Posted by: "[EMAIL PROTECTED]" [EMAIL PROTECTED]
Thu Jul 24, 2008 6:57 am (PDT)
Salam,
Saya pengagum Celly (Rizal Mallarangeng) sejak dia masih menjadi mahasiswa
komunikasi Fisipol UGM pertengahan 1980-an. Tapi setelah dia balik usai
merantau 8 tahun di Amerika dia berubah, dia bukan Celly yang dulu lagi.
Mantan dosennya Celly, Ashadi Siregar, termasuk orang 'yang sangat kaget'
oleh perubahan Celly. Mantan mentor Celly lainnya, Arief Budiman, lebih
arif menyikapi perubahan Celly. Ketika diberi penghargaan Bakrie Award
oleh Freedom Institute bikinan Celly, Arief berkata dengan guyon bahwa dia
merasa aneh, karena dia sosialis yang 'mendidik' Celly supaya menjadi
sosialis tapi setelah Celly pinter malah menjadi liberalis dan memberi
penghargaan kepada mantan mentornya yang masih tetap sosialis...
Meski tidak sampai seperti Ashadi Siregar, saya termasuk yang kaget
terhadap perubahan Celly. saya tidak tahu dia masih ingat apa tidak, tapi
suatu ketika dia pinjam buku tipis berbahasa Inggris mengenai Mao Zedong
dari saya. Saya lihat dia sangat tertarik oleh ide-ide sejenis Mao. Ketika
dia mengembalikan buku itu, saya silakan dia menyimpannya. Kebetulan saya
punya dua kopi.
Ide-ide itu yang mendasari Celly ketika kemudian terjun ke gerakan
mahasiswa. Saya lamat-lamat ingat dalam sebuah diskusi dengan seorang
menteri, Celly mengkritik kebijakan pemerintah dengan sangat tajam.
Menteri yang agak sewot itu lalu emosional berkata, ''saya akan lihat
bagaimana anda nanti kalau sudah punya jabatan''.
Setelah Celly pulang dari Amerika saya sering menyaksikannya di Metro TV.
Saya kemudian membaca bukunya 'Mendobrak Sentralisme Ekonomi' hasil
desertasi doktoralnya. Buku yang bagus sekali, enak dibaca dan jernih. Dia
memaparkan dengan detail jaringan liberal di Indonesia hasil didikan
Amerika dan pasang surut ide-ide liberalisme di Indonesia. Yang menarik
bagi saya antara lain adalah ketika Celly menulis mengenai Kompas dan
Tempo dalam kaitan dengan dukungan terhadap liberalisasi ekonomi
Indonesia. Menurut Celly, sebagai pribadi Jakob Oetama dan Goenawan
Mohammad lebih dekat ke ide-ide sosialisme. Tapi ternyata media mereka
mendukung liberalisme.
Ketika Celly mendirikan Freedom Institute yang mendapat sokongan
sepenuhnya dari Kelompok Bakrie saya melihat lebih jelas lagi perubahan
Celly yang baru. Dia pendukung yang sangat bersemangat ide-ide ekonomi
liberal. Keterlibatannya menerbitkan dan membayar iklan di Kompas yang
mendukung kenaikan harga BBM memperkuat posisi Celly sebagai liberal muda
yang menonjol.
Saya masih menduga-duga seberapa liberal pemikiran Celly, karena sampai
sekarang saya belum pernah baca bukunya yang baru mengenai
gagasan-gagasannya. Ketika saya mendengar dia mencalonkan diri sebagai
presiden saya sangat senang. Dia tetap punya nyali seperti ketika masih
mahasiswa dulu. Bahwa banyak pro dan kontra itu biasa.
Saya masih menunggu bagaimana sebenarnya visi Celly mengenai bangsa ini.
Amien Rais sudah menulis risalah pendek 'Selamatkan Indonesia' yang marah
tetapi bertenaga. Buku ini menunjukkan sikap Amien yang tegas mengenai
neoliberalisme yang melanda Indonesia sekarang ini. Saurip Kadi juga
menulis buku (meski dituliskan orang lain) mengenai pandangan-pandangan nya
terhadap berbagai persoalan bangsa Indonesia. Saya bisa sedikit
membayangkan bagaimana nanti kalau Amien atau Saurip jadi presiden.
Tapi
terhadap Celly saya belum punya bayangan karena dia belum merumuskan
pemikirannya mengenai kondisi aktual bangsa ini. Membaca
artikel-artikelnya saja tidak cukup karena hanya sepotong-sepotong dan
tidak utuh. Saya tetap menunggu buku Celly. Saya khawatir karena sudah
menjadi selebriti media dia tidak sempat lagi menulis dan dia akan
menambah deretan ilmuwan selebritis Indonesia yang tidak punya karya yang
monumental tapi namanya terkenal sebagai selebriti media.
Saya ingin tahu seberapa liberal Celly sekarang. Bagaimana dia menyikapi
globalisasi yang tidak adil terhadap Indonesia, bagaimana ia menanggapi
isu-isu nasionalisasi, dominasi multinasional seperti exxon dan Freeport
dan isu-isu lain.
Ketika Obama mencalonkan diri dia sudah menyiapkan bukunya sehingga orang
tahu bagaimana visinya.
Sebagai ahli komunikasi Celly tahu betul kekuatan media terutama televisi.
Kebetulan juga dia punya akses ke televisi nasional dan kelihatannya cukup
punya uang untuk pasang iklan di televisi nasional. Perusahaannya Vox
Media rupanya cukup menguntungkan karena punya klien besar seperti
Soetrisno Bachir, dari situ kelihatan bahwa Celly pintar juga berbisnis.
Televisi memang bisa membesar-besarkan realitas menjadi hiperrealitas dan
orang bisa terdongkrak popularitasnya karena televisi. Apa yang
dinasihatkan Celly kepada Soetrisno dipraktikkan sendiri oleh Celly. Tapi
tentu saja Celly tahu popularitas dari televisi itu tidak nyata karena
hanya hiperrealitas.
Saya masih menunggu kiprahnya sebagai penerbit melalui media online
KanalOne. Celly berhasil mengumpulkan wartawan-wartawan bagus jebolan
Tempo seperti Karania, Nezar Patria dan beberapa lainnya untuk membuat new
media yang berkualitas.
Lebih dari semuanya saya akan menunggu buku Celly yang menggambarkan visi
dan misinya sebagai calon presiden RI. Maju terus Cel!
Salam
[Non-text portions of this message have been removed]