mudah2an para pengidap penyakit SEPILIS yg dah kronis menjadi sadar & bertobat..


Antara Ritual dan Spiritual
http://akmal.multiply.com/journal/item/210



assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Dalam salah satu edisinya, majalah Syir’ah pernah melemparkan ide secara 
eksplisit bahwa agama Islam itu harus dipahami lebih secara spiritual, bukan 
ritual.  Dengan kata lain, ada pendapat yang mengatakan bahwa nilai-nilai 
spiritual lebih penting daripada ritual.  Sebenarnya
pendapat ini bertebaran di sana-sini sejak pertama kali majalah
keluaran Yayasan Desantara ini beredar, meskipun lebih sering dalam
bentuk yang implisit.
 
Saya
membaca edisi tersebut pada sebuah acara kumpul-kumpul non-formal di
rumah seorang teman, dan baru saja teringat kembali setelah membaca sebuah 
jurnal singkat dari mas Jonru.  Saya ingat betul artikel itu, karena begitu 
menarik perhatian dan mengundang banyak pertanyaan.  Hanya saja, kelalaian saya 
mencatat ide-ide yang muncul membuat artikel ini tertunda begitu lamanya.
 
Kepandaian penulis artikel itu bisa mengecoh banyak orang, seolah-olah apa yang 
dikatakannya adalah fakta belaka.  Padahal, teori yang dilontarkannya hanyalah 
sebuah opini.  Siapa
yang mengatakan bahwa Allah menganggap spiritualitas seorang Muslim
lebih penting daripada ritual-ritual ibadah yang dilaksanakannya?  Supaya
adil, pertanyaannya pun harus diajukan pada kedua sisi : siapa yang
mengatakan bahwa Allah menganggap bahwa ritual-ritual ibadah itu lebih
penting daripada nilai-nilai spiritualnya?
 
Pada edisi No.26 / III / Januari 2006, Bisri Effendy menulis sebuah ‘cerita’ 
menarik pada kolom Percikan di majalah Syir’ah.  Alkisah,
Abdullah ibn Mubarak, seorang sufi yang baru saja kembali dari ibadah
haji mendengar percakapan dua malaikat dalam bunga tidurnya.  Menurut
percakapan ‘dua malaikat’ itu, tempo hari ada enam ratus ribu orang
yang menunaikan ibadah haji, tapi tak satupun yang ibadahnya diterima
oleh Allah SWT.  
 
Keajaiban belum berhenti di sini.  Ternyata
ada seorang tukang sepatu dari Damaskus yang bernama Ali ibn Muwaffaq
yang justru dianggap telah menunaikan ibadah haji oleh Allah.  Abdullah
ibn Mubarak kemudian pergi jauh-jauh ke Damaskus untuk bertemu dengan
sang ‘haji mabrur’ itu untuk meminta tips dan trik darinya seputar
ibadah hajinya yang diterima meskipun belum dilaksanakannya itu.  Menurut
penjelasan Ali ibn Muwaffaq, ia memang telah lama memendam hasrat untuk
pergi berhaji, dan telah menabung selama 30 tahun.  Akan tetapi, uang tersebut 
telah diberikannya kepada tetangganya yang lebih membutuhkannya belum lama ini.
 
Kesimpulan akhir yang ditarik oleh penulis cukup menakjubkan.  Lantas apa 
bedanya daerah-daerah lain dengan Mekkah?  Mengapa kita harus berhaji ke 
Mekkah, bukan ke Karaeng di Sulawesi Selatan, misalnya?  Bukankah pemusatan 
ibadah haji di Mekkah adalah keputusan politik Bani Hasyim?  Apa
salahnya berhaji ke tempat lain, karena toh tidak semua yang pergi
berthawaf ke Mekkah diterima ibadahnya, namun justru ada juga
orang-orang semacam Ali ibn Muwaffaq yang tidak sempat pergi berhaji,
namun justru dianggap telah menunaikan ibadah haji lantaran niatnya
yang amat tulus itu?
 
Pengambilan kesimpulan semacam ini memang sangat lemah dasar logikanya.  
Pertama, kisah diterimanya haji Ali ibn Muwaffaq itu tidak lebih dari mimpi 
yang dialami oleh Abdullah ibn Mubarak..  Tidak ada jaminan bahwa Allah 
benar-benar menerima ibadah hajinya hanya karena niatnya yang tulus.  Saya 
tidak bermaksud mendiskreditkan Ali ibn Muwaffaq, namun inilah kenyataannya.  
Mimpi seseorang tentang diterimanya amal ibadah orang lain tidak bisa jadi 
ukuran objektif sama sekali.
 
Kedua,
katakanlah memang benar Ali ibn Muwaffaq diterima ibadahnya karena
niatnya yang amat tulus tersebut, namun sama sekali tidak berarti bahwa
Mekkah bisa dipindahkan ke lain tempat.  Bahkan Ali ibn Muwaffaq pun tidak 
berpendapat demikian.  Kalau
memang ia berpendapat bahwa haji bisa dilaksanakan di mana saja, tentu
ia tidak perlu menabung tiga puluh tahun lamanya sambil memendam impian
untuk pergi ke Baitullah.
 
Yang
paling parah adalah ketika Bisri Effendy menyimpulkan bahwa pemusatan
ibadah haji di Mekkah adalah keputusan politis Bani Hasyim.  Bani Hasyim sama 
sekali tidak memiliki hak apa pun untuk membuat keputusan semacam itu.  
Allah-lah
yang memutuskan bahwa ibadah haji adalah wajib bagi mereka yang mampu
melakukan perjalanan ke Baitullah (lihat Q.S. Ali-Imraan [3] : 97),
sedangkan Baitullah sendiri tidak mungkin disalahartikan dengan tempat
lain, karena kisah pendiriannya telah dijelaskan oleh Allah pada Q.S.
Al-Baqarah [2] : 125-127.  Tidak pelak lagi,
Allah-lah – dan bukan Bani Hasyim – yang telah mewajibkan seluruh
Muslim berhaji ke Baitullah, dan Dia juga telah menentukan bahwa
Baitullah tak dapat digantikan dengan tempat lain, melainkan tetaplah
sebuah bangunan sederhana yang dahulu ditinggikan dasar-dasarnya oleh
Nabi Ibrahim as. bersama anaknya, Isma’il as.  Bahkan Nabi Muhammad saw. 
sekalipun tidak punya cukup nyali untuk memindahkan Baitullah!
 
Kembali
pada masalah antara spiritual dan ritual, agaknya perlu dipertanyakan
bagaimana para kontributor majalah Syir’ah bisa merasa yakin bahwa
Allah lebih mementingkan spiritual daripada ritual.  Sejauh yang saya ketahui, 
Allah tidak pernah menegaskan hal semacam itu di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.
 
Memang betul, segalanya berawal dari niat.  Orang yang bersedekah dengan niat 
cari muka insya Allah tak akan diterima amal sedekahnya.  Demikian
juga orang yang gagal berhaji lantaran membantu saudaranya yang lebih
membutuhkan kemungkinan besar akan mendapat ganjaran yang amat besar
dari Allah.  Bukan tidak mungkin ia akan diganjar dengan pahala sebesar pahala 
melakukan ibadah haji.  Ada kemungkinan, tapi tidak ada seorang manusia pun 
yang bisa memastikannya.
 
Sepanjang pengetahuan saya, Islam berarti “kepatuhan yang sempurna”.  Kalau ada 
yang mempertanyakan kepatuhan itu harus diberikan kepada siapa, saya rasa 
Syahadatain telah menjawab semua pertanyaan.  Yang namanya patuh secara 
sempurna tentu saja mencakup ketundukan hati (spiritual) dan badan (ritual).
 
Memang ada benang merah antara majalah Syir’ah, JIL, dan gerakan liberalisme di 
Indonesia.  Jangan
heran kalau ada seorang petinggi di kalangan liberalis yang dengan
gagahnya mengatakan bahwa dirinya sudah sejak lama tidak lagi
melaksanakan shalat secara ritual.  Akan tetapi, menurutnya sendiri, hatinya 
telah khusyuk tertuju kepada Allah, dan itu dianggapnya cukup.  Sekali lagi, 
dia sendirilah yang menganggapnya cukup.  Allah dan Rasul-Nya tidak pernah 
membenarkan perbuatannya.
 
Sepanjang
interaksi saya dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits, tidak pernah saya temui
satu dalil pun yang menyebutkan bahwa spiritual lebih diutamakan
daripada ritual.  Akan tetapi, saya yakin bahwa
Allah Maha Pengasih dan Penyayang kepada manusia, sehingga
kadang-kadang memang ‘kekurangan’ pada ritual bisa ditutupi dengan
kesempurnaan niat dan usaha.  Kalau tidak bisa shalat sambil berdiri, duduk 
atau berbaring pun boleh.  Tapi harus tetap shalat!  Al-Fatihah tetaplah harus 
dibaca, meskipun dengan susah payah, atau harus dibaca dalam hati.  Kalau tidak 
mampu shaum di bulan Ramadhan, boleh dilunasi di lain hari.  Akan tetapi 
Ramadhan tidak boleh dipindah ke Muharram, tentu saja.  Itulah keringanan dari 
Allah, namun bukan berarti kita bebas mempermainkannya.  Mempermainkan Allah?  
Na’uudzubillaah!
 
Sebagai
catatan akhir, perlu saya jelaskan pula bahwa sepanjang perjalanan
hidup saya yang sudah hampir dua puluh lima tahun ini, saya belum
pernah menemukan ritual dalam agama Islam yang tidak ada gunanya.  Mau tahu 
manfaat wudhu bagi kesehatan?  Silakan tanya Prof. Hembing!  Kita
tidak bisa mengubah ritual membasuh telinga menjadi membasuh lutut,
karena Allah telah memberikan kebaikan bagi manusia melalui
ritual-ritual semacam itu, betapa pun remeh kelihatannya.
 
Gerakan-gerakan shalat sudah dikonfirmasikan sebagai ‘latihan’ yang membawa 
manfaat baik bagi tubuh.  Kita
tidak bisa membuat banyak Ka’bah, karena berkumpul di Baitullah bersama
jutaan saudara seiman dari berbagai bangsa tentu lebih menggetarkan
hati (dengan kata lain : ritual bisa mempengaruhi spiritual, dan karena
itu, ritual tak bisa disepelekan)..  Bahkan kalau
tersenyum pun dianggap sebagai sebuah ritual, maka yakinlah bahwa
senyum itu pun memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.  Ah, masakan 
saya perlu menjelaskan pula manfaat senyum?
 
wassalaamu’alaikum wr. wb.


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke