mas Nizami: .....dan pencabutan subsidi oleh kaum Neolib. > Numpang tanya, kalo penyandang dana dari Timteng itu neolib atau old lib ato komunis? pendana dari TimTeng pro ngrakyat nggak ya? mohon lilinnya mas..
--- In [email protected], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ada 2 pilihan: > 1. Tetap sosialis tapi kantong kering....:) > 2. Atau berubah jadi Neoliberalis dengan kucuran dana dari sponsor neoliberalis meski harus membiarkan rakyat sengsara oleh berbagai kenaikan harga dan pencabutan subsidi oleh kaum Neolib. > > === > Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta > Informasi selengkapnya ada di: > http://www.media-islam.or.id > > > Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS > > > Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252 > > > Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel > Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com > > > > ----- Original Message ---- > From: Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> > To: [EMAIL PROTECTED]; news Trans TV <news- [EMAIL PROTECTED]>; pantau <[EMAIL PROTECTED]>; jurnalisme <[EMAIL PROTECTED]>; naratama naratama <[EMAIL PROTECTED]>; warta-lingk <[EMAIL PROTECTED]>; technomedia <[EMAIL PROTECTED]>; ppiindia <[email protected]>; Begundal Salemba <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Kincir Angin <[EMAIL PROTECTED]>; student EMBA <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Thursday, July 24, 2008 10:04:40 PM > Subject: [ppiindia] Rizal Mallarangeng yang (pernah) saya kenal... > > > Posted by: "[EMAIL PROTECTED] com" [EMAIL PROTECTED] com > Thu Jul 24, 2008 6:57 am (PDT) > Salam, > Saya pengagum Celly (Rizal Mallarangeng) sejak dia masih menjadi mahasiswa > komunikasi Fisipol UGM pertengahan 1980-an. Tapi setelah dia balik usai > merantau 8 tahun di Amerika dia berubah, dia bukan Celly yang dulu lagi. > > Mantan dosennya Celly, Ashadi Siregar, termasuk orang 'yang sangat kaget' > oleh perubahan Celly. Mantan mentor Celly lainnya, Arief Budiman, lebih > arif menyikapi perubahan Celly. Ketika diberi penghargaan Bakrie Award > oleh Freedom Institute bikinan Celly, Arief berkata dengan guyon bahwa dia > merasa aneh, karena dia sosialis yang 'mendidik' Celly supaya menjadi > sosialis tapi setelah Celly pinter malah menjadi liberalis dan memberi > penghargaan kepada mantan mentornya yang masih tetap sosialis... > > Meski tidak sampai seperti Ashadi Siregar, saya termasuk yang kaget > terhadap perubahan Celly. saya tidak tahu dia masih ingat apa tidak, tapi > suatu ketika dia pinjam buku tipis berbahasa Inggris mengenai Mao Zedong > dari saya. Saya lihat dia sangat tertarik oleh ide-ide sejenis Mao. Ketika > dia mengembalikan buku itu, saya silakan dia menyimpannya. Kebetulan saya > punya dua kopi. > > Ide-ide itu yang mendasari Celly ketika kemudian terjun ke gerakan > mahasiswa. Saya lamat-lamat ingat dalam sebuah diskusi dengan seorang > menteri, Celly mengkritik kebijakan pemerintah dengan sangat tajam. > Menteri yang agak sewot itu lalu emosional berkata, ''saya akan lihat > bagaimana anda nanti kalau sudah punya jabatan''. > > Setelah Celly pulang dari Amerika saya sering menyaksikannya di Metro TV. > Saya kemudian membaca bukunya 'Mendobrak Sentralisme Ekonomi' hasil > desertasi doktoralnya. Buku yang bagus sekali, enak dibaca dan jernih. Dia > memaparkan dengan detail jaringan liberal di Indonesia hasil didikan > Amerika dan pasang surut ide-ide liberalisme di Indonesia. Yang menarik > bagi saya antara lain adalah ketika Celly menulis mengenai Kompas dan > Tempo dalam kaitan dengan dukungan terhadap liberalisasi ekonomi > Indonesia. Menurut Celly, sebagai pribadi Jakob Oetama dan Goenawan > Mohammad lebih dekat ke ide-ide sosialisme. Tapi ternyata media mereka > mendukung liberalisme. > > Ketika Celly mendirikan Freedom Institute yang mendapat sokongan > sepenuhnya dari Kelompok Bakrie saya melihat lebih jelas lagi perubahan > Celly yang baru. Dia pendukung yang sangat bersemangat ide-ide ekonomi > liberal. Keterlibatannya menerbitkan dan membayar iklan di Kompas yang > mendukung kenaikan harga BBM memperkuat posisi Celly sebagai liberal muda > yang menonjol. > > Saya masih menduga-duga seberapa liberal pemikiran Celly, karena sampai > sekarang saya belum pernah baca bukunya yang baru mengenai > gagasan-gagasannya. Ketika saya mendengar dia mencalonkan diri sebagai > presiden saya sangat senang. Dia tetap punya nyali seperti ketika masih > mahasiswa dulu. Bahwa banyak pro dan kontra itu biasa. > > Saya masih menunggu bagaimana sebenarnya visi Celly mengenai bangsa ini. > Amien Rais sudah menulis risalah pendek 'Selamatkan Indonesia' yang marah > tetapi bertenaga. Buku ini menunjukkan sikap Amien yang tegas mengenai > neoliberalisme yang melanda Indonesia sekarang ini. Saurip Kadi juga > menulis buku (meski dituliskan orang lain) mengenai pandangan- pandangan nya > terhadap berbagai persoalan bangsa Indonesia. Saya bisa sedikit > membayangkan bagaimana nanti kalau Amien atau Saurip jadi presiden. > > Tapi > terhadap Celly saya belum punya bayangan karena dia belum merumuskan > pemikirannya mengenai kondisi aktual bangsa ini. Membaca > artikel-artikelnya saja tidak cukup karena hanya sepotong-sepotong dan > tidak utuh. Saya tetap menunggu buku Celly. Saya khawatir karena sudah > menjadi selebriti media dia tidak sempat lagi menulis dan dia akan > menambah deretan ilmuwan selebritis Indonesia yang tidak punya karya yang > monumental tapi namanya terkenal sebagai selebriti media. > > Saya ingin tahu seberapa liberal Celly sekarang. Bagaimana dia menyikapi > globalisasi yang tidak adil terhadap Indonesia, bagaimana ia menanggapi > isu-isu nasionalisasi, dominasi multinasional seperti exxon dan Freeport > dan isu-isu lain. > > Ketika Obama mencalonkan diri dia sudah menyiapkan bukunya sehingga orang > tahu bagaimana visinya. > > Sebagai ahli komunikasi Celly tahu betul kekuatan media terutama televisi. > Kebetulan juga dia punya akses ke televisi nasional dan kelihatannya cukup > punya uang untuk pasang iklan di televisi nasional. Perusahaannya Vox > Media rupanya cukup menguntungkan karena punya klien besar seperti > Soetrisno Bachir, dari situ kelihatan bahwa Celly pintar juga berbisnis. > Televisi memang bisa membesar-besarkan realitas menjadi hiperrealitas dan > orang bisa terdongkrak popularitasnya karena televisi. Apa yang > dinasihatkan Celly kepada Soetrisno dipraktikkan sendiri oleh Celly. Tapi > tentu saja Celly tahu popularitas dari televisi itu tidak nyata karena > hanya hiperrealitas. > > Saya masih menunggu kiprahnya sebagai penerbit melalui media online > KanalOne. Celly berhasil mengumpulkan wartawan-wartawan bagus jebolan > Tempo seperti Karania, Nezar Patria dan beberapa lainnya untuk membuat new > media yang berkualitas. > > Lebih dari semuanya saya akan menunggu buku Celly yang menggambarkan visi > dan misinya sebagai calon presiden RI. Maju terus Cel! > > Salam > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >

