ini mungkin yg dimaksud dg membandingkan 'apple to apple' hihihi
keluarga barat di negri liberal dibandingkan dg keluarga TKI di Arab Saudi




----- Original Message ----
From: masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, July 17, 2008 8:33:31 PM
Subject: [ppiindia] Re: Nasib Perempuan di Negara Liberal


Tung, 

Sekarang lagi musim mutilasi. Nonton berita dah di teve (punya gak?) 
Kasi tahu teman-teman lu, juga Akmal homoan lu itu; jangan bikin 
khilaf orang. Entar bisa dimutilasi. Sakitnya gak seberapa. 
Malunya itu lhooo .....

Dimas. 

Nasib TKI di Arab Saudi 

Oleh: Fani Agustina 
____________ _________ _________ _________ _ 
Kekerasan yang dialami pekerja rumah tangga di Arab Saudi seperti 
tidak kunjung berkurang. Beragam penyiksaan tak jarang berujung pada 
kematian. 
Ani, 25 tahun, merupakan satu dari sekian banyak korban kekerasan yang 
dialami tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Wanita asal 
Karawang, Jawa Barat, itu mungkin tidak akan pernah melupakan 
pengalaman buruk selama 8 bulan bekerja di negara tersebut. 

"Selama 8 bulan saya bekerja, saya tidak pernah menerima gaji. Saya 
ditampar, dipukul badannya. Saya disuruh kerja siang malam tidak 
berhenti. Pasti ada aja kerjaan. Sudah gitu mereka [majikan] bilang 
saya malas kerjanya, makanya saya tidak pantas digaji," ujar Ani. 
Padahal, dia dijanjikan upah 800 real per bulan. 

Ani hadir dalam acara peluncuran laporan penelitian Human Rights Watch 
(HRW) dan Komnas Perempuan yang bertajuk As If I am Not Human: Abuses 
Against Asian Domestic Workers in Saudi Arabia, pada Selasa lalu. 
Laporan tersebut sebenarnya didasarkan pada pengalaman semua tenaga 
kerja domestik (pembantu rumah tangga/PRT) di Arab Saudi. Negara 
tersebut tercatat mempekerjakan 1,5 juta buruh domestik, yang antara 
lain berasal dari Indonesia, Sri Lanka, Filipina, dan Nepal. 

Laporan yang merupakan hasil riset langsung Kenneth Roth dan Nisha 
Varia, dua peneliti dari HRW, itu juga dirilis secara global. Namun, 
Indonesia menjadi negara yang mendapatkan perhatian khusus karena 
menjadi pengirim tenaga kerja domestik terbesar ke Arab Saudi. 

Angka kematian TKI di luar negeri

Negara penempatan       2007    Jan-April 2008
Malaysia        75      18
Arab Saudi      39      15
Singapura       13      3
Yordania        12      --
Hong Kong       8       5
Taiwan  36      1
Kuwait  6       1
Jepang  1       1
Brunei Darussalam       3       1
Korea Selatan   18      --
Yaman   1       --
Mesir   2       --
Suriah  1       --
Tidak diketahui 4       --
Uni Emirat Arab --      3

Sumber: Migrant Care 

Sri Wiyanti Eddyono, perwakilan dari Komnas Perempuan, menyebutkan 
kasus kekerasan yang dialami TKI tidak hanya dalam bentuik kekerasan 
dan pelecehan seksual. TKI juga kerap dituduh melakukan tindak 
kriminal yang sebenarnya tidak mereka lakukan. 

Melihat kasus TKI yang seolah tak kunjung habis, Sri berharap Komisi 
Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaudit pihak-pihak yang terkait dengan 
pengiriman TKI. Hal tersebut untuk mengetahui penyebab dari mandeknya 
penanganan masalah TKI di luar negeri. 

Dalam diskusi publik yang digelar HWR dan Komnas Perempuan pada Selasa 
lalu, Kenneth Roth yang juga merupakan Executive Director HRW dan 
Nisha Varia dari Divisi Hak Perempuan HRW membahas hukum yang berlaku 
di Arab Saudi. 

Hukum di negara tersebut dinilai cenderung memandang sebelah mata dan 
tidak melindungi buruh domestik. Sistem Kafala, yang berlaku di sana, 
semakin memberatkan buruh domestik. Kafala adalah sistem yang mengikat 
buruh domestik kepada yang mempekerjakan mereka. 

Sistem Kafala memungkinkan orang yang mempekerjakan buruh domestik 
(majikan) bisa menahan buruh domestik untuk tidak bekerja di tempat 
lain atau bahkan meninggalkan negara tempat di mana buruh tersebut 
bekerja. 

Pembenahan domestik 
Namun, Tuti Lukman, Anggota Komisi IX DPR, mengingatkan agar tidak 
hanya menyalahkan Arab Saudi, sebagai negara penerima TKI. Dia menilai 
pengiriman TKI tidak lepas dari koordinasi berbagai pihak di dalam 
negeri. 

Ketua Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja 
Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat mengatakan permasalahan tersebut 
mencakup proses perekrutan, pelatihan, dan dokumentasi. 

Dia menyebutkan tidak jarang calon TKI memalsukan umur mereka. Belum 
lagi pungutan-pungutan yang diminta pihak sponsor dengan jumlah yang 
besar, sehingga membuat para penyalur memotong jam pelatihan yang 
merupakan bekal TKI di sana. 

Jumhur berjanji melakukan perbaikan dalam pengiriman TKI ke luar 
negeri. Perbaikan akan dimulai dari kejelasan perjanjian kerja dan 
pengadaan kantor khusus di Arab Saudi yang digunakan untuk memantau 
dan memastikan pengiriman TKI secara benar. 

TKI yang berniat mengadu nasib ke Arab Saudi, tentu tak berharap 
mendapatkan kisah sedih. Kalau beragam kisah pilu TKI di sana mampu 
menarik perhatian dunia internasional, pihak-pihak terkait di dalam 
negeri seharusnya jauh lebih peduli. (Yeni H. Simanjuntak) 


--- In [EMAIL PROTECTED] s.com, si pitung <sipitung68@ ...> wrote:

> Nasib Perempuan di Negara Liberal
> oleh : Akmal (http://akmal. multiply. com/journal/ item/296)
> 
> 
> 
> assalaamu'alaikum wr. wb.
> 
> Negara-negara liberal selalu menyebut (atau menyangka) dirinya 
sendiri sebagai pembela hak-hak perempuan.  Jika tidak liberal, maka 
dianggapnya pastilah terjadi penindasan terhadap kaum Hawa.  Pola 
pergaulan yang dibatasi oleh agama disebut-sebut sebagai salah satu 
bentuk pembodohan bagi kaum perempuan.  Tapi apakah memang 
kenyataannya demikian?
> 
> Para penentang RUU APP membelokkan permasalahan sedemikian rupa dan
> menghembuskan opini bahwa RUU yang satu ini seolah-olah menganggap
> tubuh perempuan sebagai syetan yang mesti dibasmi.  Jika terjadi 
kekacauan sosial di masyarakat akibat aurat yang terbuka bebas, maka 
si pemilik aurat tidak bisa dipersalahkan.  Kaum lelakilah yang harus 
mampu menahan diri.  Begitulah teori mereka.
> 
> Sekarang,
> marilah menengok sedikit fakta dari negeri yang dijadikan kiblat
> liberalisme oleh umat manusia sedunia, yaitu Amerika Serikat (AS). 
Berikut
> ini adalah fakta-fakta hasil survei yang saya kutip dari artikel 
karya
> Elisabeth Diana Dewi, B. Hs yang berjudul "Profil Keluarga di 
Barat"..  Artikel tersebut dapat ditemukan pada Jurnal Kajian Islam 
Al-Insan No. 3, Vol. 2, 2006.
>       * Terjadi sekitar 960.000 aksi kekerasan setiap tahunnya pada 
pasangan intim maupun suami istri, menurut data tahun 1998.
>       * Diperkirakan
> 3 juta perempuan telah mengalami penyiksaan fisik yang dilakukan 
baik
> oleh suami maupun pacar lelakinya.  Harap diingat, hal ini terjadi 
di
> sebuah negara yang mengaku selalu memuliakan kaum perempuan.
>       * Dalam
> rentang waktu Nopember 1995 hingga Mei 1996, 25% perempuan Amerika
> dilaporkan telah diperkosa atau mengalami penyiksaan fisik oleh 
suami
> atau mantan suaminya, teman kumpul kebo maupun pacarnya.  Beginilah
> gambaran sikap kaum lelaki di negara yang mengaku lebih apresiatif
> terhadap kaum perempuan daripada pemerintahan Taliban di 
Afghanistan.
>       * Sebanyak
> 324.000 perempuan setiap tahunnya mengalami kekerasan dari pasangan
> intimnya selama masa kehamilannya.  Selama masa kehamilan!
>       * Lebih dari 3 orang perempuan dibunuh per harinya di AS oleh 
suami atau pacarnya sendiri.  Di
> tahun 2001, sebanyak 1.247 perempuan dibunuh oleh pasangan intimnya. 
> Jadi, selain dalam hal hubungan seks, di mana letak keintiman 
mereka?
>       * Wanita hamil lebih cenderung menjadi korban pembunuhan 
daripada mati karena sebab lain.  No comment !
>       * Pada tahun 1994, 37% perempuan yang mencari perawatan di 
emergency rooms disebabkan karena kekerasan yang mengakibatkan cedera 
dan luka-luka yang dilakukan oleh suami atau pasangan intim mereka.
>       * Satu dari lima siswi SMA dilaporkan telah mengalami penyiksaan 
fisik dan / atau
> seksual oleh pacar mereka.  Jadi, sejak pacaran pun mereka sudah 
hobi
> mengumbar kekerasan.  Kepada orang yang (katanya) mereka cintai pun
> demikian, maka jangan heran menyaksikan kekejian yang terjadi di
> tanah-tanah jajahan mereka.
>       * Selama
> tahun ajaran 1996-1997, diperkirakan terdapat 4.000 insiden 
pemerkosaan
> atau penganiayaan seksual di lingkungan sekolah di seluruh negara
> bagian.  Harap digarisbawahi fakta bahwa hal ini terjadi di 
lingkungan
> sekolah!
>       * 76%
> perempuan di AS dilaporkan telah mengalami pemerkosaan atau
> penganiayaan fisik sejak usia 18 tahun oleh mantan atau pasangan 
kumpul
> kebo, suami atau pacarnya.  Kesimpulannya, sejak usia 18 tahun,
> sebagian besar perempuan di AS sudah hidup di 'neraka'.
> Masihkah Anda percaya pada liberalisme?
> 
> wassalaamu'alaikum wr. wb.
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

    


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke