Laa Ilaaha Illallah.

Apabila kita lafazkan ungkapan La Ilah… ia menjadi teras kepada 
sebuah pembebasan. Membebaskan diri dari diperhambakan oleh diri yang 
lain. Jangan lagi ada manusia yang coba menindas manusia lain.. La 
Ilah menyuntik pembebasan. Revolusi Perancis menggaungkan La Ilah 
pada ungkapan Liberté, dan karena mereka kabur dengan Tuhan sebagai 
rujukan, Liberté itu berhasil mencetuskan pembebasan tetapi dengan 
pelbagai kesan sampingan.

Akan tetapi seorang Muslim menggaungkan La Ilah demi keluar dari 
penindasan dan perhambaan, lalu diikat kepada IllaLlaah! Bahawa kita 
keluar dari perhambaan bukan kepada menjadi Tuan. Kita keluar dari 
perhambaan sesama manusia, kepada pulang menjadi hamba kepada Dia, 
Allah Tuhan yang Maha Mencipta.

Kerana itu, antara komen awal yang diterima oleh Baginda SAW tatkala 
menggaungkan seruan La Ilaha IllaLlaah ialah "seruan ini dibenci raja-
raja yang memerintah". Siapa saja yang memahami maksud Kalimah Tauhid 
itu akan tahu bahwa ia akan melucutkan hak menindas yang dinikmati 
oleh pemerintah.

Perancis di Eropah bertolak dari Liberté itu kepada égalité atau 
equality. 

Setelah manusia bebas dari perhambaan sesama manusia, barulah mereka 
bersedia untuk menerima hakikat bahwa setiap insan dilahirkan sama. 
Tiada lebih arab ke atas orang ajam, tiada lebih kulit putih ke atas 
kulit hitam, malah tiada lebih penguasa dan rakyat, kecuali semuanya 
sama di hadapan peraturan dan undang-undang. Seruan ini membawa 
kepada deklarasi tahun 1789 bahwa setiap individu adalah sama 
statusnya sama ada terhadap hak mendapat perlindungan undang-undang, 
atau hak dihukum oleh undang-undang.

Inilah juga kesan Tauhid bahwa perlindungan sebuah kerajaan bukan 
hanya kepada orang kaya, malah turut memberi jaminan kepada si 
miskin. Hukuman jinayah bukan hanya mengerat tangan si miskin, tetapi 
juga si kaya serta penguasa. Lupakah kita kepada seruan perpisahan 
Nabi SAW di Hajinya yang satu itu?

"Wahai manusia sekalian! Sesungguhnya Tuhanmu adalah Satu, dan kamu 
semua berasal dari bapa yang satu, setiap kalian berasal dari Adam, 
dan Adam terbuat dari tanah, orang yang paling mulia di antaramu 
adalah mereka yang paling bertakwa. Tidak ada keutamaan bagi orang 
arab atas orang non arab, dan (sebaliknya) tidak juga bagi orang non 
arab atas orang arab. Juga tidak ada keutamaan bagi orang kulit putih 
atas orang kulit merah, kecuali dengan TAQWA"

Kesamarataan ini adalah intipati keadilan. Dengannya manusia 
memandang manusia lain dengan rasa kebersamaan. Di atas titik itu 
mereka berupaya untuk hidup sejahtera, bekerjasama di dalam 
lingkungan ukhuwwah persaudaraan. Biar pun Eropah memilih pelbagai 
jalan yang sulit untuk mendefinisikan fraternité atau Fraternity itu, 
namun mereka bersungguh-sungguh dalam usaha. Daripada Kristenisasi 
yang berfungsi sebagai tali pengikat di antara sesama manusia, mereka 
menyeru kepada rasa cinta kepada tanah air, demi sebuah penyatuan.

Tidak heranlah, Muhammad Abduh pergi ke Paris dan pulang ke Kaherah, 
membuat kesimpulan bahwa, "aku ke Paris dan kutemui Islam tanpa 
Muslim, dan aku pulang ke Kaherah dan kutemui Muslim tanpa Islam!"

Wassalam,

source: saifulislam.com

--- In [email protected], Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> saya merasa akrab dengan tulisan ini.
> apakah anwar ibrahim penulisnya?
> maaf jika salah.
> 
> di antara intelektual malaysia, anwar sering
> mengutip voltaire, dan filsuf barat lainnya.
> 
> dan dia paling jernih mengatakan ada
> kompatibilitas antara demokrasi dan islam.
> 
> 
> At 09:11 AM 7/25/2008 +0000, Lina Dahlan wrote:
> 
> 
> >Terdahulu, kita kasihan melihat Eropah. Kekecewaan mereka terhadap
> >agama Kristen yang penuh kekacauan dan bertentangan dengan asas 
akal
> >manusia, ramai orang berlari meninggalkan agama.
> >
> >Tetapi ini tidak bermakna mereka lari meninggalkan Tuhan. 
Berbekalkan
> >keyakinan kepada Tuhan, mereka masih terus mencoba mengenal pasti
> >kehendak-Nya, tanpa agama. Lantas muncullah para saintis seperti
> >Newton dan terutamanya François-Marie Arouet atau lebih dikenali
> >dengan nama penanya Voltaire.
> >
> >Tentu saja jika diukur pada soal hablun minallah, maka mereka tidak
> >teratur malah tidak tentu arah dalam mencoba untuk
> >menjustifikasikannya. Tetapi intinya dibalik itu semua masih ada.
> >Faham Deism, yang di simpulkan sebagai berTuhan tanpa agama, sudah
> >cukup untuk memberikan arti kepada kita mengapa tanpa Risalah
> >Kenabian dan Syariat yang jelas, Eropah masih bisa bangkit sebagai
> >sebuah masyarakat yang sistematik dan bertamadun.
> >
> >CETUSAN SEBUAH REVOLUSI
> >
> >Liberty… pembebasan
> >
> >Equality… kesama rataan
> >
> >Fraternity… persaudaraan
> >
> >Slogan itu adalah intisari Revolusi Perancis. Ia berperanan besar
> >dalam mendefinisikan kembali apakah itu keadilan bagi sebuah
> >pemerintahan. Keadilan yang menjadi subjek tertinggi turunnya 
Syariat
> >dari Pencipta alam kepada penghuni alam. Berlaku adil dan 
kehidupan,
> >dan pemerintahan.
> >
> >Tetapi sadarkah kita bahwa ketiga-tiga elemen itu, merupakan 
khasiat
> >sebenar-benarnya Tauhid dan Syahadah (Janji) kita kepada Allah?
> >
> >Wassalam,
> >
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke