(dikutip dari milis Pantau):

Harga Diri dan Harga Sebuah Tulisan



Saya kurang mengerti, sebenarnya apa tugas wartawan. Menurut

teman-teman saya tugas wartawan selain menulis dan menyampaikan

informasi adalah sebagai kontrol sosial. Mereka mengontrol kinerja

pemerintah, badan swasta pemerintah, kehidupan rakyat kecil dan masih

banyak tugas mulia lainnya



Tapi apakah semua wartawan seperti itu? Bagi saya tidak

Saya dan teman saya adalah salah seorang yang menjadi korban ke tidak

becusan seorang wartawan. Kami merasa dirugikan wartawan.

 

Ceritanya, Ketika teman saya menjadi korban kejahatan seksual yang

dilakukan seorang oknum polisi di salah satu tempat di Batam.

Waktu itu, para wartawan "mengejar-ngejar" teman saya untuk

mendapatkan informasi lebih mendalam tentang kejahatan yang dilakukan

polisi. Dengan gamblang teman saya pun memberikan informasi kronologi

kejadian itu, dan berharap agar masyarakat bisa tahu bahwa polisi

tidak semuanya baik, bahkan ada juga polisi cabul



Akhirnya oknum polisi itu pun di proses secara hukum. Tapi ketika

kasus tsb di sidangkan, memang banyak wartawan yang mendatangi kantor

pengadilan disekupang batam, untuk meliput tentang polisi cabul itu.

Memang saat itu baru sidang pertama kalinya dimana saat itu dibacakan

ayat-ayat atau hukuman yang dikenakan untuk menjerat polisi cabul itu.

Waktu itu saya sangat senang, karena banyak wartawan yang meliput dan

masyarakat akan tahu bahwa polisipun bisa dihukum bila berbuat jahat



Tapi ternyata pagi harinya ketika saya membaca koran kriminal "Pos

Metro" di Batam, tidak ada berita tentang sidang pengadilan itu.

Padahal Pos Metro adalah koran yang dibaca masyarakat seperti saya

untuk bisa mengetahui kejahatan-kejahatan yang terjadi di Batam

khususnya. Dan selama saya menjadi pembaca Pos Metro, koran itu adalah

kebanggaan saya, karena sering memberitakan oknum-oknum aparat yang

"jahat" dengan berita "keras"  



Saya mencoba mencari di koran lainnya dibatam yang memberitakan

tentang sidang itu, tapi hasilanya sama saja, saya tidak menemukannya.

Begitu juga hari berikutnya, saya mencoba membaca di koran Pos Metro

tapi tidak ada juga, begitu juga koran lainnya.



Saya jadi curiga, apa yang sebenarnya terjadi?

Saya mencoba mencari tahu, kebetulan saya punya kenalan di pengadilan

dan saya mendapat bocoran, para wartawan yang meliput sidang tersebut

ternyata menerima suap dari seseorang agar tidak menulis berita itu.

Saya kaget bukan main, ketika mengetahui besarnya uang suap itu tidak

seberapa mungkin hanya bisa untuk membeli pulsa.



Saya baru tahu ternyata harga diri wartawan hanya serendah itu

Hasil karya mereka hanya dihargai pulsa yang sebenarnya bisa mereka

beli dengan uang gaji mereka.



Dimana posisi mereka untuk membela rakyat kecil?

Dimana posisi mereka sebagai alat kontrol sosial masyarakat?

Apakah wartawan sekarang ini rela dibayar untuk menutupi sebuah

informasi yang berharga bagi masyarakat?
 
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke