Tung, kayaknya diwilayah berbahasa Jerman (Jerman, Swiss dan Austria) 
gak ada yang namanya Ludwing Furbach, yak kayaknya kayak nama kodok, 
bukan nama Germania.

Yang ada juga Ludwig Andreas von Feuerbach (28 Juli 1804 – 13 
September 1872).

Baca yang bener Tung, apalagi kalo bahasa Jerman, ntar aye sakit 
mata..




--- In [email protected], si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Wahyu, Akal dan Liberalisme
> Dipublikasi pada Thursday, 29 May 2008 oleh admin
>  
> 
> Oleh: M. Zahri MS 
> 
> Religion is the dream of human mind (Agama adalah mimpi akal 
manusia)— Ludwing Furbach dalam The Essence of Christianity
> 
> Apa
> yang dapat menjamin redanya pemikiran liberal di Indonesia dewasa 
ini?
> Di permukaan, saat ini isu liberalisme memang tampak 
tidak `semeriah'
> pada tahun 2002 lalu, di mana pada tahun sebelumnya, Maret 2001,
> kader-kader bapak sekularisme-liberalisme Indonesia, Nurcholish 
Madjid,
> membentuk jaringan pemikiran yang mereka sebut "Jaringan Islam 
Liberal
> (JIL). Tak ada jaminan yang membuat mereka insaf, dan mereka pun 
terus
> mengembangkan pemikiran-pemikirannya melalui berbagai media, dengan
> dana yang mengalir terus tanpa henti.
> 
> 
> Seperti
> halnya term "jahiliah"—setidaknya menurut paradigma Sayyid Quthb—dan
> istilah "Barat"—mengikuti alur pemikiran HF. Zarkasyi—"liberalisme"
> sebetulnya tidak menunjuk pada komunitas tertentu, periode tertentu 
dan
> wilayah geografis yang terbatas. Liberalisme telah, sedang dan akan
> selalu ada, ikut nimbrung di tengah-tengah belantara pemikiran 
dunia yang tidak akan pernah berhenti berseteru.
> 
> Dalam
> dunia Islam, minimal di Indonesia, orang biasanya mengidentikkan
> pemikiran liberalisme mutakhir dengan pemikiran kaum Muktazilah yang
> pernah berkembang pada Abad Kedua Hijriah, dan mendapatkan oase yang
> segar dari penguasa Abbasiyah. Kendati tidak sepenuhnya benar,
> pengidentikan itu saya pikir juga sedikit mengena, terlebih jika
> diteropong dari tradisi dan ciri khas pemikiran liberalisme yang 
mesti
> mengedepankan nalar daripada wahyu.
> 
> Dikatakan
> "tidak sepenuhnya benar" karena liberalisme modern sesungguhnya
> berkembang dari pemberontakan pemikiran di dunia Kristen, yang
> dengannya mereka dapat `menyelamatkan diri' dari periode kegelapan 
(dark ages)
> yang terjadi sebelumnya. Pemberontakan itu adalah titik yang 
menyudahi
> kuasa Gereja dan para pendeta, yang sebelumnya menyetir, mendikte,
> mengekang dan bahkan mematikan kreativitas pemikiran yang 
berseberangan
> dengan rambu-rambu Bibel dengan begitu ekstremnya.
> 
> Berhasil keluar dari perangkap dan bayang-bayang Gereja, Barat 
menyongsong momentumrenaisans,
> menuju periode modern dan kini telah meluncur ke era pos-modern. Ini
> membuat bangsa-bangsa berkembang dan dunia Islam terpana, lalu 
mereka
> meniru, menjiplak dan manut begitu saja terhadap pemikiran
> liberalisme Barat. Penjiplakan terang-terangan dilakukan oleh
> Nurcholish Madjid, yang mengembangkan ide "Sekularisasi Islam" dari
> buku Harvey Cox, The Secular City (Adian Husaini: 2005). Sama 
naifnya, pemikiran sekaligus sebutan "Islam Liberal" sejatinya 
merupakan plagiat tanpa modif dari buku Charles Kurzman: Liberal 
Islam (Ibid: 2002)
> 
> Karena
> liberalisme Kristen Barat yang dijadikan kiblat, maka tak usah heran
> jika liberalisme masa kini memiliki karakteristik yang sama persis:
> jika para liberalis Barat mengkritik Bibel, mempersoalkan otentitas
> wahyu dan bahkan menggugat agama dan Tuhan itu sendiri, maka para
> liberalis Islam juga memunculkan ide relativitas tafsir, kritik
> al-Qur'an serta mengotak-atik dalil-dalil qath'i di dalamnya.
> Lebih jauh, mereka menganggap bahwa wahyu tak terputus oleh 
finalitas
> fungsi kenabian Muhammad, atau apa yang disebut oleh Ulil AA. dengan
> istilah "graduality"—menjiplak para sosiolog Barat seperti
> Aguste Comte, Emile Durkheim, Herbert Spencer, Talcott Parsons dan
> Robert N. Bellah, yang terpengaruh oleh teori evolusi Charles Robert
> Darwin dalam The Origin of Species (Adnin Armas: 2003).
> 
> Oleh karenanya, akal an sich menjadi satu-satunya tumpuan mereka 
dalam menilai hukum-hukum syarak;
> menerima yang `logis' dan menampik yang `tak logis', semisal jilbab,
> kisas, larangan nikah lintas agama, dll. Hukum-hukum qath'i semacam 
ini, menurut para liberalis, secara logika tidak layak pakai di era 
modern ini. (Kompas, 18-11-2002)
> 
> Seperti ditegaskan sebelumnya, pemikiran semacam ini bukan hal 
baru, namun sudah pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad e,
> ketika turun ayat yang menjelaskan tentang pengharaman makan bangkai
> (QS al-Baqarah [2]: 173). Di sini, orang-orang jahiliah mengoreksi
> hukum Tuhan tersebut dengan berkata: "Mengapa kalian tidak mau makan
> bangkai yang diburu langsung oleh Allah, dan lebih suka makan hewan
> yang disembelih oleh tangan-angan kalian sendiri?"
> 
> Sepintas,
> bantahan para jahili itu masuk akal, bahwa secara logika, justru
> bangkailah yang lebih halal untuk dikonsumsi, sebab ia `diburu'
> langsung oleh Allah, maka pengharaman bangkai menurut mereka tidak
> logis, dan ketentuan itu perlu didekonstruksi. Namun bantahan 
tersebut
> mendapat tanggapan dari Allah I: Sesungguhnya
> setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah 
kamu;
> dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi
> orang-orang yang musyrik. (QS Al-An'am [6]: 21)
> 
> Dengan ayat ini, dapat diketahui bahwa mereka yang mendewakan akal, 
sampai berani menolak ketentuan Allah Iketika terjadi paradoks antara 
akal dan nash,
> tak lain adalah teman-teman setan. Sebab setanlah mahluk pertama 
yang
> berani membantah ketetapan Tuhan untuk sujud kepada Nabi Adam u. 
Setan lebih mengedepankan `aksiomatik-logik' daripada perintah-Nya; 
menganggap dirinya lebih baik dari Adam u, dan menganggap perintah 
Tuhan itu tidak logis, yang kemudian menyebabkan keterusirannya dari 
surga. (QS al-Hijr [15]: 32-35).
> 
> Apa
> yang dapat dikonklusikan sampai di sini adalah, bahwa kita sebagai 
umat
> Islam harus tunduk pada segala apa yang telah digariskan syarak, 
serta
> menundukkan akal terhadap ketentuan tersebut, meskipun secara akal 
ia
> tidak logis, sebagaimana dicontohkan oleh Sayyidina Ali tsaat ia 
melihat Rasulullah emengusap muzah (selop kaki) di bagian atasnya, 
yang sepintas memang `tidak masuk akal'. Ali tberkata: "Andai agama 
itu berlandaskan akal, maka mengusap bagian bawah muzah (selop kaki) 
lebih baik daripada mengusap bagian atasnya. Akan tetapi
> saya melihat Rasul mengusap muzah di bagian atasnya." (HR Abu Dawud)
> 
> Perkataan Sayidina Ali tdi atas memberikan pesan tersirat, bahwa 
akal yang sempurna akan tunduk
> pada syarak, meski ia tidak masuk akal sekali pun. Sebab akal tidak
> mampu untuk mengetahui hikmah ketuhanan yang terkandung di dalamnya.
> Lagi pula, akal tidak dapat dijadikan sebagai tolok ukur kebenaran,
> keadilan dan kemaslahatan. Akal siapakah yang dapat dijadikan 
standar
> ukuran untuk itu semua, sementara setiap orang pasti memiliki
> kepentingan (interest), betapa pun kecilnya? Kebenaran, keadilan
> dan kemaslahatan dapat dihasilkan hanya oleh sumber yang benar-benar
> tak punya kepentingan apa pun, yakni wahyu (al-Qur'an dan Hadis). Di
> samping itu, kita diciptakan ke dunia ini hanya untuk menjadi hamba
> Allah (QS adz-Dzâriyât [51]: 56)
> 
> Pemaparan
> singkat di atas tidak berarti menunjukkan Islam adalah agama yang
> mendeskreditkan akal. Justru dalam al-Qur'an sendiri terdapat
> penyebutan materi akal sebanyak 49 kali, yang mengandung pujian
> terhadap orang-orang yang memiliki akal, serta dorongan agar manusia
> selalu berpikir. Lebih jauh, Islam menganjurkan akal untuk mengkaji
> al-Qur'an, akan tetapi bukan untuk mengubah ketentuan-ketentuannya,
> namun untuk memahami kandungan dan hikmah di dalamnya. Wallâhu 
a'lam.
> 
>  
> Penulis adalah warga H 21, murid kelas PK II Tsanawiyah, asal 
Sumenep. Tulisan ini dimuat di Buletin Sidogiri Edisi 29
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke