahasa Arab karena kebetulan saja

Rasulullah saw. dilahirkan di tanah Arab” adalah sebuah penghinaan

terhadap Allah.  Bagaimana mungkin sebuah perbuatan Allah dinyatakan sebagai
sebuah kebetulan yang tidak memiliki tujuan yang pasti?  Apakah Allah secara
tidak sengaja memilih tanah Arab?  Apakah Allah memilih bahasa Arab tanpa
alasan yang jelas? 

Kita

harus berterima kasih kepada Harun Yahya dan para ilmuwan Muslim

lainnya karena telah membuktikan bahwa tidak ada secuil pun ciptaan

Allah yang tidak ada tujuannya.  Warna-warni daun dijadikan-Nya lembut di
mata kita untuk menenangkan syaraf manusia.  Kalau saja warna-warni
tetumbuhan terlihat mencolok, maka mata kita akan segera lelah dan syaraf
pun menjadi tegang.  Bahkan segala hal yang diciptakan-Nya di langit dan di
bumi ini senantiasa sesuai dengan kebutuhan manusia.  Keberadaan segala
ciptaan-Nya adalah fungsi dari keseimbangan kehidupan.  Bahkan kecoak pun
memiliki arti penting dalam sebuah ekosistem.  Pantaskah bila kita menuduh
bahwa Allah telah memilih bahasa Arab hanya karena kebetulan?  Subhaana
rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun...

Selanjutnya, Djohan Effendi berpendapat bahwa sebenarnya setiap Muslim tidak
boleh bersifat alpa dalam shalatnya..  Artinya, kita semua harus mengerti
apa yang kita baca dalam shalat.  Shalat dwibahasa, pada hakikatnya, adalah
sebuah ajaran yang ditujukan untuk menghindari kealpaan dalam shalat tsb. 

“Kita ‘kantidak hanya disuruh membaca Alquran, tapi juga berusaha
memahaminya.

Kalau kita tidak memahaminya seperti di dalam salat, kita akan terkena

ayat “Wailun lil mushallîn, alladzîna hum `an shalâtihim sâhûn” (celakalah
orang-orang yang mengerjakan salat tapi mereka alpa di dalam salatnya!).
Jadi, kata sâhûn itu bisa juga diartikan tidak mampu memahami apa yang dia
baca di dalam

salat. Karena itu, logis juga kalau Abu Hanifah membolehkan salat tidak

dengan bahasa Arab, biar kita tidak sâhûn. Nah, Ustadz Roy ini saya kira
tidak ingin masuk ke dalam kelompok yang sâhûn tadi.”

Tanpa

mendiskusikan masalah penafsiran sebuah ayat dari surah Al-Maa’uun di

atas, saya harus mengatakan bahwa saya pribadi setuju bahwa kita harus

memahami apa yang kita baca dalam shalat.  Kita

sudah menemukan banyak sekali ulama yang telah bekerja keras

menafsirkan Al-Qur’an dan telah menuliskan begitu banyak karya yang

dapat kita baca.  Menurut saya, jika kita ingin memahami apa yang kita baca,
maka kita harus mencari kitab tafsir, bukan sekedar terjemahannya!

Mengucapkan terjemahan dari bacaan-bacaan shalat dalam bahasa Indonesia
jelas-jelas telah menyempitkan artinya.  Misalnya ucapan Basmalah
diterjemahkan sebagai “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang”.  Apakah ini bukan sebuah penyempitan makna?  Apa yang Anda
pahami dari membaca terjemahan tersebut?  Apakah memang ucapan “bismi”
memang sekedar bermakna “dengan nama”?  Apakah “Ar-Rahmaan”dan
“Ar-Rahiim”memang hanya bermakna “Yang Maha Pengasih” dan “Yang Maha
Penyayang”?

Apakah “wal ‘ashr” hanya bermakna “demi masa”?  Logiskah

jika Allah bersumpah demi masa bahwa setiap manusia pasti merugi,

kecuali mereka yang memenuhi empat kriteria dalam surah Al-‘Ashr?  Saya
telah mengulas khusus masalah surah Al-‘Ashr ini dalam artikel “Penyesalan
di Waktu ‘Ashr”.  Jika

kita membaca kitab-kitab tafsir Al-Qur’an, maka kita akan paham bahwa

pemahaman harus berhubungan dengan penafsiran, bukan penerjemahan.  Jika

memang para pelaku shalat dwibahasa ingin memahami shalat mereka – dan

ini memang keinginan yang baik – maka seharusnya ia banyak membaca

tafsir Qur’an dan berdiskusi dengan para ahli, bukan malah menyempitkan

pemahamannya dengan sekedar penerjemahan Al-Qur’an saja!

Inti

permasalahannya – menurut saya – adalah karena Djohan Effendi, JIL, dan

para pendukungnya, tidak merasa nyaman hidup dalam sebuah aturan.  Mereka
tidak ingin dipaksa-paksa, tapi toh mereka selalu memaksakan pendapat
mereka, bahkan kepada Tuhan sekalipun!

“Misalnya,

saya berpendapat bahwa minum obat ketika puasa tidak akan membatalkan

puasa saya, dan itu saya negosiasikan langsung kepada Allah. Sebab,

saya menanggap yang membatalkan puasa adalah makan yang mengenyangkan.

Karena itu, hukumnya langsung saja saya serahkan kepada Tuhan.”

Pendapat bahwa “meminum obat tidak membatalkan puasa” adalah pendapatnya
pribadi..  Hal ini sama sekali tidak bersumber dari wahyu Allah.  Padahal
Allah tidak pernah menyuruh orang sakit untuk berpuasa.  Mengapa ia harus
memaksakan puasa sambil minum obat? 

Djohan Effendi pun terlihat memaksakan pendapatnya kepada Tuhan.  Allah
tidak pernah mengatakan bahwa shaum itu artinya tidak boleh makan makanan
yang mengenyangkan.  Dalam shaum, semua yang masuk lewat kerongkongan
(selain udara) dilarang.  Namun Djohan Effendi hanya mengajukan satu hujjah
: Itulah pendapat saya!  Hukumnya terserah Tuhan.  Seolah-olah ia hendak
berkata, “Inilah keinginan saya!  Terserah Tuhan maunya apa!”  Apakah ini
bukan sebuah bentuk kesombongan di hadapan Allah?  Na’uudzubillaah. ..

Menurut pendapat saya pribadi, Djohan Effendi jelas-jelas berpendapat bahwa
otoritas manusia bisa melampaui Tuhan (sekali lagi, na’uudzubillaah. ..).
Hal ini terlihat jelas dalam komentarnya yang memperbandingkan antara agama
dan politik :

“Karena

itu para ulama menetapkan bahwa fatwa agama itu bersifat tidak

mengikat. Kalau mau yang mengikat, lebih baik mengambil otoritas

politik!”

Sungguh

sulit bagi saya untuk membuat kesimpulan, karena justru Djohan Effendi

(yang mewakili para pendukung shalat dwibahasa) tidak mengajukan satu hujjah
pun yang memiliki nilai ilmiah.  Secara ilmiah, teori-teori yang telah
dipaparkannya tidak lebih dari sekedar prasangka, spekulasi, dan keinginan
pribadi saja.  Dan

kelihatannya beliau pun harus lebih berhati-hati di masa depan agar

tidak terjerumus dalam sikap menuduh yang bukan-bukan kepada Allah

(misalnya menuduh bahwa Allah telah berbuat sesuatu secara kebetulan

atau tanpa tujuan yang pasti) dan menantang Allah (dengan mengutamakan

pendapat pribadi daripada kehendak Allah).

Hujjah sudah dipaparkan, keadilan sudah ditegakkan.  Tinggallah akal yang
perlu mencernanya lebih dalam.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

[Non-text portions of this message have been removed]

------------ --------- --------- ------

************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* 
*********

Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups. yahoo.com/ group/ppiindia

************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* 
*********

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _

Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)

2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.

3. Reading only, http://ppi-india. blogspot. com 

4. Satu email perhari: ppiindia-digest@ yahoogroups. com

5. No-email/web only: ppiindia-nomail@ yahoogroups. com

6. kembali menerima email: ppiindia-normal@ yahoogroups. com

Yahoo! Groups Links

http://groups. yahoo.com/ group/ppiindia/

Individual Email | Traditional

http://groups. yahoo.com/ group/ppiindia/ join

(Yahoo! ID required)

mailto:ppiindia-digest@ yahoogroups. com 

mailto:ppiindia-fullfeatur [EMAIL PROTECTED] com

ppiindia-unsubscrib [EMAIL PROTECTED] com

http://docs. yahoo.com/ info/terms/

[Non-text portions of this message have been removed]

    


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke