Wahyu, Akal dan Liberalisme
Dipublikasi pada Thursday, 29 May 2008 oleh admin
 

Oleh: M. Zahri MS 

Religion is the dream of human mind (Agama adalah mimpi akal manusia)— Ludwing 
Furbach dalam The Essence of Christianity

Apa
yang dapat menjamin redanya pemikiran liberal di Indonesia dewasa ini?
Di permukaan, saat ini isu liberalisme memang tampak tidak ‘semeriah’
pada tahun 2002 lalu, di mana pada tahun sebelumnya, Maret 2001,
kader-kader bapak sekularisme-liberalisme Indonesia, Nurcholish Madjid,
membentuk jaringan pemikiran yang mereka sebut “Jaringan Islam Liberal
(JIL). Tak ada jaminan yang membuat mereka insaf, dan mereka pun terus
mengembangkan pemikiran-pemikirannya melalui berbagai media, dengan
dana yang mengalir terus tanpa henti.


Seperti
halnya term “jahiliah”—setidaknya menurut paradigma Sayyid Quthb—dan
istilah “Barat”—mengikuti alur pemikiran HF. Zarkasyi—”liberalisme”
sebetulnya tidak menunjuk pada komunitas tertentu, periode tertentu dan
wilayah geografis yang terbatas. Liberalisme telah, sedang dan akan
selalu ada, ikut nimbrung di tengah-tengah belantara pemikiran dunia yang tidak 
akan pernah berhenti berseteru.

Dalam
dunia Islam, minimal di Indonesia, orang biasanya mengidentikkan
pemikiran liberalisme mutakhir dengan pemikiran kaum Muktazilah yang
pernah berkembang pada Abad Kedua Hijriah, dan mendapatkan oase yang
segar dari penguasa Abbasiyah. Kendati tidak sepenuhnya benar,
pengidentikan itu saya pikir juga sedikit mengena, terlebih jika
diteropong dari tradisi dan ciri khas pemikiran liberalisme yang mesti
mengedepankan nalar daripada wahyu.

Dikatakan
“tidak sepenuhnya benar” karena liberalisme modern sesungguhnya
berkembang dari pemberontakan pemikiran di dunia Kristen, yang
dengannya mereka dapat ‘menyelamatkan diri’ dari periode kegelapan (dark ages)
yang terjadi sebelumnya. Pemberontakan itu adalah titik yang menyudahi
kuasa Gereja dan para pendeta, yang sebelumnya menyetir, mendikte,
mengekang dan bahkan mematikan kreativitas pemikiran yang berseberangan
dengan rambu-rambu Bibel dengan begitu ekstremnya.

Berhasil keluar dari perangkap dan bayang-bayang Gereja, Barat menyongsong 
momentumrenaisans,
menuju periode modern dan kini telah meluncur ke era pos-modern. Ini
membuat bangsa-bangsa berkembang dan dunia Islam terpana, lalu mereka
meniru, menjiplak dan manut begitu saja terhadap pemikiran
liberalisme Barat. Penjiplakan terang-terangan dilakukan oleh
Nurcholish Madjid, yang mengembangkan ide “Sekularisasi Islam” dari
buku Harvey Cox, The Secular City (Adian Husaini: 2005). Sama naifnya, 
pemikiran sekaligus sebutan “Islam Liberal” sejatinya merupakan plagiat tanpa 
modif dari buku Charles Kurzman: Liberal Islam (Ibid: 2002)

Karena
liberalisme Kristen Barat yang dijadikan kiblat, maka tak usah heran
jika liberalisme masa kini memiliki karakteristik yang sama persis:
jika para liberalis Barat mengkritik Bibel, mempersoalkan otentitas
wahyu dan bahkan menggugat agama dan Tuhan itu sendiri, maka para
liberalis Islam juga memunculkan ide relativitas tafsir, kritik
al-Qur’an serta mengotak-atik dalil-dalil qath’i di dalamnya.
Lebih jauh, mereka menganggap bahwa wahyu tak terputus oleh finalitas
fungsi kenabian Muhammad, atau apa yang disebut oleh Ulil AA. dengan
istilah “graduality”—menjiplak para sosiolog Barat seperti
Aguste Comte, Emile Durkheim, Herbert Spencer, Talcott Parsons dan
Robert N. Bellah, yang terpengaruh oleh teori evolusi Charles Robert
Darwin dalam The Origin of Species (Adnin Armas: 2003).

Oleh karenanya, akal an sich menjadi satu-satunya tumpuan mereka dalam menilai 
hukum-hukum syarak;
menerima yang ‘logis’ dan menampik yang ‘tak logis’, semisal jilbab,
kisas, larangan nikah lintas agama, dll. Hukum-hukum qath’i semacam ini, 
menurut para liberalis, secara logika tidak layak pakai di era modern ini. 
(Kompas, 18-11-2002)

Seperti ditegaskan sebelumnya, pemikiran semacam ini bukan hal baru, namun 
sudah pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad e,
ketika turun ayat yang menjelaskan tentang pengharaman makan bangkai
(QS al-Baqarah [2]: 173). Di sini, orang-orang jahiliah mengoreksi
hukum Tuhan tersebut dengan berkata: “Mengapa kalian tidak mau makan
bangkai yang diburu langsung oleh Allah, dan lebih suka makan hewan
yang disembelih oleh tangan-angan kalian sendiri?”

Sepintas,
bantahan para jahili itu masuk akal, bahwa secara logika, justru
bangkailah yang lebih halal untuk dikonsumsi, sebab ia ‘diburu’
langsung oleh Allah, maka pengharaman bangkai menurut mereka tidak
logis, dan ketentuan itu perlu didekonstruksi. Namun bantahan tersebut
mendapat tanggapan dari Allah I: Sesungguhnya
setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu;
dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi
orang-orang yang musyrik. (QS Al-An’am [6]: 21)

Dengan ayat ini, dapat diketahui bahwa mereka yang mendewakan akal, sampai 
berani menolak ketentuan Allah Iketika terjadi paradoks antara akal dan nash,
tak lain adalah teman-teman setan. Sebab setanlah mahluk pertama yang
berani membantah ketetapan Tuhan untuk sujud kepada Nabi Adam u. Setan lebih 
mengedepankan ‘aksiomatik-logik’ daripada perintah-Nya; menganggap dirinya 
lebih baik dari Adam u, dan menganggap perintah Tuhan itu tidak logis, yang 
kemudian menyebabkan keterusirannya dari surga. (QS al-Hijr [15]: 32-35).

Apa
yang dapat dikonklusikan sampai di sini adalah, bahwa kita sebagai umat
Islam harus tunduk pada segala apa yang telah digariskan syarak, serta
menundukkan akal terhadap ketentuan tersebut, meskipun secara akal ia
tidak logis, sebagaimana dicontohkan oleh Sayyidina Ali tsaat ia melihat 
Rasulullah emengusap muzah (selop kaki) di bagian atasnya, yang sepintas memang 
‘tidak masuk akal’. Ali tberkata: “Andai agama itu berlandaskan akal, maka 
mengusap bagian bawah muzah (selop kaki) lebih baik daripada mengusap bagian 
atasnya. Akan tetapi
saya melihat Rasul mengusap muzah di bagian atasnya.” (HR Abu Dawud)

Perkataan Sayidina Ali tdi atas memberikan pesan tersirat, bahwa akal yang 
sempurna akan tunduk
pada syarak, meski ia tidak masuk akal sekali pun. Sebab akal tidak
mampu untuk mengetahui hikmah ketuhanan yang terkandung di dalamnya.
Lagi pula, akal tidak dapat dijadikan sebagai tolok ukur kebenaran,
keadilan dan kemaslahatan. Akal siapakah yang dapat dijadikan standar
ukuran untuk itu semua, sementara setiap orang pasti memiliki
kepentingan (interest), betapa pun kecilnya? Kebenaran, keadilan
dan kemaslahatan dapat dihasilkan hanya oleh sumber yang benar-benar
tak punya kepentingan apa pun, yakni wahyu (al-Qur’an dan Hadis). Di
samping itu, kita diciptakan ke dunia ini hanya untuk menjadi hamba
Allah (QS adz-Dzâriyât [51]: 56)

Pemaparan
singkat di atas tidak berarti menunjukkan Islam adalah agama yang
mendeskreditkan akal. Justru dalam al-Qur’an sendiri terdapat
penyebutan materi akal sebanyak 49 kali, yang mengandung pujian
terhadap orang-orang yang memiliki akal, serta dorongan agar manusia
selalu berpikir. Lebih jauh, Islam menganjurkan akal untuk mengkaji
al-Qur’an, akan tetapi bukan untuk mengubah ketentuan-ketentuannya,
namun untuk memahami kandungan dan hikmah di dalamnya. Wallâhu a’lam.

 
Penulis adalah warga H 21, murid kelas PK II Tsanawiyah, asal Sumenep. Tulisan 
ini dimuat di Buletin Sidogiri Edisi 29


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke