Tung,
Sekarang lagi musim mutilasi. Nonton berita dah di teve (punya gak?)
Kasi tahu teman-teman lu, juga Akmal homoan lu itu; jangan bikin
khilaf orang. Entar bisa dimutilasi. Sakitnya gak seberapa.
Malunya itu lhooo .....
Dimas.
Nasib TKI di Arab Saudi
Oleh: Fani Agustina
________________________________________
Kekerasan yang dialami pekerja rumah tangga di Arab Saudi seperti
tidak kunjung berkurang. Beragam penyiksaan tak jarang berujung pada
kematian.
Ani, 25 tahun, merupakan satu dari sekian banyak korban kekerasan yang
dialami tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Wanita asal
Karawang, Jawa Barat, itu mungkin tidak akan pernah melupakan
pengalaman buruk selama 8 bulan bekerja di negara tersebut.
"Selama 8 bulan saya bekerja, saya tidak pernah menerima gaji. Saya
ditampar, dipukul badannya. Saya disuruh kerja siang malam tidak
berhenti. Pasti ada aja kerjaan. Sudah gitu mereka [majikan] bilang
saya malas kerjanya, makanya saya tidak pantas digaji," ujar Ani.
Padahal, dia dijanjikan upah 800 real per bulan.
Ani hadir dalam acara peluncuran laporan penelitian Human Rights Watch
(HRW) dan Komnas Perempuan yang bertajuk As If I am Not Human: Abuses
Against Asian Domestic Workers in Saudi Arabia, pada Selasa lalu.
Laporan tersebut sebenarnya didasarkan pada pengalaman semua tenaga
kerja domestik (pembantu rumah tangga/PRT) di Arab Saudi. Negara
tersebut tercatat mempekerjakan 1,5 juta buruh domestik, yang antara
lain berasal dari Indonesia, Sri Lanka, Filipina, dan Nepal.
Laporan yang merupakan hasil riset langsung Kenneth Roth dan Nisha
Varia, dua peneliti dari HRW, itu juga dirilis secara global. Namun,
Indonesia menjadi negara yang mendapatkan perhatian khusus karena
menjadi pengirim tenaga kerja domestik terbesar ke Arab Saudi.
Angka kematian TKI di luar negeri
Negara penempatan 2007 Jan-April 2008
Malaysia 75 18
Arab Saudi 39 15
Singapura 13 3
Yordania 12 --
Hong Kong 8 5
Taiwan 36 1
Kuwait 6 1
Jepang 1 1
Brunei Darussalam 3 1
Korea Selatan 18 --
Yaman 1 --
Mesir 2 --
Suriah 1 --
Tidak diketahui 4 --
Uni Emirat Arab -- 3
Sumber: Migrant Care
Sri Wiyanti Eddyono, perwakilan dari Komnas Perempuan, menyebutkan
kasus kekerasan yang dialami TKI tidak hanya dalam bentuik kekerasan
dan pelecehan seksual. TKI juga kerap dituduh melakukan tindak
kriminal yang sebenarnya tidak mereka lakukan.
Melihat kasus TKI yang seolah tak kunjung habis, Sri berharap Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaudit pihak-pihak yang terkait dengan
pengiriman TKI. Hal tersebut untuk mengetahui penyebab dari mandeknya
penanganan masalah TKI di luar negeri.
Dalam diskusi publik yang digelar HWR dan Komnas Perempuan pada Selasa
lalu, Kenneth Roth yang juga merupakan Executive Director HRW dan
Nisha Varia dari Divisi Hak Perempuan HRW membahas hukum yang berlaku
di Arab Saudi.
Hukum di negara tersebut dinilai cenderung memandang sebelah mata dan
tidak melindungi buruh domestik. Sistem Kafala, yang berlaku di sana,
semakin memberatkan buruh domestik. Kafala adalah sistem yang mengikat
buruh domestik kepada yang mempekerjakan mereka.
Sistem Kafala memungkinkan orang yang mempekerjakan buruh domestik
(majikan) bisa menahan buruh domestik untuk tidak bekerja di tempat
lain atau bahkan meninggalkan negara tempat di mana buruh tersebut
bekerja.
Pembenahan domestik
Namun, Tuti Lukman, Anggota Komisi IX DPR, mengingatkan agar tidak
hanya menyalahkan Arab Saudi, sebagai negara penerima TKI. Dia menilai
pengiriman TKI tidak lepas dari koordinasi berbagai pihak di dalam
negeri.
Ketua Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat mengatakan permasalahan tersebut
mencakup proses perekrutan, pelatihan, dan dokumentasi.
Dia menyebutkan tidak jarang calon TKI memalsukan umur mereka. Belum
lagi pungutan-pungutan yang diminta pihak sponsor dengan jumlah yang
besar, sehingga membuat para penyalur memotong jam pelatihan yang
merupakan bekal TKI di sana.
Jumhur berjanji melakukan perbaikan dalam pengiriman TKI ke luar
negeri. Perbaikan akan dimulai dari kejelasan perjanjian kerja dan
pengadaan kantor khusus di Arab Saudi yang digunakan untuk memantau
dan memastikan pengiriman TKI secara benar.
TKI yang berniat mengadu nasib ke Arab Saudi, tentu tak berharap
mendapatkan kisah sedih. Kalau beragam kisah pilu TKI di sana mampu
menarik perhatian dunia internasional, pihak-pihak terkait di dalam
negeri seharusnya jauh lebih peduli. (Yeni H. Simanjuntak)
--- In [email protected], si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Nasib Perempuan di Negara Liberal
> oleh : Akmal (http://akmal.multiply.com/journal/item/296)
>
>
>
> assalaamu'alaikum wr. wb.
>
> Negara-negara liberal selalu menyebut (atau menyangka) dirinya
sendiri sebagai pembela hak-hak perempuan. Jika tidak liberal, maka
dianggapnya pastilah terjadi penindasan terhadap kaum Hawa. Pola
pergaulan yang dibatasi oleh agama disebut-sebut sebagai salah satu
bentuk pembodohan bagi kaum perempuan. Tapi apakah memang
kenyataannya demikian?
>
> Para penentang RUU APP membelokkan permasalahan sedemikian rupa dan
> menghembuskan opini bahwa RUU yang satu ini seolah-olah menganggap
> tubuh perempuan sebagai syetan yang mesti dibasmi. Jika terjadi
kekacauan sosial di masyarakat akibat aurat yang terbuka bebas, maka
si pemilik aurat tidak bisa dipersalahkan. Kaum lelakilah yang harus
mampu menahan diri. Begitulah teori mereka.
>
> Sekarang,
> marilah menengok sedikit fakta dari negeri yang dijadikan kiblat
> liberalisme oleh umat manusia sedunia, yaitu Amerika Serikat (AS).
Berikut
> ini adalah fakta-fakta hasil survei yang saya kutip dari artikel
karya
> Elisabeth Diana Dewi, B. Hs yang berjudul "Profil Keluarga di
Barat".. Artikel tersebut dapat ditemukan pada Jurnal Kajian Islam
Al-Insan No. 3, Vol. 2, 2006.
> * Terjadi sekitar 960.000 aksi kekerasan setiap tahunnya pada
pasangan intim maupun suami istri, menurut data tahun 1998.
> * Diperkirakan
> 3 juta perempuan telah mengalami penyiksaan fisik yang dilakukan
baik
> oleh suami maupun pacar lelakinya. Harap diingat, hal ini terjadi
di
> sebuah negara yang mengaku selalu memuliakan kaum perempuan.
> * Dalam
> rentang waktu Nopember 1995 hingga Mei 1996, 25% perempuan Amerika
> dilaporkan telah diperkosa atau mengalami penyiksaan fisik oleh
suami
> atau mantan suaminya, teman kumpul kebo maupun pacarnya. Beginilah
> gambaran sikap kaum lelaki di negara yang mengaku lebih apresiatif
> terhadap kaum perempuan daripada pemerintahan Taliban di
Afghanistan.
> * Sebanyak
> 324.000 perempuan setiap tahunnya mengalami kekerasan dari pasangan
> intimnya selama masa kehamilannya. Selama masa kehamilan!
> * Lebih dari 3 orang perempuan dibunuh per harinya di AS oleh
suami atau pacarnya sendiri. Di
> tahun 2001, sebanyak 1.247 perempuan dibunuh oleh pasangan intimnya.
> Jadi, selain dalam hal hubungan seks, di mana letak keintiman
mereka?
> * Wanita hamil lebih cenderung menjadi korban pembunuhan
daripada mati karena sebab lain. No comment !
> * Pada tahun 1994, 37% perempuan yang mencari perawatan di
emergency rooms disebabkan karena kekerasan yang mengakibatkan cedera
dan luka-luka yang dilakukan oleh suami atau pasangan intim mereka.
> * Satu dari lima siswi SMA dilaporkan telah mengalami penyiksaan
fisik dan / atau
> seksual oleh pacar mereka. Jadi, sejak pacaran pun mereka sudah
hobi
> mengumbar kekerasan. Kepada orang yang (katanya) mereka cintai pun
> demikian, maka jangan heran menyaksikan kekejian yang terjadi di
> tanah-tanah jajahan mereka.
> * Selama
> tahun ajaran 1996-1997, diperkirakan terdapat 4.000 insiden
pemerkosaan
> atau penganiayaan seksual di lingkungan sekolah di seluruh negara
> bagian. Harap digarisbawahi fakta bahwa hal ini terjadi di
lingkungan
> sekolah!
> * 76%
> perempuan di AS dilaporkan telah mengalami pemerkosaan atau
> penganiayaan fisik sejak usia 18 tahun oleh mantan atau pasangan
kumpul
> kebo, suami atau pacarnya. Kesimpulannya, sejak usia 18 tahun,
> sebagian besar perempuan di AS sudah hidup di 'neraka'.
> Masihkah Anda percaya pada liberalisme?
>
> wassalaamu'alaikum wr. wb.
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>