bang fery yg ganteng & ilmunya kaga terbatas emang paling bs koar2 ga karu2an

nulis panjang2 tetep aje bang, nyang namenye spritual musti digabung ma ritual.
tunduk hati sekaligus tunduk badannya. Jangan sesat kaya orang liberal yg mikir 
cukup cuma spiritualnye doank, sholat, puasa kaga mau haha atau sebaliknya 
sholat kaga pake tu'maninah, badan kmana, pikiran & hati kmana2.
ente spakat khan ritual & spiritual merupakan satu kesatuan tak terpisahkan?

sayang skali ente ngaku bukan orang liberal tp ga pernah muncul opini & ide2 yg 
mengkritisi mereka, aah ga usah maluu2 bang, langsung show aje, ane mo liat, 
bener kaga tuh pengakuan ente. Ane siy bukan 'kurang demen' ma liberal tp 'kaga 
demen' ma penderita SEPILIS, kaga bs ditawar2 lg.
oh iye, klo ane salah, salahnye dmane bang?
penderita sepilis bilang, semua agame same benernye, ane kaga stuju!
penderita sepilis bilang,  muslimah boleh kawin dg non muslim, ane kaga stuju!
penderita sepilis bilang, iblis akan msk surga tertinggi, ane kaga stuju!
msh byk lg bang, mo bahas soal yg mane nih hihi




----- Original Message ----
From: Ferry Adriansyah <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, July 17, 2008 12:04:30 PM
Subject: RE: [ppiindia] Antara Ritual dan Spiritual


Tung, kalo lo ngarti agama kaga bakal begitu komentar lo. Si akmal, idola lo
itu, lagi ngulang sejarah kelam. Mempertandingkan spiritualitas dan ritual.
Atawa kalo dalam bahasa agama lo, sufisme dan fiqih. Coba lo tanya ke ustad
samiun sono! Jangan ustad yang bawa-bawa golok dan molotov! 

Gw kasih tau dikit nih ya, akmal itu basisnya Cuma mengandalkan elmu fikih
dan sedikit hikmatutasyri untuk membahas spiritual (sufisme). Coba liat pas
dia lagi bahas sholat dan hikmah sholat. Segitu doang elmunya. Ya jelas kaga
nyampe deh buat ngerti dengan apa yang disampaikan para sufi termasuk
abdullah bin mubarok. Jangan karena syir'ah yang ngangkat tema sufi untuk
membela pikiran liberal mereka jadi lo dan akmal asal maen sabet dan gorok
aja tuh sufisme secara umum! Bahlul ente! Magrum wa majnun! Kalo akmal
bilang gak nemu di alquran dan hadis yang ngedepanin elmu sufi, berarti
akmal cuba tau kulit luarnya islam, alquran dan hadis. Belom tau dalemnya
samudera islam! Sono lo cepetan ke ustad samiun belajar elmu hakekat! Pasti
ama ustad samiun lo diceritain kisah nabi musa dan khidr! Ama ustad samiun
lo dibukain surat al-kahfi pastinya! Lo diceritain musa yang udah merasa
cukup elmu bermodalkan elmu syariat/fikih disuruh belajar ke khidr! Musa
belom nyampe elmunya pas khidr bocorin peraho orang yang nolong mereka! Musa
protes pas di suatu kampung khidr ketemu anak kecil trus dibunuh! Musa kaga
sabar pas disatu kampung gak ada yang nulungin mereka berdua eh ama khidr
ada bangunan jelek direnovasi! Nah! Gitu juga cerita ali bin muwaffaq!
Untungnya musa terbuka dan justru jadi sadar pentingnya elmu
sufisme/spiritual! Kalo sufisme keras terhadap praktek ritual, sebenarnya
Cuma mau kritik, jangan ampe orang Cuma jalanin ritual gak pake spiritual! 

Gw sih tung, kurang demen juga ama islam model liberal, juga islam model lo!
Gw seneng islam yang kaga maen curiga, gak sok bener yang kaya lo. Juga
islam yang maen gampang-gampangin agama! Gw sih lebih seneng ngaji ama ustad
sabeni! Tau kaga lo? Ustad sabeni gurunya ustad samiun!

Ferry

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] s.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] s.com] On Behalf
Of si pitung
Sent: 17 Juli 2008 10:21
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Subject: [ppiindia] Antara Ritual dan Spiritual

mudah2an para pengidap penyakit SEPILIS yg dah kronis menjadi sadar &
bertobat..

Antara Ritual dan Spiritual

http://akmal. multiply. com/journal/ item/210

assalaamu'alaikum wr. wb.

Dalam salah satu edisinya, majalah Syir'ah pernah melemparkan ide secara
eksplisit bahwa agama Islam itu harus dipahami lebih secara spiritual, bukan
ritual.  Dengan kata lain, ada pendapat yang mengatakan bahwa nilai-nilai
spiritual lebih penting daripada ritual.  Sebenarnya

pendapat ini bertebaran di sana-sini sejak pertama kali majalah

keluaran Yayasan Desantara ini beredar, meskipun lebih sering dalam

bentuk yang implisit.

Saya

membaca edisi tersebut pada sebuah acara kumpul-kumpul non-formal di

rumah seorang teman, dan baru saja teringat kembali setelah membaca sebuah
jurnal singkat dari mas Jonru.  Saya ingat betul artikel itu, karena begitu
menarik perhatian dan mengundang banyak pertanyaan.  Hanya saja, kelalaian
saya mencatat ide-ide yang muncul membuat artikel ini tertunda begitu
lamanya.

Kepandaian penulis artikel itu bisa mengecoh banyak orang, seolah-olah apa
yang dikatakannya adalah fakta belaka.  Padahal, teori yang dilontarkannya
hanyalah sebuah opini.  Siapa

yang mengatakan bahwa Allah menganggap spiritualitas seorang Muslim

lebih penting daripada ritual-ritual ibadah yang dilaksanakannya?  Supaya

adil, pertanyaannya pun harus diajukan pada kedua sisi : siapa yang

mengatakan bahwa Allah menganggap bahwa ritual-ritual ibadah itu lebih

penting daripada nilai-nilai spiritualnya?

Pada edisi No.26 / III / Januari 2006, Bisri Effendy menulis sebuah 'cerita'
menarik pada kolom Percikan di majalah Syir'ah.  Alkisah,

Abdullah ibn Mubarak, seorang sufi yang baru saja kembali dari ibadah

haji mendengar percakapan dua malaikat dalam bunga tidurnya.  Menurut

percakapan 'dua malaikat' itu, tempo hari ada enam ratus ribu orang

yang menunaikan ibadah haji, tapi tak satupun yang ibadahnya diterima

oleh Allah SWT. 

Keajaiban belum berhenti di sini.  Ternyata

ada seorang tukang sepatu dari Damaskus yang bernama Ali ibn Muwaffaq

yang justru dianggap telah menunaikan ibadah haji oleh Allah.  Abdullah

ibn Mubarak kemudian pergi jauh-jauh ke Damaskus untuk bertemu dengan

sang 'haji mabrur' itu untuk meminta tips dan trik darinya seputar

ibadah hajinya yang diterima meskipun belum dilaksanakannya itu.  Menurut

penjelasan Ali ibn Muwaffaq, ia memang telah lama memendam hasrat untuk

pergi berhaji, dan telah menabung selama 30 tahun.  Akan tetapi, uang
tersebut telah diberikannya kepada tetangganya yang lebih membutuhkannya
belum lama ini.

Kesimpulan akhir yang ditarik oleh penulis cukup menakjubkan.  Lantas apa
bedanya daerah-daerah lain dengan Mekkah?  Mengapa kita harus berhaji ke
Mekkah, bukan ke Karaeng di Sulawesi Selatan, misalnya?  Bukankah pemusatan
ibadah haji di Mekkah adalah keputusan politik Bani Hasyim?  Apa

salahnya berhaji ke tempat lain, karena toh tidak semua yang pergi

berthawaf ke Mekkah diterima ibadahnya, namun justru ada juga

orang-orang semacam Ali ibn Muwaffaq yang tidak sempat pergi berhaji,

namun justru dianggap telah menunaikan ibadah haji lantaran niatnya

yang amat tulus itu?

Pengambilan kesimpulan semacam ini memang sangat lemah dasar logikanya.
Pertama, kisah diterimanya haji Ali ibn Muwaffaq itu tidak lebih dari mimpi
yang dialami oleh Abdullah ibn Mubarak..  Tidak ada jaminan bahwa Allah
benar-benar menerima ibadah hajinya hanya karena niatnya yang tulus.  Saya
tidak bermaksud mendiskreditkan Ali ibn Muwaffaq, namun inilah kenyataannya.
Mimpi seseorang tentang diterimanya amal ibadah orang lain tidak bisa jadi
ukuran objektif sama sekali.

Kedua,

katakanlah memang benar Ali ibn Muwaffaq diterima ibadahnya karena

niatnya yang amat tulus tersebut, namun sama sekali tidak berarti bahwa

Mekkah bisa dipindahkan ke lain tempat.  Bahkan Ali ibn Muwaffaq pun tidak
berpendapat demikian.  Kalau

memang ia berpendapat bahwa haji bisa dilaksanakan di mana saja, tentu

ia tidak perlu menabung tiga puluh tahun lamanya sambil memendam impian

untuk pergi ke Baitullah.

Yang

paling parah adalah ketika Bisri Effendy menyimpulkan bahwa pemusatan

ibadah haji di Mekkah adalah keputusan politis Bani Hasyim.  Bani Hasyim
sama sekali tidak memiliki hak apa pun untuk membuat keputusan semacam itu.
Allah-lah

yang memutuskan bahwa ibadah haji adalah wajib bagi mereka yang mampu

melakukan perjalanan ke Baitullah (lihat Q.S. Ali-Imraan [3] : 97),

sedangkan Baitullah sendiri tidak mungkin disalahartikan dengan tempat

lain, karena kisah pendiriannya telah dijelaskan oleh Allah pada Q.S.

Al-Baqarah [2] : 125-127.  Tidak pelak lagi,

Allah-lah - dan bukan Bani Hasyim - yang telah mewajibkan seluruh

Muslim berhaji ke Baitullah, dan Dia juga telah menentukan bahwa

Baitullah tak dapat digantikan dengan tempat lain, melainkan tetaplah

sebuah bangunan sederhana yang dahulu ditinggikan dasar-dasarnya oleh

Nabi Ibrahim as. bersama anaknya, Isma'il as.  Bahkan Nabi Muhammad saw.
sekalipun tidak punya cukup nyali untuk memindahkan Baitullah!

Kembali

pada masalah antara spiritual dan ritual, agaknya perlu dipertanyakan

bagaimana para kontributor majalah Syir'ah bisa merasa yakin bahwa

Allah lebih mementingkan spiritual daripada ritual.  Sejauh yang saya
ketahui, Allah tidak pernah menegaskan hal semacam itu di dalam Al-Qur'an
dan Al-Hadits.

Memang betul, segalanya berawal dari niat.  Orang yang bersedekah dengan
niat cari muka insya Allah tak akan diterima amal sedekahnya.  Demikian

juga orang yang gagal berhaji lantaran membantu saudaranya yang lebih

membutuhkan kemungkinan besar akan mendapat ganjaran yang amat besar

dari Allah.  Bukan tidak mungkin ia akan diganjar dengan pahala sebesar
pahala melakukan ibadah haji.  Ada kemungkinan, tapi tidak ada seorang
manusia pun yang bisa memastikannya.

Sepanjang pengetahuan saya, Islam berarti "kepatuhan yang sempurna".  Kalau
ada yang mempertanyakan kepatuhan itu harus diberikan kepada siapa, saya
rasa Syahadatain telah menjawab semua pertanyaan.  Yang namanya patuh secara
sempurna tentu saja mencakup ketundukan hati (spiritual) dan badan (ritual).

Memang ada benang merah antara majalah Syir'ah, JIL, dan gerakan liberalisme
di Indonesia.  Jangan

heran kalau ada seorang petinggi di kalangan liberalis yang dengan

gagahnya mengatakan bahwa dirinya sudah sejak lama tidak lagi

melaksanakan shalat secara ritual.  Akan tetapi, menurutnya sendiri, hatinya
telah khusyuk tertuju kepada Allah, dan itu dianggapnya cukup.  Sekali lagi,
dia sendirilah yang menganggapnya cukup.  Allah dan Rasul-Nya tidak pernah
membenarkan perbuatannya.

Sepanjang

interaksi saya dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits, tidak pernah saya temui

satu dalil pun yang menyebutkan bahwa spiritual lebih diutamakan

daripada ritual.  Akan tetapi, saya yakin bahwa

Allah Maha Pengasih dan Penyayang kepada manusia, sehingga

kadang-kadang memang 'kekurangan' pada ritual bisa ditutupi dengan

kesempurnaan niat dan usaha.  Kalau tidak bisa shalat sambil berdiri, duduk
atau berbaring pun boleh.  Tapi harus tetap shalat!  Al-Fatihah tetaplah
harus dibaca, meskipun dengan susah payah, atau harus dibaca dalam hati.
Kalau tidak mampu shaum di bulan Ramadhan, boleh dilunasi di lain hari.
Akan tetapi Ramadhan tidak boleh dipindah ke Muharram, tentu saja.  Itulah
keringanan dari Allah, namun bukan berarti kita bebas mempermainkannya.
Mempermainkan Allah?  Na'uudzubillaah!

Sebagai

catatan akhir, perlu saya jelaskan pula bahwa sepanjang perjalanan

hidup saya yang sudah hampir dua puluh lima tahun ini, saya belum

pernah menemukan ritual dalam agama Islam yang tidak ada gunanya.  Mau tahu
manfaat wudhu bagi kesehatan?  Silakan tanya Prof. Hembing!  Kita

tidak bisa mengubah ritual membasuh telinga menjadi membasuh lutut,

karena Allah telah memberikan kebaikan bagi manusia melalui

ritual-ritual semacam itu, betapa pun remeh kelihatannya.

Gerakan-gerakan shalat sudah dikonfirmasikan sebagai 'latihan' yang membawa
manfaat baik bagi tubuh.  Kita

tidak bisa membuat banyak Ka'bah, karena berkumpul di Baitullah bersama

jutaan saudara seiman dari berbagai bangsa tentu lebih menggetarkan

hati (dengan kata lain : ritual bisa mempengaruhi spiritual, dan karena

itu, ritual tak bisa disepelekan) ..  Bahkan kalau

tersenyum pun dianggap sebagai sebuah ritual, maka yakinlah bahwa

senyum itu pun memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.  Ah,
masakan saya perlu menjelaskan pula manfaat senyum?

wassalaamu'alaikum wr. wb.

[Non-text portions of this message have been removed]

------------ --------- --------- ------

************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* 
*********

Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups. yahoo.com/ group/ppiindia

************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* 
*********

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _

Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)

2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.

3. Reading only, http://ppi-india. blogspot. com 

4. Satu email perhari: ppiindia-digest@ yahoogroups. com

5. No-email/web only: ppiindia-nomail@ yahoogroups. com

6. kembali menerima email: ppiindia-normal@ yahoogroups. com

Yahoo! Groups Links

http://groups. yahoo.com/ group/ppiindia/

Individual Email | Traditional

http://groups. yahoo.com/ group/ppiindia/ join

(Yahoo! ID required)

mailto:ppiindia-digest@ yahoogroups. com 

mailto:ppiindia-fullfeatur [EMAIL PROTECTED] com

ppiindia-unsubscrib [EMAIL PROTECTED] com

http://docs. yahoo.com/ info/terms/

[Non-text portions of this message have been removed]

    


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke