Memberhalakan "Kebebasan" ala Memo Indonesia

oleh Saut Situmorang*


Suatu larut malam di bawah banner depan Taman Ismail Marzuki (TIM). 
Saya yang hendak berangkat ke Serang, Banten untuk menghadiri 
pertemuan komunitas sastra se-Indonesia dipanggil oleh Hudan Hidayat 
untuk gabung ngebir bersamanya dan seorang lain yang duduk dengannya. 
Karena saya sudah berjanji lebih dulu dengan seorang kawan yang akan 
saya tumpangi ke Serang, maka saya temui kawan itu dan membatalkan 
ikut dengan dia ke Banten. Waktu saya menemui Hudan, ternyata di situ 
bersamanya sudah bertambah beberapa orang lain lagi seperti yang 
bernama Djenar Mahesa Ayu dan Richard Oh. Mereka baru saja selesai 
mengikuti acara Pekan Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri. Malam 
tambah larut, hampir pagi. Lalu ada yang usulin untuk menelpon Bang 
Tardji keluar dari hotel di depan TIM tempat dia dan keluarga nginap. 
Bang Tardji ditelpon dan tak lama kemudian keluar dan duduk bersama 
kami. Sejak dari tadi perempuan bernama Djenar Mahesa Ayu itu macam-
macam tingkahnya. Sekarang lebih gawat lagi. Sambil memegang-megang 
kepala Bang Tardji, yang selama sepekan diperingati sebagai penyair 
terbesar dalam sejarah sastra Indonesia modern, perempuan berpakaian 
sangat revealing itu mulai bermonolog memakai kata-kata "k.nt.l" 
berulang-ulang. Karena mulai muak dengan pemakaian bahasa yang sangat 
minimalis dan sexist itu, saya katakan "jangan memakai kata-kata itu 
lagi". Efek komentar saya itu luar biasa. Sang Djenar mulai memaki-
maki saya dan bahkan mendekati saya, mengajak berkelahi fisik! Dan 
penjual buku impor Richard Oh menyebut saya, "Chauvinist"! Hudan 
Hidayat sang Pembela Kebebasan dan pencetus manifesto pembela 
kebebasan bernama seram Memo Indonesia diam tak berkata apa-apa. So 
much for freedom of expression!

*** 

Serang, Banten, dua hari kemudian. Dalam sebuah diskusi tentang 
ideologi dan estetika di pertemuan sastrawan Ode Kampung 2 (dan dalam 
serentetan SMSnya yang penuh kata-kata mesum kepada saya), Hudan 
Hidayat menyatakan bahwa bagi dia teks (karya sastra) adalah 
segalanya dan di luar teks tak ada apa-apa. Hudan juga mengklaim 
bahwa ideologi seseorang tidak harus sama dengan praktek kehidupan 
(berkarya) seseorang. Teringat pada malam di bawah banner depan TIM 
itu, saya merasa kasihan kepada orang ini. Kalau memang dia benar-
benar percaya pada apa yang dia omongkan, sambil mengutip-ngutip ayat-
ayat Alquran lagi, bahwa teks adalah segalanya dan di luar teks tak 
ada apa-apa, lantas untuk apa dia ribut-ribut dengan Taufiq Ismail 
membela-bela "kebebasan kreatifnya" sebagai sastrawan! Untuk apa 
ribut-ribut membuat (bersama tiga orang lain) Memo Indonesia bahkan 
lalu "mendeklarasikannya" di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan 
media massa, cuma agar teks seperti yang dihasilkannya diterima 
sebagai "karya sastra" oleh dunia sastra Indonesia! Bahkan menyerang 
Pernyataan Sikap Sastrawan Ode Kampung (ditandatangani ratusan 
sastrawan dan penggiat komunitas sastra dengan latar ideologi seni 
yang berbeda-beda dari Aceh sampai Lombok) yang prihatin terhadap 
kondisi dekadensi kultural dalam sastra kontemporer Indonesia dan 
dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia! Kalau seorang 
Djenar Mahesa Ayu saja tidak dapat ditangani oleh Hudan Hidayat dalam 
soal "kebebasan berpendapat", bagi saya Memonya itu cuma bullshit 
belaka.

*** 

Sekarang mari kita simak isi Memo mereka itu. Dengan bahasa yang 
begitu abstrak (mirip bahasa memo para birokrat kekuasaan!) Memo 
Indonesia ditulis dalam enam paragraf, yang intinya 
tentang "kemanusiaan dan kebebasan". Mereka menyatakan 
bahwa "Kesempurnaan kemanusiaan adalah. . .toleransi atas keberagaman 
nilai, tempat di mana warga bangsa-bangsa berbahagia atas 
kebedaannya." Seandainya mereka benar-benar percaya atas 
konsep "toleransi" dan "keberagaman nilai", bukankah tidak seharusnya 
mereka menyerang Pernyataan Sikap Sastrawan Ode Kampung yang memang 
berbeda pandangannya atas apa itu "standar estetika" dalam penulisan 
karya sastra, seperti yang dilakukan M. Fadjroel Rachman (salah 
seorang penandatangan Memo tersebut) dalam tulisannya di Media 
Indonesia Minggu 29 Juli 2007. Pernyataan Sikap Sastrawan Ode Kampung 
(PSSOK) jelas-jelas menolak "eksploitasi seksual" sebagai "standar 
estetika" karena setiap "eksploitasi", apalagi yang dilakukan atas 
nama "kebebasan" adalah perendahan atas nilai kemanusiaan. PSSOK 
tidak tabu terhadap seks, tapi anti-eksploitasi seks demi eksploitasi-
seks itu sendiri. Contoh nyatanya adalah buku (yang diklaim kedua 
penulisnya sebagai "karya seni sastra" tapi tanpa mampu dibuktikan 
dalam konteks kritik sastra!) berjudul Tuan & Nona Kosong oleh Hudan 
Hidayat dan Mariana Amiruddin. Saya lebih mendapat tekstase seksual 
yang nyeni dari film Andrew Blake tentang seks seperti Paris Chic 
ketimbang apa yang disebut dalam Kata Pengantar novel sebagai "novel 
post-novel" Hudan dan Mariana tersebut. Alasannya karena film Blake 
memakai seks seperti sudah seharusnya, bukan dibuat-buat supaya 
kelihatan provokatif. Seks adalah teks itu sendiri dan dieksplorasi 
lewat berbagai posisi pandangan termasuk psikologi cerita. Istilah 
pasarannya, seks dalam film Andrew Blake bukan bumbu cerita tapi 
harus ada. Mirip dengan teks-teks Marquis de Sade. Apa yang bisa saya 
dapat dari Tuan & Nona Kosong yang peristiwa penerbitannya saja 
dimulai (dengan sengaja!) dengan "polemik" di koran Media Indonesia 
Minggu antara para pembuat Memo Indonesia dan Hudanis lainnya itu! 
Seks di Indonesia sudah gak erotis lagi justru karena teks-teks 
Sastrawangi dan Hudanis.

"Kami adalah manusia bebas. Berdaulat atas jiwa dan raga kami. Untuk 
mencipta kemanusiaan kami sendiri, dalam kebebasan penciptaan tanpa 
penjajahan," teriak Memo lagi. Siapa rupanya yang melarang 
mereka "mencipta"! Siapa yang menghalangi mereka untuk "berdaulat 
atas jiwa dan raga" mereka! Kok sepertinya para penulis Memo ini 
memberi kesan seolah-olah sudah dirampas kebebasannya, bahkan hak 
mereka atas "jiwa dan raga" mereka, padahal Memo mereka itu sangat 
bebas mereka iklankan ke mana-mana termasuk di SMS!

"Kemajuan dan kebebasan kemanusiaan adalah cita-cita kami. Perbedaan 
dan kerjasama adalah jalan kami. Hukum dan demokrasi adalah tempat 
kami mengembalikan segala keberbedaan" demikianlah bunyi repetitif 
Memo Indonesia. Terus terang saya capek membacanya. Slogan melulu 
sih. Birokratspeak doang! Sebenarnya saya mengharapkan isi yang 
cerdas, lebih intelektual elaborasi idenya, dan lebih nyastra bahasa 
ekspresinya. Bukankah keempat pembuatnya orang-orang hebat semuanya 
(sastrawan, eseis, redaktur majalah, cendekiawan) seperti yang mereka 
sendiri cantumkan sebagai penjelas nama mereka!

M. Fadjroel Rachman dalam tulisannya di Media Indonesia seperti yang 
saya sebut di atas dengan gagah menyatakan, "Tidak ada pribadi 
Indonesia, tak ada kebudayaan Indonesia, manusia yang tinggal di 
negeri Indonesia adalah pribadi global. . . ." Kalau memang 
identitas "Indonesia" itu tak ada, lantas kenapa masih merasa perlu 
untuk memakai istilah "Indonesia" dalam nama "Memo Indonesia"!

Sloganisme, dan inkonsistensi, dianggap akan memajukan "kemanusiaan". 
Ambisi besar tentu wajar apalagi dalam diri para elite Dunia Ketiga 
pascakolonial yang rata-rata hidup di ibukota negerinya. Motorway dan 
gedung pencakar langit dipercaya sebagai simbol "kebebasan 
kemanusiaan". Bagaimana bisa bicara tentang "kemajuan 
kemanusiaan", "kebebasan individu" di tengah-tengah kemiskinan dan 
ketakadilan sosial yang mengelilinginya! Dan betapa naifnya pandangan 
politik segelintir elit Dunia Ketiga yang merayakan "pribadi global, 
kebudayaan global" tanpa pernah sekalipun memeras otaknya untuk 
menyelusuri genealogi historis dari konsep "globalisme" itu sendiri.

"Apa artinya menjadi manusia Indonesia hari ini?" tanya Fadjroel 
Rachman dalam tulisannya itu. Dengan baik hati dia memberikan 
jawabannya sendiri: "Menjadi manusia global membumbung tinggi bersama 
jiwa-jiwa bebas seluas bumi, mencipta hari depan manusia bersama-sama 
secara global."

Tak ada yang baru dalam slogan ini. Humanisme Liberal dari abad 19 
penuh dengan frase-frase indah tentang "Kebebasan" dan "Kemanusiaan". 
Juga "Kesetaraan Perempuan". Tapi apa kenyataannya? Humanisme Liberal 
menyebabkan agama Kristen (dengan 20 abad sejarahnya itu) mati di 
Barat dan kolonialisme kapitalistik terjadi di Asia, Afrika, 
Australia, Samudera Pasifik dan benua Amerika (atau duapertiga dari 
Planet Bumi!). Dan bukankah Feminisme sebagai gerakan perlawanan 
perempuan justru lahir dalam era kekuasaan Liberalisme! Sekarang kita 
saksikan kekuatan Liberal paling besar dalam planet ini 
mengeksploitasi kekuasaan ekonomi dan politiknya untuk menghancurkan 
negeri-negeri Dunia Ketiga kecil (Amerika Latin, Vietnam, Afrika, 
Afghanistan, Irak) yang tidak mau tunduk dalam "Kebebasan" 
dan "Kemanusiaan" ala Paman Sam.

Sebagai elite Dunia Ketiga, "Manusia" mana yang akan Anda 
bela? "Kebebasan" siapa yang akan Anda rayakan? Apakah "manusia 
Indonesia" memang termasuk yang dianggap "Manusia" dalam "Kemanusiaan 
Global"? Apakah "kebebasan manusia Indonesia" termasuk yang dirayakan 
dalam "Kebebasan Kemanusian Global"? Mana buktinya?!

Ada beberapa kawan dan kenalan yang seharusnya berangkat ke Amerika 
Serikat tiba-tiba tidak jadi berangkat, padahal mereka diundang 
institusi-institusi Amerika sendiri untuk datang. Ternyata Kedutaan 
Besar Amerika Serikat di Jakarta tidak memberikan mereka visa. 
Alasannya sangat sepele: nama mereka nama orang Arab. Dan Arab secara 
pasemon sudah dimaknai sebagai Islam dan Teroris oleh politik luar 
negeri kekuasaan Liberal-Kapitalis terbesar saat ini. Kalau politik 
rasisme sudah menjangkau nama, masih tidak malu Anda mengaku-ngaku 
sebagai Humanis Liberal? 

*Saut Situmorang, penyair dan eseis, tinggal di Jogjakarta



Kirim email ke