Posted by:      "Agus Hamonangan"      
      [EMAIL PROTECTED]      
               
        
          agushamonangan 
        
          
    
      Wed Jul 16, 2008 10:10 pm        (PDT)    

    
            Mbak Aria yg baik,



Berikut isi pesan singkat (SMS) dari pak Komarudin Hidayat ke saya,

beliau Rektor (UIN) Syarif Hidayatullah. 

ini tanggapan pribadi, belum tanggapan resmi dari Kampus

(UIN) Syarif Hidayatullah.



Salam,

AH



"Itu miskomunikasi aja, karena Fak. Tarbiyah belum siap menerima calon
guru Tunanetra. Kalau Fak. Dawah no problem. Pihak Tarbiyah lagi bahas
masalah ini, apa konsekuensi kalau menerima atau menolak"



"Kalau mau cari solusi, mestinya datang dan bicara baik-baik. Kita

sharing untuk konteks Bangsa. Di UIN pernah ada Wisudawan terbaik dari

Tunanetra. Saya pegang prinsip pendidikan inklusif, siapa aja berhak

masuk. Tapi kalau fasilitas dan SDM untuk profesi tertentu belum siap,

bukankah hanya akan merugikan mahasiswa?"



"Pernah juga Fak. Ushuluddin mewisuda sarjana Tunanetra, Jurusan
Sosiologi Agama dan Tafsir Hadis. Tahun ini mau meneruskan ke Program
Pasca Sarjana."



--- In Forum-Pembaca- [EMAIL PROTECTED] ps.com, "Aria Indrawati"

<aria_mitranetra@ ...> wrote:

>

> Siaran Pers.

> 

> Kejamnya Diskriminasi Dunia Pendidikan.

> 

> Pelanggaran hak asasi manusia mewarnai penerimaan mahasiswa baru

tahun akademik 2008 ini. Wijaya, seorang tunanetra alumni SMA Negeri

66 Jakarta Selatan, setelah lolos seleksi Ujian Masuk Bersama (UMB)

Fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Islam

(UIN) Syarif Hidayatullah, saat daftar ulang ditolak oleh pihak

universitas, karena dia tunanetra. Uang yang telah dibayarkan sebesar

Rp 1,850,000 dikembalikan kepada yang bersangkutan,  sementara  semua

berkas pendaftaran ulang yang telah diserahkan hingga kini tetap ada

pada pihak perguruan tinggi.

> 

> Sudah sejak tahun 80an, atau bahkan mungkin sebelumnya, universitas

yang dahulu bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ini membuka

diri pada hadirnya tunanetra untuk belajar di sana di berbagai jurusan

yang ada, termasuk Fakultas Tarbiyah. Dan, dari    kampus yang

berlokasi di kawasan Ciputat ini, telah lahir sejumlah sarjana

tunanetra yang saat ini telah berkiprah di masyarakat pada bidang

mereka masing-masing. Bahkan, tahun lalu, seorang tunanetra dari

Fakultas Dakwah lulus dengan predikat terbaik.

> 

> Tapi entah mengapa, tiba-tiba perguruan tinggi yang semula ramah

pada tunanetra itu mengubah pendiriannya. Wijaya, siswa tunanetra yang

sejak di awal masa studinya senantiasa mendapatkan layanan dampingan

dari Yayasan Mitra Netra, setelah lolos ujian masuk bersama yang

diselenggarakan pada pertengahan bulan Juni lalu, ditolak dengan alas

an karena dia tunanetra. Bersama Wijaya, Arif, yang juga satu SMA

dengannya, saat ini sedang mempersiapkan diri belajar di FISIP

Universitas Indonesia, jurusan kesejahteraan social. Dari catatan

Mitra Netra,  terdapat empat tunanetra lain yang saat ini sedang

menempuh studi di UIN, salah satu di antaranya Rafiq, juga belajar di

Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam.

> 

> UIN, sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang juga

berfungsi sebagai "agen perubahan", telah menodai dirinya sendiri

dengan perlakuan diskriminasi kepada satu anak bangsa yang dengan

sungguh-sungguh ingin mengembangkan dirinya. Apakah kekerasan dalam

pendidikan semacam ini akan terus dibiarkan?

> 

> Jakarta, 17 Juli 2008

> 

> Aria Indrawati

> Kabag Humas

> Yayasan Mitra Netra

> Cel. 0815-11-478- 478

> 

> Email: [EMAIL PROTECTED]



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke